
Esok harinya sekitar jam sebelas siang, Riska dan Prasetyo datang lagi ke kantor Andari untuk bertemu perancang busana pernikahan mereka. Mereka juga bertemu dengan pemilik jasa dekorasi pernikahan mereka dan pemilik jasa katering pernikahan mereka.
Untuk dekorasi pernikahan mereka memilih yang sederhana tapi elegan dan juga minimalis. Menu pernikahan mereka memilih bakso, dan sate. Untuk menu nasi lengkap Riska dan Prasetyo sepakat menggunakan jasa katering restoran milik Prasetyo. Makanan penutup mereka memilih es krim, serta buah potong seperti semangka dan pisang, serta aneka kue kering, seperti nastar, kastangel, serta semprit. Tidak ketinggalan kue basah seperti lapis legit dan red velvet. Minumannya mereka memilih air Passy gelas serta air gas rasa jeruk.
***
"Jadi sekarang Mas bisa cerita kepada ku mengenai Andari."
Setelah dari kantor Andari, Riska mengajak Prasetyo untuk santap siang di Marugame Udon yang terletak di lantai dasar Mega Mall. Tiba-tiba saja siang ini ia ingin makan udon. Ia memesan spicy beef karubi udon. Minumannya ia memilih teh hijau. Prasetyo yang tidak terlalu suka mie, memesan sukiyaki beef rice. Minumannya ia memilih lemon tea.
"Maksud kamu cerita yang bagaimana?" tanya Prasetyo sambil memasukkan sesuap nasi ke mulutnya.
"Mas aku ndak bisa kamu bohongi selama sesi pertemuan tadi sikap mu agak sedikit kaku saat berhadapan dengan Andari." Riska kemudian menyesap teh hijaunya.
"Andari bukan hanya Mas kenal sepintas lalu sajakan saat Mas menolongnya dari pembegalan waktu di Jogja."
Prasetyo menghentikan sejenak kegiatan makannya. Ia lalu berkata,
"Kamu benar aku dan Andari dulunya kami begitu dekat malah kami sebenarnya akan menikah."
"Lalu?"
"Pernikahan itu batal." Prasetyo lalu menyuapkan kembali nasi ke dalam mulutnya.
"Kenapa bisa batal?"
Prasetyo diam tidak menjawab pertanyaan Riska.
"Mas!"
Ingatan akan masa lalu itu seolah kembali hadir di hadapan Prasetyo.
***
__ADS_1
Malioboro lima tahun yang lalu. Orang-orang campuran antara turis asing dan warga lokal berlalu lalang, ditingkahi suara pedagang dari makanan hingga pakian yang menawarkan dagangan mereka kepada orang yang berlalu lalang. Ditambah klakson kendaraan yang sesekali terdengar, membuat suasana Malioboro tambah ramai dan juga berisik.
Beberapa andong dan juga becak tecogok di tepi jalan Malioboro. Beberapa sais andong dan juga tukang becak setia menanti para turis atau orang-orang lokal yang hendak menggunakan jasa mereka, minta diantar ke mana saja, mengelilingi kota Jogja yang begitu eksotik akan bangunan tuanya.
Konon katanya jalan Malioboro yang memiliki panjang kurang lebih satu kilo meter, mirip dengan jalanan di negara- negara Eropa. Hanya lampu tiangnya saja yang membedakan karena lampu tiang ini memiliki ciri khas tertentu yang menggambarkan sebuah kelokalan.
Di salah satu bangku taman di kawasan Malioboro, seorang laki-laki dan seorang perempuan sedang duduk menatap keramaian di depan mereka. Tak jauh dari mereka terdapat istana negara. Istana negara ini satu dari lima istana negara yang ada di Indonesia. Istana ini biasa digunakan sebagai penginapan untuk president jika president berkunjung ke Jogja. Dua patung gupala tampak menjaga di sebelah kanan maupun kiri pagar istana negarà .
Sementara di kiri mereka, terpisahkan oleh jalan raya, terdapat Meseum Benteng Van Derburgh. Tak jauh dari meseum terdapat simpang empat yang penuh akan kendaraan bermotor. Lampu pengatur lalu lintas di simpang empat berubah merah. Secara otomatis para kendaraan menghentikan lajunya, menanti lampu pengatur lalu lintas berubah menjadi hijau. Tak jauh dari simpang empat itu terdapat Gereja Katolik St. Franciscus Xaverus atau Kidul Loji yang berdiri di samping kantor pos besar. Tak jauh dari kantor pos besar hanya dipisahkan jalan raya terdapat kantor BRI. Kawasan ini kemudian disebut sebagai titik nol Kota Jogja.
"Akhirnya kita akan menikah," Prasetyo berkata dengan senyum tersunging di wajahnya. Dua hari yang lalu waktu di kampus, Prasetyo menyatakan ingin melamar Andari setelah lulus mereka dari kuliah dan Andari menerima keinginan Prasetyo tersebut.
Mereka tadi baru dari Shopping. Andari kemarin memang mengatakan kepada Prasetyo ia ingin mencari buku bekas di Shopping untuk bahan skripnya. Tidak terasa Kuliah yang dijalani Andari telah memasuki semester terakhir. Sekarang ia tinggal menyusun skripsi. Beberapa menit kemudian Prasetyo datang menemui Andari di Shopping. Sama seperti Andari, kuliah yang dijalani Prasetyo telah memasuki semester terakhir. Bersama dengan Andari, ia kemudian mencari buku bekas untuk penunjang bahan skripsi mereka. Selesai dari Shopping mereka memutuskan ke Malioboro yang jarakanya dari Shopping tidak sampai lima menit berjalan kaki.
Andari kemudian teringat akan pertemuan awal ia dengan Prasetyo.Awal pertemuan mereka terjadi saat ia bersama Indri dibegal oleh dua orang laki-laki di jalan Cangkringan. Indri adalah teman satu kamar Andari di pondok pesantren. Biasanya hari Sabtu Indri tidak ada mata kuliah dan ia biasanya memutuskan untuk pulang ke rumah Neneknya di jalan Cangkringan sambil membawa salah satu teman kamarnya di pondok pesantren. Kali ini giliran Andari yang diajak Indri untuk menginap di rumah neneknya karena Andari belum pernah ke rumah neneknya. Kebetulan sama seperti Indri, hari Sabtu ini Andari tidak ada mata kuliah.
Indri sendiri kuliah di UNY di Fakultas Ilmu Pendidikan jurusan PGSD. Orangtuanya asli Jogja akan tetapi saat Indri berumur satu tahun Ayah Indri memutuskan untuk pindah ke Palembang.
"Kenapa kamu ndak tinggal dengan mbah mu saja? kan kampus mu ndak terlalu jauh dari rumah mbah mu?" tanya Andari waktu itu. Heran ia kenapa Indri malah memilih tinggal di pondok pesantren. Mereka waktu itu baru selesai membersihkan kamar mereka. Sementara itu teman-teman mereka yang lainnya sedang menunaikan sholat Isya berjamaah di masjid pondok. Mereka waktu itu datang bulan. Dari pada bengong tidak berbuat apa-apa, mereka memutuskan untuk memberishkan kamar. Setelah selesai membersihkan kamar, mereka beristirahat sambil menikmati teh hangat dan setoples lanting bumbu jagung bakar oleh-oleh dari Diana yang minggu lalu memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya di Purworejo karena kakak pertamanya menikah.
Bulek Sri adalah adik bungsu dari Ibu Indri. Sudah menikah punya anak laki-laki satu yang sekarang duduk di bangku kelas tujuh SMP. Suami Bulek Sri bekerja di perusahaan kelapa sawit di Sabah. Begitu cerita Indri kepada Andari.
***
Jarak mereka kurang lebih lima ratus meter lagi dari rumah Nenek Indri saat tiba-tiba saja sebuah motor mepet motor yang mereka kendarai.
"Lepaskan," kata Indri yang duduk di belakang Andari, berusaha mempertahankan tas selempangnya saat salah satu pemuda yang mepet motor mereka berusaha menarik tali tas selempangnya. Akibatnya Andari dan Indri terjatuh dari atas motor yang mereka kendarai. Bruk!
Andari dapat melihat para pembegal itu kabur setelah dihajar oleh seorang pemuda yang kebetulan melintas di jalan ini. Pemuda itu kemudian mengangkat motor yang menimpa tubuh Andari dan Indri.
"Terima kasih ya Mas." kata Andari sambil meringis menahan sakit. Siku tangan kirinya sedikit terluka akibat tadi terbentur aspal. Yang parah Indri. Kaki kirinya melepuh karena tertimpa knalpot motor. Ia sampai menangis sambil menahan sakit.
Indri kemudian dibawa ke puskesmas terdekat untuk mengobati luka di kakinya.
__ADS_1
"Indri ndak apa-apa kok Mbah. Untung tadi ada Mas Prasetyo," kata Indri menjelaskan saat ia sampai ke rumah neneknya. Mereka tadi memang sempat berkenalan dengan pemuda yang menyelamatkan mereka waktu di puskesmas. Prasetyo memang mengantar mereka sampai ke puskesmas. Ia juga mengantar mereka sampai ke rumah Nenek Indri. Mereka tadi sempat menolak tawaran Prasetyo , akan tetapi karena mereka takut begal itu datang lagi untuk meneror mereka kembali, mereka terpaksa menerima tawaran Prasetyo untuk mengantar mereka sampai ke rumah Nenek Indri.
Pertemuan mereka yang kedua tanpa sengaja terjadi di lorong lantai dasar kampus. Andari waktu itu baru keluar dari toilet. Ponselnya tiba-tiba saja mengeluarkan nada pesan. Ternyata dari ibunya yang mengabarkan uangnya telah ditransfer. Hampir saja ia menabrak seseorang yang ternyata Prasetyo.
"Andari"
"Mas Prasetyo."
Dari sini Andari kemudian tahu bahwa ia satu kampus dengan Prasetyo. Bedanya ia di Tarbiyah sedangkan Prasetyo di Ekonomi. Awalnya rasa cinta itu belum tumbuh di hati Andari. Akan tetapi karena sikap Prasetyo yang baik membuat Andari perlahan tapi pasti dapat melupakan sosok Fahri.
"Kamu sudah menghubungi orangtua mu di Pontianak."
"Sudah."
"Apa kata orangtua mu?"
"Kaget karena setelah lulus kuliah aku langsung menikah. Tapi orangtua ku menyerahkan semua keputusan di tangan ku."
"Kapan orangtua mu datang ke Jogja?"
"Insya Allah besok."
Dua hari yang lalu setelah dari kampus Prasetyo mengajak Andari ke rumah orangtuanya di daerah Wirosaban. Andari menilai Ayah Prasetyo begitu menerimanya dengan terbuka, malah Ayah Prasetyo berencana menemui orangtuanya di Pontianak. Berbeda dengan ibu Prasetyo yang tampaknya kurang sreg dengan dirinya
"Mas, sepertinya ibu mu kurang sreg dengan aku," kata Andari dengan berbisik saat Prasetyo mengantarnya sampai ke halaman depan rumah.
"Kamu ndak usah khawatir ibu ku memang seperti itu orangnya, biasalah kekhawatiran seorang ibu kalau anak laki-lakinya mau menikah," Prasetyo berkata berusaha menenangkan Andari.
Setibanya di pondok pesantren, Andari langsung menghubungi orangtuanya di Pontianak dan menceritakan kabar gembira tersebut. Sesuai apa yang diprediksikan Andari sebelumnya, orangtuanya kaget terutama sekali ayahnya mendengar berita ini akan tetapi semua keputusan diserahkan kembali ke Andari. Ayahnya juga mengatakan tiga hari lagi akan ke Jogja karena ada urusan bisnis. Ayahnya juga mengatakan akan membawa serta ibunya jadi untuk sementara orangtua Prasetyo tidak perlu ke Pontianak karena mereka nantinya akan bertemu di Jogja.
CATATAN
Passy: Nama salah satu merk air mineral terkenal di Kalimantan Barat.
__ADS_1
Air gas: Air soda seperti Coca-Cola, Sprite, Fanta dan sebagainya.
Tecogok: Kalimat ini memiliki banyak arti tergantung kalimat yang mengikutinya. Kalau di sini tecogok artinya terparkir.