Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Kebahagian dan Pertengkaran


__ADS_3

Dua bulan kemudian. Arini melahirkan bayi perempuan dengan berat tiga kilo dan panjang lima puluh senti meter. Anak perempuan itu lalu diberi nama Azma Sabiya Nasira Raesha. Nama itu memiliki arti anak perempuan yang diberkati Allah, yang mampu menjadi pemimpin, yang selalu berjaya, dan selalu sejuk seperti pagi hari.


Tujuh hari kemudian diadakan akikah untuk Nasira, begitu anak perempuan itu dipanggil. Satu ekor kambing disembelih lalu dimasak gulai. Para laki-laki di lingkungan kompleks di undang pada malam harinya untuk menghadari acara akikah dan potong rambut. Pulangnya para laki-laki itu membawa kotak nasi dengan gulai kambing sebagai lauknya.


"Coba dari dulu kamu menikah dengan Arini bukan Andari, Mak pasti sudah lama menimang cucu dari mu," kata Nurpiah pada malam hari setelah satu bulan acara akikah tersebut. Mereka sendiri seperti biasa duduk di teras rumah sambil menikmati stoples stick balado dan air lidah buaya hangat yang dicampur sirup ABC jeruk.


Arini sendiri sedang tidur di kamarnya bersebelahan dengan anaknya. Pintu kamar Arini tiba-tiba saja terbuka. Dari ambangnya melangkah Andari. Ia hendak menengok Arini dan anaknya. Ia melihat beberapa pakian bersih belum terlipat menumpuk di dalam ragak. Dengan inisiatifnya ia melipat pakian tersebut. Baru beberapa helai pakian yang ia lipat, ia sudah mendengar perkataan Nurpiah. Perkataan itu bagai sembilu yang sengaja ditancapkan ke hatinya. Begitu menyakitkan. Ia menghentikan kegiatan melipat pakian. Dua tetes air mata lolos begitu saja dari kedua matanya. Padahal ia sudah berusaha mencegahnya tapi tetap tak bisa. Dengan cepat ia menghapus air matanya. Ia kini hanya bisa tabah dan juga ikhlas menerima nasibnya kini yang belum bisa hamil dan memberi Fahri seorang anak.


"Mak, tak patutlah Mak cakap macam tuh. Tak perlu lagi Mak mengeluh dan mengatakan kenapa Mak baru dapat cucu sekarang dari ku. Seharusnya Mak sekarang ini bersyukur."

__ADS_1


***


"Sungguh Bang aku tak tahan lagi, Mak selalu saja mencari kesalahan Andari sekecil apa pun kesalahan itu," Fahri meluahkan lagi perasaan hatinya ke Nizar saat mereka bertemu kembali di rumah makan Padang di daerah Sungai Jawi, dekat dengan kantor biro perjalanan yang dikelola oleh Nizar.


"Dan tadi pagi contohnya membuat aku stress."


Tadi pagi entah bagaimana ceritanya, Andari tidak sengaja membuat roti menjadi gosong saat ia memangangnya di pangangan roti. Nurpiah marah luar biasa karena masalah sepele seperti ini. Parahnya Arini juga tersulut emosinya. Ia juga ikut marah tapi yang dijadikan objek kemarahannya adalah Nurpiah karena ia memarahi Andari sedemikian rupa. Ia tidak terima sahabatnya diperlakukan seperti itu apalagi Andari sudah meminta maaf ke Nurpiah dan juga menurutnya ini hanyalah masalah sepele. Andari sampai mengingatkan Arini bahwa Nurpiah adalah ibu mertuanya.


"Ak. .aku sungguh khilàf, ak..aku ndak bisa melihat kamu diperlakukan seperti itu," Arini berkata di sela tangisnya.

__ADS_1


Dengan terburu-buru Fahri menyelesaikan urusanya di toilet karena ia mendengar pertengkaran di ruang makan.


Setelah Andari mengantar Arini ke kamarnya, Fahri meminta penjelasan kenapa Ibunya dan juga Arini sampai betekak di ruang makan saat ia di toilet tadi. Andari menghembuskan nafasnya. Ia kemudian menjelaskan kenapa Nurpiah dan Arini saling betekak tadi.


"Lalu keputusan mu apa?" tanya Nizar setelah Fahri menyelesaikan ceritanya.


"Sementara waktu kami mungkin akan pindah rumah Bang."


CATATAN

__ADS_1


Betekak: Berteriak.


__ADS_2