
Cello menoleh ketika mendengar seseorang membunyikan klakson mobil.
"Heh, minggirin sepeda Lo," teriaknya dari dalam mobil. Cello bergeming.
Anak itu geram lalu turun dari mobil. "Punya telinga nggak sih?" Tanyanya.
Cello menatap dengan tatapan dingin. "Kamu punya mata nggak? jelas-jelas telingaku menempel gini masih tanya lagi," jawabnya tak mau kalah. Namun, dia berkata dengan nada yang rendah.
Anak itu mengepalkan tangannya. "Pinggirin sepeda jelek lo."
Cello melirik ke mobil tersebut. "Emangnya kamu mau parkir? Sopirmu nggak langsung pulang? Emangnya kamu anak TK ditungguin segala," ledek Cello.
Anak perempuan berambut panjang tersebut mengangkat tangannya. "Pramita," panggil guru yang dari arah lain.
"Ada apa ini?" Tanyanya dengan nada lembut ketika berada di dekat murid-muridnya yang sedang berselisih.
"Tidak ada apa-apa, Bu," jawab Cello berbohong agar tidak ada yang dihukum di antara mereka.
"Kamu ngapain ngangkat tangan gitu?" Tanya guru berkacamata tersebut pada Mita
"Ketiak saya gatal Bu," jawabnya asal. Sontak Cello menahan tawa mendengar jawaban Mita
"Ya sudah masuk kelas sana!" Perintah guru perempuan itu.
Mita menghentakkan kaki lalu dia masuk lebih dulu. Sedangkan Cello mengangguk hormat sebelum melewati guru tersebut. Pemuda itu berjalan dengan santai karena bel masuk masih sepuluh menit.
Cello duduk di tempat duduknya. Baru saja ia menaruh tas, seseorang mendorong tubuh Cello. Namun ketika ia hampir terjatuh ia berpegangan pada tangan gadis yang mendorongnya itu hingga keduanya jatuh bersamaan.
"Cie..." Seluruh kelas menyoraki mereka.
Mita bangun dengan cepat lalu membetulkan rambutnya yang berantakan. Setelah itu Cello ikut bangun. Dia tidak berkata apa-apa meski dia tahu Mita yang mendorongnya.
Brak
Mita menggebrak meja Cello. Cello mendongak. "Jadi cewek bar-bar banget sih," ledeknya dengan suara lirih namun Mita mendengarnya.
"Apa lo bilang?" Tanyanya dengan intonasi suara yang tinggi. Nafasnya naik turun karena menahan marah.
__ADS_1
Tak lama kemudian bel masuk berbunyi. Teman Mita menarik tangannya agar dia kembali ke tempat duduknya. Sedangkan Cello menarik ujung bibirnya saat menatap Mita
Guru mata pelajaran memasuki kelas. Pelajaran pun dimulai.
Saat waktunya istirahat, Mita membuat ulah. "Perhatian teman-teman, hari ini Cello ulang tahun, jadi kalian semua mau ditraktir makan di kantin. Kalian setuju?" Tanyanya meminta dukungan teman-teman sekelasnya.
"Setuju," jawab teman satu kelasnya kompak.
Cello hanya menggelengkan kepala melihat ulah Mita yang menyebabkan. Tapi dia tidak takut karena Cello bukan anak biasa. Dia selalu punya uang lebih, bahkan untuk mentraktir teman satu sekolahan pun dia mampu. Tapi selama ini Cello tak pernah pamer pada teman-temannya. Walaupun dia anak sultan tapi Cello selalu bersikap sederhana. Tak pernah memilih dalam hal bergaul.
Mita tertawa sinis. "Mati Lo," umpatnya.
Semua anak di kelas Cello menuju ke kantin. Mereka memesan banyak makanan siang itu.
"Bu hari ini semua tagihan anak-anak Cello yang akan membayarnya. Tolong dicatat jangan sampai ada yang kelewatan," kata Mita pada pengelola kantin.
"Baik, non."
Usai jam istirahat selesai, Cello mendekat ke arah Bu kantin. "Semuanya habis berapa, Bu?" Tanya Cello dengan nada lembut.
Terhadap siapapun terutama pada orang tua Cello selalu bersikap sopan. Walaupun dipandang dari status materi orang tuanya yang paling kaya.
Cello mengangguk. "Totalnya delapan ratus ribu rupiah," kata pemilik kantin tersebut menyebutkan angka yang yang harus dibayar Cello.
"Ibu ada mesin ATM tidak?" Tanya Cello. Pemilik kantin tersebut menggeleng.
"Kalau gitu ibu pakai aplikasi dompet digital apa tidak?" Ibu itu kembali menggeleng.
"Begini Bu, saya tidak bawa uang cash jadi saya perlu menggesek kartu saya dulu." Cello menunjukkan kartu ATMnya.
Mata ibu kantin itu berbinar. "Saya hanya ada uang dia ratus ribu, saya kasih dulu sebagai DP sisanya akan saya kasih setelah saya pulang sekolah, bagaimana?" Cello meminta keringanan.
"Tapi Aden janji kan akan bayar sisanya? Nanti kalau Aden tidak bayar, saya rugi besar," ucap ibu kantin agak khawatir.
Cello mengulas senyum. "Tenang saja Bu, saya janji tidak akan berbohong pada ibu," Cello memegang tangan ibu kantin itu untuk meyakinkan beliau.
Hati Bu kantin terasa tersentuh mendapatkan perlakuan baik dari Cello. Hingga ia mengangguk begitu saja.
__ADS_1
Mita mengintip dari kejauhan. "Dia cuma ngasih uang dua ratus ribu," ucapnya sambil tertawa. "Tapi Bu kantin tidak marah. Dasar penjilat," umpatnya saat melihat Cello memegang tangan ibu kantin tersebut.
Lalu saat Cello melewati koridor, kaki Today sengaja diangkat agar Cello jatuh. Mita menertawakan Cello ketika pemuda itu tersungkur di lantai.
"Dasar cowok bego, orang miskin. Kalau mau sekolah di sini tuh harus punya ini," Mita menggesekkan ujung ibu jari dan telunjuknya.
Cello berdiri. "Bukankah ini sekolah umum? semua orang berhak sekolah di sekolah ini, kata Cello membalas omongan Mita
"Emangnya ini sekolahan bokap Lo," balas Mita tak mau kalah.
Dia tidak tahu kalau Devon adalah penyumbang dana tertinggi di sekolah itu.
Cello tersenyum lalu berbalik badan tak mau menanggapi omongan Mita. "Dasar cowok miskin."
Usai bel sekolah berbunyi Cello berjalan agak cepat menuju ke parkiran sepedanya. Namun, saat ia akan menaiki sepedanya ternyata ban sepedanya kempes.
"Pak, bisa antar saya ke ATM terdekat," mintanya pada satpam.
"Mau apa, nak?"
"Saya mau ambil uang untuk bayar Bu kantin."
"Memangnya berapa uang yang kamu butuhkan? Bapak bisa pinjamkan."
"Kurang enam ratus ribu lagi, Pak." Satpam tersebut melongo ketika mendengar Cello menyebutkan jumlah yang harus dibayar.
"Hayuk bapak antar," ucapnya tanpa bertanya lagi. Tentu saja karena dia tidak bisa meminjamkan uang enam ratus ribu pada Cello.
Mita menuju ke kantin. "Uangnya ga jadi dibayar sama Cello kan Bu?"
"Lho saya lagi nungguin dia karena tadi janjinya mau bayar setelah pulang sekolah."
"Dia mana punya duit sebanyak itu Bu. Orang saya lihat dia diantar pak satpam pulang ko karena ban sepedanya kempes."
Bu kantin merasa geram mendengar hasutan Mita. "Masa sih non?" Mita mengangguk. Bu kantin merasa kecewa karena dia merasa dibohongi. Padahal Cello pergi mengambil uang cash ke ATM.
"Siapa yang kabur?" Suara itu membuat dua wanita beda generasi itu menoleh. Bu Kantin merasa lega karena Cello telah datang tentunya dia akan membayar kekurangan tagihan.
__ADS_1
Mita menatap Cello tak suka. Cello memberikan uang lembaran merah pada Bu kantin. Mita membulatkan matanya tak percaya. "Darimana dia dapat uang sebanyak itu?" Batin Mita. Tangannya mengepal karena kesal. Lalu dia melenggang pergi.