
Eng
Ing
Eng
Othor nggak jadi tamatin novel ini akibat tuntutan level ya, semoga bulan depan makin naik ya levelnya. Aku nggak akan update banyak perbabnya yang penting rutin update ya.
Ntun mah suka gitu ya suka bikin surprise. Yuk dukungannya biar othor nggak stuck ide.
Selamat membaca kembali.
♥️♥️♥️
"Assalamualaikum," Devon memberi salam pada orang rumahnya. Mereka baru saja pulang dari rumah sakit. Hari ini Cindy membawa bayi kecil mereka ke rumah.
"Waalaikumsalam, Pa," jawab Ruby.
"Mama, papa," teriak Cello. Ia berhambur ke pelukan ayahnya.
Cindy menempelkan jari di bibirnya memberikan kode supaya Cello tidak berisik. Cello refleks menutup mulutnya. Devon terkekeh melihat kelakuan lucu anaknya.
Ruby sangat senang melihat adik kecilnya itu. "Ma siapa namanya?" Tanya Ruby. Cindy melirik ke arah sang suami.
"Daisy Genandra Felicia," jawab Devon.
"Panggilannya apa?" Tanya Cello.
"Kamu bisa panggil dia Daisy," jawab sang ayah.
"Nama yang cantik seperti anaknya," puji Ruby ia menempelkan hidungnya ke pipi adik kecilnya itu.
"Kamu pengen gendong?" Tawar Cindy.
Ruby menggeleng. "Nggak, Ma. Aku takut kalau jatuh," tolak Ruby.
"Cello mau gendong," rengek Cello.
"Abang belum boleh gendong," kata Cindy. Cello mengerucutkan bibirnya. Devon berjongkok untuk memberi pengertian pada anaknya. "Tangan Cello masih kecil, adik bayi walaupun kecil tapi dia berat." Devon mencoba memberikan pengertian pada anaknya itu.
"Dek, gimana kalau kita makan dulu biar kamu cepet besar, nanti kalau tangannya kuat bisa gendong adik." Ruby menggandeng tangan kecil Cello mengajaknya ke ruang makan.
Sedangkan Cindy membawa bayinya ke dalam kamar. Ia takjub ketika ia masuk ke dalam kamar yang telah dipersiapkan oleh suaminya. "Kamarnya cantik sekali," kata Cindy.
"Apa kamu suka?" Cindy mengangguk menjawab pertanyaan suaminya.
"Kamu bisa menidurkan bayi kita di sini." Devon menunjukkan box bayi yang ia beli. Cindy sangat bahagia karena suaminya begitu pengertian. "Terima kasih, Mas." Ia menempelkan bahunya ke bahu suaminya.
__ADS_1
Devon merangkul bahu istrinya. "Sebaiknya kamu tidurkan dia!" Saran Devon berkata dengan lirih karena tak ingin anaknya terbangun.
Cindy meletakkan putri kecilnya itu di box bayi. "Kebahagiaan kita sudah lengkap, sudah ada anak laki-laki dan perempuan. Ditambah Ruby bagiku kalian sangat berarti," ucap Cindy.
"Terima kasih, sayang sudah berjuang melahirkan anak kita dengan susah payah," kata Devon dengan tulus.
"Apa kita perlu mempekerjakan pengasuh untuk membantumu merawatnya?" Tanya Devon.
"Aku rasa tidak perlu, Mas. Aku masih bisa mengurus anak-anak meskipun bertambah satu anggota keluarga lagi," tolak Cindy.
"Baiklah, kau beristirahatlah sayang. Dari tadi kamu pasti capek karena berdiri terus." Perintah Devon pada istrinya.
Cindy merebahkan badannya di atas tempat tidur di kamar anaknya. "Aku ingin tidur sebentar," ucap Cindy. Devon mengangguk paham. Ia pun menaikkan selimut lalu membiarkan istrinya tertidur.
Cup
Devon mengecup kening istrinya dengan singkat. "Selamat beristirahat," ucapnya sebelum keluar dari kamar tersebut.
*
*
*
Di tempat lain, Irene sedang menjaga toko kue milik Cindy. "Hah, nasib-nasib. Sendiri lagi kan." Irene tak berhenti mengeluh.
Semenjak Irma hamil, Bayu melarangnya bekerja lagi sehingga Irene harus menjaga toko sendirian. Ia sibuk berselancar di marketplace. Irene memang gemar sekali berbelanja online.
Irene menoleh saat seseorang menepuk bahunya. "Mas, kamu ngapain di sini?" Tanya Irene bingung ketika suaminya tiba-tiba berdiri di belakangnya.
"Kamu sedang apa?" Tanya Tommy seraya mengintip apa yang istrinya lakukan sambil memegang ponselnya.
"Aku bosan, Mas," jawab Irene.
"Kenapa kamu tidak ajak salah satu dari mereka keluar untuk makan misalnya?" Tommy menunjuk pada karyawan yang sedang bekerja di toko roti itu.
"Owh, aku tidak seakrab itu dengan mereka," ucap Irene sambil terkekeh.
"Oh iya, aku ingin kita mampir ke rumah Cindy nanti, aku ingin lihat ponakan baruku boleh tidak?" Tanya Irene.
"Sebaiknya kita datang jika badan kita dalam keadaan bersih. Maksud aku kita pulang dulu, mandi lalu ganti baju. Siapa tahu nanti kalau kamu di sana kamu ingin menggendongnya?" Tommy memberikan saran.
Irene tampak berpikir sejenak. "Ya, kamu benar. Sebentar lagi aku tutup toko, kamu mau tunggu?" Tanya Irene pada suaminya. Tommy mengangguk.
"Baiklah, kerjaan aku juga sudah selesai," jawab Tommy dengan mengulas senyumnya.
Lalu Irene kembali bekerja. Sementara Tommy menunggu di ruangan Irene. Ia mengeluarkan ponselnya. Lalu ia berselancar ke media sosial.
*
__ADS_1
*
*
Di apartemen Bayu, Irma yang sedang hamil muda harus merasakan mual muntah yang begitu terlalu sering di awal trimester kehamilan keduanya. Ia tampak lemas bahkan dia enggan bangun dari tempat tidur.
Karena tidak memiliki saudara atau orang lain yang bisa diandalkan, Bayu mulai mempekerjakan seorang asisten rumah tangga di apartemen yang tidak begitu luas itu. Ia akan datang di saat bekerja lalu pulang ke rumahnya kembali setelah selesai.
"Bu, mau saya buatkan bubur?" Tanya Bi Tuti pembantu barunya.
"Boleh, Bi. Saya memang lapar tapi perut saya selalu memuntahkan apa yang saya makan," akunya dengan suara yang lemah.
"Baik, Bu." Bi Tuti pamit ke dapur.
Lalu Irma merebahkan diri kembali karena kepalanya terasa berat apabila ia memaksakan untuk berdiri.
Tok tok tok
"Masuk," perintah Irma pada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
Ceklek
Bayu membuka engsel pintu. "Bagiamana keadaanmu sayang?" Tanya Bayu.
"Oh rupanya dirimu, Mas." Irma hendak bangun tapi Bayu melarangnya. "Buat tiduran saja. Aku kira tadi kamu tidur."
"Aku baru akan tidur, Mas."
"Lalu apa aku menggangumu?" Tanya Bayu sambil menyelipkan anak rambut Irma ke belakang telinganya.
"Tentu saja tidak, aku malah ingin memelukmu." Irma benar-benar memeluk Bayu pada saat itu. Tapi sesaat kemudian dia berlari ke kamar mandi.
Huekk Huekk
Irma kembali muntah tapi kali ini tidak mengeluarkan apapun. Bayu yang khawatir lalu menyusulnya.
"Berhenti di situ, Mas. Aku tidak tahan dengan baumu." Tangan Irma menghadang suaminya.
Bayu berhenti melangkah. Irma yang berada di depan wastafel lalu berbalik. Namun saat ia akan melangkahkan kaki ke luar, tiba-tiba dia pingsan.
Untung saja Bayu berada di dekatnya sehingga ia dengan cekatan menangkap tubuh istrinya yang terkulai lemas itu. Bayu segera merebahkan tubuh istrinya di atas kasur.
"Loh nonya kenapa tuan?" Tanya Bi Tuti yang baru masuk ke kamar Irma seraya membawa sebuah nampan yang berisi semangkuk bubur yang masih panas.
"Dia tiba-tiba pingsan setelah muntah," jawab Bayu. "Tolong jaga dia sebentar aku akan menelepon dokter," pinta Bayu pada asisten rumah tangganya. Bu Tuti mengangguk paham.
Bayu merogoh ponsel yang ada di saku ceelana nya. "Hallo, dok. Bisa datang ke rumah saya?"
(....)
__ADS_1
"Baik, Dok."
Apa yang terjadi selanjutnya simak terus ya kisahnya. Yuk kasih dukungan dengan memberi komentar.