
...Hei-hei aku kembali lagi nih. Jangan lupa ramein part ini ya....
...Happy reading...
****
"Uwekkk....uwekkkk..." Raka tampak lemas saat perutnya terasa mual sekali tetapi hanya cairan bening yang keluar dari mulutnya sehingga membuat Raka lebih tersiksa dari pada ngidam yang ia rasakan.
"E-erin!" panggil Raka dengan suara yang amat lirih. Ia berpegangan pada tembok kamar mandi ketika jalan saja ia merasa sangat lemas tak bertenaga sama sekali.
"Erin tolong saya," ucap Raka dengan lirih.
"Uwekkk..."
Erina yang masih tertidur mendengar suara lirih Raka langsung membuka matanya dengan perlahan. Sesi malam panas yang mereka lewati membuat Erina masih mengantuk sekali dan badannya terasa remuk redam karena ulah Raka yang memang selalu membuatnya lemas tak berdaya.
"Mas Raka!" panggil Erina dengan sedikit kencang.
"Erin, saya di dalam kamar mandi. Tolong saya," ucap Raka dengan mengumpulkan tenaga agar suaranya bisa terdengar oleh Erina.
Erina yang mendengar permintaan tolong suaminya langsung bergegas ke kamar mandi. Ia langsung dibuat cemas dengan keadaan suaminya yang sedang berusaha jalan dengan sempoyongan.
"Mas kenapa? Sakit?" tanya Erina dengan cemas dan membantu Raka berjalan keluar dari kamar mandi.
Bibir Raka kering dan nampak pucat sekali yang membuat Erina menatap cemas kepada suaminya yang tak pernah terlihat sakit dan sekarang Erina menyaksikan sendiri ketika suaminya sedang sakit.
"Biji kacang itu kenapa selalu menyiksa saya? Dia ada di rahim kamu tapi saya yang tersiksa," keluh Raka saat tubuhnya dibaringkan oleh Erina di tempat tidur mereka.
"Biji kacang?" tanya Erina dengan mengulang ucapan Raka yang sangat terdengar aneh di telinganya.
"Anak kita yang masih kecil seperti biji kacang," dengus Raka dengan kesal yang membuat Erina terkekeh geli. Ada-ada saja suaminya menamai anak mereka dengan nama biji kacang.
"Bukan biji kacang Mas," ucap Erina dengan menggelengkan kepalanya.
Raka mendengkus kesal. Ia mengambil tangan istrinya dan menggenggamnya dengan erat membuat Erina kembali merasa heran dengan sikap suaminya.
__ADS_1
"Erin!" panggil Raka dengan lirih dan menempelkan tangan Erina di pipi kirinya.
Erina duduk di pinggir ranjang dan melihat ke arah suaminya yang tampak lemas sekali. "Saya kepengin sate tongseng kambing," ucap Raka dengan menelan ludahnya saat membayangkan sate tersebut masuk ke dalam tenggorokannya.
"Sate tongseng kambing? Tapi Mas gak suka daging kambing," ucap Erina dengan bingung tetapi tutur katanya terdengar sangat lembut.
"Sekarang suka Erin. Tapi Rasyad yang harus membuatnya sendiri untuk saya," ucap Raka yang membuat Erina melongo.
"K-kak Rasyad yang membuatnya? Bagaimana bisa Mas?" tanya Erina dengan melongo.
"Harus bisa Erina. Saya hanya mau sate tongseng buatan Rasyad," ucap Raka dengan manja dan merengek yang membuat Erina tak bisa menolak keinginan suaminya.
"Iya-iya Mas. Bentar aku telepon kak Rasyad ya," ucap Erina dengan pelan.
Raka mengangguk dengan semangat, entah mengapa ia ingin sekali memakan masakan Rasyad. Raka yakin jika Rasyad akan menolak permintaannya dengan mentah-mentah tetapi Raka yakin setelah itu Rasyad mau membuatkan sate untuknya karena bujukan Erina.
Raka memandang sang istri yang sedang menelepon Rasyad tanpa melepaskam tangan Erina dalam genggamannya.
"Halo kak. Aku mau minta tolong sama kakak boleh?" tanya Erina dengan lembut. Ia tersenyum kepada suaminya yang sedang asyik mengelus tangannya.
Erina tak langsung menjawab ia melihat ke arah suaminya yang terlihat memelas. "Mas Raka ngidam sate tongseng kambing buatan kak Rasyad. Tolong buatkan ya, Kak!" ucap Erina dengan manja agar Rasyad mau menolongnya saat ini
"APA?" ucap Rasyad berteriak yang membuat Erina langsung menjauhkan ponselnya.
"Enggak bisa! Bilang sama suami kamu itu kalau mau sate tongseng kambing beli saja gak usah merepotkan orang lain!" ucap Rasyad dengan ketus.
Raka mengkode Erina dengan gerakan bibirnya agar sang istri terus membujuk Rasyad yang membuat Erina mengangguk setuju. "Ayolah, Kak. Kakak gak mau kan keponakan kakak ileran. Mas Raka lagi ngidam loh," bujuk Erina dengan manja yang membuat Rasyad menahan kekesalannya.
"Gak bisa, Dek!" ucap Rasyad dengan kesal.
"Ayolah Kak. Kalau kakak gak mau nanti Jelita aku suruh pulang ke rumah Mas Raka dan gak boleh bertemu dengan kakak," ucap Erina yang membuat Rasyad terdiam.
"Oke...baiklah Kakak akan ke sana bersama Jelita dan Nazwa. Kamu siapkan saja bahan-bahannya," ucap Rasyad dengan pasrah yang membuat Raka tersenyum senang.
"Terima kasih, Kak. Kami tunggu kedatangan kalian," ucap Erina bahagia dan mematikan sambungan teleponnya dengan Raka.
__ADS_1
"Akhirnya saya makan sate tongseng kambing buatan Rasyad," ucap Raka dengan bahagia.
****
Saat ini Rasyad, Jelita dan Nazwa sudah berada di rumah Raka. Rasyad menatap tajam ke arah Raka yang sedang bermanja dengan Erina bahkan raut wajah Raka sama sekali tak merasa bersalah kepadanya.
"Saya gak bisa masak!" ucap Rasyad dengan datar.
"Tapi saya hanya mau masakan kamu!" ucap Raka tanpa merasa bersalah yang membuat Rasyad menatap Raka dengan kesal.
"Bagaimana bisa? Saya juga tidak bisa membuat masakan yang kamu inginkan!" geram Rasyad dengan kesal.
"Sudah-sudah Mas. Aku bantu arahin kamu ya," ucap Jelita yang merasa tidak tega dengan wajah pucat kakaknya yang bersandar di pundak Erina. Sepertinya efek kehamilan Erina membuat Raka terlihat lebih manusiawi.
"Kamu hanya boleh arahin suami kamu ya, Dek. Tapi jangan bantu Rasyad membuat sate untuk Kakak," ucap Raka yang membuat Rasyad mendelik sebal.
"Dasar calon Daddy yang merepotkan," gumam Rasyad dengan kesal.
Ia menggandeng tangan Jelita menuju dapur. Semua harus selesai secepatnya agar ia tidak kembali melihat wajah Raka yang sangat menyebalkan untuknya.
"Sayang!"
"Hmmmm..."
"Apa nanti ketika kamu hamil Mas juga yang akan mengidam seperti Raka?'" tanya Rasyad dengan penasaran menatap wajah Jelita yang asyik membantunya mengarahkan cara membuat sate tongseng kambing yang Raka inginkan.
Jelita melihat ke arah suaminya. "Emang Mas mau anak dari aku?" tanya Jelita dengan wajah tenangnya padahal jantungnya sudah berdebar tak karuan karena pertanyaan suaminya.
"Pertanyaan apa ini hmmm? Mas sangat mendambakan anak dari kamu. Dari rahim kamu!" jelas Rasyad yang membuat Jelita tersenyum tipis.
"Ya kalau begitu kerja keras dong," ucap Jelita yang membuat Rasyad mematung.
"Ini termasuk undangan dari kamu, Sayang?" tanya Rasyad dengan senang.
"Menurut Mas?" Jelita balik bertanya yang membuat Rasyad senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Mas anggap ini adalah sebuah undangan. Persiapkan diri kamu untuk melayani Mas nanti malam. Adik Nazwa harus segera launching, Mas gak mau kalah sama kakak kamu yang menyebalkan itu. Mas harus bisa membalaskan semua ke Raka tentang hari ini!"