Click Your Heart

Click Your Heart
Part 130


__ADS_3

Mata Irene mengerjap saat hari sudah mulai pagi. Dia melirik ke samping dan mendapati suaminya masih terlelap sambil mendekapnya posesif.


Dengan hati-hati Irene menyingkirkan tangan Tommy yang melingkar di pinggangnya. Irene menatap penuh cinta pada suaminya yang masih nyaman di alam mimpi. Irene memberanikan diri menyentuh wajah tampan suaminya itu. Dia sangat betah memandangi wajah damai Tommy yang sedang tertidur.


"Eh?" Tommy terbangun ketika merasakan sesuatu yang menyentuh wajahnya.


"Kamu sudah bangun?" tanya Tommy pada istrinya.


Irene terlihat gugup saat suaminya itu terbangun. "Aku harus menyiapkan sarapan untukmu dan membuatkan bubur untuk mama sekarang."


Ketika Irene akan beranjak dari atas kasur Tommy menarik tangannya hingga ia terjatuh di atas dada bidang suaminya.


"Mas lepaskan aku! Aku harus segera membuat bubur untuk Mama."


Cup


Tommy mendaratkan sebuah kecupan di bibir mungil istrinya. "Morning kiss."


Wajah Irene menjadi merah merona karena malu. Setelah itu Tommy melepas pelukannya.


Irene berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tommy terkekeh melihat tingkah istrinya yang menggemaskan itu.


Setengah jam berlalu Irene keluar dengan menggunakan handuk piyama dan rambut yang diikat dengan handuk kecil.


Tommy mendekati istrinya. Ia kembali memeluk Irene. "Mas, lepaskan ini sudah siang kamu juga harus berangkat ke kantor kan?"


Tommy mencium bibir Irene mellummat dengan lembut dan menyesapnya. "Kamu canduku," ucapnya dengan lirih di telinga Irene. Irene jadi meremang. Tommy suka sekali menggoda istrinya itu.


Irene mendorong suaminya pelan. "Jangan seperti ini," kata Irene mencebik kesal.


Tommy terkekeh sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar mandinya.


Usai berganti pakaian, Irene menuju ke dapur untuk membuat bubur. Tak lama kemudian Tommy turun dari lantai atas.


"Sayang, aku sudah terlambat," ucapnya seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Mas, nggak sarapan dulu?" Tanya Irene.


"Nanti aku beli saja di luar." Setelah itu, Tommy mengecup kening Irene singkat dan melangkahkan kaki ke luar.


Setelah dirasa matang, Irene membawakan bubur untuk ibu mertuanya. Ketika baru memasuki kamar ia terkejut saat melihat ibunya jatuh di lantai.


Hari ini suami Maya sudah berangkat pagi-pagi karena harus meninjau proyek di luar kota.


"Mama." Irene meletakkan mangkuk bubur itu lalu menolong Maya. Ia mengangkatnya ke atas ranjang.


"Mama mau ngapain? Kalau butuh sesuatu minta tolong saja sama aku," ucap Irene pada ibu mertuanya.


"Aku bawakan bubur. Aku suapi ya? Apa mama ingin mengambil air minum?" Maya hanya mengangguk.


Irene menyuapi ibu mertuanya itu dengan telaten. Irene senang bisa merawat ibu mertuanya meskipun ketika dia dalam keadaan sehat, Irene tak dianggap sebagai menantu sekalipun.


Sedangkan Maya menatap Irene dengan intens. Ia merasa bersalah pernah mengabaikan Irene sebagai menantunya. "Beruntung aku memiliki menantu sepertimu, nak," batin Maya dalam hatinya.


...***...


"Sayang, kapan kamu ada jadwal periksa ke dokter? Aku sudah tidak sabar mengetahui jenis kelamin anak kita," Devon bertanya seraya mengelus perut Cindy.


"Dua hari lagi Mas. Lagipula ini belum ada 18 minggu mana bisa melihat jenis kelaminnya." Devon tampak lesu mendengar ucapan istrinya. Padahal dia sangat antusias dengan calon bayinya ini.


"Apa mas masih mual muntah?"


"Sudah berkurang. Aku sangat bahagia karena bisa menemani pada kehamilanmu yang sekarang. Dulu kau pasti merasa berat menjalani kehamilanmu yang pertama karena aku tidak ada di sampingmu?" Terlihat penyesalan di wajah Devon.


Saat itu Devon tidak mengetahui kalau Cindy sedang hamil. Terlebih mereka berpisah karena sebuah kesalahpahaman yang membuat keduanya saling menjauh.


"Semuanya sudah berlalu, Mas. Aku anggap itu sebagai bagian dari perjalanan hidupku. Semua orang pasti mengalami ujian yang berbeda-beda. Tinggal bagaimana kita bisa menyelesaikannya," jawab Cindy dengan bijak.


Devon menatap nanar pada istrinya itu. "Aku harap anak kedua kita perempuan sehingga ia akan mewarisi kelembutan dan kecantikanmu sayang."


Cup

__ADS_1


Devon mengecup kening Cindy agak lama. "Aku berangkat kerja dulu," pamit Devon. Cindy melambaikan tangannya.


Hari ini Cindy merasa kurang enak badan jadi ia tidak bisa ke toko. Anak-anak sudah diantar ke sekolah lebih dulu oleh sang sopir. Devon berangkat agak telat dari biasanya.


Cindy menonton televisi untuk mengusir kebosanan. Ia tak sengaja melihat berita yang memuat tentang bencana banjir di daerah yang pernah dia tinggali.


"Ah, kenapa aku sampai lupa pada orang yang telah membesarkan diriku. Nenek maafkan aku yang tak pernah mengunjungi makammu," ucapnya sambil terisak.


Sedikit cerita jika Cindy dibesarkan oleh neneknya sejak kecil. Mereka hanya tinggal berdua setelah kedua orang tua Cindy meninggal dunia. Hidup di bawah kemiskinan harus membuat neneknya bekerja keras.


Neneknya lah yang berjuang untuk membiayai kehidupan Cindy sampai dia SMP. Kemudian saat SMA Cindy bekerja serabutan untuk mendapatkan uang agar bisa membiayai sekolah dan makannya sehari-hari.


Lalu suatu hari Cindy mendapatkan tawaran untuk melanjutkan kuliah melalui jalur beasiswa. Awalnya sang nenek melarangnya. Namun, dengan berbagai cara dikeluarkan Cindy agar dia diizinkan ke kota. Akhirnya ia mengajak dua sahabatnya Alan dan Irene untuk merantau. Sang nenek pun setuju jika Cindy ada yang menemani. Meski kedua sahabatnya itu tidak kuliah seperti Cindy melainkan mencari pekerjaan yang sesuai, asal mereka masih bersama membuat hati sang nenek lega. Setidaknya mereka bisa dipercaya untuk menjaga Cindy.


"Jika keadaan sudah membaik aku akan ke sana, Nek," gumam Cindy dengan wajah sendu.


...***...


Irene mendapatkan telepon dari keluarganya yang ada di kampung kalau mereka sedang mengungsi karena musibah banjir yang melanda desa mereka.


Irene tak bisa berbuat banyak untuk membantu keluarganya. Tapi dia punya ide untuk membantu warga di desanya yang terkena musibah.


"Aku akan meminta bantuan Mas Tommy agar ia mau menyumbangkan sedikit kebutuhan pokok untuk mereka," gumam Irene yang sedang bermonolog.


Tapi ia berpikir jika hanya suaminya yang mengeluarkan dana akan keberatan. Ia pun berniat mengajak Cindy menyumbangkan dana dari uang suaminya karena alasan mereka berasal dari daerah yang sama.


Kemudian Irene menghubungi Cindy melalui sambungan telepon.


"Apa kau sedang berada di toko?" Tanya Irene pada Cindy.


"Tidak, aku sedang berada di rumah karena aku kurang enak badan. Apa kau melihat berita tentang musibah banjir yang melanda kampung halaman kita?" Tanya Cindy pada Irene.


"Tidak, tapi aku baru saja mengetahui kabar itu melalui keluargaku yang baru saja menelepon. Bagaimana kalau kita membantu mereka yang sedang kesusahan." Irene memberanikan diri untuk mengatakan usulannya pada Cindy.


"Tentu saja aku setuju. Aku akan meminta Maaf Devon dan Pak Bayu untuk mengatur pendistribusian bantuan kita. Kita bisa kirim barang-barang pokok ke sana."

__ADS_1


__ADS_2