Click Your Heart

Click Your Heart
Part 89


__ADS_3

Usai lama mengobrol Cindy pamit pada Irma. "Aku pulang ya, Cello salim dulu sama tante," kata Cindy pada putranya.


"Ello pulang ya ante." Cello meraih tangan Irma lalu menciumnya.


"Anak kamu menggemaskan. Aku boleh cium tidak?" Irma kini berjongkok.


"Dikit ya," kata Cello.


Cup


Irma mencium pipi Cello sekilas. Matanya berkaca-kaca. Cindy tahu kalau dia sedang mengingat anaknya. "Kami pulang," pamit Cindy sekali lagi. Lalu ia mendorong stroller anaknya. Cindy memang selalu membawa stroller kemana-mana agar ia tak perlu menggendong Cello yang malas berjalan sendiri.


Ketika sedang berjalan keluar, Cindy tak sengaja menabrak seseorang. "Maaf," kata Cindy.


"Tidak apa," jawab laki-laki bertubuh tinggi itu.


"Jadi dia istri Devon, cantik," gumam laki-laki itu dalam hati sambil tersenyum sinis pada Cindy diam-diam.


Cindy pun berlalu ke parkiran mobil. "Kita pulang sekarang ya pak," kata Cindy pada sopir yang memgantarnya.


...***...


"Pak, harga saham di perusahaan kita semakin merosot," lapor Bayu.


"Apa? Tidak mungkin," sangkal Devon.


"Ini dikarenakan resort dan hotel kita sedang sepi pak."


"Apa kamu sudah lakukan promosi?" Tanya Devon.


"Sejauh ini kita sudah lakukan yang terbaik pak."


"Lalu apa yang membuat semua hotel kita sepi pengunjung?" Tanya Devon frustasi.


Devon menghela nafas. "Kalau seperti ini terus aku akan bangkrut. Bagaimana aku membiayai kehidupan anak dan istriku."


Lalu Devon putuskan untuk mendatangi Darren. "Bang, aku butuh pinjaman modal?"


"Berapa yang kau inginkan?" Tanya Darren.


"Lima milyar."


Brusss

__ADS_1


Darren menyemburkan minuman dari mulutnya. "Apa kau gila? Kau ingin merampokku atau bagaimana?" Sungut Darren.


"Aku tidak bisa meminjamkan uang sebanyak itu," tolak Darren.


"Ayolah Bang. Keadaan resort dan hotelku diambang kehancuran. Aku tidak bisa menemukan investor terbaik selain dirimu," kata Devon setengah memohon.


Darren memejamkan matanya. "Berapa lama kau bisa mengembalikan pinjaman yang kuberikan padamu?" Tanya Darren.


"Ayolah Bang. Kita ini kan saudara. Apa kau tidak bisa membantuku, hm?" Bujuk Devon.


"Tapi ini soal bisnis, aku butuh kepastian," kata Darren dengan tegas. "Jika tidak ada kepastian maka aku tidak bisa menginvestasikan dana ke perusahaanmu," kata Darren dengan sinis.


Merasa mendapat penolakan dari kakaknya Devon memilih pergi. Devon meninju udara karena kesal. Dia tidak bisa memberi kepastian pada abangnya kapan mengembalikan uang pinjamannya. Devon sangat kesal karena Darren menolak membantunya.


Ia mengendarai mobil untuk kembali ke kantornya. Devon berjalan dengan langkah cepat. Bayu yang mengetahui atasannya datang langsung membukakan pintu ruangannya.


"Lama-lama hartaku bisa habis untuk menutup hutangku," geram Devon karena kesal.


"Bayu menurutmu apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan perusahaanku ini?" Devon meminta pendapat asisten pribadinya.


"Saya belum tahu Pak."


"Bagaimana kalau iklan di televisi?" Tanya Devon.


"Keuangan kita sedang sulit pak. Kemungkinan kita akan kesulitan membayar jasa iklan apalagi di televisi," terang Bayu.


...***...


"Kau sudah buat perusahaannya hancur?" Tanya laki-laki yang sedang duduk membelakangi orang yang diajak bicara.


"Sejauh ini resort dan hotelnya kami buat sepi pengunjung Pak. Jadi harga saham perusahaan mereka merosot tajam," terang orang suruhannya.


Laki-laki itu berbalik. Lalu ia berdiri mendekat ke arah anak buahnya. "Kerja bagus," kata Arya. Lalu ia mengibaskan tangannya agar anak buahnya itu keluar dari ruangannya.


Laki-laki bertubuh kekar itu memang memiliki dendam pada Devon. "Gara-gara dia aku batal menikah dengan janda kaya sekelas Siska," gumam Arya sambil mengepalkan tangan.


Ia berjalan ke dekat jendela sambil menatap gedung-gedung pencakar langit yang bisa dia lihat dari balik jendela. "Perlahan aku akan buat kamu kehilangan perusahaanmu agar istrimu juga meninggalkanmu," kata Arya dengan tersenyum sinis.


...***...


Devon pulang larut malam karena dia harus mengerjakan pembukuan penting hingga lembur.


"Mas, kenapa baru pulang?" Tanya Cindy yang bangun ketika ia sempat ketiduran di sofa ruang tamu ketika menunggu suaminya pulang.

__ADS_1


"Hm," jawab Devon sekenanya.


"Ada masalah?" Tanya Cindy. Ia meraih jas yang usai dilepas oleh suaminya.


"Ah tidak ada, kenapa kamu menungguku sampai selarut ini hm?" Devon mengelus pipi Cindy dengan lembut.


"Apalagi? kamu fikir aku menunggu abang siomay jam segini?" Jawab Cindy dengan ketus tapi membuat Devon tertawa.


"Sayang apa kau sedang ngidam? Mana ada abang siomay jam segini."


"Makanya, aku bukan menunggu abang siomay tapi abang ganteng," goda Cindy.


"Apa Cello sudah tidur?" Tanya Devon sambil menyeringai licik.


"Sudah. Ah sebaiknya aku menyiapkan air panas untukmu," kata Cindy. Namun tangannya ditarik oleh Devon hingga Cindy membentur dada bidang suaminya.


"Aku akan mandi setelah puas bercinta denganmu," bisik Devon di telinga Cindy.


Cindy mendorong tubuh suaminya. "Tidak badanmu bau," kata Cindy sambil menutup hidungnya.


Devon tiba-tiba mengangkat tubuh sang istri. Cindy hampir saja berteriak karena kaget. "Mau apa?" Tanya Cindy.


"Mau mandi denganmu," kata Devon sambil tertawa.


"Mas lepaskan, aku sudah mandi." Meskipun protes dan memberontak tapi Devon tetap membawa istrinya ke kamar mandi.


Apa yang terjadi di dalam kamar mandi othor nggak mau ngintip ya, takut bintitan 🤣


Usai mandi bersama mereka memilih tidur karena jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.


"Kalau saja Cello sudah sekolah aku pasti akan kesiangan menyiapkan sarapan untuknya," gerutu Cindy di depan cermin sambil mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.


Cindy menoleh ke arah suaminya. "Yah dia molor duluan," kata Cindy sambil memcebik kesal.


Lalu ia pun mulai berbaring di samping suaminya. Ia melihat wajah damai sang suami. "Aku selalu ingin bersama denganmu Mas. Jangan pernah katakan pisah! Karena sampai kapanpun cintaku padamu tidak akan pernah berubah," batin Cindy.


Lalu ia memeluk suaminya. Devon membalas pelukan Cindy lalu mengecup keningnya sekilas. Cindy sangat menyukai aroma tubuh suaminya. Ia bahkan rela tidur di bawah ketiak suaminya itu.


Dari luar rumah Devon sesorang sedang mengawasi dari dalam mobil mewahnya. "Bersenang-senanglah dengan istrimu sampai puas, karena kau tak akan pernah merasakan kesenangan itu setelah ini," kata Arya lirih sambil menatap ke arah jendela kamar Devon di lantai dua rumahnya yang masoh menyala.


"Jalan!" Ucapnya pada sang sopir.


"Ingat Devon kau harus membalas semua kerugian yang telah kau sebabkan padaku. Aku akan membuatmu lebih hancur daripada diriku yang dulu," gumam Arya dalam hati.

__ADS_1


Meski tidak benar-benar mencintai Siska tapi dia merasa kehilangan investor besar. Siska tiba-tiba membatalkan pernikahannya setelah Ruby meminta Siska untuk kembali pada Devon.


Arya berpikir jika saja tidak ada Devon maka rencananya untuk menikahi janda kaya raya itu akan mulus. Arya merasa rugi karena tidak bisa menguasai harta Siska.


__ADS_2