Click Your Heart

Click Your Heart
Part 102


__ADS_3

Hari ini Cindy merasa tidak enak badan. Ia pun menghubungi Irma. "Ma, gue nggak ke toko ya hari ini, tolong handle toko, Irene juga belum balik kan kayaknya?"


"Oke, Cin. Elo sakit apa?" Tanya Irma melalui sambungan telepon.


"Gue cuma pusing aja," jawab Cindy.


"Ya sudah buat istirahat saja." Setelah itu Cindy mematikan ponselnya.


"Mbak Nana bisa anterin Cello ke sekolah nggak hari ini? Saya mendadak pusing jadi pengen istirahat."


"Baik, Bu."


"Mama cakit ya?" Tanya Cello sambil mengelus pipi ibunya.


"Iya sayang. Berangkat sama pak sopir dan mbak Nana ya." Cello mengangguk patuh.


Lalu Nana membawa Cello keluar. Devon telah berangkat pagi-pagi karena dia harus keluar kota hari ini.


"Mbok Nah, tolong bawa minuman hangat ya ke kamar saya."


"Mau dibikinin apa Bu? Teh apa wedang jahe?" Tanya Mbok Nah asisten rumah tangga yang sudah tiga tahun terakhir bekerja dengannya.


"Wedang jahe juga boleh." Setelah mengatakan itu Cindy perlahan naik ke tangga. Tapi kepalanya merasakan pusing yang hebat. Akhirnya dia pun duduk di tangga.


"Bu, ibu nggak apa-apa? Mari saya papah ke atas," kata Mbok Nah.


Cindy pun perlahan berdiri dan berjalan pelan-pelan hingga masuk ke dalam kamar.


"Saya panggilkan dokter ya Bu?" Kata Mbok Nah. Cindy menggeleng.


Mbok Nah lalu mengambil baskom kecil berisi air hangat lalu mengompresnya ke dahi Cindy.


"Badan Ibu juga demam. Sebaiknya saya telepon pak Devon supaya beliau tahu kondisi anda sekarang," kata Mbok Nah.


"Jangan mbok, nanti pekerjaan Mas Devon terganggu, aku tidak apa-apa," tolak Cindy.


Tapi tiba-tiba Cindy memegang perutnya yang sakit. Mbok Nah ketakutan dan panik melihat keadaan Cindy. Tanpa bisa ditahan lagi Mbok Nah menelepon Devon.


"Pak, tolong Bu Cindy sedang sakit," katanya dengan suara bergetar seperti ingin menangis. Wanita paruh baya itu takut terjadi sesuatu pada Cindy. Karena tidak biasanya dia kesakitan seperti itu.

__ADS_1


"Apa? Baiklah saya akan pulang sekarang. Saya juga akan menelepon dokter keluarga agar memeriksa keadaannya," kata Devon melalui sambungan teleponnya.


"Apa ada sesuatu yang terjadi Pak?" Tanya Bayu yang melihat atasannya itu terlihat cemas.


"Kata Mbok Nah Cindy sakit," jawab Devon singkat.


Setelah itu Devon menelepon dokter langganannya agar datang ke rumah. Lalu ia membuka pintu mobil.


"Bayu, tolong handle kerjaan di sini. Maaf saya harus menengok keadaan Cindy." Bayu mengangguk patuh.


Devon melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Setidaknya butuh dua jam untuk sampai ke rumah.


Sementara itu di rumah Cindy mendapatkan pemeriksaan dari dokter. "Apakah yang sakit di bagian ini?" Tanya dokter sambil menunjuk bagian perut sebelah kanan.


"Benar dok," jawab Cindy lemah.


"Sepertinya ini gejala usus buntu. Tapi ini baru prediksi saya jadi anda harus ke rumah sakit segera untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut," saran Dokter.


"Bu tolong ikuti perintah dokter," kata Mbok Nah setengah memohon. Karena kalau sampai majikannya tahu istrinya itu sakit tapi membicarakannya Devon bisa murka.


Cindy mengangguk. "Biar saya minta bantuan supir untuk mengantarkan anda," kata Mbok Nah.


Sementara Cindy dibawa ke rumah sakit, Devon menuju ke rumahnya. Mobil mereka berpapasan tapi sepertinya laki-laki itu tidak memperhatikan.


"Rumah sakit mana?" Tanya Devon.


"Saya kurang tahu Pak. Sebaiknya Bapak telepon Pak Hasan saja."


Setelah itu Devon menghubungi nomor Hasan. "Ada di rumah sakit mana?" Tanya Devon to the point.


(----)


"Baiklah, aku akan segera sampai." Setelah itu ia menutup sambungan teleponnya.


Tak butuh waktu lama Devon sampai di area parkir rumah sakit. Namun, saat ia akan masuk ke area parkir yang kosong seseorang lebih dulu memasukinya.


Devon membunyikan klakson mobilnya berkali-kali karena kesal. Ia lalu membuka kaca mobilnya untuk menengok siapa yang dengan lancang mendahuluinya parkir.


"Dasar tidak sopan," gerutu Devon.

__ADS_1


Lalu seorang wanita cantik berpakaian dokter keluar dari mobil berwarna merah itu. "Devon," wanita itu menyebut nama laki-laki di depannya.


"Alma?" Kata Devon menyebut nama dokter cantik itu.


Devon tak menghiraukan wanita itu. Lalu ia mencari tempat parkir lainnya. Setelah itu Devon bergegas ke dalam rumah sakit. Ia melangkahkan kakinya cepat bahkan tak menghiraukan Alma.


"Dev..." Alma menghentakkan kakinya kesal karena Devon mengabaikan panggilannya.


"Dimana istriku?" Tanya Devon pada Mbok Nah.


"Alhamdulillah akhirnya bapak sampai juga, Bu Cindy ada di dalam pak," kata Mbok Nah.


Saat Devon akan masuk seorang perawat melarangnya. "Saya ingin melihat keadaan istri saya."


"Tapi dokter belum memeriksanya kita tunggu dokter dulu pak."


"Kemana dokternya kenapa lama sekali," gerutu Devon.


"Ada apa ini?" Tanya seseorang yang suaranya tak asing bagi Devon. Devon menoleh. Sejenak pandangan mereka bertemu.


"Kamu ngapain di sini?" Tanya Alma.


"Aku menunggui istriku yang sedang sakit, tapi sejak tadi dia belum diperiksa. Kemana dokternya? Kenapa seenaknya saja membiarkan pasien yang sedang kesakitan menunggu?" Geram Devon. Alma tidak terima Devon menjelekkan dirinya. Namun ia hanya bisa mendengus kesal.


"Dok, silakan periksa pasien." Suster itu memberikan rekam medis yang ia catat. Alam menerima laporannya. Sejenak Devon menautkan alisnya. "Apa dia dokter yang ditunggu?" Devon menatap Alma penuh tanya.


"Aku akan memeriksa istrimu kamu tenang saja," kata Alma dengan senyum sinis meninggalkan Devon.


"Jadi wanita ini istrinya? Cantik juga," batin Alma.


"Segera siapkan ruang operasi, kita tidak bisa menunda operasinya, usus buntunya harus diangkat." Perintah Alma pada para perawat.


Salah seorang perawat menemui Devon. "Pak tolong urus administrasinya, istri anda akan segera dioperasi karena mengalami penyakit usus buntu."


Devon membelalakkan matanya tak percaya Cindy bisa terkena penyakit itu. "Lakukan yang terbaik untuk istri saya," kata Devon sambil menandatangani berkas yang disodorkan oleh perawat itu.


Sesaat kemudian Alma keluar sambil memakai baju yang akan digunakan untuk operasi. Ia melirik sekilas ke arah Devon. Devon menatapnya penuh harap agara wanita itu menyelematkan istrinya. Sedangkan Alma membuang muka ke arah lain. Dia merasa sakit hati karena Devon mengabaikannya saat di parkiran mobil.


Sekilas cerita tentang Alma yang merupakan teman satu kelas Devon saat di SMA. Ia naksir dengan laki-laki itu tapi saat itu Devon hanya memandang Celine yang tak lain adalah kakak iparnya yang sekarang.

__ADS_1


Devon memang digilai oleh banyak teman wanitanya ketika masih duduk di bangku sekolah.


Alma saat itu ingin meneruskan kuliah di jurusan yang sama dengan Devon tapi orang tuanya tidak menyetujui. Ia disuruh kuliah di bidang kedokteran.


__ADS_2