Click Your Heart

Click Your Heart
Part 122


__ADS_3

"Ada apa ini?" Tanya Tommy yang baru pulang dari kerja.


"Tom, lihat istrimu. Dia menyiram kaktus yang mama beli di Jepang." Maya mengadu pada anaknya.


Tommy menatap Irene. Irene menundukkan kepalanya karena merasa bersalah. "Ma, maafin dia. Irene mungkin tidak tahu cara merawat kaktus." Tommy berusaha membela istrinya. Irene mengangguk cepat saat Maya dan Tommy mengarahkan pandangan padanya.


"Hah, kamu ini malah membela istrimu yang jelas-jelas salah." Maya merajuk lalu dia melangkahkan kakinya cepat masuk ke dalam rumah.


Tommy menghela nafasnya. Irene mendekati sang suami. "Maafkan kesalahanku, Mas. Tapi aku sungguh tidak sengaja melakukannya. Mama menyuruhku menyiram bunga tapi aku tidak melihat kalau ada kaktus di situ," ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


Tommy mengangkat dagu Irene. "Sudahlah, tidak apa-apa. Mama bisa beli lagi nanti."


Setelah itu Tommy merangkul istrinya untuk ikut masuk ke dalam.


"Aku siapkan air hangat ya buat mandi." Tommy mengangguk. Irene berusaha melayani suaminya dengan baik. Ia tidak mau mengecewakan siapapun.


...***...


Di rumah Devon semua orang sedang berkumpul di meja makan.


"Ehem." Devon berdehem agar semua orang memperhatikannya.


"Anak-anak, aku mau sampaikan kabar gembira," kata Devon mulai pembicaraan.


"Kabar gembira apa, Pa? Kita akan liburan ke luar negeri ya?" Tanya Cello antusias.


"Wah, kita ke Korea aja om. Di sana lagi musim semi pasti menyenangkan," sahut Ruby tidak kalah antusias.


"Bukan, sayang. Om mau sampaikan kalau Tante Cindy sedang hamil."


Hening. Tak ada satu pun yang bersuara. "Cello apa kamu tidak senang kalau mama mau punya adik bayi?" Tanya Cindy dengan hati-hati.


"Kata teman-teman kalau punya adik bayi nanti mama akan lebih sayang sama dia dibanding Cello. Cello jadi sedih," jawabnya polos.


"Kalau kamu kenapa sedih Ruby?" Kali ini giliran Devon yang bertanya pada anak angkatnya itu.


"Aku juga sama seperti Cello, Om. Aku takut kalian tidak lagi menginginkan aku tinggal di sini jika adik Cello nanti lahir," ungkap Ruby dengan jujur.


Cindy bangkit dari kursinya lalu mendekati kedua anak itu. "Cello, Ruby, tidak akan ada yang disisihkan. Kami semua sayang kalian. Kalian tetap jadi prioritas kami meski adik Cello nanti lahir. Jangan berpikiran seperti itu lagi ya sayang-sayangku. Kami sayang sama kalian dan tidak akan berubah sampai kapanpun." Cindy memeluk keduanya dengan sayang.

__ADS_1


"Terima kasih Tante," kata Ruby sambil terisak. Dia sungguh terharu karena Cindy benar-benar menyayangi dirinya dengan tulus. Padahal Ruby tidak ada ikatan darah sama sekali dengannya.


"Sst, mulai sekarang panggil aku Mama!" pinta Cindy pada Ruby saat mengurai pelukannya.


Ruby kembali memeluk Cindy dengan erat. "Mama," panggilnya lirih. Ia sedih karena teringat Siska yang sudah meninggal dunia.


"Oh iya Ruby, besok aku ajak kamu ke makam mamamu. Sudah lama kita tidak mengunjunginya," kata Cindy. Ruby makin menyayangi Cindy karena dia tahu apa yang dia inginkan.


"Baiklah, besok minta sopir buat antar kalian," perintah Devon.


Keesokan harinya, Cindy menjemput Ruby ke sekolahnya. Cindy turun bersama dengan Cello. Semua orang yang melihat penampilan Cindy jadi terpesona.


Ruby datang dari arah yang berlainan. Ia melambaikan tangan ketika melihat orang yang dia kenal. "Mama," panggilan itu ditujukan pada Cindy. Ruby sangat senang mendapatkan ibu angkat baru.


"Itu ibunya Ruby? Setahuku ibunya bukan wanita cantik itu."


"Bapaknya menikah lagi kali?" Sahut temannya yang lain.


"Hissh bapaknya kan udah meninggal."


Banyak teman-teman Ruby yang membicarakannya di belakang.


"Wah keluarganya itu terlihat harmonis ya." Orang lain semakin iri melihat kedekatan mereka.


"Ayo, Ma. Berangkat sekarang!" Ajak Ruby sesuai menaiki mobil itu.


Setelah itu Cindy meminta sopirnya menjalankan mobil menuju ke makam. Lokasi makam Siska kebetulan tak jauh dari sekolahan Ruby.


"Ma, Cello tunggu di mobil ya. Di luar panas banget," ucap anak laki-laki itu.


"Iya, nanti ditemani Pak Hasan ya," jawab Cindy.


Lalu Cindy dan Ruby menuju ke makam Siska. Ruby masih memakai seragam hanya saja ia mengenakan jaket yang menutupi badannya. Sedangkan Cindy berpakaian serba panjang serta memakai penutup kepala seperti kerudung yang disampirkan ke pundaknya.


Namun, tiba-tiba seseorang mendekap Ruby dari belakang. Cindy ingin menolongnya tapi ia malah didorong oleh salah seorang penjahat itu. Cindy mengeram kesakitan ketika merasakan sakit di bagian perutnya.


"Arrgh perutku."


Orang lain yang melihat kejadian itu dari jauh nampak berteriak meminta bantuan. Ruby diseret ke dalam mobil. Sedangkan Cindy ditinggalkan begitu saja di dekat makam Siska. Kini ia sudah tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Cello tak sengaja melihat orang-orang menggotong ibunya. Anak kecil itu lalu menangis dengan kencang. "Mama," teriaknya sambil menunjuk ke arah ibunya.


"Den, ada apa?" Tanya Pak Hasan yang bingung.


"Mamaku mau dibawa kemana?" Tanyanya sambil menangis.


Pak Hasan mengikuti arah telunjuk Cello. Ia kaget saat orang-orang membawanya. Pak Hasan segera berlari mendekat. "Pak Tunggu, beliau ini majikan saya. Apa yang terjadi?"


"Dia pingsan di atas makam. Tadi kamu juga melihat gadis yang bersamanya dibawa menggunakan mobil," kata salah seorang saksi.


Pak Hasan tentu sangat terkejut. Ia langsung meminta mereka membawa ke mobilnya. Pak Hasan tak menghiraukan tangisan Cello yang meraung-raung. Yang terpenting saat ini adalah membawa majikannya ke rumah sakit.


Tidak butuh waktu lama Pak Hasan sampai di rumah sakit terdekat. Ia langsung memanggil perawat agar segera menangani Cindy. Sementara itu Cello yang masih menangis ia coba tenangkan tapi tidak berhasil. Pak Hasan merasa pusing lalu ia menelepon Devon dan mengabari tentang kejadian yang mereka alami


"Hallo, pak...." Pak Hasan merasa gugup saat ingin berbicara dengan Devon.


"Ada apa Pak? Kenapa tidak langsung bicara?"


"Anu Pak. Bu Cindy pingsan dan Mbak Ruby diculik orang."


"Apa?" Terdengar suara gebrakan meja sehingga mengagetkan Pak Hasan. Setelah itu Devon menutup telepon secara sepihak setelah ia menanyakan dimana istrinya dirawat.


"Bayu!" Teriak Devon.


Bayu memasuki ruangan setengah berlari. "Ada apa, Pak?" Tanya Bayu dengan nafas tersengal-sengal.


"Ruby diculik. Kerahkan anak buahmu untuk mencarinya. Aku akan menyusul istriku yang masuk rumah sakit karena pingsan." Devon menyambar jas dan kuncinya yang tergeletak di atas meja.


Bayu segera menindaklanjuti perintah atasannya itu. Ia mengirim orang untuk mencari Ruby.


Sementara itu di sebuah rumah kontrakan yang sepi mata Ruby tertutup rapat. Tanganny diikat ke belakang. Namun, mulutnya tidak dibekap.


Tak


tak


tak


Suara langkah kaki itu terdengar nyaring karena keadaan begitu sunyi. Meski tak bisa melihat Ruby merasakan kalau ada orang berdiri di dekatnya.

__ADS_1


__ADS_2