Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Tentang Masa Lalu Bagian Pertama


__ADS_3

"Abang pulang malam lagi." Supiah berkata. Nyaris tadi ia tertidur karena menunggu suaminya pulang. Ia bangun dengan kaget saat pintu kamar tiba-tiba saja terbuka.


"Kau jadi bini cerewet sekali," Rustam melepas satu persatu kancing kemejanya hingga kemudian ia hanya memakai baju singlet. Dilemparkannya begitu saja kemeja kotor itu ke dalam ragak plastik yang terletak di salah satu sudut kamar.


"Bukan begitu Bang, aku hanya cemas akhir-akhir ini abang sering pulang malam."


"Kau tahu kan Abang kau nih baru dari Sungai Jawi, yang punya tanah tak mau melepas tanahnya terlalu murah harga yang abang tawarkan katanya."


"Apakah penawaran harga itu butuh waktu lama Bang sampai abang pulang malam?"


"Kau nih ye bertanya lagi."


"Maaf lah Bang aku hanya....."


"Sudah, sudah Abang nak mandi air panas dah kau siapkan?"


"Belum Bang."


"Bagaimana kau ini."


"Maaf Bang kalau ku siapkan awal sementara Abang belum pulang airnya akan dingin."


"Sudah cepat kau siapkan sekarang."


Bergegas Supiah ke dapur, sempat ia mendengar suaminya berkata kembali,


"Nizar mana?"


"Sudah tidur dari tadi Bang."


Seminggu kemudian. Sukses besar. Semua unit rumah yang terletak di Jeruju terjual semua. Tanah yang di Sungai Jawi juga sudah Rustam dapatkan. Akhirnya pemilik tanah yang menyebalkan itu bisa ditaklukkan juga.


"Allhamdulilah ya Bang akhirnya seluruh perumahan di Jeruju bisa laku terjual semua. Tanah di Sungai Jawi juga bisa Abang dapatkan dengan harga pantas." Supiah mengbilkan secentong nasi goreng, sarapan untuk Rustam hari ini.


"Abang nak ke Jakarta." Rustam mengambil sepiring nasi goreng itu dari tangan Supiah.


"Kenapa harus ke Jakarta Bang?"


"Kawan Abang di Jakarta hendak membeli rumah di Pontianak. Ia nak membeli rumah di salah satu perumahan yang Abang buat di Kota Baru."


"Iya, tapi kenapa harus ke Jakarta? Lewat telpon kan bisa kalau hanya ingin membuat kesepakatan membeli rumah yang Abang buat di daerah Kota Baru."


"Kau jadi bini cerewet lah. Abang ke Jakarta bertemu dengan kawan Abang tuh bukan hanya semata membicarakan soal rumah. Ada sesuatu yang hendak Abang bicarakan sama kawan Abang tuh dan itu tidak bisa melalui telpon."


"Soal apa Bang?"


"Kau nih bertanya lagi."


"Salah kah aku sebagai bini Abang kalau tahu soal apa yang lakinya kerjakan."


"Bisnis puas"


Supiah tak berkata lagi. Suaminya memang begitu wataknya. Tidak menyenangkan kalau diajak berbicara. Kasar, ketus, tapi entahlah, mungkin cinta namanya yang kata orang memang membingungkan. Ia mau saja menerima lamaran laki-laki ini saat datang menghadap kedua orangtuanya.


"Kapan Abang pergi ke Jakarta?" tanya Supiah lagi.


"Besok."


"Pak, jadi kapan antar Nizar ke cekolah?" tanya anak laki-laki semata wayang mereka dengan logat pelat. Nizar sendiri saat ini duduk di bangku nol kecil di sebuah Taman Kanak- Kanak yang terletak di daerah Siantan Hilir.


***


"Bang, bile Abang nak nikahi aku?" tanya Nurpiah kepada Rustam. Mereka saat ini berada di salah satu hotel mewah di daerah Jakarta Pusat. Mereka tadi pagi ke Blok M yang merupakan pusat perbelanjaan paling hits jaman ini. Mereka membeli beberapa barang seperti tas, perhiasan, baju dan juga sepatu, serta perlengkapan make up. Selanjutnya mereka melangkahkan kaki ke sebuah restoran cepat saji di kawasan Sarinah, tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap untuk makan siang.


Nurpiah seorang janda tapi delapan tahun lebih muda dari istrinya. Ia bersuamikan seorang pengusaha kaya raya yang umurnya dua puluh tahun lebih tua darinya. Suami Nurpiah dulunya pernah sempat membeli salah satu rumah yang dijual oleh Rustam di kawasan Sungai Raya Dalam.


Saat suami Nurpiah menawar harga penjualan rumah itulah Rustam bertemu untuk pertama kalinya dengan sosok Nurpiah karena ia ikut serta dengan suaminya mencari rumah yang ingin mereka tempati nantinya.


Terlihat jelas Nurpiah sesekali mencuri pandang ke arahnya secara sembunyi-sembunyi. Seketika Rustam tahu bahwa Nurpiah tidak bahagia dengan pernikahannya dan menaruh hati dengannya. Dayung pun bersambut. Rustam waktu itu juga mulai bosan dengan pernikahannya sendiri. Istrinya tak lagi menarik di matanya. Sebagai laki-laki egonya mulai tertantang untuk menaklukan lagi hati seorang wanita. Apalagi umur mereka kurang lebih hanya terpaut sepuluh tahun. Itu berarti ia belumlah terlalu tua untuk seorang Nurpiah yang cantik, muda, dan begitu memikat tubuhnya seperti biola Spanyol yang begitu sempurna lekukannya.


Diam-diam ia selalu menemui Nurpiah jika suaminya itu tidak berada di rumah karena harus ke luar Kota atau keluar pulau Kalimantan dan juga keluar negeri untuk urusan bisnis. Mereka sering bertemu di restoran sekedar untuk makan siang dan malamnya berakhir di kamar hotel.


Dari mulut Nurpiah kemudian mengalir cerita sesuai apa yang didugannya. Nurpiah memang tidak bahagia dengan pernikahannya selama ini karena harus menikah dengan laki-laki yang tidak ia cintai sama sekali. Ia berasal dari sebuah desa yang terletak di kabupaten Sintang. Ia dipaksa menikah oleh orangtuanya karena orangtuanya terlilit hutang dengan laki-laki yang kini menjadi suaminya. Ia dan suaminya memang satu desa. Suaminya sendiri memiliki perusahaan kontraktor di Kota Pontianak.


Nurpiah juga mengatakan alasan kenapa ia begitu menaruh hati kepada Rustam karena menurutnya Rustam tidak terlalu tua seperti suaminya. Dan dari pertemuan mereka yang walaupun kadang-kadang karena mereka tidak bisa bertemu setiap hari, Nurpiah dapat menyimpulkan bahwa Rustam termasuk pria yang baik.


Rustam kemudian menjelaskan bahwa ia telah memiliki istri dan juga seorang anak laki-laki. Awalnya Nurpiah terkejut tapi kemudian ia berkata tak jadi masalah baginya apa pun status Rustam saat ini. Ia pun siap di madu.


Beberapa hari kemudian suami Nurpiah meninggal akibat gagal ginjal. Sudah lama sebenarnya suami Nurpiah mengidap penyakit ini. Nurpiah kemudian menjual perusahaan kontraktor milik suaminya yang otomatis jatuh ke tangannya. Mereka tidak dikaruniai anak.


"Nanti, Abang sedang memikirkan waktu yang tepat untuk menikah mu," berkata Rustam sambil menegak red wine di dalam gelas kecil yang diletakan di atas nakas dekat dengan tempat tidur mereka. Kepergiannya ke Jakarta untuk menemui temannya hanya alasannya saja agar Supiah tidak curiga bahwa ia ke Jakarta hanya ingin bersenang-senang dengan Nurpiah, selingkuhanya yang telah dikenalnya lebih dari tiga tahun. Setelah mendapat untung besar karena ia berhasil menjual semua unit rumah di daerah Jeruju.


"Nanti-nanti, aku bosan mendengar itu-itu melulu alasan Abang menunda menikahi ku," Nurpiah berkata sambil mengangkat kepalanya yang tadi ia letakkan di atas dada Rustam yang bidang.


"Apakah Abang takut dengan bini Abang tuh," Nurpiah berkata dengan wajah ditekuk dan kedua tangan disedekapkan di dada. Rustam membisu tak mampu membalas perkataan Nurpiah.


***


Berdenyut kepala Supiah saat ini jika teringat perkataan dari beberapa tetangganya tempo hari.


"Aku pernah tengok kau punya laki jalan berdua sama perempuan lain. Ia ngopi berdua dengan perempuan itu. Kebetulan tempat ia ngopi dengan perempuan itu berdekatan dengan warung kopi punya ku," itu kata Bu Lim dengan logat China yang kental. Bu Lim salah satu tetangganya, tanpa sengaja tadi ia bertemu dengan Bu Lim saat baru pulang belanja dari pasar Puring. Bu Lim adalah seorang pemilik warung kopi di jalan Gajah Mada.


"Laki awak ke Jakarta ke?" tanya Bu Salma salah satu tetangganya juga lain waktu. Suami Bu Salma memiliki usaha di bidang farmasi serta rumah sakit swasta di Jakarta.


"Saya tengok waktu itu tanpa sengaja pas saya belanja di Blok M dengan perempuan lain," Bu Salma memang sering bolak-balik Pontianak-Jakarta karena ia harus menemani suaminya di Jakarta dan mengurus kedua anak laki-lakinya di Pontianak. Yang sulung duduk di bangku kelas enam SD sedangkan anak keduanya baru duduk di bangku kelas empat SD. Keduanya bersekolah di salah satu SD swasta ternama di Kota Pontianak.


"Mungkin ibu salah tengok," kata Nurpiah waktu itu.


"Macam mane saya salah tengok saya kenal betul rupa laki awak tuh."


Supiah mengurut kepalanya yang ia rasa makin sakit Karena teringat kembali perkataan Bu Salma selanjutnya.


"Jangan-jangan laki awak selingkuh lagi."


Baiklah ia ingin masalah ini tidak menjadi berlarut-larut. Ia harus membicarakan ini kepada Rustam.


***


"Bang, ada yang nak ku bicarakan."


"Soal apa?" Rustam bertanya sambil memasukkan sesuap nasi uduk sarapanya pagi ini ke dalam mulutnya.


Supiah diam sejenak. Berusaha menangkan gemuruh di hatinya.


"Siapa...siapa perempuan itu Bang?"


"Perempuan mana maksud mu?"


Supiah kemudian menceritakan pertemuannya dengan Bu Lim dan Bu Salma tempo hari serta percakapan yang terjadi di antara mereka.


"Kau percaya dengan cakap mereka?"

__ADS_1


"Aku ....Bang katakan yang sebenarnya Bang, apakah itu benar?"


"Bukankah aku sudah menjawabnya tadi."


"Maksud Abang?"


"Kau percaya dengan apa yang mereka cakap kan dari pada dengan laki kau sendiri."


"Tapi buat apa Bu Lim dan Bu Salma bulakan aku."


"Jadi kau percaya dengan cakap mereka sekarang," Rustam menghentikan kegiatan makannya sekarang. Merah padam wajahnya. Ia bangkit berdiri dari atas kursi yang ia duduki. Diterajangnya kursi kosong di sampingnya hingga terjatuh ke lantai. Brak! Sandaran kursi itu patah saat menghantam lantai ruang makan yang dilapisi oleh keramik. Kaget Supiah atas tindakan suaminya yang tak terduga itu.


"Selera makan ku hilang sekarang," berkata begitu Rustam pergi meninggalkan Supiah yang tampak shock kini.


"Mak, kenapa Bapak malah-malah seperti itu?" tanya Nizar yang sedari tadi mengintip pertengkaran kedua orangtuanya dari celah pintu kamar orangtuanya yang kebetulan dekat dengan ruang makan. Wajahnya penuh ketakutan saat ini.


"Mungkin Bapak mu lagi kesal."


"Kesal kenapa? Apa Emak buat salah?"


"Ndak nong'e sekarang biar Emak yang ngantar Nizar ke sekolah ya."


Nizar menganguk.


***


Rustam tak pernah pulang setelah ia bertengkar dengan istrinya. Hampir tiga bulan, tahu-tahu ia pulang membawa wanita lain ke rumahnya.


"Abang telah menikah lagi," Rustam berkata seolah itu bukan masalah besar.


"Suka tak suka kau harus menerimanya, " lanjutnya lagi.


"Apa salah ku Bang, kenapa Abang lakukan ini kepadaku?" bertanya Supiah sambil menahan isak tangis.


" Kau tahu sendirilah salah kau apa." Rustam kemudian beranjak dari tempat tidur, meninggalkan Supiah yang kini diliputi kesedihan dan tanda tanya.


Supiah kemudian bangkit melihat bayangannya di cermin. Ternyata tak sama dengan bayangan sebelum ia menikah dulu. Beberapa bagian tubuhnya seperti lengan dan perut mulai dipenuhi gelambir lemak. Ada beberapa keriput yang menghiasi permukaan wajahnya. Umurnya sendiri saat ini mendekati awal empat puluh tahun.


Wanita itu memang masih muda. Umurnya Supiah taksir lebih muda delapan tahun darinya. Wajahnya juga masih kelihatan cantik dan tubuhnya langsing bagai lekukan biola yang Sempurna. Apakah itu yang membuatmu berpaling dari ku Bang? Ya Allah berilah hamba mu ini kekuatan untuk mengadapi cobaan ini.


***


"Cucikan pakian ku setelah ini," Nurpiah meletakan ragak plastik berisikan pakian kotor miliknya dekat Supiah yang baru saja selesai mencuci piring. Mereka saat ini berada di dapur.


Tiga bulan sudah berlalu, Supiah harus bersabar menghadapi tingkah laku istri muda suaminya yang begitu kasar. Supiah lebih tua dari Nurpiah. Tapi Nurpiah tak menghormatinya sedikit pun.


"Aku lagi repot, aku harus masak setelah ini lagi pula kau kan bisa mencuci pakian mu sendiri."


"Kau tahu kan aku hamil."


"Iya aku tahu, tapi dokter mengatakan itu tiga hari lalu."


Tiga hari lalu, Nurpiah dan Rustam pergi ke dokter. Setelah diperiksa ternyata mual dan muntah yang dialami Nurpiah setiap pagi adalah tanda ia sedang mengandung seorang anak.


"Kau ini bagaimana Nurpiah itu hamil kau kan bisa mencucikan pakiannya," Rustam berkata pada malam harinya. Baru beberapa menit yang lalu ia baru sampai di rumah Nurpiah telah mengadu tentang kelakukan Supiah kepadanya tadi pagi.


"Aku bukan babu Bang lagi pula dokter baru menyatakan ia hamil tiga hari yang lalu jadi kalau sekedar untuk mencuci pakiannya sendiri ia masih bisa."


Supiah sudah menduga Nurpiah akan mengadukan hal ini ke Rustam. Ingin sebenarnya ia bercerai dari Rustam akan tetapi ia teringat akan Nizar, anak semata wayangnya itu. Kalau ia memilih bercerai dengan Rustam pasti banyak pertanyaan yang akan diajukan anaknya itu, kenapa ibunya sampai berpisah dengan ayahnya.


Saat Rustam memutuskan untuk menikah dengan Nurpiah dan memutuskan untuk membawa Nurpiah tinggal bersama mereka, Nizar sudah mulai bertanya dengannya mengenai diri Nurpiah. Ia pun harus pintar menjelaskan dengan bahasa yang dimengerti anak seusia Nizar mengenai Nurpiah.


***


Dengan cepat Fahri nama panggilan bayi itu tumbuh menjadi seorang anak laki-laki. Wajahnya lumayan lawar. Nizar begitu senang bermain dengan Fahri yang kini menginjak umur lima tahun sedangkan Nizar saat ini menginjak umur sebelas tahun. Tahun depan Nizar masuk SMP.


"Kau nih dasar anak nakal." Melotot mata Nurpiah menatap Nizar. Tanpa sengaja Nizar membuat salah satu lutut adik lain ibunya itu terluka.


Nizar tadi membonceng Fahri dengan menggunakan sepedanya. Mereka baru saja dari warung yang letaknya tak jauh dari Komplek perumahan tempat mereka tinggal. Mereka membeli dua batang coklat dan dua buah permen lolipop. Sebuah batu lumayan besar menghalangi jalan mereka. Nizar coba menghindari batu itu tapi ia malah kehilangan keseimbangan dan mereka jatuh. Nizar lecet di sikunya sedangkan Fahri terluka lututnya akibat menghantam batu kerikil di jalan.


Nizar menangis kini, bukan hanya karena menahan sakit di sikunya yang lecet tapi juga amarah dari Nurpiah yang membuatnya ketakutan.


"Em..Emak Bang Nizar jangan dimarahi," Fahri memohon di sela isak tangisnya.


"Kau nih ye malah membela dia," kini Nurpiah melotot marah ke arah Fahri. Menciut nyali Fahri melihat tatapan ibunya seperti itu.


"Sudahlah Nurpiah mereka maseh budak-budak," kata Supiah. Tadi pas di dapur ia mendengar suara ribut di teras rumah. Ia kemudian menghentikan sejenak kegiatannya dalam mengiris bawang merah lalu memutuskan untuk ke teras rumah. Di sana ia melihat Fahri dan Nizar yang sedang dimarahi oleh Nurpiah.


"Eh dengar ya, aku ndak suka anak ku bergaul dengan anak mu itu."


Nurpiah kemudian menyeret Fahri ke dalam rumah, meninggalkan Nizar dan Supiah di teras rumah.


"Emak, kenapa Emak Nurpiah sepertinya begitu membenci ku?"


"Emak Nurpiah ndak membenci mu."


"Tapi Mak...."


"Sudah, ayo masuk ke dalam, luka mu harus dibersihkan biar ndak infeksi."


***


"Emak kenapa?" tanya Nizar. Ibunya akhir-akhir ini sering mual dan bolak-balik ke kamar mandi untuk muntah.


"Emak ndak apa-apa mungkin masuk angin."


Supiah menatap dua garis merah muda di tespack. Hamil. Umurnya kini memasuki pertengahan empat puluh. Mana mungkin ini.


Esok paginya, Nurpiah langsung ke rumah sakit untuk memastikan apakah hasil tespack yang ia lakukan itu benar. Ia ke rumah sakit setelah mengantar Nizar ke sekolahnya.


"Kalau Allah sudah berkehendak apa pun bisa terjadi Bu" kata dokter yang memeriksanya. Dokter itu menyatakan hasil tespack yang dilakukan Supiah memang benar. Ia memang hamil.


"Tapi Dok usia saya tidak muda lagi."


"Asal ibu rajin kontrol kandungan ibu itu Insya Allah semua akan baik-baik saja," lanjut dokter itu.


"Apakah kau dendam pada ku Dek?" bertanya Rustam malam harinya setelah Supiah memberikan kabar ini.


"Maksud Abang?"


"Anak siapa itu sebenarnya?"


"Astghfirullah Abang menuduh ku selingkuh."


"Keterlaluan kau Bang," Supiah menahan tangisnya kini. Sementara Rustam meninggalkannya begitu saja di dalam kamar dengan luka di hatinya.


***


Rustam tidak peduli dengan kehamilan Supiah yang berusaha lapang dada atas sikap suaminya ini, berusaha menahan sakit melihat kemesraan suaminya dengan istri mudannya yang selalu mereka umbar di depan matanya. Entah apa maksud mereka melakukan itu, hendak membuat ia sakit hati mungkin.


Supiah menuangkan sirup ABC jeruk ke dalam ceret plastik. Terdengar suara Nizar dan teman-temannya sedang belajar kelompok saat ini di ruang tamu. Mereka sedang sibuk berdiskusi soal pelajaran yang mereka kerjakan, yang kira-kira mungkin akan keluar nantinya pada saat ujian akhir sekolah.

__ADS_1


Walau tidak diminta untuk membuat minuman, Supiah tahu anak-anak itu akan haus nantinya. Cuaca saat ini begitu panas bedengkang. Nizar sendiri telah berencana kalau lulus SD nanti akan melanjutkan ke sebuah SMP negeri yang letaknya tak jauh dari komplek perumahan tempat mereka tinggal.


Rustam dan Nurpiah sedang ke Kampung Arang, memenuhi undangan seorang kerabat yang menikahkan anaknya hari minggu ini, membawa serta Fahri ke sana.


Supiah kemudian membawa nampan yang di atasnya terdapat beberapa gelas plastik serta cerek plastik dengan sirup di dalamnya dengan pecahan es batu ke ruang tamu. Kandungannya sendiri tidak terasa telah memasuki bulan ke lima.


Saat menuruni undakan untuk menuju ruang tamu ia kurang hati-hati. Kakinya terpeleset. Ia terjatuh.


Brak! Suara jatuhnya membuat kaget Nizar dan teman-temannya yang lagi asyik berdiskusi tentang soal mata pelajaran. Mereka berhenti berdiskusi. Dengan cepat mereka mendatangi sumber suara.


"Emaaak!" jerit Nizar histeris melihat ibunya terlentang di lantai dengan darah mengalir dari selangkangannya. Ia berlari menghampiri ibunya. Nyaris terpeleset karena kakinya menginjak genangan sirup yang berhamburan tumpah dari dalam cerek plastik. Beberapa gelas plastik tampak berhamburan di sekitar mereka. Sementara teman-temanya yang tadi ikut belajar kelompok tampak shock dengan kejadian di depan mereka saat ini.


***


Sore itu begitu cerah dengan langit senja berwarna jingga. Berbanding terbalik dengan suasana hati Nizar yang diselimuti oleh kabut. Setelah sempat dilarikan ke rumah sakit, nyawa Supiah serta anak yang dikandungnya tak dapat ditolong lagi. Ia mengalami pendarahan hebat. Sore harinya Supiah dan anak yang dikandungnya dimakamkan dalam satu liang lahat. Supiah beserta anak yang dikandungnya dimakamkan di sebuah pemakaman umum di jalan Parit Pangeran.


"Bang Nizar jangan sedih," hibur Fahri. Dengan cepat Nurpiah menyeret anaknya menjauh dari Nizar.


"Jangan dekat-dekat dia," kata Nurpiah dengan nada berbisik sambil menunduk ke arah Fahri.


"Jangan seperti itu Dek, biarkan saja, lagi pula suasana seperti saat ini Nizar memang butuh dihibur atas kepergian Emaknya."


***


Waktu pun melesat kembali. Tak ada satu pun yang dapat menghentikannya. Setelah sekian lama bergulat di bidang development, Rustam mengembangkan sayap usahanya. Ia membuka usaha biro perjalanan yang kantornya terletak di Sungai Jawi. Ia juga memindahkan kantor development miliknya yang semula di rumahnya ke daerah Kota Baru. Kedua usahanya terus mengalami kemajuan yang signifikan.


Rustam melihat pantulan wajahnya di cermin. Kedua usahanya memang maju tapi umurnya terus berkurang. Sosok di cermin itu tak lagi muda. Kedua anaknya telah dewasa kini. Fahri telah duduk di bangku kelas sepuluh di SMU negeri 5 Pontianak yang merupakan sekolah umum negeri satu-satunya yang ada di kecamatan Pontianak Utara. Sedangkan Nizar melanjutkan pendidikannya ke UPB. Ia mengambil jurusan Manajemen di Fakultas Ekonomi. Saat ini Nizar berada di semester terakhir dan sedang berencana menyusun skripsi.


Rustam meraba bagian dada kirinya yang tiba-tiba saja agak sedikit nyeri.


"Ada apa Bang, jantung Abang sakit lagi?" tanya Nurpiah yang masuk ke kamar tanpa Rustam sadari.


"Tidak kok Dek," kata Rustam berbohong agar Nurpiah tidak menjadi khawatir. Satu bulan lalu ia merasakan nyeri pada dada sebelah kiri. Setelah diperiksa oleh dokter ia dinyatakan mengidap penyakit jantung.


"Sarapan dulu Bang kalau begitu."


"Anak-anak mana?" tanya Rustam setelah sampai ia di meja makan.


"Fahri sudah berangkat ke sekolah tadi," Nurpiah menuangkan teh panas dari ceret keramik ke dalam cangkir keramik.


"Gula batunya berapa Bang?"


"Satu saja."


"Oh ya, Nizar berangkat jugs ke kampus?"


Rustam dapat menangkap sekilas perubahan di wajah Nurpiah.


"Dek, kamu kenapa?"


"Ah, nggak kok Bang."


***


Fahri dan Nizar hanya dapat terpaku, menatap sosok ayah mereka yang kini terbujur kaku diselimuti Kain jarik. Tadi Nurpiah menghubungi mereka, mengabarkan bahwa ayah mereka terkena serangan jantung secara mendadak saat sarapan pagi. Sempat dibawa ke rumah sakit akan tetapi nyawa ayah mereka tidak dapat tertolong.


Seminggu kemudian setelah Rustam dimakamkan.


"Apa yang kau lakukan?" bertanya Nurpiah dengan wajah tak suka. Malam ini ia dan Fahri berada di rumah mereka. Nizar sendiri tak lagi tinggal di rumah ini. Setelah mendapat pekerjaan sebagai cleaning service di salah satu hotel mewah di jalan Gajah Mada. Nizar memutuskan untuk hidup mandiri dengan ngekost di sekitar daerah Jeruju dekat dengan kampusnya.


"Apa maksud Mak?"


"Kau merubah surat wasiat Bapak mu dan memberi usaha biro perjalanan ke Nizar."


Fahri, setelah menerima surat wasiat dari ayahnya merasa agak sedikit kecewa karena ayahnya mewariskan semua usahanya dari development dan biro perjalanan kepadanya. Semua itu akan ia dapatkankan nanti setelah ia menyelesaikan pendidikannya. Untuk sementara waktu bidang usaha development milik ayahnya dipegang oleh Pak Gunawan. Pak Gunawan ia adalah sahabat masa ayahnya kuliah dulu sekaligus orang kepercayaan ayahnya. Sementara jasa biro perjalanan dipegang untuk sementara waktu oleh Nurpiah.


Melalui seorang pengacara Fahri merubah surat wasiat ayahnya. Usaha biro perjalanan kemudian jatuh ke tangan Nizar.


"Mak, Bang Nizar itu juga saudara ku walau aku dan Bang Nizar lain ibu."


"Tapi Nizar sudah memiliki pekerjaan kau tahu itu kan cleaning service."


"Aku ingin yang pantas untuk Bang Nizar walau bukan berarti bekerja sebagai cleaning service itu tercela, tapi aku tak ingin jadi serakah menguasai semua harta milik Bapak, lagi pula aku ndak bisa menghendel keduanya nanti."


Teringat kemudian Fahri pada kejadian satu bulan yang lalu. Ia melihat pintu kamar Nizar sedikit terbuka hingga membuat cela. Ia dapat melihat di dalam kamar Nizar duduk di tepi tempat tidur. Di samping Nizar terdapat tas besar berisi pakian. Yang membuat ia heran Nizar tampak menangis sambil mendekap buku bersampul coklat.


Kaget Nizar saat Fahri tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya. Cepat Nizar menghapus air mata yang tadi sempat menetes di pipi.


"Abang menangis," seumur hidup Fahri hanya tahu abangnya menangis seperti ini saat pemakaman Supiah. Ia langsung duduk di samping Nizar.


"Ndak, hanya kelilipan debu tadi," Nizar berbohong sambil menarik laci nakas di sampingnya, memasukkan buku coklat itu ke dalam laci. Lalu menutup laci itu.


"Itu buku apa Bang?"


"Hanya buku biasa tentang catatan kuliah ku." Nizar berkata tapi Fahri tahu abangnya berbohong kepadanya saat ini. Lagi pula mana ada orang yang menangis sambil mendekap buku catatan kuliah seperti itu.


"Bang, kenapa Abang harus pindah dari rumah ini?"


"Abangkan sudah mengatakan waktu itu, Abang ini hanya ingin mandiri."


"Rumah ini akan terasa sepi kalau nggak ada Abang."


"Setiap hari minggu atau hari libur Insya Allah Abang pasti ke sini."


Tiga hari kemudian Nizar pindah ke kostnya. Yang tak diketahui Nizar bahwa Fahri secara diam-diam tiga hari yang lalu masuk ke kamarnya, membuka laci nakas, mengambil buku bersampul coklat itu lalu membaca isinya. Saat itu Nizar harus pergi ke rumah dosen pembibingnya di daerah Batu Layang.


Fahri betul-betul menangis saat membaca buku yang ternyata adalah buku harian milik Supiah. Di dalamnya tertulis luahan hati Supiah yang begitu tersakiti karena dikhianiti oleh sang suami dengan cara berselingkuh dengan ibunya lalu ibunya dan ayahnya itu menikah. Lebih parahnya lagi saat kehamilan keduanya sang suami tidak peduli dengan dirinya. Tapi Supiah tetap lapang dada menerima perlakuan suaminya itu.


Fahri kemudian berjanji pada diri sendiri jika ia memiliki istri nanti ia tak akan mengikuti jejak ayahnya untuk berpoligami. Tapi siapa yang tahu akan masa depan karena seperti telah diceritakan di awal Fahri sepertinya harus melanggar janji tersebut.


CATATAN


Ragak: Keranjang.


Pelat: Cadel.


Bile/Bila: Kapan.


Ke: Merupakan salah satu partikel penegas dalam bahasa Melayu. Kalau di dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan 'kah'. Contoh kalimat 'Iya kah'.


Bulakan: Membohongi


Diterajang: Ditendang.


Nong'e: Panggilan sayang orangtua ke anak atau seseorang yang lebih tua kepada yang lebih muda.


Maseh budak-budak: Masih anak-anak.


Kampung Arang: Daerah ini sekarang terpecah menjadi tiga desa, Kampung Arang, Arang Limbung, dan Teluk Mulus.


Luahan hati: Curahan Hati.

__ADS_1


__ADS_2