Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 51~ (Kesadaran Arieska)


__ADS_3

...Hei aku update lagi nih. Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya biar aku semangat buat update....


...Menuju kebahagiaan baru buat masing-masing tokoh sebelum bertemu kembali dengan karakter yang berbeda nantinya....


...Happy reading...


****


Arieska menatap langit-langit ruangannya dengan perasaan hampa, setelah sadar kemarin Arieska sangat merindukan Dimas tetapi ia tidak mau membuat kedua orang tuanya kecewa karena saat koma Arieska mendengar jika kedua orang tuanya tak lagi mengizinkan Arieska bertemu dengan Dimas.


"Ma!" panggil Arieska dengan lemah karena kondisinya yang memang belum stabil.


"Iya, Sayang. Kamu mau apa?" tanya Mama Erika dengan perhatian karena ia sangat senang melihat Arieska kembali bersama dengannya.


"Arieska mau Dimas, Ma!" ucap Arieska dengan lirih.


Mama Erika terdiam dengan raut wajah dingin. "Kamu mau membuat Mama mati terkena serangan jantung?" tanya Mama Erika dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.


Arieska menggelengkan kepalanya. Air matanya sudah mengalir tanpa bisa ia bendung, ia meringis memegangi dadanya yang terkena tembak, nyeri itu kembali datang tetapi Arieska mencoba untuk kuat agar tidak membuat mamanya khawatir.


Arieska menangkupkan kedua tangannya. "Kalau begitu izinkan Arieska untuk membuat video buat Dimas! Arieska mau pamitan ke Dimas," ucap Arieska memohon. "Arieska mohon Ma. Tolong kabulkan permintaan Arieska setelah itu kalau Mama dan papa mau bawa Arieska pergi, Arieska akan nurut," ucap Arieska dengan sendu, ia begitu memohon kepada mama Erika.


Mama Erika memejamkan matanya, ia tidak tega melihat Arieska yang seperti ini. Dari kemarin Arieska terus meminta di bawakan laptop dan flashdisk miliknya ternyata anaknya mau membuat video perpisahan untuk Dimas.


"Jangan lama-lama," ucap Mama Erika pada akhirnya.


Arieska mengangguk dengan senang. Ia sangat bahagia ketika sang mama memberikan laptop dan flashdisk miliknya. "Mama keluar sebentar ya!" ucap Arieska karena ia butuh waktu sendiri untuk membuat video tersebut.


"Baiklah. Kalau ada apa-apa langsung panggil Mama!" ucap Mama Erika dengan cemas.


Arieska mengangguk dengan senyuman di bibir pucatnya. Setelah mamanya keluar Arieska langsung menghidupkan laptopnya, ia menekan tombol kamera di sana. setelah ia menekan tombol video di sana Arieska langsung melepaskan alat bantu pernapasannya.


Hai Dim. Gimana kedaaan lo di sana? Gue harap lo akan baik-baik saja ya, gue bahagia banget bisa menyelamatkan lo waktu itu. Lo harus berubah demi Jelita, gue yakin kalau lo bisa berubah lebih baik lagi. Pasti lo bingung kenapa gue buat video ini ya? Hehe gue mau pamit Dim, pergi ke tempat yang jauh. Gue gak akan merepotkan lo lagi atau buat lo kesal karena gue. Kejadian itu pertemuan terakhir kita. Tapi sebelum gue benar-benar pergi, gue mau bilang sampai saat ini gue masih sayang dan cinta sama lo, Dim. Perasaan ini tidak akan pernah hilang sampai kapan pun.


Gue pamit ya, Dim. Jaga diri lo baik-baik.


Arieska memasang kembali alat pernapasannya yang tiba-tiba saja ia merasa kesulitan untuk bernapas, video yang Arieska buat masih berjalan, ia berusaha tersenyum di video itu agar Dimas tak melihat kesakitannya dengan tangan gemetar ia menekan tombol selesai, dengan sekuat tenaga yang ia punya Arieska mencoba menyimpan video tersebut di dalam flashdisk yang akan diberikan kepada Dimas.

__ADS_1


*****


Tak terasa sudah 3 minggu Mentari di rawat dan sekarang wanita itu diperbolehkan pulang oleh dokter karena kondisinya yang sudah sangat membaik. Tetapi sebelum pulang Mentari ingin bertemu Arieska yang katanya sudah bangun dari komanya selama 3 minggu tetapi kondisi gadis itu belum stabil sama sekali. Arieska masih menggunakan alat pernapasan karena kondisinya yang sering drop.


"Mbak Arieska berada di ruangan apa, Mas?" tanya Mentari melihat kearah suaminya.


"Ada di lantai atas, Sayang. Ruangan VIP juga tapi sangat khusus dan tidak sembarangan orang bisa masuk kecuali dengan izin dokter," jawab Elang dengan lembut. "Kamu benar gak mau pakai kursi roda aja? Nanti kamu kecapean, Sayang. Kasihan adek juga," lanjut Elang dengan mengelus perut Mentari dengan lembut.


Mentari tersenyum dengan perhatian suaminya tersebut. "Mentari udah sehat Mas! Gak sakit lagi! Mentari mau jalan aja," seru Mentari dengan mengapit lengan suaminya dengan manja.


"Ya udah kalau begitu, tapi kalau capek langsung ngomong sama Mas biar Mas ambilkan kursi roda," ucap Elang dengan lembut.


Keduanya berjalan menuju lift untuk menjenguk Arieska yang berada di lantai atas. Ruangan yang sangat khusus bagi pasien yang kondisinya sangat parah, ruangan yang harganya tentu saja sangat fantastis. Sesekali Mentari tersenyum menatap ke arah suaminya, Elang sudah sangat berubah dan tentu saja membuat Mentari sangat suka.


Tak jauh dari mereka ada wanita paruh baya yang duduk sendirian. Tentu saja Elang mengenalnya karena beberapa kali ke rumah Dimas dirinya sering melihat wanita itu. Ya, dia adalah Erika, ibu dari Arieska.


"Selamat pagi Tante," sapa Elang dengan ramah.


Mentari juga ikut menyapa Erika seperti apa yang dilakukan suaminya. "Pagi Tante," sapa Mentari dengan tersenyum ramah.


" Dia Mentari, Tante. Istri saya!" ucap Elang memberitahu Erika.


"Ah iya.. Selamat pagi Mentari. Apa kalian ingin bertemu dengan Arieska?" tanya Erika dengan sendu.


Mentari mengangguk tersenyum kecil. "Iya Tante. Apa boleh kami melihatnya?" tanya Mentari dengan nada lembut.


Erika menghela nafasnya perlahan. "Boleh. Tapi kondisinya belum stabil, saya mohon jangan ajak dia ngobrol terus ya," ucap Erika dengan lirih. "Kondisinya sering drop, dia juga sering memanggil Dimas tapi saya tidak mungkin mempertemukan Arieska dengan Dimas. Jika bisa kalian tolong beri pengertian pada Arieska ya! Anak itu terlalu cinta pada Dimas hingga rela dirinya terkena tembak, saya sebagai ibunya merasa ingin marah tetapi itulah sifat anak saya jika sudah cinta pada satu orang," lanjut Erika dengan lirih.


"Iya Tante. Kami akan memberikan pengertian pada Arieska. Jika begitu kami masuk dulu Tante," ucap Elang dengan lirih.


"Iya silahkan. Saya sedang menunggu suami saya," seru Erika.


Mentari mengikuti langkah suaminya memasuki ruang perawatan Arieska. Di sana Arieska terbaring dengan lemah dan wajahnya yang sangat pucat, tubuhnya yang gendut kini sudah terlihat kurus membuat Mentari kasihan menatap ke arah Arieska.


Arieska yang menyadari ada orang yang masuk ke ruangannya menoleh ke arah Elang dan Mentari. Gadis itu tersenyum tipis ke arah sepasang suami istri tersebut.


"H-hai..." sapa Arieska dengan lirih.

__ADS_1


"Hai Mbak Arieska. Gimana keadaan Mbak?" Tanya Mentari setelah Elang memberikannya tempat duduk dengan Elang yang berdiri di samping istrinya.


"B-baik," jawab Arieska singkat. "Lo sudah sehat?" lanjut Arieska dengan bertanya menatap ke arah Mentari yang sudah terlihat sangat baik.


Mentari mengangguk. "Alhamdulillah Mbak. Berkat doa semuanya aku sudah kembali sehat. Terima kasih ya Mbak karena Mbak sudah menolong aku waktu itu, maaf waktu itu aku gak bisa menjenguk Mbak Arieska di rumah sakit maupun di rumah," ucap Mentari dengan sendu.


"Gak pa-pa. Seharusnya gue yang meminta maaf mewakili Dimas. Maafkan Dimas ya dan gue mohon ringankan hukumannya, gue gak mau Dimas hidup di dalam penjara se-umur hidup. Gue sayang sama Dimas! Gue cinta sama dia walaupun Dimas gak pernah melihat ke arah gue karena tubuh gue yang gendut dan wajah gue yang jelek. Tapi gue tulus mencintai dia," ucap Arieska dengan sendu.


Mentari menatap ke arah suaminya karena kuasa ada di tangan Elang. Elang yang mengerti tatapan istrinya hanya bisa menghela nafas. "Gue akan bantu Dimas kalau dia mau berubah dan gak akan menyakiti istri gue lagi," ucap Elang membuat kedua perempuan itu tersenyum lega.


"Terima kasih Elang, Mentari," ucap Arieska dengan tersenyum hatinya sungguh lega saat Elang akan meringankan hukuman Dimas. Arieska mencoba mengambil benda yang baru saja ia buat untuk dirinya berikan pada Dimas, lelaki yang amat sangat ia cintai. "Tolong berikan ini pada Dimas, karena gue gak mungkin bisa menemui dia. Katakan pada Dimas juga dia harus bisa berubah, jangan mengkonsumsi barang haram lagi, merokok atau apa saja yang bisa merusak kesehatannya. Mungkin gue gak akan bisa berada di dekat dia lagi makanya gue mau dia berubah, jika perubahannya bukan karena gue setidaknya dia berubah demi masa depannya, demi istri yang akan di nikahinya kelak," lanjut Arieska dengan meneteskan air mata. Sesak rasanya harus mengatakan itu pada Dimas walau tak secara langsung.


"Mbak bisa bertemu dengan Dimas makanya Mbak harus sembuh," ucap Mentari memberikan semangat untuk Arieska.


Arieska tersenyum tipis. "Gue gak mungkin bisa lagi bertemu dengan Dimas. Papa tidak akan pernah mengizinkan gue bertemu dengan Dimas walau sebenarnya gue sangat ingin," ucap Arieska dengan sendu menatap ke arah Mentari.


"Rumah kalian berdampingan nanti Mbak bisa ketemu Dimas lagi."


Arieska hanya tersenyum. Elang dan Mentari tidak mengetahui jika hatinya benar-benar sakit saat ini karena kedua orang tuanya tidak akan mengizinkan dirinya bertemu dengan Dimas terlebih sang papa. "Gue cuma titip barang ini dan pesan gue tadi tolong sampaikan pada Dimas kalau kalian menjenguk Dimas," ucap Arieska dengan lirih.


"Gue mau istirahat bisa kalian keluar?!" lanjut Arieska membuat Elang dan Mentari mengerti.


"Iya kami akan keluar. Mbak harus cepat sembuh dan minta izin ke papa Mbak untuk menjenguk Dimas," ucap Mentari dengan lirih. Elang hanya diam saja membiarkan istrinya yang berbicara.


Arieska tak lagi menimpali ucapan Mentari. Gadis itu hanya diam dengan pandangan kosong, hidupnya sudah tidak berwarna semenjak dirinya tidak bisa melihat Dimas. Jika Arieska bisa, ia ingin sekali menghilangkan rasa cinta ini yang sudah mendarah daging di tubuhnya.


"Kami pamit pulang Mbak."


Arieska hanya mengangguk setelah merasa jika Elang dan Mentari sudah keluar gadis itu menangis dengan terisak menghilangkan rasa sesak yang menghimpit dadanya.


"M-mama!" panggil Arieska dengan lirih.


"Ma!"


Arieska sudah tidak kuat menahan sakit pada dadanya. Tembakkan itu sangat dalam dan hampir menghilangkan nyawanya. Mama Erika yang mendengar anaknya memanggil dirinya langsung masuk bersama sang suami yang baru saja datang.


"Kita akan pergi dari sini! Suka atau tidak suka Papa akan membawa kamu dan Mama kembali ke tempat yang seharusnya kita tinggali sejak dulu," ucap Papa Haris dengan tegas. Sebagai seorang ayah, ia tidak ingin anaknya semakin terpuruk karena seorang pria dan semua ini juga ia lakukan agar anaknya mendapatkan penanganan terbaik di rumah sakit di luar negeri, di mana mereka akan menetap di sana.

__ADS_1


__ADS_2