
Tommy mengajak Irene ke acara pernikahan Bayu. Irene telah meminta Alan untuk meriasnya ketika akan berangkat bekerja. Alan bilang kalau dia mendapatkan orderan untuk merias pengantin.
Tin tin
Klakson mobil Tommy telah terdengar tandanya dia sudah sampai di depan kos. Irene pun bergegas keluar.
Tommy tertegun ketika melihat penampilan kekasihnya itu. "Kamu cantik sekali," puji Tommy.
Irene mengulas senyum manisnya. "Tentu saja aku tidak mau membuatmu malu di depan orang lain, apa aku sudah pantas menjadi kekasihmu?" Tanya Irene setengah meledek.
"Pantas sangat pantas," kata Tommy.
Lalu ia membukakan pintu mobil untuk Irene. Irene pun masuk. Lalu Tommy melaju dengan kecepatan sedang ke hotel tempat berlangsungnya pesta.
Tak butuh waktu lama, keduanya sampai. "Apakah aku boleh menggandeng lenganmu?" Tanya Irene.
"Tentu," jawab Tommy sambil tersenyum.
Baru berjalan beberapa langkah, Tommy disapa oleh koleganya. "Siapa gadis manis yang bersamamu ini Pak?" Tanya salah seorang kolega Tommy.
"Dia kekasihku."
Blush
Wajah Irene seketika merona. "Alhamdulillah akhirnya dia mengakuiku sebagai kekasihnya." Batin Irene senang.
Laki-laki itu mengulurkan tangan ingin berkenalan dengan Irene. Irene menoleh pada Tommy. "Namanya Irene," Tommy mewakili Irene berbicara. Tommy tidak mengizinkan laki-laki lain menjabat tangan kekasihnya.
Lalu Devon dan Cindy menghampiri Tommy. "Tunggu tunggu sepertinya aku mengenal gadis ini," kata Cindy meledek sambil didiringi tawa.
Wajah Irene jadi memerah karena malu. "Kalian jadian?" Tanya Devon yang mengenali Irene meskipun dia telah memakai kontaks lens.
"Seperti yang kalian lihat," jawab Tommy.
"Ren apa hari ini kamu sakit gigi? Kenapa tak menjawab pertanyaan dari kami?" Tanya Cindy.
"Aku malu," cicitnya.
"Aku senang kalian jadian. Aku doakan kalian bisa menyusulku dan Pak Bayu," harap Cindy.
"Ah sepertinya aku haus bagaimana kalau kita ambil minuman dulu," Tommy mengalihkan pembicaraan.
Lalu ia pun mengajak Irene mengambil makanan tapi sebelumnya dia menyalami mempelai pengantin terlebih dulu.
"Irene."
"Irma."
__ADS_1
Tunjuk masing-masing. "Ternyata itu benar kalau kamu yang menikah dengan pak Bayu."
"Kalian kenal?" Tanya Pak Bayu.
"Ya kita tetangga, dulu," jawab Irma. Irene mencebikkan bibir.
"Selamat untuk kalian," ucap Tommy lalu memeluk Bayu.
"Terima kasih Pak."
Setelah itu Alan tak sengaja menabrak Irene. "Ya ampun elo di sini say?" Tanya Alan dengan suara khasnya yang lemah gemulai.
"Aku tidak menyangka kita bertemu, rupanya klienmu itu adalah Irma?" Alan mengangguk.
Tommy tidak suka melihat kedekatan Alan dan Irene. Entah kenapa dia cemburu meski sudah tahu mereka bersahabat.
Ehem
Tommy berdehem untuk memberitahu keberadaan dirinya. Alan mengangguk hormat. " Ya sudah Ren aku pulang duluan, atau kau ingin nebeng denganku?" Tanya Alan.
"Tidak Irene datang bersamaku maka dia juga akan pulang denganku," tegas Tommy.
"Baik, saya duluan." Pamit Alan.
...***...
Devon tersenyum licik. Ia menarik pinggang istrinya. "Apa?" Tanya Cindy ketus.
"Aku masih lapar," kata Devon dengan saringai licik.
Lalu ia menempelkan bibirnya pada bibir Cindy. "Bibirmu selalu menjadi canduku," ucapnya dengan suara parau.
Ia pun menggendong Cindy lau mengajaknya ke kamar. Ia merebahkan tubuh Cindy perlahan. Kini Cindy berada di bawah kungkungan Devon. Ia kembali mencium bibir istrinya dengan lembut.
Hingga malam panjang pun mereka lewati bersama dengan tubuh yang mulai menyatu. Perlakuan Devon yang sangat halus dalam memanjakan Cindy, membuat wanita itu merasakan kehangatan dan kenyamanan.
...***...
Sementara itu di hotel Irma berada di kamar yang sama dengan Bayu. Jujur saat ini Irma merasa gugup. Ia hanya berdiri di depan cermin dengan masih memakai kebayanya.
"Mau aku bantu lepaskan..." kata Bayu.
Irma merasa gugup. "Tidak, a-aku bisa melepas bajuku sendiri," jawab Irma dengan terbata-bata. Ia berdiri dan hendak masuk ke kamar mandi tapi sayangnya kakinya tersandung.
Untung saja Bayu sigap menangkapnya. "Bisakan jalan pelan-pelan kenapa kau tiba-tiba segugup ini? Bukankah sebelumnya kau selalu melayani pria hidung belang."
Rupanya perkataan Bayu menyinggung perasaan Irma. Irma pun meneteskan air mata. Bayu tiba-tiba merasa bersalah. Ia mengusap air mata Irma saat menyadari kesalahannya.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku janji tidak akan menyinggung masa lalumu," ucapnya dengan lembut.
Irma mendongak. "Apa kau akan setia padaku?" Tanya Irma sambil menatap mata Bayu.
"Tergantung."
Irma mengerutkan keningnya. "Tergantung apa?"
"Tergantung apa kau juga akan setia padaku atau tidak." Setelah mengucapkan kalimat itu, Bayu mencium bibir Irma. Meski sudah pernah merasakannya. Tapi ia ingin mengulang itu terus dan terus karena Irma sudah menjadi candu untuknya.
Namun, Bayu tak mau menyakiti bayi yang dikandung Irma. Saat ia ingin melakukan pelepasan, Bayu pun menahannya. "Pakai pakaianmu, aku akan mendinginkan badan," kata Bayu dengan datar.
Entah kenapa Irma merasa kecewa. Padahal yang dilakukan Bayu semata-mata agar tidak menyakiti dia dan bayinya.
...***...
Di tempat lain, Tommy pulang tengah malam bersama Irene. Tommy ingin menghabiskan malam bersama kekasihnya itu. Seusai dari acara pernikahan Bayu, Tommy mengajak Irene berjalan-jalan untuk membeli makanan di pinggir jalan.
Setidaknya itu kebiasaan Irene ketika bersama dengan Alan. Tommy tidak mau posisinya tergantikan oleh laki-laki manapun tak terkecuali Alan.
"Terima kasih telah mengantarkan aku dengan selamat, dan terima kasih banyak makanannya. Mungkin aku akan tidur dalam keadaan kekenyangan nanti."
"Kau boleh bagi-bagikan pada teman kosmu," usul Tommy.
"Ah itu benar. Sekarang pulanglah anak mama," ledek Irene.
"Yang kau anggap anak mama ini juga bisa menjadikanmu seorang mama." Sontak perkataan itu membuat Irene menutup mulutnya tak percaya kalau kekasihnya itu mendadak mesum.
"Pulanglah!" Usir Irene sambil mendorong Tommy. Tommy malah terkekeh. Ia mengecup pipi Irene sekilas.
"Baru awal, nanti akan kuberikan lebih," goda Tommy.
Wajah Irene sidah memerah karena malu. Sungguh perlakuan Tommy itu di luar dugaannya.
Tommy pun masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya. Irene melambai ke arah kekasihnya.
Hari-hari bagi sepasang kekasih yang sedang merajut kasih itu terasa indah karena mereka belum memperoleh ujian cinta yang sebenarnya.
...***...
Setelah dicampakkan dua lelaki, akhirnya Lisa menjatuhkan pilihan terakhirnya pada Tommy. Ia kembali mendekati Maya agar dia mau menerimanya sebagai calon pasangan Tommy.
Lisa bahkan sampai mendatangi rumah Maya. "Long time no see tante," ucap Lisa ketika Maya membukakan pintu.
"Hei, ada apa kamu tiba-tiba datang kemari?" Tanya Maya.
"Aku baru saja liburan dari Singapura, Tante. Ini kubawakan oleh-oleh dari sana." Lisa menyodorkan sebuab paper bag besar.
__ADS_1
"Wah kenapa harus repot-repot, yuk masuk!" Ajak Maya. Lisa pun mengulas senyum liciknya.