
Sudah dua minggu Ruby tinggal di rumah Devon dan Cindy tapi ibunya belum juga pulang. Ruby merasa risau.
Lalu ia memutuskan menghubungi ibunya. "Mama, kenapa tidak juga pulang," bentak Ruby ketika teleponnya baru saja tersambung dengan sang ibu.
"Maaf sayang sepertinya mama akan lebih lama lagi tinggal di sini, kamu baik-baik saja kan di sana?"
"Baik, sangat baik, dan jika mama tidak pulang ke rumah besok pagi, aku akan tinggal di sini selamanya, hiduplah sendiri tanpa siapa pun di samping mama," ancam Ruby pada Siska. Ruby menutup teleponnya secara sepihak.
Brak
Siska membuang make up yang ada di meja riasnya karena kesal mendengar ancaman Ruby. "Sialan anak itu, sudah berani mengancam ibunya sendiri, baiklah aku akan pulang, kuta lihat bagaimana perkembangannya," gumam Siska.
...***...
Di rumah Devon
"Tante hari ini masak apa?" Tanya Ruby yang antusias. Ia turun setelah mencium wangi masakan di dapur.
"Ayam kecap spesial untuk kamu," jawab Cindy sambil tersenyum.
"Oh ya?" Tanya Ruby, Cindy mengangguk.
"Oh iya tante bisa minta tolong nggak ke kamu, anterin masakan tante ke rumahnya Jaden, nanti tante kasih tahu deh alamatnya," kata Cindy. Ia ingin menguji Ruby apakah dia akan mematuhi perintah Cindy ataukah akan kabur setelah mengantar makanan yang ia berikan.
"Baik, tante," jawab Ruby.
...Tetaplah berbuat baik meskipun orang lain tak menghargai kebaikanmu karena setiap kebaikan yang kamu perbuat, yang kau dapatkan tidak lain adalah kebaikan itu sendiri....
Cindy telah mengunduh hasil dari kebaikan yang ia tanamkan pada Ruby. Meskipun Ruby berkali-kali berkata ketus denganya, Cindy tetap menjawab dengan lembut. Ketabahan hati dan keikhlasan yang dimiliki Cindy kini membuahkan hasil. Hanya dalam waktu kurang dari dua minggu ia bisa membuat Ruby menyayangi dirinya.
Devon merasa senang akhirnya dua minggu telah terlewati. Ia lega karena Ruby akan kembali ke rumahnya. Tapi Devon merasa sedikit kehilangan. "Rumahku akan terasa sepi tanpa anak itu," gumam Devon.
"Apa dia akan pulang pak?" Tanya Bayu.
"Ya seharusnya Siska menepati janjinya untuk menjemput Ruby," jawab Devon.
__ADS_1
"Saya harap dia tidak berbuat licik pak," balas Bayu.
"Apa maksud kamu Bay?" Tanya Devon yang bingung.
"Apa anda tidak curiga ketika Nyonya Siska menitipkan anaknya ke luar negeri, sepertinya dia sengaja pak, bukankah saat itu bapak baru saja menikah bersama non Cindy,"
"Lalu?"
"Dia sengaja menitipkan Ruby agar anda lebih sibuk mengurus anaknya dari pada mengurus istri anda pak, karena dia tahu kalau anda orangnya tidak akan tega jika putrinya berbuat sesuatu yang membahayakan," terang Bayu panjang lebar.
"Benarkah? Aku baru mengerti setelah kau beri tahu," kata Devon sambil terkekeh.
"Kenapa anda tertawa pak?"
"Kalau yang kamu katakan itu benar, berarti usahanya untuk membuat rumah tanggaku berantakan dengan hadirnya Ruby itu sia-sia, karena Cindy telah berhasil menaklukkan Ruby," jawab Devon.
"Oh ya, kapan pernikahanmu akan berlangsung?" Tanya Devon.
"Saya menyerahkan semua urusan pada orang tua saya pak, lagipula mereka hanya menginginkan menantu, bukan ingin membahagiakan saya," ucap Bayu dengan wajah sendu.
"Hei, ada apa? Apakah kau tidak pernah mencintainya?" Tanya Devon. Bayu mengangguk.
...***...
"Buk lagi ngapain?" Irma menyapa tetangganya.
"Ini lihat hape," jawab ibu-ibu bertubuh tambun itu.
Irma mengintip apa yang dilihat ibu itu. "Ih, suka ngepoin suaminya ya?" Tunjuk Irma.
"Habisnya saya penasaran mbak, dia itu ngapain aja di media sosialnya, kalau main hape ngumpet-ngumpet," jawab ibu-ibu itu. Temannya mengangguk mengiyakan omongan ibu itu.
"Nih dengerin ya bu, kalau laki udah sering main hape tapi bukan karena promosi jualan online, bisa jadi suaminya selingkuh tuh," kata Irma sambil menyembunyikan senyumnya.
"Bener juga bu kata mbak Irma, tuh bener kan di ngelike postingan cewek buk," adu temannya.
__ADS_1
"Ya iyalah gue tahu, orang gue sering berhubungan sama pria hidung belang macam suami kalian," batin Irma. Irma meninggalkan ibu-ibu yang sedang sibuk menggerutu itu.
Ia masuk ke dalam kamar kosnya. "Irma, bayar tunggakan kost bulan lalu sama bulan ini," bentak pemilik kos yang tiba-tiba datang dan mengagetkan Irma.
"Kamu gaya-gayaan pakai mobil tapi bayar kost aja ngutang," cibirnya lagi.
Dengan tenang Irma mengambil uang dalam tasnya. Ia memberikan segepok uang untuk ibu itu. "Ambil sisanya, habis ini saya nggak akan tinggal di sini lagi, saya mau cari rumah kontrakan yang lebih luas," jawaban Irma membuat pemilik kos itu membelalakkan matanya.
"Sombong sekali kamu, nyari duit dari hasil jual diri aja bangga," gerutu pemilik kost itu sambil menghitung uang yang diberikan Irma.
"Kembalikan uang saya kalau nggak mau makan uang haram," sindir Irma.
"Enak saja kamu ngomong, uang haram atau halal nggak jadi masalah buat saya asalkan bentuknya uang, hari gini siapa peduli makan uang haram, dosa ditanggung nanti, belum waktunya mati," perkataan ibu itu membuat Irma menggelengkan kepalanya.
"Makin tua nggak makin tobat malah makin sesat, dasar serakah," gerutu Irma dalam hati.
Setelah pemilik kost itu selesai menghitung uangnya, ia melenggang pergi meninggalkan Irma. Irma menutup pintu kamarnya. Ia merebahkan diri di kamar. Tubuhnya terasa capek bahkan hampir remuk karena semalaman melayani pria-pria hidung belang.
"Sampai kapan aku hidup seperti ini," gumam Irma sambil memandang langit-langit kamarnya.
"Irma," suara itu membuat Irma bangun.
"Tuan apa yang ada lakukan di dalam kamar saya?" Tanya Irma yang bingung tiba-tiba laki-laki yang pernah tidur dengannya itu masuk ke dalam kamar kostnya.
"Aku mencarimu," jawab Bayu.
"Apa yang anda inginkan dari saya?" Tanya Irma dengan nada yang dingin.
"Berhentilah dari pekerjaanmu dan menikahlah denganku!" Pinta Bayu.
Irma masih berusaha mencerna omongan Bayu. Mana mungkin seorang eksekutif seperti Bayu memilih pasangan hidup yang hanya bekas banyak lelaki.
"Tapi tuan, saya bukan wanita baik-baik, apa keluarga anda bisa menerima saya?" Tanya Irma yang ragu.
Bayu menggenggam tangan Irma. "Percayalah setiap perjalanan cinta pasti melalui jalan yang berliku, kita bisa menghadapinya bersama-sama," kata Bayu sambil menatap ke dalam mata Irma.
__ADS_1
Irma meneteskan air mata pasalnya tidak pernah ada laki-laki yang melamarnya seperti ini. Menerima statusnya yang sebagai wanita penghibur pasti sangatlah sulit. "Apa benar dia jodohku?"
Irma ingin memeluk tubuh Bayu tapi laki-laki itu tiba-tiba berjalan menjauhinya. "Bayu, Bayu, Bayu," teriak Irma dalam mimpinya. Irma bangun dan mengerjapkan mata. Ia merasakan air mata yang menetes di pipinya yang lembut.