
Semakin hari kesehatan Maya semakin membaik berkat ketelatenan Irene merawatnya. Kini Maya sudah biasa berdiri meski masih kesulitan dalam berjalan.
"Mama, mau makan apa? Biar aku masakin," tanya Irene penuh perhatian. Ia tulus merawat ibu mertuanya itu.
Maya menggeleng. "Tolong ambilkan saja minum!" Irene menuruti perintah Maya.
Wanita itu menyodorkan segelas air putih pada ibu mertuanya. "Terima kasih," ucap Maya.
"Apa ada yang lain?" Tanya Irene.
"Tidak, nak. Beristirahatlah mama tahu kamu capek karena merawatku berhari-hari." Irene tersenyum mendengar penuturan mertuanya.
"Sudah sewajarnya aku merawat mama. Maaf aku belum bisa menjadi menantu yang baik."
"Tidak, nak. Aku yang seharusnya minta maaf padamu karena telah menyia-nyiakan kamu selama menjadi menantu mama," ucap Maya dengan penuh penyesalan.
Irene memeluk Maya. "Bisakah mulai sekarang kita seakrab ini. Orang tuaku tidak berada di sampingku. Terkadang aku merindukan mereka. Bisakah mama mengobati rinduku pada orang tuaku?" Pinta Irene.
Maya tak kuasa menahan air matanya karena terharu. "Iya, nak. Mama janji akan jadi mertua yang lebih baik untukmu."
Tommy yang melihat keduanya menjadi lega karena ibu mertua dan menantu itu tidak lagi bertengkar. "Semoga kalian selalu akrab seperti ini," batin Tommy.
...***...
Devon membicarakan soal usulan istrinya yang ingin menyumbang di tempat kelahirannya. "Bagaimana menurutmu apa kau bersedia patungan denganku?" Tanya Devon pada Tommy.
"Irene juga pernah menyinggung soal itu tapi aku tidak tahu bagaimana menyalurkannya. Aku pernah ke sana sekali tapi aku rasa lintasannya tidaklah mudah apalagi terkena banjir," ungkap Tommy. Ia ingat saat ia menyusul Cindy dan membawanya kembali ke kota.
"Kapan kau ke sana?" Tanya Devon penasaran.
Tommy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia takut berkata jujur pada Devon. Ia tahu laki-laki yang berdiri di depannya itu akan marah. "Saat aku mambawa Cindy kembali ke kota."
Devon memicingkan matanya. "Jadi kau pernah menyusulnya? Segitu besarkah cintamu padanya?" Tuduh Devon.
"Siapa suruh kamu dulu mengabaikannya. Aku hanya berusaha menolongnya. Bayangkan jika tidak ada aku Cindy sudah diusir dari kampungnya secara tidak hormat karena dia mengandung tanpa suami."
Deg
Hati Devon merasa tercubit mendengar pengakuan Tommy. Wajahnya berubah sendu mengingat dirinya yang pernah menyia-nyiakan Cindy. "Ya, kau benar. Dulu aku dibutakan oleh rasa cemburu hingga aku mengabaikannya. Tapi kini aku tidak akan pernah sekalipun menyakiti Cindy. Aku berjanji padamu."
"Ya Dev aku percaya. Aku pun sudah tidak mengharapkan Cindy karena aku sudah memiliki Irene yang kini menjadi pasanganku."
__ADS_1
"Syukurlah. Bagiamana selanjutnya?" Tanya Devon mengenai penyaluran bantuan itu.
"Bagaimana kalau kau perintahkan saja Bayu untuk mengurus semuanya," usul Tommy.
"Ya kau benar."
...***...
Awalnya Devon tak berniat untuk ikut tapi mengingat Tommy saja pernah menginjakkan kaki ke kampung halaman Cindy kenapa dia sebagai suami malah sama sekali tak tahu menahu tentang kampung halaman istrinya.
"Mas, apa kamu yakin akan pergi ke sana? Kamu tidak perlu terjun langsung ke lapangan. Kamu kan bisa perintahkan anak buahmu saja," kata Cindy memberikan saran.
"Aku hanya penasaran bagaimana tempat tinggalmu dulu," jawab Devon dengan santai.
"Baiklah, apa aku perlu ikut?" Cindy meminta pendapat.
"Tidak, kamu ingat pesan dokter, kamu tidak boleh bepergian jauh." Devon mencolek hidung mancung istrinya. Cindy jadi terkekeh.
"Apa perlu kusiapkan pakaian ganti?" Tanya Cindy pada suaminya.
"Aku rasa tidak perlu. Aku hanya sebentar untuk memastikan bantuan tersalur kepada yang benar-benar membutuhkan lalu aku akan pulang setelah itu," jawab Devon.
"Aku khawatir padamu," kata Cindy
"Tunggu!" Semua orang menoleh saat mendengar suara bariton itu.
"Aku ikut kalian," ucap Tommy sedikit terengah-engah karena ia sempat lari untuk mengejar ketertinggalan.
"Bukannya kamu tidak mau ikut sebelumnya?" Tanya Devon.
"Aku lebih mengerti daerah itu meski aku hanya sekali menginjakkan kaki. Lagipula aku ingin memastikan kabar mertuaku di sana baik-baik saja," ucap Tommy beralasan.
Irene sempat merasa tidak tenang hingga Tommy berinisiatif untuk menjenguk mertuanya yang sedang terkena musibah.
Devon dan Bayu saling pandang sambil menahan tawa. "Ya sudah Pak sebaiknya kita berangkat sekarang keburu sore," Bayu memberikan saran.
Mereka pun naik ke dalam satu mobil. Satu mobil lagi berisi bahan makanan dan barang-barang yang akan disumbangkan ke korban banjir.
Jarak yang lumayan jauh dan melelahkan membuat Devon dan Tommy tertidur.
"Pak, kita sudah sampai." Bayu membangunkan atasannya.
__ADS_1
Devon mengerjapkan matanya secara perlahan. Ia menoleh ke samping ternyata Tommy juga tertidur. Lalu ia mengguncang tubuh Tommy agar terbangun.
Tapi Tommy hanya melenguh. Devon pun berteriak di dekat telinganya agar laki-laki itu terbangun.
Tommy menutup telinganya. "Aku tidak tuli ya Dev," kata Tommy sambil mencebik kesal.
Devon dan Bayu terkekeh. "Tidak tuli katamu? Kamu sudah kubangunkan lebih dari sepuluh kali kamu bilang kamu tidak tuli?" Sindir Devon.
Semua orang yang berada di tempat pengungsian terlihat memperihatinkan di mata Devon. Tommy pun berpikiran hal yang sama.
"Bukankah Anda laki-laki yang pernah datang kemari?" Tanya salah seorang warga yang mengenal Tommy. Tommy mengangguk pelan.
"Apa kabar Cindy? Apa dia jadi menikah denganmu?" Devon mengepalkan tangan mendengar pertanyaan orang asing itu.
Tommy melirik ke arah Devon. Tak lama setelahnya mertua Tommy datang menghampiri.
"Nak, kapan kamu sampai?" Tanya ibunya Irene. Tommy langsung meraih tangan wanita itu lalu menciumnya.
"Baru saja," jawab Tommy singkat.
"Mereka ini siapa?"
"Oh, saya lupa memperkenalkan. Ini Devon dan di sampingnya itu asisten pribadinya, Bayu." Bayu mengangguk hormat pada ibu mertua Tommy.
...***...
Di tempat lain Irma merasa capek harus mengurus toko sendirian. Lalu ia mengutarakan keluhannya pada Cindy melalui sambungan telepon.
"Ada apa Irma?" Tanya Cindy..
"Kayaknya kita perlu karyawan tambahan deh," usul Irma.
"Ya sudah buka saja lowongan melalui media sosial pasti responnya cepat," balas Cindy yang menyetujui permintaan Irma.
"Ya, kamu benar. Aku akan coba pasang iklan di media sosial milikku," jawab Irma antusias.
"Ngomong-ngomong apakah Irene tidak akan kembali bekerja dengan kita?" Tanya Irma penasaran.
"Entahlah, selama ibunya Tommy belum sembuh aku rasa dia belum bisa kembali bekerja," jawab Cindy.
"Ngomong-ngomong apa boleh aku main ke rumahmu? Aku kesepian karena suamiku ikut suamimu ke luar kota," kata Irma meminta izin.
__ADS_1
"Tentu saja boleh. Mainlah ke sini tidak usah bawa apa-apa. Di sini sudah ada banyak makanan."
"Baiklah, sepulang kerja nanti aku akan mampir." Setelah itu Irma menutup sambungan teleponnya.