
Bayu membawakan setelan jas untuk bosnya ke apartemen CIndy. Ia menekan bel unit apartemen tersebut.
"Mas, dengar ada bel. Aku bukain pintu dulu ya," kata Cindy yang akan menghindari ciuman dari Devon. Devon mengulas senyumnya. "Dasar pemalu," kata Devon.
"Eh, Pak Bayu silakan masuk!" ajak Cindy.
"Biar saya yang mmeberikan baju untuk mas Devon." Cindy meminta baju yang dibawakan oleh asisten kekasihnya itu.
"Baik," jawab Bayu yang tak menolak.
"Mas, ini bajunya." Cindy meneyembul dari balik pintu.
Devon menarik tangan Cindy agar gadis tak perawan itu masuk ke dlam kamar.
"Mas, pakai dulu bajunya. Bukankah kamu akan berangkat kerja sebentar lagi?"
Devon mengulas senyumnya. "Aku akan ganti baju di kamar mandi kamu tenang saja." Ucapan Devon membuat Cindy merasa lega.
Tak lama kemudian Devon keluar dari kamar mandi. "Bisakah kau pasangkan dasiku?" Tanya Devon meminta bantuan Cindy.
Cindy mendekat lalu memasangkan dasinya. "Kamu cocok sekali jadi istriku," icap Devon sambil berbisik. Cindy membelalakkan matanya. Wajahnya tentu saja memerah karena malu. Devon terang-terangan mengatakan keinginannya memperistri Cindy.
"Sudahlah, jangan menggoda terus. Berangkat sana!" Cindy pura-pura mengusir Devon. Devon jadi terkekeh melihat tingkah menggemaskan kekasihnya. Laki-laki itu mengecup pipi kanan Cindy. Wanita itu jadi tersentak kaget.
Devon pun berangkat bersama Bayu tapi menggunakan mobil masing-masing.
...***...
__ADS_1
Pak hari ini kita ada pertarungan tender, sebentar lagi akan diadakan rapat antar negara yang akan diselenggarakan di negara kita. Para pemilik hotel memperebutkan kesempatan untuk menampung duta besar dari berbagai negara tersebut.
"Lalu bagaimana persiapan di hotel kita?" Tanya Devon pada asisten pribadinya.
"Menurut saya sudah memenuhi kriteria, Pak," jawab Bayu.
"Oh iya, apa kakakku juga akan ikut dalam perebutan tender kali ini?" Tanya Devon yang penasaran.
"Benar sekali, Pak."
"Ah sial, mungkin kita akan kalah dengannya. Aku mau cek hotel yang akan kita ajukan, kalau perlu adakan perbaikan di berbagai aspek, kita tidak boleh melewatkan kesempatan kali ini," kata Devon dengan ambisius.
"Baik, Pak." Bayu mengangguk paham.
Di tempat lain, Tommy beserta kakaknya juga akan menghadiri rapat tender yang dihadiri oleh seluruh pemilik hotel yang ada di kota tersebut.
"Kuta lihat siapa yang akan memenangkan tender besar ini," kata Darren dengan percaya diri.
Lalu penggelar even tersebut mengumumkan bahwa yang berhak untuk menampung para duta besar dari berbagai negara tersebut adalah hotel milik Tommy.
"Sial, kenapa aku bisa kalah dengan anak bau kencur itu," umpat Darren yang kesal karena tidak bisa memenangkan kesempatan besar tersebut.
"Berbesar hatilah, Bang. Kita perlu belajar dari yang lebih muda," ledek Devon.
"Selamat, Tom atas kemenangan kamu." Devon mengulurkan tangannya.
"Terima kasih, Pak." Tommy menerima uluran tangan Devon.
__ADS_1
"Kamu lihat saja setelah ini aku akan mengambil hati Cindy," batin Tommy sambil menatap mata laki-laki yang ada di depannya itu.
Seusai rapat besar itu, Tommy mengajak Cindy makan malam melalui sambungan telepon.
"Maukah kamu makan gratis denganku? Aku yang traktir sepuasmu," ajak Tommy. Tommy bukanlah Devon yang selalu bersikap resmi. Alih-alih mengajak makan malam, Tommy justru bilang ingin mengajaknya makan gratis. Tentu saja Cindy senang jika mendapat traktiran dari temannya. Apalagi mereka bertetangga.
Di sinilah Tommy mengajak Cindy makan malam isitimewa. "Kamu nggak bilang kalau kita akan makan malam di restoran mewah seperti ini?" Tanya Cindy sambil berbisik.
Tommy terkekeh mendengarnya. "Kalau aku bilang akan mengajakmu makan malam berdia pasti kamu akan menolak bukan?" Cindy mengangguk.
"Tapi lihatlah pakaianku tidak sesuai." Cindy hanya memakai sweater warna putih lengan panjang dan celana jins.
"Tidak akan ada yang berani mengomentari kamu," kata Tommy.
"Kok bisa?"
"Karena kamu cantik pakai apa saja nggak jadu masalah. Kamu juga lihat kan aku juga tidak memakai pakaian formal malam ini." Tommy juga memakai celanaa jins. Bedanya ia memakai outer jas semi formal untuk menutup sweater berleher tegak yang ia pakai.
"Kalau dilihat-lihat penampilan kamu kaya oppa Korea ya," puji Cindy. Tommy menjadi tersipu.
Dari kejauhan tampak seseorang memperhatikan mereka. Ia mengepalkan tangan saat melihat Cindy tertawa bersama laki-laki lain.
Seusai makan malam mereka kembali ke unit apartemen masing-masing. "Tetima kasih untuk acara makan malamnya kali ini," ucap Cindy dengan tulus. Tommy mengangguk. "Masuklah."
Bi Mona belum kembali padahal sudah dua hari dia pulang. "Semoga malam ini tidak mati lampu seperti kemaren," gumam Cindy seirang diri.
Ia bergidik ngeri ketika tak ada seorang pun di rumahnya. Ia menyalakan televisi untuk menemaninya sampai tertidur.
__ADS_1