Click Your Heart

Click Your Heart
Part 33


__ADS_3

Cindy memutuskan untuk tidak membuka biro jodohnya sementara waktu. Ia kan lebih fokus pada pambuatan skripsinya. Itu artinya Alan dan Irene tidak memiliki pekerjaan untuk semnstara aktu. Oleh karena itu, Cindy meminta bantuan Devon agar mencarikan pekrjaan untuk sahabatnya.


Keesokan harinya, Devon menelepon Cindy agar meminta teman-temannya Alan dan Irene datang ke kantor Devon pagi-pagi.


"Lan, beneran ini bukan sih hotel yang dimaksud oleh mami Cndy?" Tanya Irene sambil menunjukkan alamat yang diberikan Cindy pada Alan.


"Kayaknya sih bener Ren." Alan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ah elo mah bener-bener doang," cibir Irene pada sahabatnya itu.


Lalu mereka memutuskan untuk bertanya pada resepsionis di hotel tesebut.


"Mbak saya mau bertemu dengan Pak Devon. Kami disuruh untuk wawancara kerja hari ini," kata Irene.


"Owh sebentar saya telepon ke ruangan beliau dulu ya buat konfirmasi," kata resepsionis tersebut.


Alan dan Irene menunggu sambil memindai ke seluruh bagian di lobi hotel tersebut. Mereka tampak kagum dengan kemewahannya.


"Gue nggak sabar kerja di sini," kata Alan antusias.


'Mbak anda disuruh naik ke ruangannya Pak Devon sekarang, Satpam akan mengantarkan kalian sampai ke ruangannya," kata resepsionis tersebut.


"Selamat pagi, Pak. Ada yang ingin bertemu dengan Pak Devon," kata Satpam itu pada Bayu, asisten pribadi Devon.


"Baik, terima kasih sudah mengantarkan mereka," ucapnya pada Satpam tersebut.

__ADS_1


Kemudian Bayu mengantarkan Alan dan Ireen menemui Devon. "Eh kalian sudah datang," sambut Devon dengan hangat.


"Boleh saya lihat CV kalian?" Devon meminta surat lamaran keduanya. Alan dan Iren menyerahkan sebuah amplop coklat pada laki-laki yang ada di hadapannya itu.


Setelah mempertimbangkan Devon menempatkan mereka di bagian cleaning service. "Untuk sementara waktu hanya itu lowongan yang ada di hotel ini, apa kalian tidak keberatan?" Tanya Devon pada kedua sahabat Cindy.


"Sama sekali tidak, Pak. Terima kasih sudah diterima kerja." ucap Irene dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


Devon dapat melihat kebahagian pada raut muka keduanya. Cindy pernah bercerita kalau Irene dan Alan mengikutinya sampai ke kota untuk mengadu nasib. Berbeda dengan Cindy yang beruntung berkuliah melalui jalur beasiswa, Alan dan Irene tidak bisa melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi dikarenakan keterbatasan biaya yang dimiliki oleh orang tuanya. Bahkan merekalah yang mengirim uang tiap bulannya pada keluarga masing-masing di kampung halaman mereka selama beberapa tahun belakangan ini.


Meskipun tidak berbuat banyak untuk kedua sahabat Cindy, Alan dan Irene sudah senang mendapat bantuan dari Devon.


Mereka bekerja pada hari itu juga. Devon mengabari pada kekasihnya kalau Alan dan Irene sudah mulai bekerja di hotelnya. Cindy terdengar senang.


"Terima kasih banyak, Mas karena sudah membantu mereka. Aku merasa bersalah sudah membuat mereka keluar dari pekerjaan mereka yang dulu karena proyekku yang tidak berhasil," ucap Cindy sedikit menyesal.


"Iya, Mas. Tidak masalah yang terpenting mereka mendapatkan pekerjaan agar mereka juga bisa membayar kontrakan mereka buan ini dan bulan-bulan berikutnya."


Setelah itu Devon mengakhiri panggilan teleponnya dengan Cindy.


...***...


Selang beberapa hari Cindy memutuskan untuk mampir ke tempat kerja sahabatnya. Saat itu Irene sedang mengelap kaca di bagian lobi. Cindy mengaketkannya. Irene tersenyum ketika melihat kedatangan Cindy.


"Ya ampun, nggak nyangka calon bu bos mau mengunjungi bawahannya," kata Irene keceplosan. Pasalnya tida ada yang mnegtahui hubungan antara Devon dan Cindy.

__ADS_1


Cindy mengkode agar Irene menjaga ucapannya saat berada di tempat kerjanya. "Jangan ngomong sembarangan ah, nanti kalau orang lain tahu bisa salah paham sama kamu," larang Cindy.


"Ya maaf."


Tak lama kemudian rupanya Devon baru keluar dari lift menuju keluar. Ia tampak menarik ujung bibirnya itu ketika melihat kekasihnya berada di depan hotel yang ia miliki.


Devon diam-diam menyenggol tangan Cindy. Ia menggenggam tangan gadis itu sedetik lalu melepasnya. Saat itu Devon sedang berjalan dengan tamu penting yang sedang mneginap di hotelnya.


Cindy yang menyadarinya hampir saja mengumpat saat tangannya disentuh oleh laki-laki. Namun, ketika ia menoleh wajahnya merona saat ia tahu Devon yang menggenggam tangannya.


'Cie cie yang barusan ktemu paca," ledek Irene. Cindy memukul bahunya karena malu.


"By the way, Alan dimana?" Tanya Cindy yang clingak-clinguk mencari salah sahabatnya.


"Owh dia lagi bersihin bagian dapur hotel," jawab Irene.


"Ya ampun ni lanati licin banget sih?" keluh Alan yang sedang mengepel lantai dapur.


"Heh, kamu karyawan baru ya di sini?" Tanya salah satu pegawai masak di hotel Devon.


"Eh iya, Pak," jawab Alan dengan gugup.


"Kerjanya yang bener dong masak ini ada minyak yang belum dibersihkan sih, kalau ada yang terpeleset bagaimana?" Bentak salah satu pegawai senior itu.


Alan mengepalkan tangannya erat sambil memegang alat pel yang ia bawa. Ia tidak boleh membalas, lebih baik dia menghindar. Alan pun segera membereskan minyak yang tercecer tersebut lalu pergi.

__ADS_1


"Kurang ajar gue dicuekin sama tuh karyawan baru, awas aja kalau ketemu lagi."


__ADS_2