
...“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak ajakan suaminya melainkan yang di langit (penduduk langit) murka pada istri tersebut sampai suaminya ridha kepadanya.” (HR. Muslim)....
...***...
Devon selalu diselimuti gairah ketika melihat istrinya. Dia memaksa istrinya mandi tiga kali dalam sehari. Devon mendorong istrinya hingga punggungnya membentur dinding. Dilanjutkan dengan mencium bibir Cindy penuh kelembutan. Cindy pun tak menolak dengan sentuhan yang diberikan oleh suaminya itu.
Tak berhenti sampai situ, Devon menuruni ceruk leher istrinya yang mulus itu. Cindy mulai terbuai. "Mas..." Cindy menjambak rambut suaminya.
"Kamu selalu membuatku candu sayang." Laki-laki itu melakukan penyatuan di kamar mandi. Devon sering sekali membuat istrinya itu mandi tiap malam hanya untuk menemani dirinya.
"Terima kasih sayang," kata Devon usai keluar dari kamar mandi.
"Haccih haccih, sepertinya aku mulai flu," kata Cindy. Hidungnya terasa gatal.
"Sayang, apa kamu punya obat flu? Akan aku ambilkan untukmu," kata Devon yang cemas sekaligus merasa bersalah telah membuat istrinya sakit.
"Tidak apa-apa nanti juga sembuh sendiri," kata Cindy sambil tersenyum pada suaminya.
"Akan kuambilkan teh hangat untukmu," Devon beranjak dari kamarnya menuju ke dapur. Tak lama kemudian dia masuk dengan membawa teh hangat untuk istrinya.
"Minumlah!" Devon menyodorkan secangkir teh hangat untuk istrinya.
"Terima kasih banyak Mas," kata Cindy seraya menerima cangkir pemberian suaminya itu.
"Aku harap kamu baik-baik saja besok, sekarang beristirahatlah, sayang," kata Devon.
Cindy merebahkan badannya di atas ranjang. Devon membantu menaikkan selimut. Lalu ia mengecup kening istrinya sekilas. "Selamat malam sayangku," ucap Devon dengan lembut.
...***...
Keesokan harinya, Cindy bangun pagi untuk mengantarkan anaknya ke sekolah. "Cello, bangun nak!" Kata Cindy dengan lembut.
"Cucu Ma," kata Cello meminta susu pada ibunya.
Cindy pun mengambil botol lalu mengisinya dengan susu buatannya. "Habis minum langsung bangun ya!" Pinta Cindy.
Sambil menunggu anaknya menghabiskan susu, Cindy menyiapkan keperluan suaminya. "Sayang, tolong pakaikan dasiku!" Perintah Devon.
Cindy pun meraih dasi dari tangan suaminya. "Apa anak kita sudah bangun?" Tanya Devon.
"Sudah tapi katanya minum susu dulu baru mandi."jawabnya.
__ADS_1
"Sudah selesai. Mas langsung ke meja makan ya, aku mau nengok Cello dulu." Setelah itu Cindy melangkahkan kakinya ke kamar Cello.
"Ya ampun ni anak malah balik tidur lagi," gerutu Cindy.
"Hayo kemaren siapa yang merengek minta sekolah?" Sindir Cindy di depan anaknya.
Cello mengangkat tangan tapi dengan mata terpejam. "Bangun dulu yuk sayang, nanti habis mandi kita berangkat ke sekolah." Cindy mencoba membujuk anaknya.
Cello diam saja. Akhirnya Cindy menggendong anaknya sampai di kamar mandi. "Mama guyur ya ini," kata Cindy ketika Cello sedang dimandikan. Cello mengangguk pasrah. Matanya masih mengantuk. Maklum selama ini dia bangun sampai siang karena belum pernah ke sekolah.
Devon memasuki kamar anaknya. "Sayang aku berangkat sekarang ya," pamit Devon sambil mencium istrinya sekilas.
"Cello jangan tidur mulu," Devon yang gemas mencubit pipi anaknya pelan.
"Aw, papa nakal," Devon hanya terkekeh mendengar omongan anaknya.
"Mas kamu nggak diantar sama sopir?" Tanya Cindy sambil mengganti baju Cello.
"Tidak sayang, itu satu-satunya mobil yang aku sisakan buat antar kamu dan Cello agar bisa mengantarmu kemanapun kalian pergi. Sementara ini aku nebeng Bayu."
Cindy miris mendengar penuturan suaminya. Benarkah mereka sedang mengalami kebangkrutan? Cindy bahkan tak berani membayangkan nasibnya.
"Hati-hati di jalan mas," pesan Cindy pada suaminya. Devon mengangguk.
Cello menggeleng. Ia malah merebahkan kepalanya di atas meja. "Ya ampun, kasian banget sih yang pertama kali bangun pagi," kata Cindy sambil terkekeh.
"Ya sudah mama buatkan bekal lalu kita bawa ke sekolah. Oh ya ampun, Mas Devon belum memberikan uang padaku," gumam Cindy.
Setelah itu Cindy menelepon suaminya. "Dugh nggak aktif lagi, ayo Cello kita berangkat sekarang agar bisa menyusul papamu."
Cindy menyambar tasnya lalu menggendong Cello sampai ke mobil. "Pak ke kantornya Mas Devon ya setelah itu kita baru ke sekolahnya Cello," perintah Cindy pada supir pribadinya.
"Baik, Nonya."
...***...
..."Manusia boleh berencana, tapi saldo juga yang menentukan.”...
Seperti pagi ini Cindy yang berniat mendaftarkan anaknya ke sekolah malah lupa meminta uang pada suaminya. Cello tidak bisa mengikuti kegiatan sekolah sebelum Cindy membayar lunas uang yang diminta oleh sekolah tersebut.
Devon yang berada di dalam mobil Bayu ingat kalau dia lupa memberikan kartu ATMnya untuk membayar keperluan sekolah Cello.
__ADS_1
"Bayu bisakah kita putar balik, aku lupa menyerahkan kartu ini pada istriku." Devon menunjukkan kartu yang ia miliki.
"Baik, Pak," jawab Bayu dengan ekspresi wajah datarnya.
Di saat yang bersamaan mobil yang ditumpangi Cindy melaju berlawanan arah dengan suaminya.
"Bay, itu kan mobil yang ditumpangi Cindy," tunjuk Devon saat melihat mobil yang ia kenali.
"Kita ke hotel saja Pak. Sepetinya istri anda ingin memintanya langsung," kata Bayu sambil berbelok dengan tajam.
Bayu menambah kecepatan mobil yang ia kendarai. "Jangan terlalu kencang Bay, saya masih punya anak istri yang perlu saya nafkahi," kata Devon dengan perasaan takut ketika Bayu membawa mobil dengan sangat kencang.
Devon bahkan sampai memejamkan matanya. Benar saja, Bayu berhasil mengikuti mobil yang ditumpangi Cindy.
"Ayo Bay, sedikit lagi," teriak Devon bersemangat ketika mobil Bayu sudah di belakang mobil yang ditumpangi istrinya itu
Bayu kembali menambah kecepatan. Lalu ia tiba-tiba berhenti di depan mobil merah itu.
Ciitt
Suara decitan yang terbentuk karena gesekan ban dan aspal membuat sopir Cindy mengerem mendadak. Kepala Cindy terbentur jok mobil.
"Ada apa ini Pak?" Tanya Cindy dengan muka setengah kesal.
"Ada mobil yang menghalangi kita, Nyonya," lapor sang sopir pada majikannya.
Tiba-tiba Devon turun dari mobil itu. Cindy pun membuka pintu mobilnya. "Mas apa mas berpikiran sama denganku?" Tanya Cindy memastikan.
Devon mengeluarkan kartunya pada Cindy. "Apa yang kamu maksud adalah ini?" Cindy mengangguk menjawab pertanyaan suaminya.
Cindy mengambil kartu itu. "Terima kasih Mas. Cello tidak jadi sekolah jika aku tidak membayar uang pada kepala sekolah," kata Cindy.
"Hati-hati di jalan sayang," pesan Devon sambil mengelus pipi istrinya dengan lembut.
"Papa gendong," rengek Cello sambil mengangkat kedua tangannya.
"Baiklah, ayo papa antar ke mobil." Devon menuruti permintaan sang anak.
Cindy dan Cello masuk ke mobil lalu mereka pergi lebih dulu. Devon melambaikan tangan pada anak dan istrinya. Ketika ia menoleh ke arah Bayu, Bayu terlihat sendu. Devon tahu jika Bayu sedang merindukan anaknya.
"Bay, ayo kita ke kantor sekarang!"
__ADS_1
"Baik, Pak."
Tanpa Devon sadari mereka berpapasan dengan Arya. Arya sejak tadi mengikuti Cindy dari rumah. Ia bertekad untuk mengambil hati Cindy agar Cindy bisa berpaling dari Devon. Dengan begitu dia bisa menghancurkan Devon sekaligus.