
Celine membawa Cello ke rumah sakit. Tapi di sana peraturan tidak memperbolehkan anak kecil di bawah usia sepuluh tahun masuk ke ruang perawatan pasien kecuali merupakan pasien rumah sakit tersebut.
"Tolonglah Pak. Dia ingin menemui ibunya," bujuk Celine agar Cello diizinkan masuk.
Cello menangis di gendongan Jaden karena merengek minta dipertemukan dengan ibunya.
Alma tak sengaja lewat di depan mereka. "Ada apa ini?" Tanya Alma.
"Ini dok, ibu ini dan anak kecil yang sedang digendong itu ingin menemui ibunya yang dirawat di dalam," terang penjaga rumah sakit tersebut.
"Ibunya sakit apa Dek?" Tanya Alma dengan ramah.
"Usus buntu dok," Celine mewakili Cello menjawab pertanyaan dokter itu.
"Owh, siapa namanya Bu barangkali salah satu pasien saya?" Tanya Alma.
"Cindy Fatikasari yang dirawat di ruang VVIP."
Deg
"Jadi anak ini adalah anak Devon," batin Alma sambil memperhatikan anak kecil yang digendong itu.
"Ayo ikut Tante dokter kalau mau bertemu dengan ibumu," bujuk Alma. Cello pun menurut. "Anak baik," puji Alma seraya mengusap rambut Cello.
Jaden menggendong Cello sampai ke ruangan Cindy.
Devon dan Cindy terkejut dengan kedatangan anaknya bersama kakak ipar serta keponakannya ke sini.
"Mama," Cello melompat dari gendongan Jaden dan memeluk mamanya. Ia menumpahkan semua kerinduannya. Cello menangis di pelukan sang mama.
"Kalian kenapa bisa ada di sini?" Tanya Cindy yang bingung.
"Dia menangis terus nanyain kamu, tadi kita sempet tidak dibolehin masuk untungnya ada dokter Alma," jawab Celine.
"Terima kasih banyak dok," ucap Cindy.
"Saya sekalian mau periksa keadaan Bu Cindy, kalau memungkinkan besok boleh rawat jalan," balas Alma.
Ia menoleh ke arah Devon sekilas lalu membuang pandangannya ke arah lain.
"Adik kecil Tante dokter mau periksa ibunya, boleh ya?" Tanya Alma dengan ramah. Cello mengangguk lalu melepas pelukannya.
"Saya rasa besok anda bisa pulang ke rumah," kata Alma usai memeriksa Cindy.
"Terima kasih banyak dok," kata Devon lirih ke arah Alma.
Cindy tak sengaja menangkap pandangan Alma yang tak biasa pada suaminya. Ia mengerutkan keningnya menatap dengan curiga. "Apa mereka saling kenal?" Batin Cindy. Meski hatinya curiga tapi ia tak mau berprasangka buruk pada sang suami.
__ADS_1
Setelah itu Alma meninggalkan ruangan Cindy.
Alma menjadi sendu kala melihat keluarga Devon yang sangat bahagia menurutnya. "Ayo Alma bersemangatlah! Kamu masih punya kesempatan untuk mendapatkan pasangan yang lebih baik." Alma menyemangati dirinya sendiri.
"Dok, ada pasien yang membutuhkan dokter," kata seorang perawat yang menghampirinya.
"Baiklah kita ke sana sekarang." Alma mempercepat langkahnya.
"Bu Siska," panggil Alma.
Di sebelahnya ada Ruby yang menangis tersedu-sedu melihat kondisi ibunya yang kesakitan.
"Apa yang terjadi sus?" Tanya perawat yang kemudian melihat rekam medis Siska.
"Sepertinya ginjal yang didonorkan bermasalah, dok," lapornya.
"Adakan pemeriksaan lebih lanjut, lalu laporkan hasilnya pada saya!" Perintah Alam pada para perawat yang menangani Siska.
Lalu ia menghampiri Ruby. "Tenanglah ibumu akan baik-baik saja." Ia bahkan memeluk Ruby karena tak tega. Setelah itu Alma mengajak Ruby keluar.
"Ruby, apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Devon yang melihat Ruby menangis di rumah sakit.
Ruby berhambur ke pelukan Devon. Alma tercengang. "Apa dia mengenalnya?" Alma bertanya dalam hati.
"Mama sakit lagi, Om," ucap Ruby sambil terisak.
Lalu Devon menatap Alma bertanya dalam diam. "Bu Siska itu siapanya kamu?" Tanya Alma dengan ragu.
"Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku, ceritakan apa yang terjadi dengan ibunya?" Ucap Devon dengan tegas.
Alma menghembuskan nafasnya kasar. "Sepertinya ginjal yang pernah didonorkan padanya bermasalah, kami harus memeriksa keadaannya lagi."
"Sayang, apa kau mau menunggu di ruangan Tante Cindy. Di sana ada Cello, Jaden dan ibunya."
"Tante kenapa Om?"
"Dia habis operasi usus buntu," jawab Devon seraya menarik tangan Ruby agar berjalan mengikutinya.
"Hissh, Devon benar-benar membuatku kesal saja," gerutu Alma yang merasa diabaikan.
Devon mengajak Ruby masuk ke dalam ruangan Cindy.
Jaden tak mengira Ruby akan ada di sana. "Kamu ngapain ke sini?" Tanyanya.
"Ibunya masuk ke rumah sakit," jawab Devon mewakili Ruby.
"Kamu kasian sekali sayang, sini peluk dulu!" Cindy merentangkan tangannya.
__ADS_1
"Doain mama ya tentu supaya cepat sembuh, aku juga doain tante," kata Ruby dalam pelukan Cindy.
"Kita ini keluarga sayang, jadi sudah pasti Tante doain mama kamu," ucap Cindy ketika melerai pelukannya.
"Apa keluarga nyonya Siska ada di sini?" Tanya seorang perawat yang menyembulkan kepalanya di pintu.
"Ya, sus," kata Ruby.
"Bu Siska akan dipindahkan ke ruang perawatan jadi tolong urus administrasinya dulu."
"Om temani ya," kata Devon sambil tersenyum.
"Sayang, aku temani Ruby ya?" Devon meminta izin pada istrinya.
Celine melihat tidak suka pada sikap Devon. "Jaden ajak Cello jajan es krim dulu, mama mau ngobrol sama tante Cindy." Celine memberikan selembar uang ratusan pada Jaden.
"Ayo, Boy. Kita jajan." Jaden menaik turunkan alisnya.
"Gendong!" Jaden merentangkan tangannya. "Gendong belakang aja!" Pinta Cello kemudian.
Usai melihat anak-anaknya keluar Celine mulai bicara. "Apa kamu tidak cemburu pada Ruby?" Tanya Celine pada Cindy.
"Dulu iya mbak, sekarang tidak lagi," jawab Cindy. Celine tidak mengerti apa yang dikatakan Cindy.
"Aku tidak tahu maksudmu?"
"Seperti saran mbak Celine dulu, aku berhasil mengambil hati Ruby dan itu membuat Siska berhenti mengganggu keluarga kami."
"Syukurlah, aku sempat cemas kalau rumah tangga kalian akan kembali mendapatkan gangguan dari orang ketiga."
"Aku percaya sama Mas Devon mbak. Kami tidak akan membuka celah pada orang ketiga."
Tok tok tok
Suara ketukan pintu itu membuat Celine dan Cindy menoleh. "Kami datang," kata Irma.
"Cin, mbak pulang dulu ya, Cello biar tidur sama aku dulu, besok kalau kamu sudah di rumah Mbak anterin Cello pulang," kata Celine.
"Iya, mbak. Makasih banyak." Celine mengangguk.
Celine mencari keberadaan Devon. "Aku balik. Oh ya, ingat jangan biarkan orang ketiga masuk ke rumah tangga kalian," ucap Celine setengah berbisik.
Jaden dan Cello kembali dari membeli es krim. "Kita pulang ya sayang," bujuk Celine pada Cello.
Kali ini Cello menurut tidak ada perlawanan sama sekali. Celine mengulas senyum. "Anak baik, sini aunty gendong," kata Celine.
Saat Celine baru berjalan beberapa langkah Cello malah tertidur. Celine masuk ke dalam mobil dengan hati-hati.
__ADS_1
"Jaden, nanti bawa mobilnya pelan aja biar Cello nggak terbangun. Kasian anak ini," Celine menatap iba pada keponakannya itu.
"Iya, Ma," jawab Jaden.