
episode 152
.
.
.
.
Lamunan Revandra buyar karna tepukan dipundaknya. Darren menatap Revandra dan mengangguk pelan memberikan kekuatan kepada adik iparnya itu.
" apa rencana selanjutnya Vandra ??" tanya Alika yang baru keluar dari kamarnya.
" kau, kenapa masih disini ??" Revandra beralih menatap Darren dan kennan.
" jangan menyalahkan mereka berdua. q yang ingin berada disini." timpal Alika yang seolah tau maksud dari tatapan Revandra.
" kau kan sedang tidak sehat ?? sangat berbahaya jika kau masih disini " ucap Revandra serius.
" tenang saja, bukankah kita pernah bertarung lebih dari ini ??" balas Alika dengan senyumnya.
"Nada bisa marah padaku jika kau seperti ini !!" kata Revandra lagi.
" tidak akan. kau tenang saja." timpal Alika lagi.
Revandra membuang nafasnya. " ya sudah sekarang kalian pergi dari rumah ini, kau darren dan Kennan bisa menyelamatkan davian dirumah davian yang kini dikuasai Celine,"
" lalu bagaimana denganmu ??!!" tanya Darren.
" q akan berada dirumah ini, menunggu wanita gila itu datang. yang dia inginkan adalah q, q akan melayaninya." jawab Revandra singkat.
" tidak Revandra, biarkan kami yang bertahan dirumah ini. kau saja yang pergi menyelamatkan Davian."timpal Alika.
" itu sangat berbahaya, q tidak ingin kalian kenapa-kenapa." balas Revandra.
" lalu bagaimana denganmu !! jika kau yang kenapa-kenapa apa yang akan kukatakan pada Nada nanti !!" timpal darren.
__ADS_1
Revandra menyunggingkan senyumnya. " kalian tenang saja, kalian tau siapa q kan ?? aku juga belum berencana mati dengan cepat."
" dasar gila !! seenaknya saja mulutmu itu ?!!" gerutu Darren.
Alika melipat kedua tangannya dan menggelengkan kepalanya melihat kedua pria hebat didepannya sedang berdebat.
"sekarang q baru tau sisi lain darimu Revandra, q benar-benar tidak menyangka dibalik kekejamanmu kau sangat peduli pada keluargamu." batin Alika.
.
.
.
Mobil Mike sudah memasuki mansion Revandra yang berada dipinggir kota. Mayra yang sudah diberi kabar Revandra segera menyambut kedatangan Nada dan yang lain.
dengan langkah pelan Nada turun bersama Nurra dan Zakia.
" selamat datang.." sapa Mayra.
" apa kabar mayra, " balas Nurra mereka saling berpelukan.
" q baik." Nurra melepas pelukannya. Mayra berjongkok menyapa Zakia.
" hay gadis kecil, "
" halo bibi, " balas Zakia.
mayra memeluk Zakia dengan erat, seolah kerinduan dihatinya benar-benar sudah memuncak. air mata Nada mengalir begitu saja kala melihat pertemuan ibu dan anak itu. Nurra yang melihat Nada mengira jika Nada masih sedih dengan apa yang akan terjadi pada suaminya mengusap lembut punggung sahabatnya itu.
" baiklah ayo kita masuk. dokter mike, silahkan." ajak Mayra. semua mengikuti langkah mayra.
" kamar sudah di siapkan, istirahatlah dulu. " ucap Mayra pada Nurra, Nada dan Mike.
" terima kasih." balas Nada lirih.
Mayra tersenyum, Nurra segera membawa Zakia masuk kedalam kamarnya begitupun Mike yang juga memilih beristirahat. sedangkan Nada masih mematung dengan perasaannya.
__ADS_1
Mayra yang tau segera meraih tangan Nada dan membawanya keluar halaman.
" Apa yang kau fikirkan ??" tanya Mayra setelah mereka sampai di depan kolam renang.
" kau pasti sudah tau may.. jangan bertanya lagi." jawab Nada sambil mengusap air matanya.
Mayra meraih pundak Nada. " q berjanji akan membantu Revandra. kau tenang saja ya.."
" apa kau akan kesana ??"tanya Nada dengan mata berbinar.
" iya, q akan membantunya." jawab Mayra.
" bolehkah q ikut denganmu ??" pinta Nada sambil memegang tangan Mayra.
" apa yang kau katakan, Revandra akan marah nanti !!" balas Mayra sambil melepas tangan Nada.
" q mohon may... semua orang yang q sayangi ada disana.. bagaimana bisa q diam tenang disini..q mohon mayra.."Nada berlutut dihadapan mayra.
" apa yang kau lakukan berdirilah Nad... kau tidak perlu seperti ini.." Mayra membawa Nada berdiri.
" Nad, kau sedang hamil.. sangat berbahaya jika kau ikut kesana.. " terang mayra dengan menatap nanar Nada.
" q mohon mayra... q akan berusaha menjaga kandunganku..." pinta Nada lagi.
Mayra bingung harus bagaimana, ia terdiam sesaat. namun ia merasa tidak tega ketika melihat Nada menangis tak henti-henti.
" baiklah. bersiaplah, kita akan naik motor agar lebih cepat sampai. " ucap mayra singkat.
Nada memeluk Mayra dengan erat. " terima kasih, terima kasih mayra.."
mayra hanya menganggukkan kepalanya. membawa Nada adalah resiko besar yang harus ia tanggung, namun ia berjanji pada dirinya sendiri akan melindungi istri dari kakak angkatnya apapun yang terjadi.
.
.
.
__ADS_1
.