Click Your Heart

Click Your Heart
Part 120


__ADS_3

Hallo reader othor kembali manyapa kalian buat ngucapin terima kasih sudah mengikuti cerita ini dari awal. Maaf kalau ceritanya membosankan. Jangan lupa klik favorit, like dan komen sebanyak-banyaknya ya.


...♥️♥️♥️...


"Jadi cuma Irene sahabat baik kamu?" Suara itu membuat Alan menoleh.


"Ah, tidak. Kau juga sahabat terbaikku. Oh ya, jangan bilang Irene kalau aku datang ke pesta pernikahannya," kata Alan.


Cindy mengerutkan keningnya. "Kenapa?"


"Aku sudah cukup melihat dia bahagia. Beberapa hari yang lalu Tommy sempat marah karena dia mengira aku berselingkuh dengan Irene. Jadi aku tidak mau membuat hubungan mereka berantakan," terang Alan.


"Aku tahu kamu menyukai Irene. Meski dia bukan jodohmu aku berharap semoga kau dipertemukan dengan wanita yang lebih baik darinya," kata Cindy untuk menghibur Alan.


Setelah itu Cindy mencari keberadaan suaminya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ternyata Devon sedang menikmati makanan yang disediakan. "Sayang, kamu jangan kebanyakan makan nanti gendut lho," ejek Cindy sambil terkekeh.


"Entahlah, akhir-akhir ini naf-su makanku tiba-tiba meningkat. Aku selalu berselera dengan apa yang ku lihat," jawabnya.


Cindy terkekeh mendengarnya. "Rupanya suamiku yang nyidam," batin Cindy.


Beberapa saat kemudian Devon merasa mual. Ia clingak-clinguk mencari toilet. "Kan, kan, mual lagi pasti ini," tebak Cindy.


Ia pun mengajak suaminya mencari toilet. "Hueeek hueeek," Devon memuntahkan isi perutnya.


"Masih kuat jalan nggak Mas?" Tanya Cindy yang merasa cemas.


"Masih, kita pulang aja yuk Yang," ajaknya. Cindy menggangguk menjawab pertanyaan suaminya.


"Bay, aku duluan," pamit Devon pada Bayu yang masih menikmati pesta itu.


"Apa perlu saya antar pak? Sepertinya anda kurang enak badan?" Devon mengangkat tangannya. "Tidak perlu, kamu temani saja istrimu."


Setelah itu, Devon mengajak istrinya masuk ke dalam mobil. "Mas, kamu yakin bisa mengendarai mobil sendiri?" Tanya Cindy.


"Iya, sayang," jawab Devon seraya mengusap pipi istrinya.


Cup


Laki-laki itu mencium bibir istrinya sekilas. "Begini sudah menjadi obat untukku," godanya. Wajah Cindy jadi memerah karena malu.


"Ya sudah Mas jalan sekarang!"


...***...

__ADS_1


Sementara itu usai merayakan acara pernikahannya, kini Tommy mengajak Irene tinggal di rumah orang tua Tommy.


"Sayang, kamu mandi dulu gih! Nanti gantian," perintah Tommy pada Irene.


"Tapi aku sedikit kesusahan melepaskan bajuku ini," akunya.


Irene tak dapat meraih resleting di bagian punggungnya karena memakai kebaya yang terlalu ketat. Tommy yang merasa istrinya sedang kesulitan lalu dia mendekat ke arah Irene. "Aku bantu." Tommy langsung memegang resleting kebaya yang dipakai Irene lalu menariknya ke bawah.


Gluk


Tommy susah payah menelan salivanya setelah melihat punggung Irene yang sangat mulus. Laki-laki itu terpaku di tempat. Irene yang tak mendengar suaminya bersuara lagi lalu berbalik badan.


"Mas, kenapa?" Tanya Irene polos. Ia tak tahu kalau milik Tommy sudah on di bawah sana.


Tommy menarik pinggang Irene. Irene jadi tersentak kaget. Wajahnya mulai memerah karena posisi mereka sangat menempel.


Tommy mulai menempelkan bibirnya ke bibir Irene. Irene merasakan badannya panas dingin. "Apakah dia akan menuntut haknya sebagai suami?" Batin Irene dengan jantung berdebar kencang.


Irene hanya bisa pasrah. Tommy makin memperdalam ciumannya. Irene seketika mengalungkan tangannya ke leher sang suami. Ia membalas ciuman mesra suaminya.


Kini Irene berada di bawah Kungkungan Tommy. "Kamu siap?" Tanya Tommy pada wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Irene mengangguk malu-malu.


Mereka pun mulai pergumulan itu. Suara-suara merdu yang keluar dari mulut Irene sungguh membuat Tommy semakin bergairah. Ia mencoba menembus pertahanan Irene.


Maya yang sedang berada di kamarnya tidak bisa tidur karena dia membayangkan malam pertama pasangan pengantin baru itu. "Mereka sedang apa ya, Pa?" Tanya Maya pada sang suami.


Suaminya yang semula tidur membelakangi dirinya jadi berbalik. "Mama kayak nggak pernah jadi pengantin baru aja," cibir laki-laki tua di sampingnya.


Entah kenapa Maya begitu gelisah. "Mama ayo tidur apa mama ingin mengintip mereka biar tidak penasaran?" Goda suaminya.


"Ihk, papa nanti kalau mama ketahuan malu sendiri," tolak Maya.


"Ya sudah tidur saja!" Maya pun menurut pada perintah suaminya. Ia masuk ke dalam selimut.


Tiba-tiba sang suami berbalik badan dan memeluknya. "Daripada penasaran lebih baik kita yang melakukannya sendiri."


Wajah Maya bersemu merah mendengar ajakan suaminya. Ia sungguh malu padahal mereka sudah terbilang tua tapi sepertinya gai*rah suaminya itu tak pernah turun.


...***...


Di rumah Devon


Cindy sedang berada di kamar mandi. Ia bercermin dan melihat perutnya yang rata. "Sebentar lagi perutku ini akan membesar, tapi aku belum ingin mengatakannya pada mas Devon," ucapnya sambil terkikis sendiri. "Aku ingin tahu berapa lama dia nyidam," imbuhnya lagi.

__ADS_1


Tok tok tok


"Sayang, kamu ngapain aja di kamar mandi?" Tanya Devon dari luar.


"Aku akan keluar, Mas." Cindy membuka pintu.


"Sayang, apa kau menyimpan minyak kayu putih atau semacamnya?" Tanya Devon.


"Apa kamu merasa mual lagi, Mas?" Tanya Cindy khawatir. Devon mengangguk.


"Kasian sekali kamu mas, aku yang hamil kamu yang nyidam." Cindy tak sengaja membocorkan rahasianya.


Devon menajamkan telinganya. "Apa? Kamu hamil?" Tanya Devon memastikan.


Cindy mengangguk. Padahal niatnya memberi tahu saat perutnya sudah mulai membesar tapi dia sendiri yang keceplosan. Devon tak terlihat bahagia mendengar mengenai kabar kehamilan istrinya. Ia masih memikirkan apa yang pernah dikatakan oleh Alma.


"Mas, apa kamu tidak suka mendengar aku hamil?" Tanya Cindy yang melihat wajah suaminya itu tanpa ekspresi.


Devon menggeleng. "Aku khawatir padamu sayang, apa kandunganmu akan baik-baik saja?" Tanya Devon seraya menyentuh perut istrinya yang masih rata.


Cindy berpikir sejenak. "Apa dokter Alma mengatakan hal yang sama dengan dokter kandungan yang aku kunjungi kalau kehamilanku ini beresiko karena aku pernah beberapa kali operasi di bagian perut?" Devon mengangguk saat menjawab pertanyaan dari Cindy.


Cindy mengulas senyum. "Tenanglah Mas. Tidak akan terjadi apa-apa. Yang penting kita sama-sama menjaganya." Cindy berusaha meyakinkan suaminya.


"Sebaiknya Mas Devon istirahat, bukankah tapi merasakan pusing karena mual?" Tanya Cindy sambil tersenyum.


Devon sungguh tidak tega tapi Cindy sudah terlanjur hamil. Ia jadi merasa bersalah karena sering melakukan hubungan suami istri tanpa memakai pengaman.


"Kamu juga istirahat sayang," perintah Devon pada istrinya. "Sini aku peluk!" Cindy pun merapatkan tubuhnya. Devon mencium rambut Cindy yang wangi.


"Aku ingin kita seperti ini selamanya," gumam Devon sambil mendekap erat sang istri. Namun, sepertinya uang diajak bicara sudah tidur duluan.


"Aku janji akan selalu menjagamu dan calon anak kita," kata Devon. Ia mencium kening istrinya agak lama lalu memejamkan matanya.


Keesokan harinya Devon bangun lebih dulu dan menyiapkan susu hangat untuk sang istri. Cindy yang baru mengerjapkan mata terkejut ketika sudah ada segelas susu dan buah-buahan yang tersedia di atas nakas.


"Untuk siapa semua ini Mas?" Tanya Cindy yang belum sadar sepenuhnya.


"Selamat pagi sayang, aku sengaja buatkan susu untuk kamu. Ya, meskipun ini bukan susu hamil. Aku akan memberikanmu susu hamil nanti setelah pulang kerja ya?" Devon mengelus pipi Cindy dengan lembut.


Cindy jadi meleleh mendapatkan perlakuan manis di pagi hari dari suami tercintanya itu. "Terima kasih Mas. Aku malah merepotkanmu."


"Tidak, mulai hari ini kamu tidak boleh bekerja. Kamu di rumah saja ya." Cindy menurut.

__ADS_1


"Mama," teriakan itu membuat Devon dan Cindy menoleh.


__ADS_2