Click Your Heart

Click Your Heart
Part 121


__ADS_3

"Mama," rengek Cello yang berlari ke kamar ibunya.


"Ada apa sayang?" Tanya Cindy.


"Dasi aku di mana Ma?"


"Kalau itu tanya Mbok Nah sayang."


"Nggak mau maunya sama mama. Gendong!" Cello mulai bertingkah. Kedua tangannya terangkat meminta gendong pada ibunya.


"Sini biar papa aja yang gendong," Devon menengahi.


"Nggak mau, sama mama aja," rengek Cello sambil menarik-narik tangan Cindy.


Cindy mencoba menenangkan anaknya. "Cello, jangan rewel ya nak, Cello udah besar mama nggak kuat gendong."


Cello mulai menangis setelah mendapat penolakan dari ibunya. Devon seketika langsung mengangkat tubuh mungil itu. "Ayo kita cari dasi kamu sama-sama," kata Devon.


"Dek, nanti mau berangkat bareng kakak nggak?" Tawar Ruby.


"Mau mau," Cello langsung loncat dari gendongan ayahnya. Cindy senang melihat kedekatan Cello dan Ruby. Ia bersyukur Ruby menjadi anak yang penurut.


Usai sarapan, Ruby menggandeng tangan Cello lalu mereka memasuki mobil bersama-sama.


"Sayang, aku juga berangkat kerja dulu ya. Ingat pesan aku jangan kemana-mana, kamu di rumah saja urusan toko serahkan pada istri Bayu dan istrinya Tommy."


"Tapi, Irene kan sedang cuti, Mas. Aku jadi kasihan sama Irma," kata Cindy.


"Ya sudah kalau tidak ada yang mengawasi sementara tutup aja dulu tokonya," kata Devon dengan tegas.


"Iya, ya," jawab Cindy tidak rela.


...***...


Pagi ini Irene sarapan bersama keluarga Tommy untuk yang pertama kali. Ia sedikit canggung dengan keluarganya terlebih pada sang ibu.


"Setelah menikah kamu rencananya apa?" Tanya Maya pada menantunya.


"Aku masih ingin bekerja, Tante."


"Kok Tante sih sayang, panggil mama dong!" Protes Tommy.

__ADS_1


"Iya, Mama," ucap Irene membetulkan panggilannya.


"Kamu di rumah aja temani mama. Biar aku saja yang bekerja."


"Nggak Mas. Aku masih ingin bekerja dengan Cindy."


"Cindy? Ah ya kemaren aku tidak sempat mengobrol dengannya," sahut Maya. Entah kenapa setiap membicarakan Cindy, Maya selalu antusias. Irene yang menyadari itu langsung kecewa tapi sebisa mungkin ia menyembunyikan rasa kecewanya.


"Ternyata aku belum diterima di keluarga ini," batin Irene menahan perih.


"Sayang, aku berangkat kerja dulu ya."


"Mas, aku ikut. Toko tidak ada yang jaga kalau aku tidak berangkat. Semenjak Cindy sibuk mengurus Cello dia tidak pernah lagi ke toko." Irene berusaha meyakinkan suaminya.


"Iya, sebaiknya kamu bantu Cindy. Lagipula akan sangat membosankan jika tidak ada kegiatan di rumah," Maya menambahkan omongan.


Mau tak mau Tommy mengizinkan Irene untuk bekerja. Tak lupa keduanya berpamitan pada kedua orangtua Tommy.


Semenjak mask ke dalam mobil, Irene sama sekali tidak bersuara. Tommy melirik sekilas ke arah sang istri. "Ada apa?" Tanya Tommy curiga.


"Ah, tidak ada apa-apa Mas," bohong Irene.


"Lho kok naik ojek. Naik taksi saja, aku akan memberimu uang untuk ongkos taksi nanti."


Sesampainya di depan toko Irene berpamitan pada suaminya. "Tunggu, ini untuk kamu." Tommy menyerahkan sebuah ATM pada istrinya.


"Ah, tidak usah Mas. Beri saja aku uang lembaran," tolaknya.


"Ambillah! Tommy menggoyangkan tangannya agar Irene segera mengambil ATM yang ia sodorkan. Dengan terpaksa Irene mengambilnya.


"Pergunakan dengan baik. Aku berangkat kerja dulu." Irene melambaikan tangan saat melihat mobil suaminya yang semakin menjauh.


Irene memasuki toko dengan langkah gontai. Irma menyambutnya. "Lho pengantin baru langsung masuk kerja? Nggak bulan madu dulu?" Tanyanya.


"Suamiku tidak bisa cuti karena ada proyek yang harus diurus," jawab Irene tidak bersemangat.


"Kamu kan bisa tinggal di rumah sama mertua kamu," saran Irma. Irene menatapnya dengan tajam.


"Dia malah lebih suka kalau aku bekerja."


"Apa ibu mertuamu masih tidak suka denganmu?" Irene mengganggu menjawab pertanyaan Irma.

__ADS_1


"Aku sarankan kamu lebih dekat dengannya jangan malah menjauhinya. Cobalah dengan membuatkan makanan yang dia sukai atau kalau kamu tidak bisa memasak, kamu bisa membelinya di luar siapa tahu mertuamu akan lebih menyukai kamu."


Irene tampak berpikir. "Baiklah aku akan mencoba saranmu."


Sesampainya di rumah, Irene membawakan kue yang dijual di toko tempat dia bekerja. "Assalamualaikum Ma. Aku bawakan kue untuk mama," kata Irene seraya menyadarkan sebuah kotak berisi kue.


Maya menerima kotak itu lalu membukanya. "Wah ini kan kue yang pernah dibuat Cindy untuk Mama. Terima kasih ya aku memang sedang ingin makan kue ini. Dulu Tommy sering membelikan kue ini tapi dia tidak pernah bilang kalau ini kue buatan Cindy."


Entah kenapa tiap kali Maya menyebut nama Cindy hati Irene terasa kecewa. Karena dia seolah membandingkan dirinya dengan Cindy.


"Kalau gitu mama teruskan saja makannya, aku naik dulu ya Ma." Maya manggut-manggut sambil menikmati gigitan demi gigitan kue yang rasanya enak itu. Bahkan dia seolah tak mendengarkan omongan Irene. Irene naik ke atas dengan langkah gontai.


Lalu ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. "Apakah sesusah ini menaklukan hati ibu mertuaku? Aku nggak boleh menyerah, awalnya memang begini aku yakin sebagian besar menantu di luar sana juga mengalaminya. Aku harus bisa melewati fase tidak disukai oleh mertua," gumam Irene seorang diri.


Setelah membersihkan diri Irene berjalan ke dapur. "Kamu mau apa?" Suara itu membuatnya kaget. Irene seperti seorang pencuri yang tertangkap basah. Padahal ia berniat memasak untuk makan malam.


"Aku berniat memasak untuk makan malam nanti Ma," jawab Irene.


"Nggak usah, biar bibi yang mengerjakan. Dia lebih tahu selera kami."


Deg


"Sabar, sabar," batin Irene dalam hati. Walau ucapan mertuanya itu sedikit pedas tapi Irene berusaha tak menanggapinya.


"Ya sudah Ma. Apa ada yang bisa ku kerjakan Ma?" Tanya Irene yang masih berusaha mengambil hati mertuanya.


"Oh, kebetulan bibi kan lagi masak. Kamu tolong siram bunga di depan ya!" Pinta Maya. Irene pun menurut.


Ia mengambil selang air dan menyiram bunga di halaman rumah orangtua suaminya itu.


"Lho lho sukulen aku kok disiram juga bagaimana sih kamu ini," omel Maya mendapati kaktus berukuran mini tersebut terkena air.


"Maaf, Ma. Memangnya tidak boleh disiram ya?" Tanya Irene yang tidak tahu.


"Ini nyiramnya tiga hari sekali saja itu pun tidak sampai sebanyak ini hanya perlu disemprotkan air sedikit saja. Ini sukulen belinya di Jepang mana mahal lagi." Maya tak berhenti mengomel.


"Salah lagi salah lagi, kapan sih benernya?" Geram Irene menahan kesal.


"Sana masuk saja. Kerjamu nggak bener malah merugikan mama saja." Telinga Irene benar-benar panas mendengar ocehan Maya. Tapi dia memang salah. Irene hanya menurut omongannya tanpa membantah sedikitpun.


"Ada apa ini?" Suara bariton itu membuat Maya dan Irene menoleh.

__ADS_1


__ADS_2