Click Your Heart

Click Your Heart
Part 11


__ADS_3

Semua orang sudah berkumpul,Cindy, Irene, Alan dan Dio siap melakukan shooting hari ini. Cindy sebagai director, Alan sebagai MUA, Irene sebagai camerawoman, dan Dio sudah pasti pemeran pastinya.


Hari ini mereka akan merekam profil Dio dan kesehariannya. Cindy dan krunya sudah sampa di rumah Dio.


"Beneran ini nggak sih rumahnya?" Tanya tanya Cindy memastikan alamat Dio dengan jelas.


Irene memeriksa pesan yang dikirimkan Dio kepadanya. "Betul mam nggak salah kok," jawab Irene.


Dio keluar dari rumahnya ia menyambut Cindy dan teman-temannya. Penampilan Dio masih seperti kemarin terakhir kali mereka make over.


"Mami jangan lupa nanti pasang kontak lens yang udah mami belikan untuk Dio,"bisik Alan mengingatkan.


"Oh iya hampir lupa terima kasih sudah mengingatkan," jawab Cindy sambil tersenyum.


"Selamat datang di rumah aku, maaf rumahnya berantakan,"ucap Dio sedikit merasa tidak enak.


Cindy melihat-lihat ke seluruh sudut rumah. "Gengs kayaknya kita perlu beres-beres nih tempat ini," perintah Cindy pada kedua asistennya. Alan dan Irene saling pandang kemudian mereka memutar bola matanya malas.


"Ck, belum apa-apa aja sudah merepotkan,"gerutu Alan sambil mengejutkan bibirnya.


"Alana yang ikhlas ya," Cindy mencoba merayu asistennya.


Setelah mereka membersihkan tempat itu, shooting pun dimulai. Tapi sebelumnya Cindy akan memasangkan kontak lens pada Dio.

__ADS_1


"Ren kamu bantu aku pasangkan kontak lens ke matanya Dio dong tangan aku kotor nih," Cindy menunjukkan tangannya yang belum dicuci. "Tolong ya!"ucap Cindy sambil meringis. Irene mencebik kesal tapi tetap saja dilakukannya.


"Gue lepas kacamata lo dulu ya?" Irene meminta izin pada Dio untuk melepas kacamata yang dia pakai.


Jarak Dio dan Irene begitu dekat. Irene merasa gugup saat pandangan mereka bertemu. Jantungnya berdebar serta tangannya gemetar saat akan memasangkan kontak lens pada mata laki-laki yang berdiri di depannya itu.


"Sorry," tangan Irene mulai memasukkan kontak lens ke mata Dio. Dio yang belum terbiasa memakai kontak lens merasakan perih di matanya. Irene menjadi panik.


"Sini gue tiup biar nggak perih," tangan Irene memegang kepala Dio lalu meniup matanya.


"Cie cie," Alan meledek Irene dan Dio. Keduanya jadi merasa canggung. "Yuk mulai shooting sekarang," perintah Cindy kemudian.


Cukup lama mereka melakukan shooting. Dio harus mengulang adegan berkali-kali karena dia merasa cukup di depan kamera.


"Udah waktunya makan siang nih kita udahan dulu ya," kata Cindy.


"Saya makan di rumah saja."


"Ya sudah kalau begitu kita pulang dulu ya Dio." Cindy, Alan, dan Irene pamit mereka naik taksi menuju ke sebuah restoran.


"Akhirnya kita makan juga. "Alan begitu senang melihat makanan yang ada di meja. Ia mengusap-usap tangannya seolah tak sabar untuk mencicipi makanan tersebut.


"Serang!" Cindy malam memberi aba-aba kepada keduanya. Mereka pun menikmati makanan yang dipesankan oleh Cindy.

__ADS_1


"Ya ampun perut gue kenyang banget makasih mam udah traktir kita, "kata Irene sambil mengusap-usap perutnya yang kekenyangan.


"Anggap saja ini bayaran untuk kerja keras kalian hari ini," kata Cindy sambil tersenyum pada kedua asistennya.


"Ah mami Cindy memang baik sedunia,"puji Alan.


"Lebay," cibir Cindy namun setelah itu terkikik mendengar ucapan Alan.


"Ren, nanti kamu jangan lupa edit videonya ya! Hasil editannya kamu kirim ke aku,"Irene mengangguk mendengar perintah Cindy.


Setelah itu mereka berpisah. Cindy kembali ke kosannya. "Sumpah capek banget gue hari ini," keluhnya.


Tak lama kemudian Irene mengirimkan pesan singkat pada Cindy yang berisi ia sudah mengirimkan surel ke email Cindy. Surel itu berupa video yang sudah diedit oleh Irene.


Cindy memeriksa laptopnya. "Good job Irene," gumam Cindy setelah melihat hasil kerja Irene.


Cindy pun meng-upload video itu di halaman biro jodohnya.


"Sambil nunggu gue tidur dulu ah ngantuk banget." Cindy menguap dan menggeliatkan badannya yang terasa pegal. Setelah itu ia pun merebahkan diri di kasur.


"Nona Cindy," panggil seseorang itu. Laki-laki yang tak terlihat wajahnya itu mengulurkan tangannya pada Cindy. Cindy menyambut uluran tangan itu dengan ragu.


Tak lama kemudian seseorang menyebut nama Cindy dan menggoyangkan badannya. Gadis itu terbangun. Ia membuka mata untuk melihat siapa yang membangunkan dirinya.

__ADS_1


"Irma ngapain sih elo pagi-pagi ke kamar gue?" protes Cindy masih dengan suara yang terdengar serak.


"Heh keterlaluan ya lo suruh jagain jemuran malah gak dijagain, da*lem*an gue pada kemana?" Mendengar keluhan Irma Cindy membelalakkan matanya."Hah?" Cindy terkejut.


__ADS_2