Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 82~ (Ingin Menikah)


__ADS_3

...Hei aku kembali. Jangan lupa like, vote dan komentar yang banyak....


...Aku boleh minta bantuan kalian? Tolong share cerita ini ke teman-teman kalian ya. Siapa tahu ada yang suka....


...Terima kasih....


...Happy reading...


***


Arieska membantu Dimas memakai dasinya. Sejak pernikahan Jelita yang terjadi kemarin entah mengapa Arieska melihat Dimas lebih pendiam tidak seperti biasanya. Sepertinya sedang ada yang dipikirkan oleh Dimas. Lelaki yang berstatus kekasihnya itu sekarang terlihat aneh sekali jika menjadi pendiam seperti ini.


"Mas kenapa? Aku lihat sejak kemarin Mas lebih pendiam dan itu terasa sangat aneh di pikiranku," ucap Arieska penasaran. Ia menatap Dimas tepat di manik mata pria itu.


Dimas tak langsung menjawab, pria itu terlebih dahulu menarik napas yang dalam. "Kita yang ingin menikah duluan tapi lihat kemarin Jelita yang menikah," jawab Dimas dengan lirih.


Arieska terkekeh merasa lucu dengan jawaban Dimas sekarang. "Jadi kamu merasa cemburu karena adik kamu menikah duluan. Iri begitu?" tanya Arieska dengan terkekeh.


"Hmmm ya jelaslah, Sayang. Walaupun mereka menikah karena sebuah keinginan tante Gladis tetapi tetap saja mereka sudah sah. Dan kita yang jelas ingin menikah secepatnya malah belum menikah sampai sekarang," keluh Dimas yang memang ingin sekali menikah dengan Arieska.


"Sabar Mas. Sebentar lagi juga mama dan papa akan ke sini. Dan kamu bisa meminta restu langsung kepada mereka," ujar Arieska dengan tersenyum.


"Aku tahu, Sayang. Tapi tetap saja rasanya itu... Ahh entahlah aku tidak bisa menjabarkan yang jelas aku ingin segera menikah dengamu," ucap Dimas dengan memeluk pinggang Arieska erat hingga tak ada lagi jarak di antara keduanya.


Dimas mengusap bibir merah muda Arieska dengan lembut membuat Arieska memejamkan matanya. Detak jantungnya selalu menggila ketika Dimas sudah memperlakukan dirinya seperti ini. Dimas memiringkan wajahnya mendekat ke arah wajah Arieska hingga bibir kenyal keduanya bertemu, Dimas menyesap bibir Arieska dengan perlahan hingga pertukaran saliva itu tidak bisa terelakkan lagi. Napas Arieska memberat, ia mencoba melepaskan ciuman Dimas. Setelah berhasil, Arieska mengambil udara sebanyak-banyaknya.


Hoshh...hoshhh...


Dimas terkekeh dan mengusap bibir Arieska yang terlihat sedikit membengkak karena ulahnya.

__ADS_1


"Aku butuh napas Mas. Kamu itu ya kebiasaan sekali!" protes Arieska.


"Tapi kamu suka, kan?" tanya Dimas dengan jahil.


"Sukalah!" jawab Arieska dengan ketus. "Upss..." Arieska menutup mulutnya sendiri setelah berkata seperti itu kedua pipinya memerah dan memanas karena ia terpancing dengan pertanyaan Dimas sekarang.


"Hahaha....gemes bangettt! Pacar siapa sih?" ucap Dimas memeluk Arieska dengan erat.


"Ihhhh....sudah Mas! Kita harus bekerja. Aku juga harus ke pabrik untuk mengecek seluruh karyawan. Aku membuka lowongan pekerjaan yang bisa bekerja di pabrik pembuatan skincare-ku. Aku masih kekurangan karyawan banyak," ucap Arieska mencoba melepaskan pelukan Dimas.


"Berapa karyawan lagi yang kamu butuhkam, Sayang?" tanya Dimas mengelus rambut Arieska dengan lembut.


"Hmmm kurang lebih 20 orang Mas. Aku membutuhkan karyawan yang akan aku tempatkan di tempat produksi, serta pengiriman barang," jawab Arieska dengan tersenyum.


" Waw banyak juga ya. Ya sudah. Ayo kita berangkat sekarang," ucap Dimas menggandeng tangam Arieska dengan lembut. keduanya saling tatap satu lama lain dan tersenyum dengan hangat saat genggaman tangan Dimas sangat terasa hangat di hati Arieska.


****


Saat ini Jelita dan Rasyad sudah berada di rumah sakit. Jelita mencari keberadaan Nathan yang sejak Gladis masuk rumah sakit Nathan juga belum pulang sampai sekarang.


"Ayah!" panggil Jelita yang saat ini melihat Nathan sedang bersama Queen kembaran Nathan.


"Tante!" Jelita menyalami Nathan dan juga Queen.


"Kok sudah berada di sini? Kalian seharusnya beristirahat," ucap Queen mengelus tangan Jelita dengan lembut.


"Gak apa-apa Tante. Aku juga sudah merindukan bunda. Bagaimana keadaan bunda, Yah?" ucap Jelita menatap kedua orang yang sangat ia sayangi seperti orang tua kandungnya sendiri.


"Bunda sudah menunjukkan perkembangan, Nak. Kata dokter jika semuanya membaik maka bunda akan segera sadar," ucap Nathan dengan lirih.

__ADS_1


Jelita menatap Nathan dengan sendu. "Sekarang Ayah dan Tante makan dulu ya. Aku bawa sarapan untuk kalian," ucap Jelita dengan lembut.


"Ayah masih kenyang, Nak!" tolak Nathan dengan halus.


"Mas harus makan. Aku, Mas Nicho, dan Angel gak mau Mas sakit. Sekarang hanya kamu yang kami punya Mas!" ucap Queen dengan tegas.


"Tapi Mas kenyang Queen," ucap Nathan tetap menolak.


"Makan, Yah! Aku suapi ya, Yah!" ucap Jelita dengan lembut. Dan mau tak mau Nathan menerima suapan Jelita walau perutnya masih terasa kenyang.


Sedangkan Erina yang baru saja datang merasa terharu dengan kedekatan Jelita dan juga ayahnya. Ia tak merasa cemburu karena Etina tahu sejak awal bagaimana Jelita kekurangan kasih sayang kedua orang tuanya.


"Kak Erina baru datang? Aku kira Kakak menginap juga di rumah sakit," ucap Jelita yang membuat Rasyad dan Rasyid yang sedang mengobrol mengalihkan tatapan mereka kepada Erina.


"Erina tidak ada di rumah sakit. Kamu tidak pulang Sayang? Jadi kamu tidur di mana semalaman?" cerca Nathan dengan banyak pertanyaan yang semakin membuat Erina gugup. Keringat dingin muncul di dahinya apalagi pakaiannya sekarang yang menutupi seluruh tubuhnya hingga membuat Erina merasa gerah.


"Kamu sakit? Kenapa pakai syal?" tanya Queen dengan cemas.


"Dek kamu sakit? Kamu tidur dimana sih? Kakak pikir kamu juga di rumah sakit, soalnya di rumah hanya ada kakak, Jelita, kak Jasmine dan Nazwa," ucap Rasyad yang meneliti penampilan adiknya. Di cuaca yang panas seperti ini kenapa penampilan Erina begitu aneh.


"Kok diam?" ucap Rasyid yang melihat kegugupan Erina saat ini.


Erina memainkan ujung kukunya. "A-aku... Aku menginap di rumah teman Kak, Yah, Tan," jawab Erina dengan gugup.


"Benar begitu?" tanya Nathan penuh selidik.


"B-benar Yah!" jawab Erina dengan gugup.


Jelita menatap Erina dengan intens. "Sebenarnya menginap di mana kak Erina? Kenapa pakaiannya seperti itu? Apa dia merasa tidak panas? Dan...kenapa jalannya terlihat aneh sekali? Seperti....ahhh tidak mungkin! Mungkin pikiranku yang salah dan mungkin kak Erina benar sedang sakit karena memikirkan keadaan bunda."

__ADS_1


__ADS_2