
Irene tengah berada di atas rooftop rumah sakit tempat dirinya di rawat. Ia berdiri di atas pagar pembatas gedung. Orang-orang di bawah yang melihat Irene riuh membicarakannya.
Saat itu Tommy baru saja memarkirkan mobilnya di area parkir. Lalu ia mengikuti pandangan orang-orang yang melihat ke atas. Tommy sangat syok ketika melihat Irene berada di atas gedung.
"Apa yang dia lakukan di sana?" Geram Tommy lalu ia berlari sekencang-kencangnya untuk menyusul sang istri.
"Ibu, bapak, selamat tinggal. Tidak ada gunanya aku hidup di dunia ini karena suamiku saja tak peduli dengan nasib buruk yang menimpaku." Irene bermonolog sebelum ia terjun.
Namun, tangannya tiba-tiba ditarik oleh seseorang. "Lepaskan, lepaskan!" Irene memukul-mukul orang yang menyelamatkan dirinya.
"Irene, sadar Ren ini aku Alan," ucapan itu menghentikan Irene. Irene mendongak lalu ia memeluk Alan dengan erat. Alan memejamkan matanya menikmati pelukan wanita yang dicintainya.
Brak
Tommy membuka pintu rooftop lalu tak sengaja melihat Irene sedang berpelukan dengan Alan.
Plok plok plok
"Jadi kamu hanya ingin menarik perhatiannya?" Tuduh Tommy seenaknya.
Irene menatap nanar ke arah suaminya. Dia tak habis pikir dengan suaminya yang baru datang lalu menuduh Irene ada main dengan Alan.
"Kamu jangan salah paham! Aku hanya ingin menyelamatkan Irene." Alan membela diri.
Tommy berjalan cepat ke arah Alan lalu memberikan satu pukulan untuknya. Alan jatuh tersungkur ke tanah. Ia mengusap ujung bibirnya yang berdarah. Irene hendak membangun Alan bangun tapi tangannya dicekal oleh Tommy.
"Mas, lepasin. Kamu apa-apaan sih?" Sentak Irene.
"Kamu yang apa-apaan. Ngapain tadi melakukan hal bodoh seperti itu. Apa kamu tidak sayang sama nyawamu?" Teriak Tommy tak mau kalah.
Angin berhembus sangat kuat hingga membuat rambut Irene tak beraturan. "Aku memang sudah tidak sayang nyawaku. Apa gunanya aku hidup kalau kamu saja tidak peduli denganku."
Deg
Tommy seolah tertampar mendengar ucapan Irene. "Apa maksud kamu?" Tanyanya lirih pada Irene.
__ADS_1
"Ceraikan aku!"
Plak
Tommy refleks menampar istrinya. Alan hanya bisa mengepalkan tangan. Ia tak berhak ikut campur dalam urusan keluarga mereka. Ia bangun dan mencoba cuek terhadap Irene.
"Kenapa mas kamu tidak mau menceraikan aku yang tidak bisa memberikan anak untukmu?" Irene terduduk sambil menangis.
Alan menghentikan langkahnya ketika mendengar pengakuan Irene.
"Menikahlah dengan wanita lain. Jangan mempertahankan aku yang tak akan bisa memberimu anak." Irene berucap dengan nada frustasi. Mendengar itu hati Alan terasa hancur.
"Kita bicarakan itu nanti," Tommy tak bisa memberikan keputusan. Ia harus membicarakannya dengan sang ibu lebih dulu mengingat Maya belum diberi tahu.
Alan berjalan lalu memberikan satu pukulan ke wajah Tommy. Kini gantian Tommy yang terjatuh. "Sial, kau ingin berkelahi denganku?" Tantang Tommy.
"Aku tidak takut menghajar laki-laki tak bertanggung jawab sepertimu," ucap Alan dengan emosi yang menggebu. "Bisa-bisanya kau tak peduli pada istrimu sendiri. "Dasar suami tidak berguna!" Umpat Alan terus terang.
Tommy yang tidak terima kembali memberikan bogem mentah ya ke wajah Alan. "Tau apa kau? Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku! Urus saja dirimu sendiri."
Bug
Alan mengehentikan pukulannya. Hampir saja wajah cantik Irene menjadi sasaran kemarahan Alan. Tommy terkejut karena melihat istrinya rela berkorban untuk dirinya.
Alan kecewa melihat Irene membela sang suami. Lalu ia memilih pergi.
Tak lama kemudian Irene pingsan karena kelelahan. Tommy menangkap tubuh Irene dan menggendongnya ke ruangannya. "Tolong sus!" Pintanya pada salah seorang perawat yang ia lewati.
Sedangkan di ruangan lain, Alan tampak kesal dan terduduk sambil menyembunyikan wajahnya di antara lutut. "Lan, lo baik-baik saja?" Tanya salah seorang teman kerjanya.
Ia mendongak. "Wajah lo kenapa biru-biru gitu Lan?" Tanya temannya itu sambil memindai ke seluruh wajah.
"Ah ini hanya masalah kecil," elaknya. Padahal Wajahnya hampir tak berbentuk karena benjolan di sana sini.
"Gue ambilin obat dulu ya," kata teman Alan lalu ia beranjak keluar.
__ADS_1
"Ren, kenapa nasibmu sangat tidak beruntung. Jika laki-laki itu tidak mau menerimamu apa adanya aku siap menerimamu Ren. Meskipun kita tidak bisa memiliki anak."
Tak lama kemudian teman Alan membawa obat-obatan untuk mengobati lukanya. "Bagaimana bisa babak belur seperti ini?"
"Aku berkelahi dengan suami wanita yang kucintai," akunya. Teman Alan jadi terkejut mendengarnya.
"Apa? Kenapa kalian bisa berkelahi?"
"Dia menyia-nyiakan istrinya sampai memiliki keinginan bunuh diri."
"Jadi, kamu kenal dengan wanita yang ingin bunuh diri itu?" Tanya teman kerja Alan. Alan mengangguk pelan.
"Dulu kami bersahabat. Aku menyukainya tapi dia menikah dengan orang lain." Alan mengingat hal menyakitkan dalam hidupnya ketika wanita yang ia cintai lebih memilih Tommy.
"Sabar bro. Kenapa kamu nggak lupain aja sih dia lalu cari yang lain?"
"Gue udah coba melupakan dia tapi saat aku berusaha menghindar takdir selalu mempertemukan kami. Tadi aku ditugaskan oleh Pak Ilham membersihkan lantai paling atas. Aku tidak tahu Irene akan melakukan percobaan bunuh diri."
"Wah itu berarti kalian masih terikat benang merah. Siapa tahu dia memang jodohmu." Alan memikirkan omongan temannya itu.
Sepulang kerja Alan menyempatkan diri untuk mengunjungi Irene tapi ia urungkan agar ia tak berkelahi lagi dengan Tommy. "Aku tidak ingin merebut istri orang lain." Gumam Alan ketika melihat Irene dari kaca jendela yang terbuka. Lalu ia memilih pergi dari tempat itu.
Keesokan harinya Tommy membawa Irene pulang ke rumahnya. "Assalamualaikum," teriak Tommy mengucapkan salam pada orang rumahnya.
"Kalian sudah balik? Mama kangen dengan kamu nak? Bagaimana keadaan orang tuamu apa ayahmu sudah baikan?" Tanya Maya. Saat itu Tommy berbohong padanya dengan mengatakan kalau ayahnya mendadak sakit keras.
Irene menoleh ke arah Tommy untuk meminta penjelasan dalam diam karena ia tak mengerti apa yang ditanyakan oleh ibu mertuanya.
"Ayah mertuaku sudah baikan, Ma," sahut Tommy berbohong. "Ya sudah, Ma. Kami ke atas dulu. Irene terlihat lelah karena perjalanan jauh yang kami tempuh."
"Ya, kamu benar. Wajahmu tampak sedikit pucat," ucap Maya ketika memperhatikan menantunya.
Setelah itu Tommy merangkul bahu sang istri dan mengajaknya naik ke atas. Sesampainya di dalam kamar Irene meminta penjelasan pada suaminya. "Apa kamu berbohong pada mama?"
"Aku tepaksa karena aku tidak mau kesehatan mama terganggu," jawab Tommy. Ia sedang mengambil baju ganti di lemarinya.
__ADS_1
"Sampai kapan kamu menyembunyikan kenyataan kalau aku tidak bisa memberikan anak untukmu, Mas?" Tanya Irene dengan nada bergetar.
Apa yang akan dijawab oleh Tommy?