
"Siapa yang datang Bi?" teriak Cindy dari dalam.
Bayu masuk ke dalam unit apartemen milik Cindy. "Nona Cindy ada titipan dari Pak Devon," kata Bayu seraya menyerahkan sebuah paper bag kepada Cindy.
"Apa ini?" tanya Cindy pada Bayu.
"Silakan anda buka saja!"
Cindy pun membukanya. Ia tercengang saat melihat paper bag tersebut. Sebuah ponsel merk apel tergigit keluaran terbaru. "Ini untuk saya?"
"Iya, saya sudah menyimpan nomor Pak Devon dan nomor saya di dalamnya. Anda bisa hubungi nomor kami apabila butuh sesuatu. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Bayu setelah menjelaskan panjang lebar.
"Tunggu, Pak Bayu." Bayu mengentikan langkahnya lalu menoleh pada Cindy.
"Sampaikan terima kasih saya pada Mas Devon." Bayu mengangguk.
Setelah itu Cindy masuk ke dalam kamar lalu mengambil tasnya.
"Bi, hari ini saya ada jadwal ke kampus, tolong jaga rumah ya!"
"Non, kenapa tidak sekalian bareng Pak Bayu saja, mau saya panggilkan dia?" kata Bi Mona.
"Tidak perlu, Bi, saya bisa sendiri. Lagipula Pak Bayu itu orang sibuk jadi dia harus kembali bekerja. Saya juga harus mampir ke kosan saya yang dulu untuk mengambil buku-buku saya," terang Cindy panjang lebar.
Seusai majikannya keluar Bi Mona menelepon Bayu karena khawatir. Bayu menunggu Cindy di lantai dasar.
"Lho Pak Bayu belum kembali ke kantor?" tanya Cindy yang heran. Seharusnya laki-laki itu sudah pergi dari tadi.
"Silakan naik ke mobil nona." Tanpa menjawab pertanyaan dari kekasih atasannya itu, Bayu membukakan pintu mobil untuk Cindy. Mau tak mau Cindy menurut ajakan Bayu.
...***...
__ADS_1
Alan dan Irene sudah berada di gedung apartemen yang dimaksud oleh Devon. Mereka membunyikan bel unit apartemen tersebut. Lalu seorang laki-laki tampan membukakan pintu untuknya.
"Maaf sepertinya kita salah unit," kata Irene yang langsung berbalik badan saat ia tahu mereka salah alamat.
"Cari siapa?" Suara berat itu membuat Irene menghentikan langkahnya.
"Kami cari Cindy," jawab Alan.
"Setahu saya di sini tidak ada yang bernama Cindy, tapi coba tanya unit sebelah mungkin orang yang anda cari tinggal di sana," kata Tommy.
Alan dan Irene pun ke unit sebelah. Mereka kembali menekan bel. Bi Mona membuka pintunya. "Cari siapa?" tanya Bi Mona yang melihat dua muda-mudi bertamu ke unit apartemen Cindy.
"Apa betul Cindy tinggal di sini?" tanay Irene ragu. Ia takut salah alamat untuk yang kedua kali.
"Benar, kalian siapa?" tanya Bi Mona. Irene dan Alan terlihat senang.
"Kami temannya, tolong panggilkan Cindy, kami ingin bertemu," kata Irene.
"Nona?" Irene dan Alan saling pandang. Mereka menggelengkan kepalanya takjub dengan apa yang diberikan Devon padanya.
Namun, wajah Irene dan Alan yang semula ceria kembali sendu saat mendengar omongan wanita paruh baya tersebut.
"Aku capek Ren muter-muter Cindy gak ketemu juga, besok kita kembali lagi aja," usul Alan.
Mereka memutuskan untuk berpamitan pada Bi Mona. Lalu Irene berpesan agar menyampaikan bahwa mereka datang mencari Cindy. Bi Mona mengangguk paham.
Irene dan Alan pun keluar dari gedung apartemen dan kembali ke rumah mereka.
...***...
Di tempat lain Cindy yang sudah sampai di depan kosannya hendak membuka pintu mobil tapi Bayu lebih dulu turun lalu membukakan pintu untuk Cindy.
__ADS_1
"Terima kasih banyak Pak Bayu," ucap Cindy. Sungguh ia merasa tidak enak mendapatkan perlakuan seistimewa itu.
"Saya akan tunggu di sini," kata Bayu.
"Baiklah, saya cuma mengambil buku-buku saya dan beberapa barang yang tertinggal, bolehkah saya minta tolong pada Pak Bayu?"
"Silakan katakan saja nona!"
"Titip barang-barang saya antatkan ke apartemen."
"Baik nona." Bayu mengangguk.
Di seberang sana ada penghuni kos lain yang berbisik-bisik membicarakan Cindy. Namun, Cindy tak mengindahkan.
Ibu Kos yang mengetahui kedatangan Cindy kemudian menghampirinya. "Kamu kemana aja Cin kok baru kelihatan, pulangnya diantar om-om lagi," sindir Bu Kos.
Cindy mengatur napas agar tidak terpancing emosi. "Saya memang sudah lama ingin pindah dari sini Bu, saya ke sini untuk mengambil barang-barang saya. Lagipula saya sudah mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak. Terus terang saya kurang nyaman tinggal di kos-kosan ini, terutama sama orang-orangnya." Jawaban tak kalah pedas diberikan oleh Cindy. Bu Kos menjadi kesal ia memilih meninggalkan Cindy.
"Sombong amat, awas saja saya pasti akan menemukan bukti kalau kamu itu bukan cewek baik-baik," ancam Bu Kos sambil berlalu.
Cindy pun segera memberesi barang-barangnya. Sesaat kemudian Bayu memilih untuk mendekati Cindy agar ia bisa membantu mengangkat barang-barangnya.
"Biar saya saja non," Bayu mengambil alih barang bawaan Cindy. Ia tahu luka Cindy belum sembuh jadi ia tak mau terjadi apa-apa pada kekasih atasannya itu.
Setelah Bayu selesai memasukkan barang-barang Cindy ke bagasi, mereka pergi. Irma yang baru sampai di kos-kosan samar-samar melihat Cindy menaiki mobil mewah itu.
"Itu Cindy bukan sih?" Tanya Irma pada dirinya sendiri.
Di dalam mobil Cindy menangis karena ibu kosnya menyebut Cindy wanita murahan. Bayu yang melihat Cindy dari spion bagian depannya kemudian memberanikan diri untuk bertanya. "Apa yang membuat anda menangis nona?" Tanya Bayu.
"Tidak pak, saya hanya bersyukur Mas Devon memberikan banyak fasilitas untuk saya sehingga saya tidak harus tinggal di kos-kosan itu lagi," ungkap Cindy dengan jujur.
__ADS_1
"Semoga anda tidak menyembunyikan sesuatu nona," batin Bayu.