
"Kenapa Abang tidak jujur ke aku," Fahri berkata. Tadi ia menceritakan semua pengakuan dari ibunya. Pagi ini ia langsung menuju kantor biro perjalanan yang dikelola oleh Nizar di Sungai Jawi.
Kaget Nizar saat tadi Fahri datang pagi-pagi sekali ke kantornya. Biasanya adik lain ibunya ini datang ke kantornya saat jam makan siang. Fahri langsung mengajaknya untuk ngopi sambil sarapan pagi di sebuah warung makan yang menyediakan menu untuk sarapan pagi, dekat kantor biro perjalanan yang ia kelola. Warung makan ini bersebelahan dengan rumah makan Padang tempat ia biasa makan siang. Rumah makan Padang ini masih tutup.
"Sebab Abang Tak nak pecah prahara antara awak dan emak awak," Nizar menyuapkan mie sua ke dalam mulutnya.
"Abang selalu mengalah, dari dulu seperti itu," Fahri menyeruput kopi pancongnya yang telah dicampur susu.
Nizar hanya tersenyum mendengar perkataan Fahri. Ia kemudian mengikuti jejak adiknya menyeruput kopi pancongnya yang tidak diberi tambahan susu.
__ADS_1
"Sudah sepatutnya seperti itu sebagai abang."
"Bang, emak nak minta maaf dengan abang."
"Tak payah emak awak cakap macam tuh, Abang sedikit pun tak ada dendam dengan emak awak, lagi pula emak awak emak Abang juga."
"Tapi Abang mau kan menemui Mak," kata Fahri dengan nada suara memohon.
Selepas dari pekerjaannya di kantor, Nizar bersama Fahri dan juga Andari pergi ke Perumahan Dwi Ratna untuk menemui ibu. Andari tadi pagi sudah diberi tahu Fahri tadi pagi saat ia hendak ke kantor dan mengatakan bahwa ibu ingin bertemu dengannya.
__ADS_1
Arini tidak bisa ikut mereka ke Perumahan Dwi Ratna untuk menemui ibu. Ia harus menjaga Nasira yang agak sedikit demam badanya. Ia juga minta ke Fahri untuk menyampaikan permohonan maafnya kepada ibu karena pernah membentak ibu waktu itu.
Azizah juga demikian tidak dapat ikut Nizar ke Perumahan Dwi Ratna. Sebab ia pulang ke Punggur. Ibunya beberapa waktu lalu sempat dirawat di rumah sakit akibat demam berdarah dan kondisinya sekarang sudah membaik. Setelah keluar dari rumah sakit, ibunya kemudian memutuskan untuk pulang ke rumah di Punggur sedangkan rumah di Nipah Kuning ditempati Nurdin adik nomor limanya yang seminggu lalu baru saja menikah.
Faiz ikut dengan Azizah kebetulan hari ini libur sekolah dan pas pula musim langsat berbuah. Nizar yakin anaknya itu bersuka cita ditemani kakeknya pergi ke kebun langsat yang letaknya tidak jauh dari belakang rumah. Sebagian langsat itu rencanya akan dijual ke Pontianak.
Kalau musim langsat tiba, persedian buah langsat akan membeludak. Buah langsat dari Pinggir itu akan membanjiri Pontianak. Harga langsat seketika jatuh. Semula lima kilo dua puluh lima ribu rupiah menjadi lima belas hingga sepuluh ribu rupiah per lima kilo buah langsat.
CATATAN
__ADS_1
Mie sua: Sebagian masyarakat Kalimantan Barat menyebut mie ini dengan sebutan mie panjang umur, sebagian lagi menyebut mie asin karena mie ini rasanya asin.
Tak payah emak awak cakap macam tuh: Tak perlu ibu kamu berbicara seperti itu.