Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 114 (Kepergian Raka)


__ADS_3

...Happy reading...


*****


Erina memakaikan kancing kemeja suaminya dengan perlahan. Sejak tadi ia hanya diam melamun memikirkan Raka yang sebentar lagi akan berangkat ke Inggris.


Raka menarik Erina agar semakin rapat dengan tubuhnya yang membuat Erina sedikit tersentak dan mendongak menatap wajah suaminya dengan dalam. "Saya janji tidak bakal lama. Setelah urusan saya selesai dengan kakek, papa, dan mama, saya akan cepat pulang ke sini," ucap Raka yang paham akan kegundahan hati sang istri saat ini.


Erina memainkan jarinya di dada bidang sang suami. "Aku ikut ya, Mas!" ucap Erina dengan tatapan mata yang penuh harap.


Raka menangkup wajah sang istri, ia menatap mata Erina yang tampak berkaca-kaca. "Dengarkan saya, Erin! Saat ini kamu sedang hamil muda, saya tidak ingin beresiko mengajak kamu naik pesawat dengan perjalanan yang lumayan lama. Setelah dokter mengizinkan, saya akan membawa kamu untuk babymoon kemana pun kamu mau," ucap Raka dengan tegas.


"Aku tidak bisa jauh dari kamu, Mas. Aku juga tidak bisa tidur kalau tidak kamu peluk," jawab Erina dengan jujur dan nada bicaranya pun sangat manja yang membuat Raka tersenyum tipis.


"Saya janji akan pulang secepatnya, Sayang. Saat ini kamu menginap di rumah bunda dan ayah ya, selama saya pergi," ucap Raka dengan lembut yang membuat hati Erina semakin luluh jika Raka sudah berbicara menggunakan kata 'sayang' untuknya yang terdengar sangat manis di telinga Erina.


"Janji tidak akan lama?" tanya Erina dengan memberikan jari kelingkingnya agar Raka berjanji kepadanya.


"Janji!" ucap Raka dengan menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking sang istri.


"Sekarang saya antar kamu ke rumah Ayah. Tidak usah mengantar saya ke bandara. Orang-orang kepercayaan saya akan menjaga kamu dan mengawasi kamu, Erin. Ingat jangan sampai kelelahan, jika mau kemana-mana ajak ayah atau yang lainnya untuk mengantarkan kamu jangan pergi sendiri. Dengar tidak?" ucap Raka dengan posesif.


"Iya Mas," jawab Erina dengan tersenyum.


"Satu lagi. Kamu harus menghubungi saya setiap satu jam sekali. Kirim foto kamu setiap beraktivitas baik itu duduk, istirahat, mau mandi. Pokoknya semua aktivitas yang kamu lakukan di rumah bunda jangan ada yang sampai ketinggalan. Saya sudah menyuruh bunda juga untuk mengawasi kamu di sana kamu hanya boleh duduk dengan tenang oke..."


"Mas stop!" ucap Erina dengan meletakkan telunjuknya di bibir Raka.

__ADS_1


"Semalam Mas juga sudah mengatakan itu sebelum kita tidur," ucap Erina dengan mengerucutkan bibirnya.


"Siapa tahu kamu lupa. Ingat baik-baik yang saya ucapkan tadi ya!" ujar Raka dengan tegas. Erina mengangguk manja, melingkarkan tangannya di lengan sang suami dan mengikuti langkah suaminya yang keluar dari kamar mereka.


****


"Mas kamu juga mau ikut kak Raka?" tanya Arieska yang menatap suaminya dengan dalam.


"Semua harus selesai, Sayang. Walau aku belum memaafkan mama sepenuhnya tetapi keluarga Raka sangat keterlaluan sekali," ucap Dimas dengan tegas.


"Ya sudah Mas. Hati-hati ya, hubungi aku jika sudah sampai di sana," ucap Arieska dengan tersenyum.


"Iya, Sayang. Jaga diri kamu baik-baik di sini, kalau ada apa-apa hubungi aku," ucap Dimas dengan mengecup kening sang istri dengan lembut.


Sebenarnya Dimas tak ingin meninggalkan sang istri sendiri tetapi semuanya harus segera selasai agar kebahagiaan dirinya dan Jelita kembali utuh seperti dulu.


****


Dua hari kemudian...


London, 10 A.m


Raka dan Dimas saat ini sedang berada di rumah megah milik kakek Agam. Keduanya menatap dingin kepada dua lelaki yang duduk dengan wajah yang sangat santai.


"Akhirnya kamu kembali lagi ke rumah ini Raka. Benar kan kata kakek jika kamu tidak akan bisa jauh dari keluarga Erlangga," ucap Kakek Agam dengan tertawa sinis.


"Kedatangan saya ke sini bukan ingin kembali ke rumah ini. Anda tahu, Kek. Perbuatan yang Kakek lakukan selama ini sudah banyak menyakiti hati orang banyak!" ucap Raka dengan sinis.

__ADS_1


"Omong kosong! Apa yang saya lakukan demi kebaikan keluarga Erlangga!" ucap Kakek Agam dengan tajam.


"Kebaikan? Hei Kakek tua ingat umur. Kebaikan yang mana anda katakan? Menelantarkan cucu perempuan anda satu-satunya? Menyiksa menantu pertama anda hingga ia memilih pergi dari rumah ini sampai meninggal? Atau sampai membuat mama saya sakit?" tanya Dimas yang terpancing emosinya.


"Diam kamu! Saya tidak ada urusan dengan kamu!" sentak Kakek Agam yang tersulut emosi dengan perkataan Dimas.


"Tidak ada urusan? Tentu ada Kakek tua! Menantu yang anda sakiti adalah mama saya. Cucu yang tidak anda harapan adalah adik saya. Apa anda tidak sadar jika anda menyakiti Orang-orang kesayangan saya?" ucap Dimas dengan tajam.


"Apa yang dikatakan Dimas benar! Kakek sudah banyak menyakiti semua orang! Dan kami tidak akan membiarkan Kakek menyakiti mama dan Jelita lagi. Coba Kakek pikir bagaimana perasaan Jelita sekarang?" ucap Raka dengan dingin


"Cukup, Raka! Jangan bahas wanita pembangkang itu dan anak pembawa sial di rumah ini!" ucap Kakek Agam dengan emosi.


"Siapa anak yang kamu sebut pembawa sial Agam?" tanya Nenek Brianna dengan tajam.


"Nenek!" ucap Raka dengan menyeringai.


"Raka. Kamu sudah pulang? Sepertinya ada hal yang sangat penting hingga wajah kalian terlihat tegang sekali," ucap Brianna dengan tegas melihat satu persatu wajah suami, anak, dan cucunya.


"Kami sedang membahas...."


"Raka stop. Silahkan keluar dari rumah ini jika kamu masih membahasnya!" ucap Kakek Agam dengan keras.


Sedangkan Frendy hanya diam saja mendengarkan perdebatan antara papa dan anaknya. Di dalam hatinya saat ini sangat merindukan Amanda dan mengkhawatirkan keadaan istrinya. Tetapi saat ini Frendy tidak bisa berbuat apa-apa.


"Agam, cukup! aku sudah muak mengikuti peraturanmu! Jika kamu masih menginginkan aku menjadi istrimu hentikan sikap dan kelakuan gilamu itu! Diamku selama ini bukan aku membiarkan kamu menyakiti menantu dan cucuku dan sekarang aku juga tidak akan membiarkanmu bertindak seenaknya saja!" ucap Nenek Brianna dengan tajam.


"Tidak usah ikut campur Brianna. Ini semua aku lakukan demi keluarga kita!" ucap Kakek Agam dengan tegas.

__ADS_1


"Ini urusanku juga Agam. Jika kamu tidak bisa melunak maka aku juga akan pergi dari rumah ini!"


__ADS_2