
Terjawab sudah pertanyaan dalam pikiran ibunya Tania tentang Alan. Kini dia yakin ingin menjodohkan Tania dengan pria yang menjadi pemilik rumah lamanya itu.
Suatu hari istri baru dari mantan suaminya mendatangi rumah Tania malam-malam. Tania terkejut ketika melihat wanita yang menjadi selingkuhan suaminya itu datang ke rumah. Ya, sebelum ibu mertuanya menyuruh suaminya menikah dengan wanita lain, mereka diam-diam berselingkuh di belakang Tania. Pada akhirnya mereka menikah setelah Tania bercerai dengan suaminya.
"Mau apa kamu datang ke sini?" Tanya Tania dengan nada sinis.
"Katakan! Di mana kamu sembunyikan suamiku?" Tanya wanita itu. Dadanya naik turun karena menahan emosi.
Tania menarik ujung bibirnya. "Menyembunyikan suamimu? Seperti tidak ada kerjaan saja," cibir Tania. Tania akan menutup pintu rumahnya tapi tangan istri mantan suaminya itu menahan pintunya.
"Lalu jika tidak bersamamu dengan siapa lagi?" Tuduh wanita itu. Tania tidak terima.
"Kamu pikir aku mau kembali dengan laki-laki yang begitu mudahnya melepaskan diriku?" Tania menaikkan intonasi suaranya. Sikap wanita yang datang bertamu malam-malam itu sudah tidak bisa ditolerir lagi.
Wanita itu mundur selangkah. "Sudah berhari-hari Mas Fikri jarang pulang. Pasti dia ingin kembali padamu."
"Atas dasar apa kamu menuduhku seperti itu?" Bentak Tania tak takut.
"Dia sendiri yang bilang akan meninggalkanku demi wanita lain jika aku tak kunjung memberinya anak," jawabnya dengan menundukkan kepalanya.
Tania menarik ujung bibirnya. "Lalu kamu curiga padaku? Kenapa tidak mencari di tempat wanita murahan yang menjajakan dirinya. Kamu pikir aku ini tidak punya harga diri, setelah dibuang lalu meminta kembali? By the way apa kamu sudah memeriksakan kandunganmu?" Tanya Tania.
"Apa pedulimu?" Jawabnya ketus.
"Kamu tidak curiga telah berhubungan badan dengannya begitu lama tapi tak kunjung hamil? Apa ibu mertuamu menuduhmu sebagai wanita mandul?" Dia mengangguk lemah.
"Aku sudah memeriksakan kandunganku. Kata dokter aku subur dan tidak ada masalah. Tapi ketika aku ingin mengajak Mas Fikri dia tidak mau," ungkapnya.
"Kamu seharusnya curiga padanya. Kalau dia wanita yang dinikahi tak kunjung hamil? Apa dua-duanya mandul? Belum tentu bukan? Aku curiga selama ini mas Fikri yang mandul tapi dia sengaja kawin cerai agar bisa berhubungan dengan wanita yang berbeda tanpa harus berzina." Tania mengungkapkan kekesalannya.
"Lalu di mana dia sekarang?" Tanya wanita yang mulanya tak ramah itu.
Tania hanya menggedikkan bahu lalu menutup pintu tapi permisi.
"Siapa Tan? Datang ke rumah orang kok nggak sopan banget," gerutu sang ibu.
"Sudah Bu jangan dihiraukan." Tania pun berlalu ke kamarnya.
__ADS_1
Padahal Tania sudah lama melupakan mantan suaminya bahkan dia sama sekali tak mencari tahu tentang kehidupan baru mantan suaminya itu. Tapi Tania seolah dihantui oleh tuduhan-tuduhan yang tidak menyenangkan dari orang-orang di sekitar Fikri.
Pernah suatu hari ketika Tania lewat di restoran, tak sengaja dia mendengar mantan ibu mertuanya itu membicarakan dirinya. Padahal Tania saat itu sudah berpisah dengan Fikri. Siapa yang tidak sakit hati jika orang lain menjelekkan diri kita.
Tania ingin membalas suatu hari nanti tapi dia tidak ingin berbuat kekerasan. Kemudian Tania memikirkan tawaran ibunya untuk menikah lagi.
Tiba-tiba malam itu Tania menghampiri ibunya. "Bu, ibu pernah menyuruh aku menikah lagi bukan?"
"Kenapa Tan? Kamu sudah menentukan jodoh kamu?" Tanya sang ibu yang penasaran dengan jawaban putrinya.
"Belum Bu. Apa ibu punya rekomendasi?"
"Ada, ada," jawabnya sambil manggut-manggut.
"Siapa Bu?" Tanya Tania penasaran.
Ibunya berpikir cepat. "Besok temui dia di sebuah restoran. Ibu akan bilang padanya dulu. Siapa tahu dia tidak mau menikahi janda irit ngomong kaya kamu," ledek sang ibu.
Setelah Itu ibunya menemui Alan pagi-pagi sekali sebelum berangkat bekerja. Alan terkejut ketika melihat tamu yang datang ketika sedang mengeluarkan motor.
"Nak, nanti siang ibu mau traktir kamu makan di restoran mau?"
"Jangan siang bu, jam istirahat saya pendek soalnya. Bagaimana kalau malam?" Tanya Alan memberikan pilihan.
"Boleh nak, nanti malam ya. Oh ya ibu boleh minta nomor telepon kamu?" Alan mengangguk. Lalu dia mengeluarkan ponselnya.
Setelah itu ibunya Tania pulang karena dia tahu Alan akan berangkat kerja.
"Dari mana Bu pagi-pagi begini sudah keluar?" Tanya Tania. Akhir-akhir ini ibunya bertingkah aneh seperti ada yang disembunyikan.
"Dari warung depan?" Bohong ibunya.
"Kok nggak bawa sarapan sekalian?" Tanya Tania.
"Ya ampun ketinggalan di warung," bohongnya padahal dia belum membeli sarapan.
"Ya sudah Tania berangkat aja nanti delivery makanan aja di kantor." Tania meraih tangan ibunya untuk disalami.
__ADS_1
Setelah itu Tania berangkat menggunakan mobilnya. Ketika di perjalanan menuju ke kantornya, Tania yang buru-buru. Dia menerobos lampu merah karena dilihatnya belum ada pengendara dari arah lain yang berbelok. Namun, tiba-tiba ada sebuah motor yang tak sengaja menyenggol mobil Tania.
Tania menghentikan mobilnya. Pengendara motor matic itu juga berhenti. Dia terkejut ketika mobil yang ditabrak adalah milik Tania.
"Mbak maaf mobilnya saya tabrak," ucap Alan sambil tersenyum kecut pada Tania.
"Eh gak apa-apa mas cuma lecet dikit, saya yang salah karena menerobos lalu lintas." Tania tidak enak pada Alan.
"Bagaimana kalau kita bawa mobil mbak ke bengkel supaya diperbaiki nanti saya yang tanggung biayanya," kata Alan.
"Tidak usah mas. Lagian saya buru-buru, nanti atasan saya ngomel," balas Tania. Dia memang salah jadi tak seharusnya dia meminta Alan mengganti rugi.
"Baiklah, bagaimana kalau besok saja kita bicarakan lagi, saya juga mau berangkat kerja." Tania mengangguk setuju.
Setelah itu Tania meninggalkan lokasi. Ketika di parkiran, Tania melihat bagian mobilnya yang lecet. "Yagh lumayan parah nih," gerutunya.
Dari kejauhan Tommy melihat Tania berhenti di samping mobilnya. Lalu dia mendekat. "Kenapa Tan?" Tanya Tommy yang melihat Tania berjongkok ketika sedang melihat bagian mobilnya.
"Eh, Pak. Mobil saya habis ditabrak orang pak."
"Kamu sudah minta ganti rugi?" Tanya Tommy.
Tania menggeleng. "Tidak, ini salah saya karena saya menerobos lampu lalu lintas."
"Tapi tetap saja kamu seharusnya minta ganti rugi."
"Saya masih bisa kok pak membayar uang masuk bengkel. Lagipula dia bekerja hanya sebagai pelayan toko pasti gajinya tidak seberapa."
"Apa kamu kenal orangnya?" Tanya Tommy.
Tania mengangguk. "Dia orang yang membeli rumah saya," jawabnya.
Tommy tidak mengetahui kalau yang dimaksud oleh Tania adalah Alan. "Pantas kamu sungkan." Tommy berjalan masuk ke gedung kantor sedangkan Tania mengikutinya di belakang.
...♥️♥️♥️...
MasyaAllah sepi komen yang udah baca komen dong apa aja boleh kok asal yang sopan ya 🙏
__ADS_1