Click Your Heart

Click Your Heart
Bab 180


__ADS_3

Cindy mencari tahu wanita yang bernama Murni. Seingatnya laki-laki breng*sek yang pernah datang menemuinya dulu menyebut nama mantan istrinya itu, Murni.


Dia tak lantas menghampirinya. Di waktu yang lain dia mengawasi Devon seharian melalui para pegawai yang diperintah olehnya untuk melaporkan apa saja kegiatan Devon. Tapi tak ada yang mencurigakan.


Terakhir Cindy mengetahui rumah mantan suami Murni. Cindy sengaja mengikuti mantan suami Murni itu. Rupanya dia sering datang ke tempat mantan istrinya untuk meminta uang. Untuk berjaga-jaga Cindy mengumpulkan bukti kejahatan mantan suami Murni itu jika suatu saat diperlukan.


"Murni, murni," teriaknya.


"Ada apa lagi?" Jawab Murni.


"Beri aku uang!" Bentaknya.


"Uangku sudah habis kau buat foya-foya dan pesta minuman keras. Memangnya kemana uang lima juta yang pernah kuberikan?" Tanya Murni.


"Kau gila, uang segitu buat main semalam juga habis."


"Makanya bang kerja kalau mau dapat uang bukan cuma bisanya memeras orang lain."


"Kamu kan istriku."


"Mantan bang, mantan kita sudah resmi bercerai."


"Dan kamu akan menikah bersama pacarmu yang kaya itu?" Tuduh mantan suami Murni.


"Jangan menyebar fitnah bang. Itu orang tua temannya Anwar."


Mendengar kata Anwar, Cindy ingat nama teman Cello yang ditolong. "Jadi mereka orang tua temannya Cello yang ditolong waktu itu?" Gumam Cindy lirih ketika menguping pertengkaran mereka.


Krek


Cindy tak sengaja menginjak sesuatu. "Siapa di luar?" Cindy segera berlari ketika mendengar suara laki-laki itu. Dia sampai mencopot sepatu high heels yang ia kenakan agar bisa lari sekencang mungkin.


Ia buru-buru bersembunyi. Tapi mantan suami Murni bisa menemukannya. "Rupanya nyonya besar ada di sini," ledeknya. Saat Cindy akan berlari, laki-laki itu menarik tangannya.


"Bang lepaskan wanita itu!" Seru Murni ketika melihat mantan suaminya menarik paksa seorang wanita.


"Dia akan jadi umpan agar aku bisa mendapatkan banyak uang," ucapnya lalu tertawa dengan nyaring.


Tanpa sepengetahuan laki-laki itu Cindy mengaktifkan ponselnya dan memencet nomor suaminya.


"Hallo, sayang." Tak ada jawaban ketika Devon menangkap telepon.

__ADS_1


"Lepaskan, lepaskan tanganku bren*gsek." Terdengar suara Cindy yang sedang mengumpat.


Setelah itu tak ada lagi suara Cindy. Hanya terdengar suara sesuatu yang terjatuh.


"Bayu tolong suruh bagian IT melacak nomor ponsel istriku. Aku mendengarnya berteriak. Aku takut dia dalam bahaya."


"Baik pak."


Tak lama kemudian, Bayu melapor pada atasannya. "Pak istri anda ada di suatu tempat. Ini data terakhir kali dia menyalakan ponsel."


"Kita ke sana sekarang!"perintah Devon dengan tegas.


Bayu pun mengangguk patuh lalu berjalan di belakang Devon. Mereka menuju ke lokasi yang dimaksud Bayu.


Tak butuh waktu lama mobil yang dikendarai oleh Bayu tiba di lokasi. "Ini kan dekat dengan rumahnya Anwar," gumam Devon.


"Siapa Anwar, pak?" Tanya Bayu yang merasa tak mengenal nama itu.


"Teman sekolah Cello."


Selang beberapa saat kemudian, Anwar dan Cello menghentikan sepedanya di depan mobil Devon.


"Mamamu menghilang, saat papa lacak lokasinya terakhir di sini."


"Apa?" Cello terkejut mendengarnya.


Lalu Murni tak sengaja melihat kerumunan di depan rumahnya. "Pak apa yang membawa anda kemari?" Tanya Murni penasaran. Dia begitu menghormati Devon karena dia telah menolong dirinya.


"Saya mencari istri saya. Ketika dia menelepon dia berteriak seperti ada yang mencoba menarik tangannya dengan paksa," terang Devon menjawab pertanyaan Murni.


"Mungkinkah wanita yang dibawa mantan suami saya itu istri anda?"


"Apa? Bapak membawa ibunya Cello?" Tanya Anwar. Murni mengangguk. Anwar menggertakkan giginya.


"Keterlaluan!"


"Anda tahu di mana mantan suami saya membawa istri saya?" Tanya Devon baik-baik.


"Kemungkinan dia menyekapnya di rumah lama seperti dia menyekap saya beberapa waktu lalu," sahut Anwar.


"Beritahu kami tempatnya." Devon memohon pada Anwar. Anwar mengangguk setuju.

__ADS_1


Lalu Cello, Anwar dan Murni ikut dalam satu mobil. Mereka menuju rumah yang dimaksud oleh Anwar.


"Itu rumahnya." Anwar menunjuk sebuah rumah yang diduga tempat menyekap Cindy.


"Kita atur strategi, Anwar dan Cello tunggu di sini. Bu saya mohon bantuan Anda supaya ibu bisa mengalihkan perhatian suami anda. Saya akan masuk diam-diam dan melepaskan istri saya. Sementara itu kamu stay di sini saja Bay. Awasi anak-anak jangan biarkan mereka mendekat. Jika dibutuhkan kamu bisa bantu saya telepon polisi," perintah Devon pada semua orang yang ada di mobil.


Setelah itu Murni turun duluan. Dia akan bertugas mengalihkan perhatian mantan suaminya. "Bang, Abang aku bawa uang," teriak Murni memancing mantan suaminya.


"Aaargh kau ini berisik sekali," keluhnya. "Mana uangnya?" Laki-laki itu menengadahkan tangannya.


"Tunggu dulu, Bang. Aku datang buat ngambil foto kopi KTP Abang dulu lah." Murni berbohong. Dia berharap lelaki yang berdiri di hadapannya itu.


"Arrgh ribet bener sih?" Keluh mantan suami Murni.


Di saat yang bersamaan, Devon mencoba masuk ke dalam rumah itu melalui jendela yang tidak dikunci. Dia membuka pelan jendelanya.


"Mas," panggil Cindy. Cindy memang disekap tapi tangan dan bibirnya tidak terikat. Dia hanya mengurungnya saja.


Di saat yang bersamaan mantan suami Murni mendengar kegaduhan di kamar tempat Cindy dikurung. Dia pun berjalan mendekat. Ketika dia membuka pintu kamar itu terlihat kosong. Mantan suami Murni itu panik karena tidak menemukan wanita yang dia kurung di dalam kamar. Padahal sebenarnya Cindy dan Devon sedang bersembunyi di belakang lemari. Ketika mantan suami murni itu lupa mengunci pintu, Devon dan Cindy berkesempatan untuk lari.


Rupanya laki-laki itu belum keluar dari rumah. Dia berada di ambang pintu sedangkan Devon dan Cindy ada di belakangnya. Lalu Devon mengambil sesuatu yang bisa digunakan untuk memukul mantan suami Murni itu agar dia tidak menghalangi niat mereka untuk kabur.


Bug


Devon memukul tengkuk leher laki-laki itu menggunakan vas bunga dengan keras. Dia pun terjatuh. Namun, tidak sampai pingsan. Seni berlari menuju ke mobil.


Laki-laki itu bangun dan ingin mengajar Cindy namun Devon menghalanginya. Kemudian mereka berkelahi.


Di saat yang bersamaan Bayu memanggil polisi. Keduanya masih berkelahi. Satu sama lain saling memukul. Namun pada akhirnya Devonlah yang memenangkan pertarungan itu.


Devon melintir kedua tangannya ke belakang punggung lalu dia menahannya dengan lutut agar laki-laki itu tidak bisa melawan. "Bayu ambilkan aku tali atau apa saja yang bisa digunakan untuk mengikat tangannya agar dia tidak kabur," perintah Devon kepada Bayu.


"Baik Pak." Kemudian Bayu memberikan tali tambang yang dijumpai di dalam rumah laki-laki tersebut Devon mengikat tangannya dengan tali itu.


Tak lama kemudian polisi datang ke lokasi tersebut. Murni dan Anwar terlihat sedih ketika polisi membawa laki-laki yang mereka kenal.


"Pak, tidak gak bisa bicarakan dengan baik-baik?" Murni memohon kepada Devon agar mau melepaskan mantan suaminya.


"Bukankah dia selalu memeras ibu dan menyiksa kalian? Kenapa harus diberi kelonggaran? Biarkan dia mempertanggungjawabkan perbuatannya agar kelak dia tidak menyusahkan kalian." Devon bersikap tegas.


Murni dan Anwar akhirnya pasrah terhadap hukuman yang diberikan kepada mantan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2