Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 104 (Menenangkannya)


__ADS_3

...Jangan lupa bom koment ya biar aku semangat up....


...Happy Reading...


*****


Setelah mendapatkan kabar dari adiknya, Rasyad yang sedang berada di kampus langsung bergegas pergi ke rumah Raka dan Erina. Ia sangat khawatir dengan keadaan Jelita sekarang, bahkan ia melihat foto Jelita yang dikirim Erina. Jelita terlihat tertekan sekali yang membuat Rasyad semakin khawatir dengan istrinya.


"Kamu kenapa Sayang? Kenapa wajah kamu terlihat tertekan sekali?" gumam Rasyad dengan lirih.


Rasyad membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tak lagi memikirkan keselamatannya yang ada di pikiran Rasyad adalah keadaan istrinya yang sangat terlihat tertekan sekali, ia harus segera bertemu dengan istrinya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan istrinya? Tak mungkin kan Raka yang melakukan itu semua? Jika Raka maka ia tak akan melepaskan Raka begitu saja walau Raka adalah suami adiknya sendiri dan kakak dari istrinya.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama menurut Rasyad akhirnya lelaki itu sampai juga di rumah Raka. Ia sudah disambut dengan Rendy yang sudah menunggu di depan.


"Dimana istri saya, Ren?" tanya Rasyad dengan cepat setelah Rendy menyapanya dengan sopan.


"Ada di dalam Tuan sedang ditenangkan oleh tuan muda Raka dan nyonya muda Erina," ucapvl Rendy dengan tegas.


Rasyad langsung berjalan masuk ke dalam rumah setelah Rendy selesai berbicara. Jantungnya berdegup dengan kencang antara, cemas, takut, dan rasa kasihan hinggap di hatinya saat ini melihat keadaan istrinya yang masih ditenangkan oleh Raka dan Erina.


Rasyad langsung mendekat ke arah sang istri yang masih terlihat gemetar walau Raka telah memeluk istrinya.


"Ada apa ini? Kenapa dengan istri saya?" tanya Rasyad dengan tajam dan langsung mengambil ahli Jelita yang sedang berada di pelukan Raka.


Raka menatap dingin ke arah Rasyad yang memeluk adiknya. Ia masih kesal dengan Rasyad tetapi sekarang lelaki itulah yang sudah menjadi suami adiknya.


"Tenangkan Jelita dulu! Nanti saya akan menjelaskan semuanya apa penyebab Jelita seperti ini," ucap Raka dengan dingin.


Rasyad tak menjawab ia menangkup wajah Jelita yang masih terlihat takut dan tatapannya juga kosong tetapi matanya terlihat berkaca-kaca.


"Kamu kenapa Sayang? Ada apa? Cerita sama Mas sekarang," ucap Rasyad dengan lembut. Rasyad menatap Jelita dengan dalam, tetapi istrinya itu sama sekali tak menjawabnya sama seperti apa yang Raka alami saat menenangkan Jelita tadi.


"Kamu tidak perlu takut Sayang sudah ada Mas di sini," ucap Rasyad dengan lirih.


"M-mama dia datang," gumam Jelita dengan lirih.


"Mama?" ulang Rasyad dengan ekor mata yang melihat ke arah Raka meminta penjelasan.


"Mama kandung Jelita sekaligus mama tiri saya," ucap Raka dengan datar yang membuat Rasyad mengerti sekarang penyebab ketakutan istrinya.

__ADS_1


"Mama datang Mas. Mama mau menghancurkan aku lagi ya? Kenapa dia harus datang?" racau Jelita dengan takut. Entah mengapa ia sangat takut dengan kedatangan mamanya seperti akan ada sesuatu yang terjadi setelah kedatangan mamanya kembali.


"Ssttt... Mama kamu tidak akan bisa menghancurkan kamu lagi Sayang. Karena apa? Karena ada aku, Raka, Dimas, dan yang lainnya akan menjaga kamu. Jadi, kamu tidak perlu takut. Kontrol pikiran kamu ya, ketakutan yang kamu rasakan belum tentu terjadi," ucap Rasyad menenangkan Istrinya.


"Apa yang dikatakan suami kamu itu benar Dek. Ketakutan kamu itu belum tentu terjadi. Kakak akan selalu menjaga kamu dan tak akan membiarkan mama atau mereka menyentuh kamu," ucap Raka dengan tegas.


Jelita terdiam, ia berusaha mengontrol dirinya kembali dengan menghembuskan napasnya perlahan berulang kali. Rasyad mengelus rambut istrinya, menenangkan Jelita yang seperti ini baru pertama kalinya untuk Rasyad. Ternyata seperti ini Jelita ketika sedang ketakutan yang membuat hati Rasyad kembali dilanda rasa bersalah kepada istrinya.


Erin tersenyum melihat perhatian kakaknya kepada Jelita. Akhirnya Rasyad mengakui semua kesalahannya dengan cepat yang membuat keduanya bisa bersatu.


"Semoga setelah ini kamu akan bahagia, Jelita. Kak Rasyad sudah berubah menjadi lebih perhatian dan terlihat sangat mencintai kamu," gumam Erina di dalam hati.


Tak lama setelah itu dengkuran halus terdengar dari bibir Jelita. Ketakutan yang ia alami membuat Jelita tertidur di pelukan Rasyad yang membuat ketiganya akhirnya merasa lega melihat Jelita tak lagi gemetar ketakutan.


"Bawa saja ke dalam kamar Kak biar Jelita istirahat dengan tenang," ucap Erina yang diangguki setuju oleh Rasyad.


Rasyad menggendong Jelita dengan perlahan. Raka dan Erina berjalan beriringan untuk memberitahukan kamar untuk Jelita tidur.


"Tidurkan adik saya dengan hati-hati, Syad!" ucap Raka dengan dingin.


"Tanpa kamu beritahu pun saya akan melakukan itu kepada istri saya," ujar Rasyad dengan ketus.


Keduanya mendengkus kesal dan saling menatap tajam yang membuat Erina menggelengkan kepalanya. Sepertinya suami dan kakaknya tidak akan bisa akur, lihat saja tatapan keduanya yang sangat tajam sekali.


*****


Flashback on...


"Apa kabar, Sayang?" tanya mama Amanda yang tersenyum ramah kepada anaknya yang terlihat mematung saat melihat kedatangannya.


"Ngapain anda datang ke kantor saya?" tanya Dimas dengan dingin.


Bukannya menjawab Amanda malah menatap sekeliling ruangan yang dulu di tempati mantan suaminya. "Ruangannya masih tidak berubah ya hanya hanya terlihat lebih elegan," ucap mama Amanda tanpa berdosa.


"Keluar dari ruangan saya!" ucap Dimas dengan tajam.


Mama Amanda terkejut dengan teriakan Dimas kepadanya. Raut wajahnya langsung berubah sendu melihat tatapan kebencian dari anaknya. "Mama kangen kamu dan Jelita, Nak!" ucap Mama Amanda dengan lirih.


"Bulshit!!! Silahkan keluar dari ruangan saya! Saya tidak sudi anda berada di sini," ucap Dimas dengan marah.

__ADS_1


"Mama tidak bohong, Nak. Kedatangan Mama kembali ke sini ingin bertemu dengan kalian. Mama sangat merindukan kalian," ucap Mama Amanda dengan lirih.


"Jangan sebut anda itu Mama saya. Itu sangat menjijikkan!" desis Dimas dengan tajam.


"Dimas!" teriak Mama Amanda yang merasa sakit dengan penolakan Dimas kepadanya. Belasan tahun tidak bertemu ternyata membuat Dimas membencinya.


"KELUAR!" teriak Dimas dengan murka.


"Kamu akan menyesal telah mengusir Mama, Dim. Kedatangan Mama ke sini untuk bertemu dengan kamu tetapi kamu begitu tega mengusir Mama," ucap Mama Amanda dengan tajam.


Dimas terkekeh dengan sinis. "Saya dan Jelita tidak punya mama seperti anda," ucap Dimas dengan tatapan yang menilai jijik kepada Amanda.


"Mama sungguh merindukan kamu dan Jelita, Dim," ucap Mama Amanda dengan lirih.


"Mama tidak berani menemui Jelita. Mama takut orang suruhan mertua Mama mengetahui jika Mama ingin bertemu dengan Jelita. Jadi, Mama hanya berani menemui kamu. Mama ingin sekali memeluk kalian. Hiks...hiks... Jangan benci Mama, Dim!" ucap Mama Amanda dengan tangisnya yang mulai pecah.


Dimas sama sekali tak bergeming. Ia menarik tangan wanita yang melahirkannya ke luar ruangannya. "Tangisan anda tidak membuat hati saya luluh. Jadi, silahkan anda pergi dari kantor saya dan jangan pernah menampakkan wajah anda di hadapan saya maupun Jelita," ucap Dimas dengan tajam.


Brak...


"Dim buka! Mama masih kangen kamu!" teriak Mama Amanda mengedor pintu ruangan Dimas tetapi Dimas sama sekali tidak peduli dengannya.


"Dim!"


Sedangkan Dimas yang berada di dalam ruangan menjambak rambutnya dengan kasar. "PERGI!!!" teriak Dimas.


"Arghhhh...."


Flashback off...


Arieska mendengar dengan baik cerita Dimas. Terlihat sekali di mata suaminya ada kebencian yang sangat mendalam terhadap mama mertuanya. Ia mengelus dada Dimas dengan lembut untuk meredakan emosi suaminya yang datang ketika menceritakan pertemuan suaminya dengan ibu kandungnya setelah belasan tahun tidak bertemu.


"Kenapa wanita itu harus kembali sih? Aku sudah bahagia dengan semuanya. Kedatangannya membuat moodku sangat buruk," ucap Dimas dengan sinis.


"Sabar Mas bagaimana pun mama Amanda adalah mama kandung kamu," ucap Arieska menenangkan suaminya.


"Jangan sebut dia sebagai mamaku, Sayang. Aku tidak sudi mendengarnya!" ucap Dimas dengan dingin.


"Iya Mas. Sekarang Mas tenang ya!" ucap Arieska mengalah. Ia memeluk perut Dimas erat dan menempelkan kepalanya di dada bidang Dimas. "Semua akan baik-baik saja Mas!" gumam Arieska dengan pelan.

__ADS_1


"Ya. Dan aku tidak akan membiarkan wanita itu merusak kebahagiaan kita maupun Jelita!"


__ADS_2