
Hari ini Tommy diminta pulang oleh ibunya. Sudah berkali-kali ia menolaknya jadi Tommy merasa tak enak pada sang ibu.
Ketika Tommy sampai rumah ia melihat Lisa sedang berbincang dengan Maya. Tommy mengerutkan kening karena ia tidak tahu alasan Lisa berkunjung.
"Tom, sini gabung sama kami," ajak Maya.
"Tidak Ma. Tommy mau ke kamar buat istirahat," tolaknya.
"Jangan begitu, Lisa sduah menunggu kamu lama."
"Apa maksudnya dia menungguku? Perempuan ini sudah putus dari Bayu dan Devon lalu mencariku? Dasar tidak tahu diri," umpatnya dalam hati. Ia menatap muak pada Lisa.
"Tante, sudahlah. Mas Tommy capek sebaiknya biarkan dia beristirahat. Aku juga mau pulang tante," pamit Lisa.
"Ah kamu memang wanita yang pengertian," puji Maya.
Tommy memutar bola matanya jengah. "Cepatlah pergi tidak usah basa-basi segala!" Kesal Tommy saking kesalnya dia hanya berbicara dalam diam.
Usai Lisa pergi Maya menegur Tommy. "Kenapa kamu bersikap tidak sopan pada wanita?" Tanya Maya.
"Maaf Ma. Aku ingin istirahat." Tommy berlalu begitu saja ke kamarnya. Ia merebahkan diri di atas ranjang. "Mengerikan sekali menemui wanita yang punya obsesi seperti Lisa. Tidak dapat satu mangsa dia pindah ke mangsa lainnya dan itu akan terus dilakukan sampai keinginannya tercapai," kata Tommy sambil mendesah pelan.
"Tapi aku rasa Irene tidak seperti itu, dia itu manis," kata Tommy sambil membayangkan wajah Irene.
...***...
Pagi ini Cindy mangajak Cello bermain di luar. Ia ingin berjalan-jalan dengan anaknya di taman. "Mbak tolong jaga Cello sebentar ya, saya ingin ke toilet," pamit Cindy pada Sari.
"Iya, Bu."
Cello minta turun dari strollernya. Ia ingin bermain bola. Ketika sedang lempar tangkap dengan Sari bola yang terlempar menggelinding ke jalan. Tapi Cello malah mengejarnya. Sari sudah berusaha mengejar balita itu tapi sebuah motor lebih dulu menyerempet anak kecil itu.
Cindy ke tempat asalnya. Ia melihat kerumunan orang. "Ada apa Bu?" Tanya Cindy. pada seseorang yang iku berkerumun. Ia belum tahu kalau Cello tertabrak motor.
"Itu ada anak kecil tertabrak," jawab ibu-ibu itu.
Cindy pun melihatnya. Betapa terkejutnya dia saat melihat Sari memangku kepala Cello.
"Cello," Cindy terduduk dan menangis histeris.
__ADS_1
"Tolong panggilkan supir!" Teriak Cindy.
Cindy sangat takut kehilangan anaknya. Cello tak sadarkan diri. Cindy terus saja menangis karena dia tidak tahu bagaimana menyadarkan Cello.
"Mama mohon bertahanlah sayang," kata Cindy di tengah isak tangisnya.
"Maafkan saya Bu yang kurang bisa menjaga dengan baik," ucap Sari yang merasa bersalah.
Cindy tak menjawab. Dia ingin sekali menyalahkan Sari tapi dia tidak mau menuduh sembarangan.
Tidak disangka mereka malah terjebak macet. "Pak apa tidak ada jalan pintas?" Tanya Cindy pada sopirnya.
"Tidak ada Bu," jawab sang sopir.
Cindy mengedarkan pandangannya. Ia melihat driver ojek online yang sedang tidak membawa penumpang. Dia pun turun sambil menggendong Cello yang masih berdarah. Ia tak peduli kata orang yang penting nyawa anaknya terselamatkan.
"Tolong bawa kami ke rumah sakit," pinta Cindy pada driver itu.
"Ba-baik, Bu," jawabnya dengan gugup karena ia syok melihat ibu-ibu yang menggendong anak kecil dalam keadaan pingsan dan berdarah.
Zaman sekarang memang sudah berbeda dengan zaman dulu. Bukannya menolong Cindy, orang-orang malah sibuk merekam kejadian saat Cindy membawa lari anaknya ke rumah sakit dengan bantuan ojek online. Seolah mereka menjadi wartawan dadakan.
Bayu yang sedang membuka handphonenya terkejut ketika ada notifikasi berita tersebut. Ia yang penasaran lalu membuka isi beritanya. Betapa syoknya dia ketika melihat istri atasannya itu yang menjadi bahan berita.
"Pak, mari ikut saya ke rumah sakit," ajak Bayu.
"Ada apa Bay? Kenapa tiba-tiba mengajakku ke rumah sakit?" Tanya Devon.
Bayu kemudian menyodorkan handphone miliknya. Devon terkejut saat melihatnya. Matanya memerah menahan tangis. Ia pun bergegas menyusul Cindy ke rumah sakit.
Devon mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bayu sangat khawatir dengan keadaan bosnya itu. Tapi ia terjebak macet di tempat yang sama ketika Cindy dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Devon membunyikan klakson berkali-kali hingga menyita perhatian pengendara lain. "Hei, Pak. Jangan berisik, bersabarlah!" Teriak orang lain yang sedang duduk di depan kendali setirnya.
"Arrgh sial," umpat Devon seraya memukul setirnya karena frustasi.
Di rumah sakit Cindy tidak peduli orang membicarakan dirinya yang berlumuran darah. Kini ia hanya memikirkan Cello yang sedang dirawat di UGD.
Tak lama setelah itu, Sari dan sang sopir menyusulnya. "Bu, apa saya perlu membawakan baju ganti?" Tanya Sari. Cindy mengangguk.
__ADS_1
"Cindy," teriak seseorang padanya.
Mata Cindy kembali mengembun melihat sang suami yang datang. "Mas, Cello.."
Plak
Devon menampar pipi Cindy dengan keras. Sari dan sopir yang melihat bergidik ngeri melihat kemarahan tuannya. Cindy meringis kesakitan dan memegang bekas tamparannya.
"Mas, kenapa kamu menamparku?" Tanya Cindy bingung.
"Bagaimana bisakamu lalai menjaga anakmu sampai masuk rumah sakit seperti ini?" Bentak Devon di depan umum.
Deg
Sedih, marah dan kecewa yang saat ini Cindy rasakan kala suaminya menuduh seperti itu. Padahal bukan dia yang salah. Tapi menjelaskan pada Devon dalam keadaan seperti ini akan sia-sia saja pikirnya.
"Maafkan aku," kata Cindy dengan lirih.
Sari merasa bersalah. Tapi ia tak ingin mengakui kesalahannya yang lalai dalam menjaga Cello. Ia sangat takut Devon juga akan memukulnya.
Tak lama kemudian dokter yang memeriksa Cello keluar. "Bagaimana keadaan putra saya Dok?" Tanya Devon.
"Lukanya lumayan parah ya Pak, dia harus menerima transfusi darah sedangkan golongan AB saat ini sedang kosong di PMI," kata dokter itu.
"Ambil darah saya saja dok!" Kata Cindy.
"Saya juga dok," Sari ingin ikut menyumbang.
"Jaga juga bersedia dok," begitu juga dengan sang sopir.
Devon merasa terharu pada kebaikan mereka. Tapi ia memandang sinis pada Cindy. Sungguh kesalahan yang sangat fatal hingga membuat nyawa Cello hampir saja melayang pikirnya.
Bayu baru saja tiba. "Bagaimana keadaan anak anda Pak?"
"Dia butuh banyak darah sedangkan darah di PMI sedang kosong. Tolong carikan pendonor yang memiliki darah bergolongan AB. Aku akan membayar mahal mereka yang mau mendonorkan darahnya pada anakku," ucap Devon sedikit arogan.
"Baik, Pak. Akan saya umumkan pada karyawan kita," kata Bayu. Bayu pun beranjak dari tempat itu.
Devon menunggu di luar memandang anaknya yang terbaring lemah melalui kaca pembatas ruangan. "Andai saja golongan darahku sesuai, akan ku donorkan sebanyak yang kau butuh." Air matanya sudah menetes di pipi.
__ADS_1