
Cindy pulang ke apartemen yang dibelikan Devon untuknya. Ia tahu suatu hari nanti ia harus membalas kebaikan Devon.
Cindy memutuskan untuk pergi dari apartemen tersebut. Ia merasa tidak layak lagi menjadi pemiliknya. Ia pun mengemasi barang-barang yang penting seperti pakaian dan buku-bukunya.
Cindy meminta bantuan Alan untuk mengeluarkan barang-barangnya. "Gue nggak tahu Lan harus minta tolong sama siapa," ucapnya dengan wajah sendu.
"Kita mau kemana nih mam?" Tanya Alan.
"Entahlah, aku juga bingung, mau balik ke kontrakan lama pasti aku dihina habis-habisan sama penghuni di sana, mulut mereka kan pedes banget," kata Cindy sambil membayangkan ketika dia dihina waktu itu oleh ibu kosnya.
"Ke kosannya Irene aja mam," usul Alan.
"Boleh sih, tapi tempatnya sempit," kata Irene. Ia juga berada di sana untuk membantu.
"Gue pulang ajalah ke kampung, lagian kuliah juga udah selesai, gue mau nenangin diri dulu sambil nunggu ijazah keluar," putus Cindy.
Setelah itu mereka benar-benar keluar dari apartemen tersebut. Cindy menelepon Bayu untuk menyerahkan kunci apartemen pada Devon sebelum ia pergi.
Bayu segera datang setelah Cindy meneleponya. Cindy, Alan dan Irene sudah berada di luar apartemen menunggu Bayu malam ini. Bayu menghentikan mobilnya tepat di depan ketiganya. "Lho kalian mau kemana?" Tanya Bayu yang bingung melihat barang-barang Cindy ada di luar.
"Pak, saya titip kunci apartemen, tolong serahkan ke Mas Devon," kata Cindy dengan nada bergetar, matanya menggenang, sebisa mungkin ia menahan air matanya.
"Untuk apa pindah? Tinggallah lebih lama," bujuk Bayu. Cindy menggeleng. "Rasanya sakit melihat Mas Devon mencium wanita lain di depan mata saya," ucapan Cindy membuat Alan dan Irene terkejut. Mereka baru tahu alasan Cindy pindah, sebab dari tadi Cindy hanya diam tanpa menjelaskan apapun soal kepindahannya.
__ADS_1
"Hubungan saya dan Mas Devon berakhir sampai di sini, lagipula tidak ada lagi kepercayaan yang diberikan olehnya," kata Cindy. Kali ini air matanya lolos tapi cepat-cepat ia menyekanya.
"Kemana kamu akan pergi? Ayo aku antar," Tanya Bayu yang merasa khawatir.
"Tidak, Pak Bayu tidak boleh mengantar saya. Ada juga tidak boleh tahu kemana saya pergi. Setelah ini kita tidak ada hubungan lagi, dengan begitu saya bisa melupakan Mas Devon," ucapnya mantap. Cindy ingin melupakan Devon meski itu sulit.
"Taksi saya sudah datang, saya permisi, Pak," pamit Cindy dan kedua temannya.
"Jangan mengikuti saya, Pak!" Cindy memperingatkan Bayu. Ia tahu Bayu pasti tidak akan tinggal diam.
Seteah itu Bayu ke rumah Devon untuk mengabarkan bahwa Cindy keluar dari apartemen miliknya. "Baguslah kalau dia tahu diri," jawab Devon.
"Ini bukan seperti anda, Pak. Nona Cindy orang yang baik, apa anda tidak akan menyesal apabila melepasnya?" Tanya Bayu ingin meyakinkan atasannya sekali lagi.
...***...
Alan dan Irene diantar oleh Cindy ke kosan mereka, setelah itu Cindy baru pulang ke kampung halamannya. Sebelum pergi Cindy berpesan pada Alan dan Irene agar mereka tidak mengatakan kemana Cindy pindah.
"Ren, gue udah nemuin tempat kerja baru yang cocok sama gue, di sini cuma bakal jadi beban karena kita kerja atas rekomendasi mami Cindy, tapi lo lihat mereka udah putus," kata Alan yang merasa khawatir.
"Elo enak udah dapat kerjaan baru, nah gue mau pindah kemana? Elo jangan egois Lan, sebaiknya kita jangan pindah dulu, gue takut pak Devon mikir macam-macam setelah kejadian putusnya hubungan mereka." Irene menasehati panjang lebar.
...***...
__ADS_1
Tommy pulang ke apartemennya setelah dirinya sempat pulang ke rumah orang tuanya atas permintaan sang mama. Tommy ingin menemui Cindy sebelum ia masuk ke unit apartemennya tapi ia urungkan. Ia merasa tidak enak setelah kejadian salah paham waktu itu.
Namun, sudah beberapa hari Tommy merasa janggal. Ia sama sekali tidak pernah berpapasan dengan Cindy. Untuk itu, Tommy mencoba menekan bel unit apartemen Cindy. Tak ada respon. Lalu ia mencoba menghubungi nomor Cindy. "Kenapa nomornya tidak aktif?" Gumam Tommy. Kini ia merasa khawatir. "Apa dia pindah? Aku harus cari tahu. Cindy, jika Devon tidak menerimamu aku bersedia meminjamkan bahuku padamu," batin Tommy.
...***...
"Cindy, kamu pulang nak?" Nenek Cindy menyambut kedatangan Cindy yang tiba di rumahnya pada pagi hari.
"Iya, Nek." Cindy memeluk sang nenek karena lama tidak bertemu.
"Kuliahku sudah selesai, Nek. Jadi aku putuskan untuk pulang saja. Aku rindu sama nenek," kata Cindy.
Setelah itu ia meletakan barang-barangnya di kamar yang terlihat masih rapi. Neneknya selalu membersihkan kamar itu walau Cindy tidak sedang menempatinya.
Cindy merebahkan badannya di atas kasur yang hanya terbuat dari busa ukuran paling kecil. Berbeda dengan kasur yang ia tempati di apartemen mewah yang dibelikan oleh Devon.
Tiba-tiba ia merindukan laki-laki itu. "Mas aku tidak menyangka kisah cinta kita berakhir seperti ini," gumam Cindy dengan lirih.
"Nak, ayo kita makan dulu," teriak neneknya dari luar pintu kamar itu.
"Ya nek, sebentar."
...🌼🌼🌼...
__ADS_1
Ih gregetan ya sama Mas Devon bisa-bisanya cuek padahal ditinggal sama Cindy. Othor malah pro sama Abang Tommy. Reader pro sama siapa?