Click Your Heart

Click Your Heart
Part 118


__ADS_3

Usai pulang kerja, Tommy ingin menemui Irene. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tommy berpapasan dengan kekasihnya itu saat dia mengendarai motor. Tapi Tommy heran karena ini bukan jalan yang biasa dilewati Irene. Karena curiga Tommy pun mengikuti kekasihnya.


Tommy tidak menyangka Irene bertemu dengan Alan. Entah kenapa Tommy tidak menyukai Alan. Pandangan mata Alan ke Irene sedikit berbeda saat diperhatikan. Tommy seperti merasa kalau Alan memiliki perasaan pada kekasihnya itu.


Tommy masih mengamati dari kejauhan tanpa disadari oleh Irene. "Sial, apa yang mereka lakukan?" Tommy geram ketika melihat Alan menggenggam tangan Irene dengan erat. Ia makin marah saat Irene sengaja memeluk Alan.


Akhirnya Tommy keluar dari mobil. Ia membanting pintu mobilnya dengan kasar. "Irene," teriak Tommy memanggil nama kekasihnya. Dada Tommy bergemuruh ketika melihat keduanya saling tersenyum.


Alan dan Irene seperti tertangkap basah padahal mereka tak melakukan apapun. Namun, dilihat dari ekspresi Tommy, Irene bisa menebak kalau calon suaminya itu sedang dalam mode marah.


"Mas Tommy, sejak kapan kamu datang?" Tanya Irene sedikit gugup.


"Aku sudah memperhatikan dari tadi sejak Alan menggenggam tanganmu," jawab Tommy dengan nada tinggi. Irene memejamkan mata sejenak.


"Mas, sebaiknya kita bicara baik-baik." Irene mencoba membujuk Tommy. Namun, sepertinya Tommy tidak mengindahkan omongannya.


"Terserah kalian," Tommy mengibaskan tangannya seolah tidak peduli. Irene mengejarnya tapi Tommy menutup kaca mobil lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Irene terduduk lemas. Alan menghampiri gadis itu. "Maafkan aku karena membuat hubunganmu dengan calon suamimu menjadi buruk," ucapnya tak enak.


"Biar besok aku yang jelaskan Tommy soal kejadian tadi," tutur Alan selanjutnya.


"Tidak, jangan lakukan apapun. Biar aku saja yang menyelesaikan masalahku sendiri," tolak Irene.


Irene pun memakai helmnya lalu menyalakan mesin motor. Ia mengendarai sepeda motor sambil melamun. Bahkan ia tak melihat saat ada orang yang tiba-tiba menyebrang jalan di depannya. Untuk menghindari tabrakan Irene memilih membanting setir ke samping.


Brak


Suara motor jatuh itu membuat semua orang yan mendengar menuju ke sumber suara. Mereka berkerumun di sekitar Irene.


"Untung saja saya nggak ketabrak. Lain kali kalau naik motor hati-hati mbak, jangan sambil melamun," cibir ibu-ibu yang sedang menyeberang tadi.


Irene tak menanggapinya. Ia sibuk menegakkan motornya meski tangan dan kakinya lecet. Beruntung helm yang ia pakai tidak terlepas jadi kepalanya aman dari benturan.


"Mbak, apa perlu saya antar ke rumah sakit?" Tawar salah seorang warga yang menolongnya.


"Tidak perlu pak. Saya masih kuat, hanya lecet sedikit tidak masalah Pak. Semoga saya bisa sampai ke rumah dengan selamat. Terima kasih banyak," Irene menganggukkan kepalanya lalu menaiki motornya kembali.


Tak butuh waktu lama, ia sampai di tempat kosnya. "Ren, lo kenapa jalannya pincang kek gitu?" Tanya salah seorang teman kos Irene.


"Gue habis jatuh tadi." Irene melepas helmnya.

__ADS_1


"Jidat lo juga bengkak tuh kayaknya." Teman Irene sengaja menyentuh kening Irene untuk melihat seberapa parah lukanya.


"Aw, sakit. Gue masuk dulu ya mau obatin luka gue," kata Irene.


"Mau gue bantu?" Tanya temannya.


"Nggak usah, gue bisa sendiri kok," tolak Irene.


Hari ini dia sungguh tidak beruntung, Tommy marah-marah dengannya ditambah jatuh dari motor semakin menambah kesedihannya.


"Entah kenapa luka ini perihnya berkali-kali lipat rasanya," ucapnya seraya mengoleskan obat pada tangan dan lututnya yang terluka.


Sementara itu, Tommy pulang ke apartemennya. Ia membuka jas yang ia pakai lalu membuangnya secara sembarangan. Laki-laki itu tidak habis pikir dengan calon istrinya. Padahal seminggu lagi mereka akan melangsungkan pernikahan tapi mereka tega sekali berselingkuh.


"Aku kecewa Ren sama kamu, aku sungguh kecewa," gumam Tommy sambil terisak.


Keesokan harinya Irene merasakan badannya sakit setelah semalam jatuh dari motor. "Kenapa badanku jadi kaku begini?"


Ia pun berpikir untuk izin tidak masuk kerja pada Cindy. Irene mencari ponselnya tapi ia tak menemukan ponselnya dimanapun.


"Apa jangan-jangan jatuh ya semalam?" Tebak Irene.


"Hah sudahlah, sebaiknya aku beristirahat hari ini." Irene kembali merebahkan diri di atas ranjang.


"Ren, ini gue Mala." Mala adalah teman kos yang semalam bertemu saat Irene baru sampai ke tempat tinggal mereka.


"Masuk, pintunya nggak aku kunci kok," kata Irene.


"Lo baik-baik saja kan?" Tanya Mala.


"Badan gue sakit semua Mal. Gue bisa minta tolong nggak?" Tanya Irene.


"Apa Ren? Kebetulan hari ini gue shift siang." Mala bersedia dimintai tolong oleh Irene.


"Beliin gue obat dong di apotek. Badan gue lagi nggak enak," perintah Irene pada Mala.


"Iya, sini uangnya. Gue beliin obat biar sakit lo mendingan. Atau gue antar saja ke dokter?"


"Nggak usah, gue beneran nggak kuat jalan."


"Ya udah lo tunggu sini aja gue sekalian beliin makanan buat Lo." Irene mengangguk lemah.

__ADS_1


Mala pun berjalan ke apotek depan yang tak jauh dari tempat kos mereka.


...***...


Di kantor Tommy tidak bisa fokus karena ia terus memikirkan kejadian kemaren. "Arrgh..." Tommy melempar semua barang yang ada di mejanya.


Tania mendekat. "Pak, apa yang anda lakukan?" tanya Tania panik.


"Tinggalkan aku sendiri Tan. Aku sedang marah. Minggir agar kau tidak menjadi sasaranku." Tania pun keluar dengan terburu-buru.


Saat Tania baru keluar dari ruangan Tommy, Devon dan Bayu berdiri tepat di depannya. Tania jadi terkejut.


"Kamu kenapa Tan?" Tanya Devon.


"Pak Tommy sedang marah-marah pak di dalam," ungkapnya.


Devon mengerutkan keningnya. Lalu ia menerobos masuk ke ruangan Tommy. "Hei hei kenapa ruangan ini berantakan seperti ini hmm?" Tanya Devon.


Tommy menatap tak senang pada Devon. "Bukankah hari ini kita tidak ada jadwal meeting bersama?"


"Tapi kau berhutang penjelasan padaku. Kenapa kau tidak mengundangku secara resmi padahal pernikahanmu kurang dari seminggu," Tanya Devon.


"Lupakan aku berencana membatalkan pernikahanku," jawab Tommy dengan ketus.


Devon melotot tak percaya. "Kamu jangan main-main, pernikahan itu bukan sesuatu yang dengan mudah kamu batalkan bro." Devon menasehati.


"Apalagi kalau calon mempelai wanita sudah berselingkuh, apa harus dipertahankan? Aku beruntung sudah mengetahui perselingkuhan mereka."


"Mereka siapa?" Tanya Devon lebih lanjut.


"Irene dan Alan." Devon terkekeh mendengar jawaban Tommy.


"Mereka itu bersahabat bisa-bisanya kamu cemburu."


"Apa sahabat itu pegangan tangan dengan mesra? Apa sahabat itu berpelukan tanpa canggung?" Amarah Tommy masih menggebu-gebu.


Devon menepuk bahu Tommy. "Sebaiknya kamu selidiki dulu kebenarannya sebelum menuduh dia yang bukan-bukan." Setelah mengucapkan kata itu, Devon keluar bersama Bayu.


Tommy berpikir sejenak. "Apa aku terlalu emosi? Kemaren dia tidak kuberi kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku terlalu cemburu?" Tommy sibuk bermonolog.


Setelah itu, Tommy mencoba menghubungi ponsel Irene tapi beberapa kali ditelepon tak juga mendapatkan balasan.

__ADS_1


"Sebaiknya aku temui dia saja."


__ADS_2