
...Hei-hei aku kembali lagi nih. Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya....
...Happy reading...
****
Sebulan Kemudian...
Waktu cepat sekali berlalu kini Jelita sudah satu bulan berada di Jakarta dan dirinya akan menetap di Jakarta bersama dengan Raka. Tentu saja kakak posesifnya itu tidak akan membiarkan dirinya hidup seorang diri lagi, bahkan kehidupannya bak seperti ratu di kerajaan, semua apa yang Jelita inginkan selalu dituruti oleh Raka.
Sekarang ini Jelita sedang mengecek butik miliknya. Ada banyak pakaian mahal yang tersusun rapi di dalam butiknya dari pakaian anak-anak hingga pakaian orang dewasa terlihat dipajang dengan sangat indah sekali. Berkat kerja kerasnya dan bantuan kakaknya, Jelita sudah bisa mendirikan banyak cabang butik di berbagai daerah termasuk di Jakarta.
"Nona Muda, ini laporan keuangan bulan ini," ucap karyawan Jelita yang bernama Brenda.
"Terima kasih, Brenda," ucap Jelita dengan wajah dinginnya.
"Sama-sama Nona. Oo iya Nona, ada salah satu pelanggan yang ingin bertemu dengan anda, beliau ingin bertemu langsung dengan anda dan ingin anda yang langsung menangani baju cucunya karena beliau sangat suka dengan semua pakaian yang anda rancang," ujar Brenda dengan sopan. Bekerja selama kurang lebih satu bulan bersama dengan Jelita membuat Brenda sedikit banyaknya sudah paham dengan sifat atasannya yang terlihat dingin dan perfeksionis dalam bekerja. Brenda tidak tahu sikap yang terbentuk dalam diri Jelita sekarang adalah bentuk dari semua rasa sakit yang Jelita rasakan sejak dulu.
Jelita melihat jam tangannya. "Ada waktu tiga puluh menit lagi untuk bertemu denganku. Sebenarnya aku sangat malas untuk bertemu seseorang hari ini karena sebentar lagi adikku akan datang dari Inggris. Tapi karena suasana hatiku sedikit merasa senang kau boleh membawanya ke ruanganku," ucap Jelita dengan tegas.
"Baik Nona muda saya akan membawa pelanggan setia di butik ini kehadapan anda sekarang juga," ucap Brenda dengan membungkukkan badannya.
Jelita mengangguk saja setelah orang kepercayaannya keluar dari ruangannya ia kembali fokus kepada lembaran laporan keuangan yang diberikan Brenda kepadanya.
Sedangkan Brenda yang sedang menemui pelanggan setia butik milik Jelita sedang menuntun pelanggan tersebut masuk ke ruangan bosnya tersebut.
Tokkk...tokk...
"Maaf Nona Muda saya kembali mengganggu pekerjaan anda. Saya sudah membawa pelanggan setia di butik ini untuk menemui anda," ucap Brenda dengan sopan.
Jelita menghentikan pekerjaannya dan melihat ke arah Brenda serta pelanggan yang di maksud oleh Brenda. Tubuh Jelita mematung dengan hebat saat salah satu orang yang ia rindukan juga sedang menatapnya dengan terharu.
__ADS_1
"Anakku, Jelita!"
"B-bunda!"
Gladis berkaca-kaca menatap Jelita yang telihat sangat cantik sekali hari ini. Ia ingin sekali memeluk Jelita tetapi Nazwa yang berada di dalam gendongannya tidak membuat Gladis leluasa memeluk anak angkatnya tersebut. Sedangkan Jelita langsung berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Gladis dan juga Erina yang ikut bersama dengan Gladis.
"Bunda apa kabar?" tanya Jelita berusaha tersenyum. "Dan Kak Erina juga apa kabar? Siapa anak cantik yang di dalam gendongan Bunda?" tanya Jelita dengan ramah membuat Brenda takjub dengan senyuman manis nona mudanya yang tak pernah terlihat tersebut.
"Bunda sangat baik, Nak. Tapi Bunda sangat merindukan, kepergiaan sungguh membuat Bunda dan ayah merasa bersalah," ucap Gladis dengan lirih.
"Kakak juga baik, Jelita. Bagaimana dengan kabarmu juga? Sepertinya kamu terlihat semakin sukses sekarang," ucap Erina dengan tersenyum. "Gadis kecil ini adalah Nazwa anak dari kak Rasyad," jawab Erina.
"Alhamdulillah aku juga sehat. Ooo ini anaknya kak Rasyad. Cantik," gumam Jelita tetapi wajahnya berubah datar ketika menyebut nama Rasyad membuat Gladis dan Erina saling tatap satu sama lain. Rasa canggung menghampiri keduanya saat ini.
"Nazwa kenalan sama tante Jelita, Sayang!" ucap Gladis mencairkan suasana.
"Halo tante Jelita. Aku Wawa anak ayah Lasyad," ucap Nazwa yang membuat Jelita tersenyum.
"Brenda buatkan minuman untuk ibu dan kakakku," ucap Jelita kepada Brenda.
"Baik Nona Muda," ucap Brenda dengan sopan.
"Bunda dan Kak Erina silahkan duduk," ucap Jelita mengiring bunda dan kakaknya untuk duduk di sofa.
Bunda Gladis dan Erina mengangguk dan ikut duduk bersama dengan Jelita. "Apa benar Bunda ingin aku merancang baju untuk cucu Bunda? Apa itu Nazwa?" tanya Jelita.
"Iya, Sayang. Wawa terus merengek untuk bisa memakai gaun princess seperti yang pernah kamu pakai dulu. Wawa melihat fotomu sejak kecil," jelas Bunda Gladis membuat Jelita mengangguk dan mengingat saat dirinya memakai gaun princess saat ulang tahun Rasyad dan juga Rasyid. "Dan karena ini butik terbaik di sini maka Bunda ingin langsung membuatkannya untuk Wawa dengan ditangani langsung oleh pemiliknya tak Bunda duga ternyata kamu pemiliknya. Dunia ini sangat sempit sekali dan Tuhan tahu cara ini adalah yang bisa membuat kita bertemu kembali," ucap Bunda Glsdis dengan terharu.
Mereka terdiam sejenak saat Brenda kembali datang dengan membawa minuman dingin serta camilan untuk tamu spesial nona mudanya.
"Silahkan Diminum Nyonya," ucap Brenda.
__ADS_1
"Terima kasih!" ucap Bunda Gladis dam Erina bersamaan.
"Takdir yang mempertemukan kita lagi, Bun," ucap Gladis dengan tersenyum.
"Dek, kamu mau kan kembali ke rumah, Bunda?" tanya Erina berharap.
Jelita tersenyum tipis. "Tidak bisa, Kak!" jawab Jelita dengan hati-hati.
"Kenap..."
"Karena Jelita sekarang tinggal bersama saya!" ucap Raka dengan tegas.
"Kak Raka. Kok Kakak sudah ke sini sih? Katanya tiga puluh menit lagi Kakak akan ke sini?" tanya Jelita dengan manja.
"Damian terus merecoki pekerjaan Kakak dengan pesan yang terus ia kirim ke ponsel Kakak. Anak tengil itu sudah menunggumu di rumah, dia terlihat tidak sabaran," ucap Rasyad mencibikkan bibirnya kesal.
"J-jelita ini siapa?" tanya Bunda Gladis dengan terbata bahkan Erina sampai tidak berkedip melihat ketampanan Raka.
"Ooo perkenalkan ini Kak Raka. Kakak kandungku, Bun," ucap Jelita.
"Kak salam ke Bunda," bisik Jelita saat ia melihat kakaknya begitu tajam menatap Erina antara terpesona dan... Entahlah Jelita tidak dapat mendeskripsikan ekspresi kakaknya sekarang karena wajah Raka tetap datar tetapi matanya tetap tertuju pada Erina hingga gadis itu menunduk malu.
"Raka Erlangga!" ucap Raka dengan singkat.
"Gladis, Bunda Jelita. Dan ini Erina anak saya," ucap Bunda Gladis dengan tersenyum ramah. Sedangkan Raka hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Selesaikan pekerjaanmu. Kakak akan menunggu di luar ruanganmu saja," ucap Raka dengan mendekat ke arah Jelita memberikan satu ciuman di kening jelita dengan sayang.
"Baik, Kak. Tunggu sebentar ya," ucap Jelita dengan tersenyum.
"Iya. Kakak keluar!"
__ADS_1
Erina menatap kepergiaan Raka sampai lelaki itu hilang di balik pintu. "Tampan sekali. Kenapa jantungku berdebar dengan sangat keras saat kak Raka menatapku tadi? Ada apa denganku?" gumam Erina dengan lirih menekan dada kirinya dengan kuat.