
...Update malam ya gengs. Aku udah mulai sibuk di dunia nyata. Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya....
...Happy reading...
***
Entah mengapa Jelita sangat ingin pulang ke Indonesia. Ia sudah sangat merindukan Dimas, kakak yang katanya sudah berubah menjadi lebih baik setelah kejadian tiga tahun lalu. Saat ini Jelita menatap Raka dengan mengedip-ngedipkan matanya lucu. Raka yang paham akan sikap adiknya sekarang langsung menghela napasnya dan tersenyum kepada Jelita.
"Mau apa, Sayang?" tanya Raka yang sudah paham jika Jelita menginginkan sesuatu darinya saat ini.
"Kalau aku minta sesuatu Kakak pasti akan mengabulkan permintaan aku, kan?" tanya Jelita dengan manja dan bergelayut di lengan kekar Raka.
"Emang kamu mau apa?" tanya Raka dengan lembut dan mengelus kepala adiknya dengan sayang. "Mau mobil? Mau rumah? Mau buka butik baru lagi? Mau belanja? Mau perhiasan? Atau mau tas..."
"Gak mau itu semua!" ucap Jelita mengerucutkan bibirnya karena Jelita sudah memiliki segalanya. "Aku mau pulang," ucap Jelita dengan lirih dan mendongakkan kepalanya menatap ke arah Raka untuk mengetahui ekspresi wajah sang kakak.
Raka tercenung, selama tiga tahun lamanya Jelita tidak pernah meminta pulang dan permintaan adiknya kali ini membuat Raka terdiam, ia tidak tahu menjawab apa karena Raka sangat berat untuk pulang ke Indonesia. Tanah kelahiran mereka yang sudah memberikan luka kepada adiknya begitu dalam, ketakutan Raka akan depresi Jelita membuat Raka enggan untuk pulang.
"P-pulang?" ulang Raka dengan terbata.
"Iya, Kak. Ayo kita pulang ke Indonesia! Aku sudah sangat merindukan kak Dimas. Please, Kak!" ucap Jelita dengan menangkupkan kedua tangannya memohon kepada Raka.
__ADS_1
"Dek, kamu tahu kan kalau kamu memiliki kenangan buruk di Indonesia. Kita menatap di sini saja ya," ucap Raka dengan lirih.
"Kali ini Kakak gak bisa ya kabulin permintaan aku?" tanya Jelita dengan lirih. "Aku janji Kak gak akan menjadi Jelita yang dulu," lanjut Jelita meyakinkan Raka.
"Kakak tahu kamu sudah berubah bahkan perubahan kamu sangat drastis sekali tetapi Kakak takut sewaktu-waktu ada yang menyakiti kamu kembali. Itu sama saja perjuangan Kakak untuk menyembuhkan kamu dan membuat kamu bahagia salama ini itu sia-sia Jelita. Kamu paham kan maksud Kakak?" ucap Raka dengan hati-hati agar tidak menyakiti perasaan adiknya.
"Aku paham sekali, Kak. Tapi aku sangat yakin jika tidak ada yang bisa menyakiti aku seperti dulu lagi, Kak!" ucap Jelita dengan tegas. "Kita pulang ya Kak," rayu Jelita dengan manja.
Raka menatap kedua manik mata adik dengan dalam lalu Raka menghela napasnya dengan perlahan. "Tunggu pekerjaan Kakak selesai di sini dan kita akan pulang ke Indonesia," ucap Raka pada akhirnya.
"Yes! Kak Raka yang paling baik, Jelita sayang banget sama Kak Raka!" ucap Jelita dengan tulus. "Andai saja kita bisa berkumpul dengan papa dan mama," ucap Jelita berandai-andai tetapi Jelita tak mau berharap karena memiliki kakak seperti Raka sudah membuat hidup Jelita sempurna.
"Aku gak banyak berharap lagi, Kak. Memiliki Kakak di hidup aku saja sudah membuatku bahagia walau terkadang aku ingin seperti keluarga yang lainnya tapi itu hal wajar," ucap Jelita dengan tersenyum.
Raka mengacak rambut adiknya dengan gemas. Jelita sudah benar-benar berubah dan Raka sangat suka dengan perubahan Jelita.
"Kakak kapan menikah sih?" tanya Jelita dengan tiba-tiba membuat mood Raka kembali memburuk wajahnya kembali datar karena pertanyaan Jelita tersebut.
"Kamu saja yang menikah dulu," jawab Raka dengan serius.
"A-aku?" tunjuk Jelita pada dirinya sendiri. "Hahaha... Emang siapa yang mau dengan orang gila seperti aku?" tanya Jelita dengan tertawa.
__ADS_1
"Jelita!" ucap Raka dengan penuh penekanan karena Raka tidak suka dengan ucapan Jelita. Adiknya sudah sembuh sejak lama dan pasti ada gang suka dengan adiknya karena Jelita sangat cantik.
Jelita menghentikan tawanya. "Maaf, Kak!" ucap Jelita dengan lirih.
Raka menghela napasnya dengan kasar. "Jangan ulangi ucapan itu lagi! Kakak tidak suka!" ucap Raka dengan dingin.
"I-iya, Kak. Maaf!" gumam Jelita dengan lirih.
"Sekarang keluar dari kamar Kakak. Kakak mau istirahat, kamu juga istirahat sana!" ucap Raka dengan datar karena masih kesal dengan ucapan adiknya.
"Gak mau! Aku mau tidur di sini sama Kakak," ucap Jelita dengan manja.
Raka diam saja, ia masih berusaha menghilangkan rasa kesalnya.
"Kakak!" rengek Jelita dengan manja. "Jangan marah lagi," ucap Jelita memeluk tubuh kekar Raka dengan erat.
"Gemessss!" ucap Raka dengan gemas memeluk adiknya dengan erat. "Kakak gak marah. Sekarang kita tidur," ucap Raka pada akhirnya membuat Jelita kembali senang.
"Selamat malam, Kak!" gumam Jelita memejamkan mata.
"Selamat tidur adik kesayangan Kakak," ucap Raka dengan lembut.
__ADS_1