Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 89~ (Menggapai hatimu Kembali)


__ADS_3

Maaf ya kemarin gak update. Badan ngilu semua. Jangan lupa ramein part ini ya.


Happy reading


****


Wanita mudah untuk memaafkan


Tetapi tidak mudah untuk melupakan.


Namun, saat ini rasa kecewaku teramat besar hingga memaafkanmu pun terasa sulit untukku.


Aku memang mencintaimu tetapi bukan cinta yang menyakitkan yang aku inginkan.


~***Jelita***~


*****


Jelita mengerjap matanya dengan perlahan, ia merasakan sesuatu benda yang berada di dahinya. Dengan perlahan Jelita mengambil handuk kecil yang ternyata dijadikan kompres untuknya.


Jelita ingat, ia pingsan di saat sampai ke rumah karena ia terus bermain air di pantai dengan keadaan yang kurang baik bahkan ia tak peduli hujan yang mulai turun membasahi tubuhnya. Yang ia butuhkan adalah ketenangam hatinya agar stres tak kembali mendominasi pikirannya.


Jelita melihat ke arah sampingnya ternyata masih ada Rasyad yabg tertidur di sampingnya dengan memeluk perutnya erat. Jelita menghela napasnya dengan perlahan, ia menyingkirkan tangan kekar Rasyad yang berada di perutnya.


"Kenapa Mas? Kenapa kamu sangat mementingkan egomu dari pada kata hatimu sendiri. Aku lelah Mas!" gumam Jelita dengan lirih.


Setelah berbicara seperti itu Jelita turun dari kasur dengan perlahan dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang sudah terasa lengket. Jelita melepaskan semua pakaian yang melekat pada tubuhnya dan ia mengguyur tubuhnya dengan air shower.


"Suatu saat apa aku mendapatkan lelaki yang akan mencintaiku dengan baik?" tanya Jelita dengan lirih.


Lama mengguyur tubuhnya dengan air dingin barulah Jelita menyudahi acara mandinya karena badannya sudah terasa menggigil kembali. Jelita mengambil jubah mandinya dengan cepat, ia keluar dari kamar mandi dengan perlahan namun Jelita dikagetkan dengan Rasyad yang berdiri di depan pintu dengan wajah yang sangat cemas.


Kenapa lelaki ini? Kenapa wajahnya terlihat cemas seperti itu? Tetapi Jelita tak mau peduli dengan apa yang menyangkut Rasyad sekarang.


"Kenapa sudah mandi? Kamu sedang sakit Jelita! Bagaimana kalau kamu kembali demam?" tanya Rasyad dengan sangat khawatir. Ia melihat wajah Jelita yang masih sangat pucat, tetapi mengapa gadis itu sangat bandel mandi pagi dengan keadaan yang masih sakit? Rasanya saat ini Rasyad sangat mengkhawatirkan Jelita. Bagaimana tidak? Ketika ia membuka mata ia tidak mendapati Jelita berada di sampingnya dan ia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


Sedangkan Jelita hanya menatap Rasyad tanpa ekspresi, ia melewati Rasyad begitu saja. Bahkan ia sibuk dengan pakaiannnya sendiri, memilih pakaian yang nyaman untuknya lalu pergi ke walk-in closet meninggalkan Rasyad yang menatapnya dengan sendu.


"Jelita!" panggil Rasyad saat Jelita sudah selesai memakai pakaiannya.


"Hari ini aku menginap di rumah kak Raka!" ucap Jelita dengan datar.


"Kita akan menginap bersama-sama ya. Kita ajak Wawa ju..."


"Tidak usah!" ucap Jelita dengan cepat.


"Kamu masih sakit Jelita! Bagaimana jika kamu membutuhkan sesuatu? Bagaimana kalau..."


"Ada kak Raka dan Damian juga banyak pelayan di rumah!" jawab Jelita dengan ketus.


"Maaf!" gumam Rasyad dengan lirih. Ia menatap Jelita dengan sendu.


"Maaf? Hahaha...baru sekarang meminta maaf?" ucap Jelita dengan terkekeh sinis.


"A-aku tahu aku salah," gumam Rasyad menyadari akan kesalahan dan kebodohannya selama ini.


"Kenapa diam? Tidak bisa, kan? Apa dengan meminta maaf semuanya akan kelar? Rasa sakit yang semua aku rasakan selama ini akan hilang? Tidak Mas! Dan selamanya tidak akan hilang walau kamu mencoba menyusun kepingan hatiku yang sudah hancur tak terbentuk," teriak Jelita dengan menggebu.


Grep....


Air mata Rasyad luruh begitu saja saat mendengar ungkapan kesakitan Jelita selama ini. "M-maaf," gumam Rasyad dengan lirih.


Sesak! Itulah yang Rasyad rasakan saat ini. Ia menangis dengan memeluk Jelita dengan erat. Jelita melepaskan pelukan Rasyad dengan mendorong dada lelaki itu, ia menatap Rasyad dengan dingin. "Menyesal pun tiada guna!" ucap Jelita dengan datar.


Jelita berlalu pergi keluar kamar untuk menghindari Rasyad yang terus meminta maaf kepadanya. Ia tidak ingin luluh secepat itu kepada Rasyad.


****


"Sayang!" panggil Raka dengan tersenyum menatap adiknya yang terlihat seperti menahan amarah.


Jelita tersenyum. Ia langsung masuk ke dalam pelukan Raka untuk menenangkan hatinya. Raka mengecup puncak kepala adiknya dengan sayang dan menatap tajam ke arah Rasyad yang berada di depannya yang tidak jauh dari mereka.

__ADS_1


"Kita pulang?" tanya Raka dengan lembut.


Jelita mengangguk dengan mantap menjawab pertanyaan Raka. "Aku mau pulang sebentar lagi juga kak Dimas dan kak Arieska akan menikah. Aku mau menyiapkan gaun pernikahan yang cantik untuk kak Arieska," ucap Jelita dengan pelan.


Tanpa disadari keduanya Erina menatap keduanya dengan sendu bahkan ia memainkan jemarinya dengan gugup. Kenapa rasanya sangat menyakitkan seperti ini? Raka dan Jelita adalah saudara kandung tetapi kenapa perhatian Raka kepada Jelita mampu membuat hatinya berdenyut sakit? Ada rasa iri di hati Erina ketika Raka sangat menyayangi Jelita. Bahkan Erina tidak pernah mendapatkan perhatian sehangat itu dari suaminya sendiri.


"Kak Raka ke sini sama kak Erina ya?" tanya Jelita yang melihat keberadaan Erina tak jauh dari mereka.


Raka melepaskan pelukannya dan menatap Erina yang memang bersamanya. "Erina? Kakak bertemu dengannya di jalan jadi kakak memberikan tumpangan untuknya," jawab Raka dengan santai.


"Yang benar Kak? kalian tidak ada sesuatu gitu" tanya Jelita penuh selidik.


"Iya benar. Sesuatu bagaimana?" tanya Raka yang tidak tahu maksud adiknya.


"Berpacaran mungkin," ucap Jelita dengan tersenyum.


"Tidak. Mana mungkin Kakak berpacaran dengannya, Kakak sama sekali tidak menyukainya," jawab Raka dengan datar.


Nyutt...


Hati Erina berdenyut sakit mendengar pengakuan Raka saat ini. Erina tersenyum miris. "A-aku ke kamar dulu, permisi!' ucap Erina dengan cepat. Ia tak bisa menahan tangisnya saat ini, ia lebih ingin mengurung diri di kamarnya dan melewati Raka, Jelita, dan Rasyad begitu saja. Setelah menyakitinya semalam Raka kembali menyakiti hatinya pagi ini.


Sedangkan Raka menatap kepergian Erina dengan diserang kembali rasa bersalah. Tetapi ia menutupi semuanya. "Ayo kita pulang!" ucap Raka dengan tegas.


"Tidak mau berpamitan dengan suamimu?" tanya Raka dengan menatap sinis ke arah Rasyad.


"Sudah!" jawab Jelita dengan datar.


Rasyad mendekat ke arah keduanya. Mengapa rasanya Rasyad sangat takut padahal Jelita hanya ingin menginap di rumah kakaknya tetapi kenapa rasanya ia seperti akan berpisah dengan Jelita sangat lama?


"Jaga istriku dengan baik selama ia menginap di rumahmu ya!" pinta Rasyad dengan sendu.


"Tanpa kamu beritahu pun saya akan menjaga adik saya dengan baik dan tidak sepertimu!" ucap Raka dengan tajam.


Rasyad kembali memeluk Jelita dengan erat. "Kembalilah ke rumah ini dengan cepat. Aku akan menggapai hatimu kembali!" gumam Rasyad dengan lirih.

__ADS_1


__ADS_2