
"Cindy," panggil Devon.
Cindy pun menoleh. "Apa yang anda lakukan di sini?" Tanya Cindy yang bingung tiba-tiba saja Devon ada di belakangnya.
Devon meraih tangan Cindy lalu menggenggamnya. "Aku mencarimu," kata-kata Devon membuat Cindy tersipu malu.
"Benarkah?" tanya Cindy memastikan. Devon mengangguk.
"Mau masuk dulu?" Ajak Cindy ke dalam kamar kosannya.
"Apa tidak ada yang keberatan?" tanya Devon. Cindy menggeleng.
Cindy membuka kamar kosannya. Devon segera menutup pintu kamar itu dan menguncinya.
"Pak apa yang anda lakukan kenapa kamarnya di kunci?" Tanya Cindy yang panik.
Devon memegang kedua bahu Cindy dan menatap matanya dalam. "Cindy sejak pertama kali aku melihatmu aku sangat tertarik padamu, apa kau juga merasakan demikian?" Tanya Devon.
"Pak apa ini tidak terlalu cepat, saya memang menyukai anda tapi saya tidak yakin anda menyukai saya juga," kata Cindy sedikit merendah.
Cup
__ADS_1
Devon mendaratkan kecupan sekilas di bibir Cindy.Gadis itu tersentak kaget mendapatkan serangan dadakan dari laki-laki tampan yang ada di depannya.
"Pak saya..." Cindy tidak bisa meneruskan kalimatnya. Mulutnya sudah lebih dulu dibungkam oleh bibir Devon.
Devon mencium Cindy dengan sangat lembut. Cindy pun mulai meremang merasakan hawa aneh yang menyelimuti dirinya.
Tak mau larut dalam kehaluannya. Cindy mendorong dada bidang Devon. Devon mengusap bibirnya yang basah.
"Apa itu sudah cukup untuk menjawab pertanyaanmu?" tanya Devon sambil tersenyum ke arah Cindy.
Cindy membuang mukanya tak mau Devon melihat wajahnya yang memerah itu. Devon menangkup wajah Cindy.
"Katakan kau mencintaiku!" ucap Devon pada Cindy.
Lalu laki-laki tampan itu menepis jarak di antara keduanya. Ia mencium bibir Cindy untuk kesekian kali. Cindy hanya bisa pasrah. Devon menggigit bibir bawah gadis itu agar ia membuka mulutnya. Setelah itu Devon mengeksplor bagian dalam mulut Cindy. Gadis itu mulai terbuai. Ia pun pada akhirnya membalas ciuman Devon.
Semakin lama ciuman mereka semakin panas dan menuntut. Devon membawa Cindy dalam kungkungannya. "I love you."
"Love you too," mulut Cindy maju seperti akan mencium sesuatu.
"Cin, Cindy eh nih anak ngapain sih mimpi mesum ya lo," tuduh Irma.
__ADS_1
Akhirnya Irma mengambil air di dalam gelas dan menyipratkan air ke muka Cindy. Cindy pun gelagapan karenanya.
"Hujan, hujan," kaget Cindy.
"Hujan pala lo," kata Irma.
Cindy memperjelas penglihatannya."Eh elo ngapain masuk ke kamar gue gak ngetuk pintu dulu?" sungut Cindy.
"Udah kali berkali-kali malah, elo aja yang bu*deg, pas gue buka ternyata pintu lo gak ke kunci," terang Irma.
"Mau ngapain lo?" Tanya Cindy kesal.
"Gue mau nitip jemuran, besok pagi gue mudik jadi jemuran yang masih basah gue tinggal di luar, jagain ya!" Irma menaik turunkan alisnya.
"Dih, ogah biar ilang tuh jemuran dicuri da*lemannya," kesal Cindy pada Irma.
"Jahat banget sih lo, dimintain tolong juga, awas lo ya," ancam Irma.
"Iya ya bawel, udah keluar lo gue capek mau tidur," usir Cindy. Irma pun keluar setelah itu.
"Anjiiir ternyata gue cuma mimpi," kesal Cindy lalu ia mengacak rambutnya hingga berantakan. Wajahnya memerah.
__ADS_1
Tak hanya itu ia sangat malu karena sempat-sempatnya ia bermimpi mesum dengan laki-laki yang tak mungkin ia gapai.
"Tuhan kalau dia jodohku tolong dekatkanlah tapi kalau dia bukan jodohku maka jodohkanlah, aku sangat menginginkannya," doa Cindy kemudian ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.