Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 80~ (Hasrat)


__ADS_3

...Happy reading...


****


Erina dibuat melayang dengan sentuhan Raka sekarang, ia seperti terbang ke atas awan saat bibir Raka mengecup kulit lehernya dengan mesra bahkan Erina yakin Raka meninggalkan banyak jejak kepemilikan di sana.


Raka mengangkat satu kaki Erina ke atas pahanya saat ia menghimpit tubuh Erina ke dinding kamarnya. Deru napas mereka saling bersautan dan terasa sangat panas.


"Ahhhh..." Erina mengeluarkan suara yang membuat hasrat Raka semakin melambung dengan tinggi.


"Shitt..." umpat Raka saat miliknya seakan memberontak minta di keluarkan, baru kali ini reaksi juniornya di luar kendali saat tangannya merem*s benda kenyal yang menjadi favoritnya sekarang.


"Saya tidak butuh pakaian ini lagi!" ujar Raka dengan suara seraknya, matanya juga memerah karena kabut gairahnya sendiri.


Srekkk...


Raka merobek lingerie yang dipakai Erina dengan mudah. "M-mas kenapa dirobek?" tanya Erina dengan gugup karena selain lingerie itu Erina tak lagi memakai apapun.


"Karena saya tak lagi membutuhkannya. Kamu lebih seksi jika tidak memakai apapun!" sahut Raka dengan suara berat.


"Ahhh..."


"Eugh..."


Erina terus mengeluarkan suara desahannya saat tangan Raka bermain di area lembabnya. Memainkan sesuatu di sana hingga cairan Erina semakin keluar banyak. Tubuh Erina bergetar dengan saat hebat saat ia berhasil mendapatkan pelepasan pertamanya.


"Bibirmu bengkak!" ucap Raka menyentuh bibir Erina dengan jarak wajah mereka yang sangat dekat.


Erina hanya diam. Ia sedang menikmati pelepasan yang baru pertama kali ia rasakan dan rasanya membuat tulangnya seperti jely. Erina hampir saja merosot ke lantai jika Raka tidak memeluknya dengan erat.


"Ini baru awal Erina. Kenapa kau sudah terlihat lemas sekali hmm?" tanya Raka dengan memainkan bibir merah muda Erina yang membuat hasratnya kembali naik saat bibir itu terbuka dan jarinya masuk ke mulut gadis itu.


"A-aku...." deru napas Erina semakin tak beraturan kala Raka kembali mencium bibirnya dengan Rakus. Bahkan pria itu seakan tak memperbolehkannya bernapas dengan benar.


Raka menggendong Erina menuju ranjang yang akan menjadi saksi bisu penyatuan dua insan tersebut.


"Uhhh..." Erina menggerekkan kakinya, ia merinding dengan sentuhan Raka di pahanya.


"Bantu saya melepaskan pakaian sialan ini!" perintah Raka dengan tidak sabaran.


Dengan tangan gemetar Erina membantu melepaskan kancing kemeja yang Raka pakai. Ia menelan ludahnya dengan kasar saat dada Raka sudah terpampang dengan jelas di hadapannya.

__ADS_1


"Terpesona hmm?" tanya Raka dengan terkekeh sinis. Ia suka melihat Erina terpesona dengan bentuk tubuhnya.


Erina tergagap, ia tidak bisa berbicara karena nyatanya dirinya memang terpesona dengan bentuk tubuh yang sempurna milik suaminya.


"Kenapa kau lama sekali? Cepat lepaskan celanaku!" gertak Raka tak sabaran. Kenapa gadis itu terlihat lambat sekali sih?


"T-tapi...." Erina gugup sekaligus takut melihat sesuatu yang menggelembung di dalam celana Raka.


"CEPAT!" ucap Raka dengan tajam.


"I-iya..." Erina membuka celana Raka dengan gemetar. Matanya terpejam saat sesuatu milik Raka bereaksi dan tegang di hadapannya. Ia menelan ludahnya dengan kasar saat Raka kembali menindihnya, menggesekkan milik Raka yang sudah menegang di goa lembatnya.


"Ahhh..." Erina merem*s seprei dengan kuat saat Raka memainkan area sensitifnya.


"Kenapa benda itu terlihat besar sekali? Apa milikku muat dimasuki benda sebesar itu?" batin Erina bertanya.


Raka memandang wajah Erina dengan sangat dekat. Ia tersenyum saat gadis itu menutup matanya dengan rapat."Buka mata kamu!" bisik Raka dengan lembut.


Erina perlahan membuka matanya. Ia terpesona dengan ketampanan Raka sekarang. Keringat yang berada di dahi Raka membuat pria itu terlihat semakin tampan di mata Erina. Ia tidak sadar jika Raka sudah membuka pahanya dengan lebar dan memposisikan miliknya di goa milik Erina.


"Arghhh...." Erina berteriak sakit saat milik Raka mencoba menerobos miliknya yang sempit.


Raka mencium bibir Erina agar sedikit menggilangkan kesakitan gadis itu saat ia mencoba menyatu untuk pertama kalinya dengan Erina. Raka terus mencobanya hingga ia berhasil menyatu dengan Erina. Tanpa sadar Erina menangis tanpa suara karena sakit yang ia rasakan miliknya seperti sobek saat milik Raka yang besar memaksa masuk.


Raka menghapus air mata Erina dengan ibu jarinya membuat gadis itu sedikit merasa tenang. Raka tak ingin bergerak terlebih dahulu, ia ingin Erina merasa nyaman dengan miliknya yang sudah berada di dalam. Ia kembali mencium Erina dengan mesra bahkan kedua gunung kembar Erina tak luput dari sasarannya. Seperti bayi yang kehausan Raka bermain di sana.


Dirasa Erina sudah rileks, Raka mencoba bergerak perlahan. Kesakitan yang Erina rasakan sudah berganti dengan kenikmatan sekarang. Suara desah*n terus terdengar di kamar yang sunyi milik pengantin baru tersebut. Raka terus menghujam miliknya dengan gerakan yang semakin lama semakin cepat. Raka hilang kendali tubuh Erina membuatnya begitu mabuk kepayang. Dahaga yang selama ini Raka rasakan seakan hilang begitu saja saat ia merasakan nikmatnya tubuh sang istri.


"ERINA!" teriak Raka saat ia mendapatkan pelepasan pertamanya bersamaan dengan Erina. Gadis itu sudah tidak mampu untuk mengeluarkan suara, ia sudah sangat lelah untuk melayani hasrat suaminya yang sangat menggebu bahkan penyatuan pertama mereka berlangsung lama hingga Erina merasakan tubuhnya seperti remuk redam.


Raka belum puas sama sekali. Ia hanya memberikan waktu sejenak bagi Erina untuk mengambil napas.


"I want to touch you again!"


****


Rasyad tidak bisa tidur sama sekali, ia hanya berguling ke kanan dan ke kiri. Hingga Rasyad memutuskan untuk bangun dan bersandar di kepala ranjang. Matanya tak sengaja melihat ke arah Jelita yang tertidur di sofa tanpa menggunakan selimut. Entah apa yang membuat Rasyad ingin mendekati Jelita, perlahan ia berjalan mendekati Jelita yang terlihat meringkuk. Rasyad berjongkok di hadapan Jelita, menatap gadis itu dengan dalam. Sesekali Rasyad menghembuskan napasnya dengan perlahan.


Jujur, Rasyad masih sangat menyayangi Jelita. Jauh di dalam lubuk hatinya ia sangat merindukan gadis yang sekarang sedang tertidur di hadapannya tetapi bayangan foto Jelita dengan pria lain sedang bercinta membuat amarah Rasyad kembali datang mencuat, ia ingin marah kepada Jelita. Rasyad ingin menanyakan langsung kepada Jelita tetapi bibirnya keluh.


"Kenapa kamu bisa melakukan itu, Jelita? Apa karena kamu kecewa melihatku menikah dengan Lolita? Kamu tahu? Hatiku sangat sakit melihatmu bercinta dengan pria lain," gumam Rasyad dengan lirih.

__ADS_1


"Aku terus menyangkal perasaan ini berdalih karena kamu adik angkatku sendiri. Tetapi setelah menikah dengan Lolita pun bayang-bayangmu selalu menemaniku walau di saat aku sedang kecewa dan marah kepadamu," gumam Rasyad menatap ke arah Jelita yang tertidur pulas.


Rasyad ingin sekali menyentuh pipi Jelita tetapi tangannya ia biarkan menggantung di udara. Ada rasa bimbang di hati Rasyad takut jika sewaktu-waktu Jelita merasa terganggu dengan sentuhannya.


Tubuh Rasyad mematung saat mata Jelita terbuka dan menatapnya dengan teramat dingin. Jelita langsung menepis tangan Rasyad yang sedikit lagi menyentuh pipinya.


"Jangan sentuh aku!" ucap Jelita dengan dingin. Matanya berkabut amarah yang sangat besar serta ketakutan yang Rasyad lihat sekarang.


Kenapa dengan Jelita? Kenapa reaksi gadis itu sangat berlebihan sekali?


"Siapa yang ingin menyentuhmu? Aku hanya ingin sedikit menggoyangkan kepalamu agar dengkuranmu yang terdengar sangat keras itu tidak mengganggu tidur nyenyakku!" alibi Rasyad menyembunyikan kegugupannya.


"Ooo iya? Aku tidak percaya begitu saja!" sahut Jelita dengan dingin.


"Y-ya sudah kalau tidak percaya. Aku peringatkan sekali lagi jangan tidur mendengkur!" ucap Rasyad dengan ketus.


Jelita menatap sinis ke arah Rasyad. "Aku tidak pernah tidur mendengkur! Awas saja jika kamu menyentuhku seujung kuku pun. Aku tidak terima dan tidak pernah sudi disentuh olehmu!" ucap Jelita dengan tajam.


Rasyad menatap Jelita dengan tajam. "Aku juga tidak mau menyentuh gadis murahan sepertimu!" ucap Rasyad dengan tajam.


Plakkk...


Jelita menampar Rasyad dengan kuat. Ia begitu dingin menatap Rasyad. Jelita tersulut emosi dengan ucapan Rasyad yang tak pernah terkendali.


"Kamu..."


"Aku benci padamu!" ucap Jelita dengan sungguh-sungguh yang membuat Rasyad terdiam menatap mata Jelita mencari kebohongan di sana. Tetapi kilatan kebencian yang terlihat sangat jelas di mata Jelita membuat hati Rasyad berdenyut sakit.


"Jika tidak karena bunda aku tidak akan menikah denganmu bahkan berbicara denganmu saja aku enggan!" ucap Jelita dengan dingin.


"Jangan berbicara kepadaku jika tidak penting apalagi menyentuhku!" ujar Jelita dengan tajam. Ia kembali merebahkan tubuhnya di sofa dan memunggungi Rasyad begitu saja.


Tanpa bicara lagi Rasyad kembali ke ranjangnya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. "Kenapa kata benci darimu membuat sekujur tubuhku terasa sakit?" gumam Rasyad di dalam hati.


***


Sesak napas gak baca part ini?


Jantung masih aman?


Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya.

__ADS_1


__ADS_2