
Tania dan Alan benar-benar tidak menyangka kalau keduanya akan mendapatkan sial hari ini.
Keduanya diancam harus menikah saat itu juga jika ingin bebas dari hukuman. "Ini tidak adil Bu kalian tidak mendengar penjelasan saya," Tania menangis karena dia harus mendapatkan hukuman yang tidak semestinya.
"Mbak Tania, kami itu tahu kalau mbak janda siapa tahu mbak ini memang lagi menargetkan mas Alan, soalnya dia ini kan perjaka," ucap seorang ibu-ibu.
"Saya tidak seperti yang kalian tuduhkan. Tolong percayalah kepada saya."
Ibunya terkejut ketika baru sampai di kantor balai desa. "Kenapa bisa sampai begini, nak?" Tanya ibunya sambil menangis memeluk Tania.
Dia memang menginginkan Tania menikah tapi bukan cara terpaksa seperti ini. Apalagi orang-orang itu menuduh Tania berbuat yang bukan bukan dengan Alan. Jadi otomatis nama besar keluarga mereka jadi tercoreng.
Alan justru tidak keberatan dengan pernikahan ini. Karena pada dasarnya dia memang menyukai Tania. Bisa dibilang Alan mendapatkan keuntungan dari kejadian hari ini. Tapi tidak dengan Tania. Dia tidak begitu senang meskipun menyukai Alan. Dia hanya takut ketika menikah nanti hidupnya akan terkekang. Tania masih ingin menikmati kesendiriannya.
"Mbak Tania silakan panggil wali anda sebaiknya kita nikahkan saja di sini," perintah salah seorang warga.
"Nggak Bu. Aku memang ingin menikah tapi bukan begini caranya." Tania menangis tersedu-sedu.
Alan mulai bicara. "Bapak-bapak, ibu-ibu tolong minta waktunya sebentar. Beri saya waktu untuk menjelaskan."
"Penjelasan apa lagi Mas. Kami lihat dengan mata kepala sendiri kalau kalian berduaan di rumah itu."
"Iya betul." Suara riuh itu memenuhi seluruh ruangan.
"Diam," Tania berteriak saking kesalnya. Semua orang terdiam.
"Kalian egois. Kalian mau mengadili tapi tidak mau memberi kami kesempatan menjelaskan. Kalian tahu apa yang terjadi sebenarnya?"
"Halah, jangan mengelak lagi, orang sudah ketangkap basah mesum gitu," cibir salah seorang ibu-ibu.
"Memangnya anda melihat saya mencium mas Alan atau sebaliknya?" Tanya Tania. Ibu-ibu itu terdiam dan menunduk.
"Dengarkan! Waktu itu saya memang mampir ke rumah mas Alan karena saya melihat dia sedih ketika salah seorang pembeli bersikap tidak sopan padanya. Saya hanya tidak tega orang lain mengatai dia. Anda kalau dihina di depan umum seperti ini apa anda senang? Pasti sedih kan? Begitu juga dengan mas Alan. Lalu yang kalian lihat itu adalah ketika saya menolongnya membereskan piringnya yang pecah karena tak sengaja tersenggol olehnya. Namun, tangan saya terluka." Tania menunjukkan jarinya yang berdarah.
Semua orang beroh-oh ria. "Jadi tolong percaya pada kami, kami tidak melakukan apa pun yang menurut norma tidak baik," imbuh Tania. Dia berharap semua orang percaya pada omongannya.
"Maafkan kami mbak Tania, kami sudah menuduh mbak dan mas Alan telah berbuat yang tidak-tidak," ucapnya mewakili teman-temannya.
Tania menarik ujung bibirnya. "Apa anda sudah puas lalu meminta maaf begitu saja?" Sindir Tania.
__ADS_1
"Sudah nak. Jangan mendendam." Ibunya mencoba menenangkan Tania.
"Ibu tahu kenapa aku pindah rumah? Mereka selalu membicarakan aku di belakang Bu," adunya pada sang ibu.
"Ibu tahu nak. Ibu tahu," ibunya Tania membawa putrinya dalam pelukan.
"Tak perlu membalas kejahatan orang lain dengan tanganmu sendiri. Percayalah mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal setelah menghina kamu seperti ini," imbuh sang ibu menasehati putrinya.
Alan mendekat pada Tania. "Apa yang dikatakan oleh ibumu itu benar mbak. Mari kita pulang saja!" Ajak Alan seraya menarik tangan Tania. Anehnya Tania menurut begitu saja.
Alan mengantarkan Tania dan ibunya sampai ke mobil. "Maaf untuk kejadian hari ini," kata Alan. Tania mengangguk. Lalu wanita itu mengajak ibunya masuk ke dalam mobil.
"Kami pulang dulu nak," pamit ibunya Tania. Alan tersenyum mengantarkan kepergiannya.
Tania merasa lega karena tidak jadi mendadak nikah dengan Alan. Untuk sementara waktu, Tania berniat menjaga jarak dengan Alan agar dirinya dan Alan bisa saling mengontrol diri.
*
*
*
"Aku tidak tahu. Kamu jarang bertemu setelah kejadian yang menimpa kamu waktu itu."
"Kejadian apa? Coba ceritakan padaku!" Kata Cindy.
"Hanya salah paham. Orang-orang mengira aku bermain gila dengan tania di rumahku. Mungkin itu yang membuat Tania menghindar dariku."
"Apa? Tapi kamu tidak melakukan hal yang mereka tuduhkan padamu kan Lan?" Tanya Cindy
"Tentu saja tidak."
"Iya, aku tahu kamu tidak akan berbuat sesuatu yang bisa menghilangkan harga diri pasanganmu."
"Aku bukan sebaik orang yang kamu pikirkan," sanggahnya.
Cindy melihat Alan tidak bersemangat kerja. Lalu Cindy mendatangi rumah Irene.
"Lan aku keluar ya," pamit Cindy.
__ADS_1
Cindy menaiki taksi lalu menuju ke rumah Irene. Sejak mengadopsi Kevin, Irene menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Tommy melarangnya bekerja supaya dia bisa fokus mengurus anak dan suaminya. Selain itu, ibu mertuanya yang kadang sakit-sakitan membuat Irene harus ektra dalam menjaga anggota keluarganya.
Kini Cindy tiba di rumah Irene. "Tumben main ke sini," kata Irene.
"Ada yang mau aku omongin sama kamu."
"Apa itu?" Tanya Irene penasaran.
"Kamu tahu kan Tania?"
"Tania sekretarisnya mas Tommy?" Tanya Irene balik. Cindy mengangguk. "Ada apa dengan dia?" Tanya Irene selanjutnya.
"Alan menyukai Tania," jawab Cindy.
"Mereka kenal di mana? Apa saat bertemu di acara ulang tahun pernikahan mertuaku?" Tanya Irene.
"Bukan, Alan membeli sebuah rumah yang dulunya milik Tania," jawab Cindy. Alan dan Cindy sudah bersahabat sejak lama. Jadi setiap kali Cindy datang ke toko, Alan selalu bercerita padanya.
"Oh ya?"
"Malah bagus dong, berarti dia sudah move on dari kamu." Tunjuk Cindy
"Itu kan sudah lama sekali kejadiannya. Jangan sampai kedengaran mas Tommy kalau bicara soal pria lain, bisa dihajar aku." Irene memberi peringatan.
"Iya iya. Tapi bagaimana kalau kita jodohkan mereka. Lagipula statusnya sama-sama single," usul Cindy.
"Tapi Tania itu janda apa Alan sudah tahu?" Irene agak ragu
"Sudah, katanya banyak tetangga di sekita tempat tinggal Alan membicarakan Tania. Sampai-sampai mereka ngelabrak Alan dan Tania."
Irene kaget mendengar omongan Cindy. "Hah gimana ceritanya?"
"Jadi kemaren pas mereka libur, Tania mampir ke rumah Alan. Saat dia membantu membereskan pecahan piring, orang-orang malah menuduh mereka sedang mesum.
"Ya ampun, kasian banget mereka. Terus apa yang terjadi selanjutnya?" Tanya Irene penasaran dengan cerita Cindy.
"Setelah Tania berhasil meyakinkan mereka, Tania dan Alan akhirnya dilepaskan."
"Alhamdulillah, kirain mau dikawinin," gurau Irene.
__ADS_1
"Emang iya, mereka sampai diarak keliling kampung jika tidak mengaku."