
...Part panjang. Yang kemarin belum puas silahkan baca iniπππ Jangan lupa ramein ya. Jangan minta lagi setelah baca part ini karena gak sabar baca adegan anu...π€£π€£π€£π€£...
...Happy reading...
****
Malam yang indah seperti yang dirasakan oleh pasangan pengantin baru Dimas dan Arieska dan juga Rasyad maupun Jelita. Ke-empat pasangan raja dan ratu sehari itu tampak tersenyum lebar menyambut kedatangan para tamu yang mereka undang. Tetapi tidak dengan Jelita. Memang tubuhnya berada di sini namun jiwa dan pikirannya entah kemana setelah ia melihat sosok yang sangat mirip dengan Amanda hadir di pernikahan Dimas dan Arieska pagi tadi. Sesekali Jelita tersenyum menanggapi obrolan para tamu penting dari Rasyad, bahkan lelaki itu dengan bangganya memperkenalkannya kepada para kolega bisnis maupun dosen-dosen teman rekan kerja Rasyad di kampus jika Jelita adalah istri tercintanya. Melihat sikap Rasyad yang dingin, kejam, dan tak peduli kepadanya rasanya Jelita masih tak percaya jika Rasyad akan memperlakukan dirinya se-istimewa ini tetapi inilah yang terjadi sekarang pada pernikahan mereka.
"Kamu kenapa sejak pagi tadi aku perhatikan kamu terlihat gelisah sekali? Apa kamu tidak suka aku menggelar resepsi pernikahan kita bersamaan dengan Dimas dan Arieska?" tanya Rasyad dengan berbisik. Ia tidak mungkin bertanya sedikit keras bisa-bisa semua tamunya mendengar pertanyaannya dan menganggap pernikahan keduanya bukan dasar karena saling mencintai tetapi karena sebuah paksaan. Ya walaupun awal pernikahan mereka terjadi karena paksaan tetapi setelah Rasyad mengetahui faktas yang sebenarnya barulah Rasyad sadar jika dirinya masih sangat mencintai Jelita dari dulu sampai sekarang walau rasa cinta itu pernah tertutup dengan benci karena sebuah kesalahpahaman yang membuat Jelita sakit dan kecewa kepadanya.
"Tidak apa-apa aku hanya lelah," jawab Jelita dengan berbohong.
Benaknya masih dipenuhi pertanyaan akan kedatangan mamanya sesudah belasan tahun Amanda meninggalkan kota ini bersama dengan papa kandungnya sendiri. Sadis memang tetapi itulah yang Jelita alami sejak dulu, rumah tempatnya untuk berpulang dan mengadu segala yang ia rasakan sudah tidak ada, dan ketika ia menemukan rumah baru ternyata rumah barunya juga memberikan kesakitan yang sama. Miris memang! Tetapi Jelita sudah berusaha tegar walau rasa sakit itu masih tersisa sampai sekarang dan tak mungkin bisa hilang walau rumahnya sudah diperbaiki kembali tetapi tetap saja meninggalkan retak yang tidak bisa diperbaiki begitu saja.
"Kamu lelah? Ayo kita duduk di sana! Ada bunda, ayah dan yang lainnya juga," ucap Rasyad dengan cemas. Ia tidak mau Jelita sakit setelah mereka menggelar resepsi mewah karena terus menyambut tamu yang senang dengan pernikahan mereka.
Jelita mengangguk. Akhirnya ia mengikuti langkah kaki suaminya dengan jemari tangannya digenggam oleh Rasyad. Tak bisa Jelita pungkiri jika genggaman tangan itu sedikit membuat ia nyaman dan kegelisahannya sejak tadi menggilang.
"Sini Sayang duduk di samping Bunda," ucap Bunda Gladis dengan tersenyum. Ia masih duduk di kursi roda karena Nathan tak ingin istrinya kelelahan.
"Iya, Bun," ujar Jelita dengan tersenyum.
Kendra tersenyum sinis melihat Rasyad yang menatap Jelita dengan khawatir. "Calon-calon bucin," gumam Kendra dengan lirih.
"Sepertinya jika aku tidak turun tangan hubungan mereka akan berjalan di tempat. Tidak ada perkembangan sama sekali," gumam Kendra di dalam hati.
Tanpa diketahui oleh semua keluarganya. Kendra mengambil sesuatu dari dalam kantong jas yang ia pakai sekarang dan mencampurkan sesuatu tersebut ke dalam minuman yang berada di depannya. "Berhasil tinggal melihat hasil dari perbuatan baikku ini. Setelah ini kamu harus berterima kasih kepadaku Rasyad," gumam Kendra dengan tersenyum kecil.
"Mas kenapa senyum-senyum tidak jelas seperti itu?" bisik Jasmine yang melihat keanehan suaminya sekarang.
"Tidak ada Sayang. Aku hanya merasa bahagia," jawab Kendra dengan tersenyum.
Sedangkan Jasmine hanya ber-o-ria saja menggapi jawaban yang tak mencurigakan dari Kendra. Lalu ia sibuk mengobrol dengan yang lainnya kembali.
"Rasyad, berikan minuman ini kepada istrimu sepertinya Jelita sangat kelelahan. Dia butuh energi malam ini," ucap Kendra dengan serius.
__ADS_1
Tak merasa curiga sedikit pun kepada kakak sepupunya. Rasyad mengambil gelas yang berisi jus jeruk yang berada di meja.
Rasyad duduk di samping istrinya. "Minumlah, Sayang agar kamu tidak dehidrasi karena kelelahan," ucap Rasyad dengan tulus.
Jelita yang memang merasa haus langsung menerima gelas tersebut. "Terima kasih," ucap Jelita dengan pelan. Ia meneguknya dengan cepat bahkan jus tersebut sampai habis membuat Kendra yang melihatnya menyeringai puas.
"Sebentar lagi obat itu akan bereaksi!"
****
Erina menatap betapa mewahnya resepsi pernikahannya Dimas dan Arieska maupun Rasyad dan Jelita. Ada rasa iri yang membuat Erina terdiam sejak tadi. Kapan ia akan menggelar pernikahan seperti ini?
"Aku boleh duduk di sini," ucap sebuah suara yang mengagetkan Erina.
"Ahh...kak Gea mengagetkanku saja," ucap Erina mengelus dadanya.
"Silahkan duduk, kak!" ucap Erina tersenyum.
"Terima kasih. Maaf telah mengagetkanmu," ucap Gea dengan tulus.
"Kakak pernah jatuh cinta sebelum dengan kak Rasyid?" tanya Erina yang membuat Gea sedikit terkejut.
Gea meminum jusnya sebelum ia berbicara. "Tidak. Aku hanya fokus bekerja untuk membantu ibu panti memenuhi kebutuhan adik-adikku di panti karena aku anak tertua di sana. Setelah bertemu dengan Rasyid baru aku merasakan cinta tetapi terkadang aku merasa tidak pantas untuknya," jawab Gea dengan pelan.
"Kamu pernah jatuh cinta atau pacaran?" tanya Gea dengan serius.
Erina menggeleng pelan. "Aku tidak pernah pacaran dengan siapa pun tetapi aku sedang jatuh cinta kepada seseorang yang sama sekali tidak mencintaiku bahkan aku sangat berharap pernikahan kami digelar dengan mewah seperti ini tetapi rasanya tidak mungkin," jawab Erina dengan lirih.
"Aku mencintai suamiku, Kak! Tetapi suamiku hanya membutuhkan tubuhku, dia tidak bisa jauh dari diriku karena tubuhku," lanjut Erina di dalam hati.
Gea ikut merasa kesedihan Erina saat ini. Ia menyentuh tangan Erina lembut. "Sabar ya suatu saat lekaki itu pasti akan mencintaimu dengan tulus," ucap Gea dengan lembut.
"Terima kasih, Kak. Aku sedikit merasa lega karena sudah berbicara dengan Kakak," ucap Erina dengan tersenyum. Lalu matanya tak sengaja menatap sosok suaminya yang tak jauh darinya sedang menatapnya dengan dingin.
"Apa Mas Raka mendengar ucapanku tadi? Bagaimana ini?" ucap hati Erina dengan panik.
__ADS_1
****
Sedangkan Jelita sekarang merasa seluruh tubuhnya panas seperti terbakar. Ia menggenggam tangan Rasyad dengan kuat saat rasa panas itu semakin menyiksa tubuhnya.
"M-mas..." gumam Jelita dengan lirih.
Rasyad yang melihat Jelita dengan keringat yang muncuk di dahi istrinya merasa panik karena genggaman tangan Jelita sangat kencang sekali. "Kamu kenapa?" tanya Rasyad dengan panik.
"Panas Mas. Panass!" ucap Jelita dengan lirih bahkan tangannya seperti hendak melepas gaun pengantinnya sekarang.
"Syad, Jelita kenapa?" tanya Kendra pura-pura panik padahal ia tahu apa yang terjadi dengan Jelita sekarang.
"Kenapa Jelita?" tanya Bunda Gladis dengan panik saat melihat Jelita seperti tersiksa sekarang.
"A-aku tidak tahu, Bun. Tiba-tiba saja istriku sudah seperti ini," ucap Rasyad dengan panik.
"Bawa ke kamar kalian sekarang. Jelita butuh pertolongan darimu untuk menyembuhkannya," ucap Kendra dengan cepat membuat Rasyad memicingkan matanya curiga kepada Kendra.
Kode mata Kendra membuat Rasyad mengumpat lirih. "Shittt....." Rasyad langsung menggendong Jelita menuju kamar hotel di mana keduanya juga menggelar resepsi pernikahan keduanya dengan mewah sebelum Jelita semakin berbuat sesuatu yang membuat para tamu merasa curiga.
"A-aku harus memastikan Jelita baik-baik saja," ucap Bunda Gladis dengan panik tetapi ia langsung dicegah oleh Kendra.
"Biarkan Rasyad yang mengurus Jelita, Tante! Percaya padaku jika Jelita akan baik-baik saja bersama Rasyad. Bukankah Tante juga ingin memiliki cucu lagi? Mumpung Nazwa duduk tenang bersama dengan istriku biarkan saja pengantin baru itu menuntaskan sesuatu yang sudah sangat lama tertunda," ucap Kendra dengan santai membuat bunda Gladis dan ayah Nathan terperangah menatap tajam ke arah Kendra saat ini.
"Kamu mencampurikan sesuatu ke minuman Jelita, Ken?" tanya Ayah Nathan penuh selidik.
Kendra menyeringai. "Hanya memasukkan obat perangsang supaya cucu om dam tante cepat jadi," bisik Kendra di telinga Nathan.
"Shitt...sikap jahilmu tidak akan hilang walaupun kamu sudah tua. Tapi aku berterima kasih kepadamu saat ini," ucap Nathan dengan bangganya membuat Kendra tersenyum senang.
"Aku akan melakukan sesuatu yang membuat hubungan mereka kembali hangat. Dengan hadirnya anak di antara mereka mungkin!" jawab Kendra dengan bijak.
Bunda Gladis yang hendak marah kini mengurungkan niatnya karena apa yang Kemdra katakan benar.
"Semoga saja hubungan meerka membaik setelah ini."
__ADS_1