
...TARIK NAPAS DALAM-DALAM DAN HEMBUSKAN PERLAHAN UNTUK MENYIAPKAN MENTAL MEMBACA PART INI. SIAPKAN TISU DI SAMPING KALIAN YA😥 JANGAN LUPA RAMAIKAN PART INI DENGAN LIKE, VOTE, DAN KOMENTAR YANG BANYAK AGAR AKU SEMANGAT UPDATE....
...AKHIR-AKHIR INI KENAPA LAMBAT UPDATE THOR?...
...MAKLUM AUTHOR JUGA PERLU MENSTABILKAN OTAK BIAR SEMAKIN LANCAR HALUNYA YANG TERPENTING UPDATE SETIAP HARI CUMA BEDA JAM AJA....
...Happy reading...
*****
"Arghhhhh...." Jelita berteriak di kamarnya dengan perasaaan hancur. Air matanya sudah mengering karena sejak tadi ia terus menerus menangis. Jelita pulang duluan setelah acara Rasyad dan Lolita selesai, ia mencoba bertahan di tengah keramaian dan setelah ia sendirian Jelita tak bisa menahan perasaan hancurnya.
Jelita memandang foto Rasyad dengan perasaan kosong. "Kenapa, Kak? Kenapa harus Jelita yang mengalami ini semua? Tak bisakah kebahagiaan sedikit saja singgah di kehidupan Jelita tanpa ada air mata di dalamnya? Jelita lelah, Kak! Jelita ingin berhenti!" gumam Jelita dengan lirih.
Tok...tok...
"Jelita ini Kak Rasyid, buka pintunya Dek!" ucap Rasyid yang merasa khawatir karena tak menemukan Jelita di acara pernikahan kembarannya saat dirinya izin ke toilet sebentar.
Jelita memandang pintu kamarnya dengan pandangan kosong. "Jelita mau istirahat, Kak! Biarkan Jelita sendiri dulu," jawab Jelita dengan lirih.
"Tapi kamu gak apa-apa, kan? Kakak dan bu da sangat mengkhawatirkan kamu sejak tadi. Kamu pulang tanpa pamit," ucap Rasyid dengan rasa cemas yang masih menggerogoti hatinya saat ini.
"Jelita gak apa-apa, Kak. Jelita hanya merasa lelah! Tolong jangan ganggu Jelita malam ini ya!" ucap Jelita dengan lirih.
"Baiklah. Kamu istirahat saja! Jangan pikirkan sesuatu yang membuat kamu akan sedih ya. Kakak ke kamar dulu," ucap Rasyid mengalah walau sejujurnya ia ingin sekali mendobrak pintu kamar Jelita dan melihat keadaan Jelita yang sebenarnya tetapi Rasyid tidak bisa melakukan itu karena ia sangat yakin Jrlita butuh waktu untuk sendiri.
Tak ada jawaban dari Jelita dan dengan berat hati Rasyid melangkah menuju kamarnya. Ia sangat tahu perasaan Jelita saat ini pasti hati gadis itu merasa hancur.
Jelita menatap jam dinding di kamarnya. Dengan perlahan ia mengambil kertas dan pulpen di laci lemarinya dan menuliskan sesuatu untuk Gladis dan yang lainnya bahkan tangannya saja gemetar untuk sekedar menulis kata perpisahan untuk keluarga angkatnya tak ada lagi alasan yang membuat Jelita mampu bertahan di rumah ini, ia memilih kembali ke rumah Dimas tanpa sepengetahuan yang lainnya, Jelita akan pergi secara diam-diam karena tak ingin Rasyad atau yang lainnya kembali menemukannya dan terpaksa Jelita harus keluar dari pekerjaannya yang baru saja ia dapatkan agar bisa menghindari Rasyad dan yang lainnya.
Setelah semuanya selesai. Jelita keluar kamarnya secara mengendap-endap seperti maling yang takut ketahuan. Jelita yakin semua orang sudah beristirahat di kamarnya masing-masing dan Rasyad serta Lolita sedang menikmati malam pertama mereka. Mengingat itu kembali membuat hati Jelita berdenyut sakit.
Jelita dapat bernapas dengan lega saat ia berhasil keluar dari rumah Gladis dan Nathan dengan memggunakan pintu belakang, ia tak mungkin melewati pintu utama yang di depannya dijaga oleh satpam. Jelita melihat ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada seorang pun yang melihatnya, setelah dirasa aman Jelita mulai keluar dari area rumah mewah itu dengan perasaan hampa yang tidak disa dijabarkan dengan mudah.
"Selamat tinggal bunda, ayah, kak Rasyad, kak Rasyid, dan kak Erina. Kali ini aku benar-benar pergi dari kehidupan kalian. Jangan cari aku karena aku tak ingin bertemu dengan kalian semua," gumam Jelita dengan lirih.
Jelita menyetop Taxi yang baru saja lewat, ia tidak bisa memesan Taxi online karena ponselnya mati. "Ke perumahan X ya, Pak!" ucap Jelita setelah masuk ke dalam Taxi.
"Baik Nona!" ucap supir Taxi tersebut dengan ramah.
Jelita menghembuskan napasnya dengan berat, sekali ia menatap rumah mewah Nathan dengan perasaan sedih. "Maafkan aku, Bunda," gumam Jelita dengan lirih.
*****
__ADS_1
Jelita sudah sampai di rumah kakaknya. Dimana Dimas? kenapa rumah ini terlihat sangat sepi sekali.
Satpam yang biasa menjaga rumah Dimas juga tidak ada karena sedang cuti menemani istrinya melahirkan dan Dimas belum dapat pengganti sementara satpam yang akan menjaga rumahnya, ia masih sibukkan dengan rencananya untuk melenyapkan Mentari dan bersenang-senang dengan Dave dan teman-teman lainnya.
Jelita memasuki rumah Dimas dengan perlahan karena ia sudah sangat merasa lelah. Untung saja Jelita mempunyai kunci cadangan pintu rumah ini sehingga Jelita bisa masuk tanpa harus menunggu Dimas pulang.
Gelap. Itu yang Jelita rasakan saat masuk ke rumah Dimas karena lampu belum dinyalakan. Apa Dimas sudah pergi sejak pagi? Tak biasanya lampu mati saat Dimas pergi dari malam harinya. Jelita meraba-raba sakral lampu untuk menghidupkan lampu agar rumah terlihat terang setelah mendapatkannya Jelita merasa lega karena ia ingin segera beristirahat. Badannya sudah sangat lemas tanpa tenaga karena sudah terkuras sejak tadi.
Suara lamgkah kaki memasuki rumah membuat Jelita tersenyum karena Dimas pulang tepat di saat Jelita butuh sandaran.
"Kakak sudah pulang? Dari mana sa..."
Jelita mematung saat melihat Dave yang berjalan mendekat ke arahnya dengan senyum menyeringai yang membuat Jelita gemetaran.
"K-kak Dave," gumam Jelita dengan lirih.
"Hai Sayang. Kenapa syok begitu melihat kedatanganku?" tanya Dave dengan santai.
"J-jangan mendekat!" ucap Jelita dengan takut. Gadis itu berjalan mundur menghindari Dave yang terus berjalan mendekat ke arahnya.
"Jangan takut Sayang. Malam ini kita akan bersenang-senang bersama melewati malam panjang dengan sangat indah. Bukannya kamu sedang patah hati? kakak angkatmu itu pasti sedang bersenang-senang dengan istri barunya, mereka pasti sedang menikmati malam pertama mereka," ucap Dave dengan terkekeh.
"CUKUP! KELUAR DARI RUMAH INI SEKARANG JUGA!" teriak Jelita dengan ketakutan.
"Hahaha...kamu tidak bisa mengusirku begitu saja, Sayang. Ayolah kamu pasti senang dengan sentuhanku nantinya," ucap Dave mencekal tangan Jelita.
Dave terkekeh. "Kakakmu yang bodoh itu tidak akan menolongmu karena dia sedang sibuk dengan balas dendamnya. Dia sedang bersama dengan Mentari sekarang. Jadi kita bisa bersenang-senang tanpa gangguan," ucap Dave membelai pipi Jelita dengan lembut.
Air mata yang tadinya enggan untuk menetes kini kembali menyeruak keluar karena ketakutannya terhadap Dave. "Kak Dimas pasti pulang!" ucap Jelita meyakinkan dirinya sendiri.
"Percaya diri sekali!" ejek Dave dengan terkekeh.
"Cuih...lepaskan tanganmu dari wajahku!" teriak Jelita dengan meludah di wajah Dave.
Plakk...
"Dasar jal*ng kurang ajar!" ucap Dave dengan marah.
Bekas tamparan tercetak jelas di pipi kiri Jelita, hingga gadis itu merasa kepalanya sangat pusing karena tamparan Dave. Jelita memberontak dengan menginjak kaki Dave hingga lelaki itu berteriak.
"Arrghhh...sial! Aku akan mendapatkanmu kembali!" ucap Dave dengan amarah yang telah menguasainya.
Dengan sekuat tenaga yang Jelita punya, ia berlari ke arah kamarnya untuk mengunci dirinya di sana. Namun sayang, Dave mampu menahan pintunya, lelaki itu menyeringai masuk dengan tatapan bengisnya.
__ADS_1
"Ternyata kamu sangat pandai mengundangku ke kamarmu, Sayang. Apa kita akan melakukannya di sini!" tanya Dave dengan senyum devilnya.
"Tidak! Jangan sentuh aku! Aku mohon lepaskan aku!" ucap Jelita memohon dan terus melangkah mundur hingga Jelita terjatuh di kasur.
"Hahaha....aku sudah tidak sabar ingin menikmati tubuhmu itu," ucap Dave dengan senang saat Jelita tidak bisa berlari kemana pun karena saat ini pintu kamar Jelita sudah ia kunci.
"Tolong!" teriak Jelita dengan keras.
"Kak Dimas, kak Arieska tolong aku hiks...hiks..." teriak Jelita dengan takut. Jelita mematap Dave yang melepas ikat pinggangnya dengan gemetar, ia terus beringsut menjauh saat Dave mulai mendekatinya. Lelaki itu sudah mulai melepaskan baju dan celananya.
"Tolong lepaskan aku, Kak! Apa salahku hiks..hiks?" ucap Jelita dengan takut.
"MASIH BERTANYA SALAHMU APA? SALAHMU KARENA TELAH MENOLAK CINTAKU! PADAHAL AKU MEMINTANYA DENGAN BAIK-BAIK! JIKA DENGAN CARA BAIK-BAIK AKU TIDAK BISA MENDAPATKANMU MAKA DENGAN CARA SEPERTI INILAH AKU MENDAPATKANMU. SEPERTINYA KAMU LEBIH SUKA DENGAN TANTANGAN," teriak Dave dengan murka.
Cetarrr...
"Arrrghhhh...sakit!" teriak Jelita saat Dave melayangkan ikat pinggang di tubuhnya. Memecut tubuhnya dengan keras hingga Jelita merasakan sakit dan panas dalam bersamaan saat ikat pinggang itu memukulnya dengan keras.
Cetarrrr...cetarrr....
"Kita akan sedikit bermain, Sayang!" ucap Dave dengan bringas.
"Arrghhh...ampun!" ucap Jelita dengan menyerit. Tetapi jeritan Jelita tidak mampu membuat hati Dave luluh ia semakin melayangkan ikat pinggangnya di tubuh Jelita hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana.
"KAK RASYAD TOLONG AKU HIKS...HIKS.."
"TIDAK ADA YANG BISA MENOLONGMU!"
"ARGHHH...."
Dirasa Jelita sudah tidak berdaya Dave mendekati dan menindih tubuh Jelita. Ia tertawa puas saat melihat Jelita kesakitan karena cambukaannya.
"Kamu milikku malam ini Jelita!" bisik Dave dengan tersenyum devil dan mencium bibir Jelita dengan rakus dan juga kasar.
"Hmmmppphh....." Jelita terus memberontak kala Dave melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya.
Jelita menangis tanpa suara melihat bagaimana Dave menjadi iblis sekarang. Hancur! Fisik dan batinnya hancur sekarang saat bagaimana Dave melakukan dirinya seperti pelac*r yang sama sekali tidak punya harga diri bahkan dengan teganya Dave mengambil gambar mereka dengan keadaan telanjang saat tubuh Dave menindihnya
"Tubuhmu sangat menggiurkan!" ucap Dave meneteskan air matanya saat melihat Jelita sudah tanpa busana di hadapannya.
Jelita merasa jijik dengan tubuhnya saat tangan Dave menyentuh tubuh sensitifnya dengan kasar. Ia merasa jijik saat milik Dave berdiri dengan tegak di hadapannya.
Ia sudah merasa kotor sekarang. Apakah ini akhir dari kehidupan tragisnya? Jelita jijik dengan dirinya sendiri! Dirinya wanita kotor!
__ADS_1
"Arrgghh...."
Brak....