Click Your Heart

Click Your Heart
Part 108


__ADS_3

Membayangkan pertemuan Cindy dengan anaknya membuat Alma sadar kalau dia tidak bisa lagi mengharapkan Devon. "Mulai sekarang aku harus bisa move on. Aku tidak mau menjadi pengganggu di antara mereka. Aku yakin Tuhan akan menyiapkan jodoh terbaik untukku," Alma sibuk bermonolog.


Ia melepaskan jas kerjanya lalu menyampirkannya di lengan. Alma menyambar tasnya lalu keluar dari ruangannya.


"Alma mau pulang?" Tanya Devon dengan ramah.


Melihat senyum yang ditampilkan Devon membuat hati Alma kembali goyah. "Sungguh senyummu itu racun, Dev," batinnya.


"Ah, iya. Kamu mau kemana?" Tanya Alma.


"Aku ingin keluar sebentar mencari makan."


"Apa aku temani dia saja ya?" Pikir Alma.


"Dev..."


"Om Devon," panggil Ruby dari arah lain.


"Yuk, kita cari makan dulu," ajak Devon pada Ruby. Melihat kedekatan mereka membuat Alma curiga. Gadis itu mematung di tempat.


"Sebenarnya siapa sih Ruby dan ibunya ini? Ada hubungan apa mereka sampai sedekat itu?"


Lagi-lagi Devon mengacuhkannya sehingga membuat Alma mengacak rambutnya karena frustasi. Beberapa orang perawat yang melihatnya menahan tawa melihat dokter yang mereka segani tiba-tiba bertingkah konyol.


Sesaat kemudian Alma menyadari kalau dirinya masih berada di rumah sakit sehingga ia menutup wajahnya dengan tas yang ia bawa karena malu.


Alma kini telah berada di rumahnya. "Baru pulang nak?" Tanya sang ibu.


"Iya, Ma," jawabnya lalu berjalan ke dalam kamar.


Alma merasa lelah. Bukan hanya lelah karena dia sibuk menangani pasien tapi dia lelah karena masih saja mempertahankan perasaannya pada laki-laki yang dicintainya dari dulu.


"Tuhan kenapa masih saja aku memikirkan dia padahal aku tahu kalau dia sudah berkeluarga. Apa nasibku menjadi orang ketiga?"


Alma sungguh tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Sungguh kalau saja Cindy mengizinkan Devon beristri lagi dia rela menjadi istri keduanya.


Alam mengacak rambutnya karena frustasi. Namun, karena kelelahan matanya mulai terpejam.


...***...


Alma masuk ke ruangan Cindy. "Kali ini aku harus mengatakan perasaanku selama ini padanya. Aku sudah tidak bisa memendamnya lagi," gumam Alma di depan pintu ruangan Devon.


"Dev," panggil Alma.


"Apa kau ingin memeriksa istriku?" Tanya Devon. Sesaat kemudian ia berpaling pada istrinya dan tersenyum penuh cinta. Hal itu membuat Alma geram.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Dev," ungkap Alma sambil memejamkan mata. Antara yakin dan tidak yakin.


Cindy membulatkan mata mendengar pengakuan dokter yang memeriksanya selama ini. Devon merasa bingung bagaimana menjelaskan pada sang istri.


"Almahyra, apa maksud omonganmu itu? Kamu gila mengatakan hal itu di depan istriku?" Sentak Devon yang tak kalah terkejutnya dengan Cindy.


Dada Alma bergemuruh. Air matanya tertahan


"Ya, aku gila. Aku gila karena terus memikirkan dirimu. Tidakkah kau memberiku kesempatan?" Alma terus saja memaksa.


Devon memijit pangkal hidungnya. "Kau sadar apa yang kau katakan itu salah?" Tanya Devon.


"Tentu, aku sadar sepenuhnya. Aku tidak sedang mabuk atau meminum obat, Dev. Aku tulus mencintai kamu meskipun kamu sudah berkeluarga."


...Mengungkapkan perasaan memang tidak salah. Tapi alangkah baiknya memendam perasaan jika dengan mengungkapkannya akan membawa petaka. ...


"Ungkapan macam apa itu, nona." Kali ini Cindy beranjak dari tempat dia berbaring.


"Bagaimana kalau kita berada di posisi yang terbalik? Apa kamu tidak bisa merasakan kepedihan ku mendengar ungkapan cintamu pada suamiku? Mana ada istri yang mau di madu nona?" Cindy benar-benar sakit hati hingga matanya memerah menahan air matanya agar tidak tumpah di depan Alma.


"Aku, aku bersedia menjadi madumu. Berbagilah jika itu bisa dibagi."


Plak


"Berbagi itu bukan masalah hati nona. Kamu sudah sangat menyakitiku. Aku harap kamu tidak mendapatkan balasan yang lebih parah dari pada yang ku rasakan saat ini," ucap Cindy dengan sinis.


"Aku mau pulang sekarang. Aku muak tinggal di sini. Di sini hanya akan membuatku mati mendadak," cibir Cindy. Ia mencabut jarum infus yang menancap di tangannya.


Devon hanya terpaku tak bergerak sama sekali. Dia bingung apa yang harus dia lakukan sekarang.


"Mas," panggil Cindy ketika suaminya diam.


Alma keluar dari ruangan itu. Dia berlalu ke toilet. Di sana ia menangis tersedu-sedu tapi sambil menutup mulutnya agar tidak ada seorangpun yang mendengar.


"Harusnya kamu tidak melakukan hal bodoh seperti itu Alma," rutuknya saat bercermin.


"Aku harus minta maaf. Aku tak berniat menjadi pelakor. Aku tidak seburuk yang dia katakan. Tapi apa saat ini dia mau memaafkanku?" Alma bermonolog dengan dirinya sendiri.


Alma menarik nafas panjang. "Aku bersalah, ya aku yang harus meminta maaf." Alma memantapkan tekad untuk meminta maaf pada Devon dan Cindy.


Saat akan memasuki ruangan Cindy, Alma mendengar keduanya bertengkar hebat.


"Kamu tak henti-hentinya menyakiti aku, Mas."


"Sayang aku tidak bermaksud membohongimu. Aku memang mengenalnya karena dia teman SMA ku dulu. Celine juga mengenalnya." Devon berusaha membela diri.

__ADS_1


"Kenapa banyak sekali wanita yang menyukaimu. Dan semuanya selalu berusaha memisahkan kita. Siska, Lisa, dan sekarang dokter itu."


Deg


"Jadi Bu Siska merupakan salah satu wanita yang pernah dekat dengan Devon?" Lirih Alma ketika mendengar omongan Cindy yang sedang marah.


Tak lama kemudian pintu itu terbuka. Alma sangat terkejut tiba-tiba Cindy berada di depannya.


"Mau apa lagi?" Tanya Cindy dengan ketus pada Alma.


"Aku aku..."


"Sayang, tunggu," panggil Devon.


Cindy berjalan sambil tertatih. Dia bahkan tak peduli meski nyeri di perutnya masih sangat terasa begitu sakit.


...***...


Di tempat lain Arya mendengar kalau Siska masuk rumah sakit. Ia pun berencana menguasai kekayaan Siska.


"Siska, Siska, ternyata kamu masih rapuh seperti dulu. Kamu pernah sombong dengan menawarkan harga tinggi saat akan membeli sahamku. Aku akan membalasnya," gumam Arya tersenyum licik.


...♥️♥️♥️...


Mampir ke novel tamatku yuk, bagi vote, like dan koment yang banyak.


KEPINCUT CINTA MISS OJOL


BLURB :


Gak ada yang tahu gimana caranya kita bertemu jodoh. Gimana kalau elo pacaran sama adiknya tapi nikahnya sama kakaknya.


Itu juga yang dialami oleh gadis bernama Mutiara yang awalnya bekerja jadi driver ojek online kini menjadi istri pemilik saham terbesar di perusahaan tersebut.


"Bukannya begitu kak, bagiku ini terlalu mendadak, aku masih syok dengan pertunangan yang tiba-tiba ini masak iya langsung mau nikah?" kata Ara.


"Aku sih yes," kata Rasya.


"Aku no," jawaban Ara membuat semua orang menatap tajam padanya.


"Maksudku setidaknya kita butuh waktu untuk saling mengenal lebih jauh," Ara menunduk takut.


Lalu bagaimana ya lanjutan ceritanya?


DENGERIN AUDIOBOOK NYA JUGA YA

__ADS_1


__ADS_2