
"Breng*sek,"umpat Devon. Ia maju dan mencengkeram kerah baju Tommy. Cindy berteriak karena takut.
"Mas, jangan salah paham!" Ucap Cindy.
Tanpa mendengar penjelasan CIndy Devon keluar dengan perasaan marah. Cindy meneteskan air mata karena Devon mengabaikannya.
"Maafkan aku Cin." Tommy merasa bersalah sudah membuat Devon marah.
"Pulanglah!" Usir Cindy.
Devon mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Ia tidak menyangka kalau Cindy bisa berselingkuh di belakangnya.
Cindy terus menangis saat mengingat kemarahan Devon sampai akhirnya dia tertidur.
Sejak kejadian itu Devon menjadi dingin pada Cindy. Ia bahkan tidak lagi berkunjung ke apartemennya. Di kantor perubahan sikap Devon pada bawahannya juga sangat kentara.
Dulu dia terkenal sebagai atasan yang ramah dan menjawab salam dari bawahannya. Sekarang Devon terkesan dingin karena tidak ada sapaan yang ia balas.
"Sebenarnya ada apa sih dengan Pak Devon? Kenapa sikapnya akhir-akhir ini berubah ya?" Tanya Alan yang berbisik pada Irene.
"Gue juga nggak tahu, apa dia sedang ada masalah ya?" Tebak Irene.
"Kalian kerja lagi, jangan sambil ngobrol," tegur salah seorang senior mereka.
...***...
"Pak, saya sudah menyelidiki siapa yang waktu itu menganiaya non Cin..." Belum selesai Bayu berbicara Devon lebih dulu menyelanya.
"Lupakan! Saya sudah tidak ada hubungan lagi dengan wanita itu." Perkataan Devon mengejutkan asisten pribadinya.
"Pak, apabila ada masalah sebaiknya anda bicarakan dengan baik-baik," Bayu memberi saran.
Devon memicingkan matanya. "Tidak ada yang perlu dibicarakan, dia jelas-jelas berselingkuh dengan Tommy," jawab Devon dengan nada dingin.
Bayu mengerutkan keningnya. Dia yakin kalau Cindy tidak melakukan hal itu.
__ADS_1
"Pak, apakah hari ini anda akan makan siang di luar?" Tanya Bayu.
"Ya, aku ingin makan di restoran favoritku," jawab Devon.
Mereka pun menuju ke restoran Indonesia yang biasa Devon datangi. Kini ia duduk bersila di atas sebuah gebyok yang terbuat dari kayu berukiran. Di sampingnya terdapat kolam ikan yang sangat bersih. Suara gemricik air dari kolam buatan itu menambah keasrian suasana. Tak heran Devon senang mengunjungi tempat ini ketika dia sedang merasa suntuk.
"Tempatnya sangat bagus, bukan?" Tanya Devon pada Bayu yang duduk di depannya. Bayu mengangguk setuju.
"Aku lebih suka pergi ke tempat-tempat yang alami seperti ini daripada ke restoran yang mewah dengan gemerlap lampu di sana sini," ungkapnya.
Sesaat kemudian seorang pelayan mengantar makanan berupa ikan bakar gurami besar yang sengaja di pesan oleh Devon. "Ini makanan favoritku," katanya. Ia sudah tidak sabar mencicipi ikan bakar dengan bumbu khas restoran tersebut.
Di saat yang sama seorang wanita memanggil nama Devon. Bayu dan Devon menoleh. "Siska?"
Siska adalah wanita masa lalu Devon. Devon pernah jatuh cinta pada Siska dengan alasan ia single parent yang berhasil membesarkan putrinya seorang diri. Apalagi saat itu sang ayah mertua tidak mengakuinya sebagai menantu. Namun, setelah ayah mertuanya meninggal, semua harta warisan jatuh ke tangan Ruby sesuai amanat dari ayah mertuanya pada pengacara keluarganya sebelum ayah mertuanya meninggal. Karena dia hanya memiliki satu anak, tapi anaknya telah meninggal. Tak mau hartanya jatuh ke tangan yang salah, ayah mertua Siska mau tidak mau menyerahkan semua warisan pada Ruby.
Namun, Ruby yang belum bisa mengelola harta peninggalan kakeknya itu meminta sang ibu yang mengelolanya. Siska pun berubah menjadi janda kaya raya.
Siska sedang mengunjungi restoran itu atas rekomendasi temannya. Ia akan memperluas bisnisnya di bidang kuliner.
"Lama tidak bertemu," kata Devon kemudian.
"Ya, kau benar."
"Aku dengar dsri putrimu kau akan menikah?" Tanya Devon memastikan omongan Ruby waktu itu.
"Ya, kau benar tapi terhalang restu anak," kata Siska diiringi tawa kecil.
"Kenapa dia tidak menyukai calon ayah barunya?" Tanya Devon penasaran. Mereka terus berbincang hingga Devon tidak sadar kalau sudah pukul dua siang.
"Maaf, aku harus kembali ke kantor," ucap Devon pada Siska.
"Oke, next time aku harap kita bisa ngobrol lebih banyak lagi." Kata-kata Siska seolah memberi kode pada Devon agar dia kembali mendekatinya.
Devon tersenyum sinis. "Aku tidak janji," jawabnya dengan dingin. Ia masih ingat ketika Siska menolaknya dengan alasan yang tidak jelas. Padahal hati Devon saat itu hanya terisi nama Siska setelah ia berhasil move on dari Celine. Akan tetapi Siska seolah mengabaikannya.
__ADS_1
...***...
Hari ini Cindy mengikuti sidang. "Semoga semuanya lancar Ya Allah." Doanya pada Sang Kuasa. Cindy menarik nafas panjang untuk menghilangkan kegugupannya. Dia pun masuk dengan percaya diri setelah namanya dipanggil.
Hampir satu jam lebih sidang itu berlangsung, akhirnya gadis itu keluar. "Alhamdulillah," ucapnya merasa lega.
Ia berniat untuk menemui Devon. Ia sudah rindu setelah lama laki-laki itu tak mengunjunginya. Sebelum naik ke kantor Devon, Cindy menemui Alan dan Irene terlebih dulu.
"Elo yakin mau menemui Pak Devon?" Tanya Irene memastikan. Entah kenapa ia khawatir dengan Cindy.
"Iya, gue mau minta maaf sama dia karena udah salah paham soal hubungan gue sama Tommy," ungkapnya.
"Gue doain berhasil ya mam." Irene menyemangatinya. Gadis itu berharap semua akan baik-baik saja.
Tok tok tok
"Pak, seseorang ingin menemui anda." Bayu tidak menyebut nama Cindy karena Bayu tahu atasannya itu akan kabur setelah mendengar namanya.
"Siapa?" Tanya Devon. Cindy pun muncul dari belakang Bayu.
"Mas," panggil Cindy pada Devon.
Devon terkejut. Ia yang saat itu sedang kedatangan Siska, sengaja menarik pinggang Siska agar janda satu anak itu terduduk di pangkuannya.
Cindy terkejut ketika melihat seorang wanita duduk di atas pangkuan Devon. Ia mengepalkan tangannya dan menatap tajam ke arah Siska. Cindy masih menunggu penjelasan dari Devon.
Namun, Siska tiba-tiba mencium bibir Devon. Devon membalas ciuman Siska. Cindy membelalakkan matanya tak percaya Devon tega menyakiti hatinya. Cindy pun pergi dengan langkah setengah berlari dari ruangan itu.
Devon melepas pagutannya. "Sudah cukup Sis," kata Devon. "Terima kasih sudah membuatnya pergi," gumamnya. Padahal dalam hatinya ia sama sekali tak menginginkan Cindy pergi.
Bayu kecewa dengan atasannya itu. Ingin sekali ia menegur Devon terang-terangan dengan meninju wajahnya.
Bayu tahu Cindy tidak salah karena gadis itu telah menjelaskan pada Bayu duduk permasalahannya sebelum ia masuk ke ruangan Devon. Tapi Devon masih tetap pada pendiriannya.
...🌼🌼🌼...
__ADS_1
Bagaimana nasib Cindy selanjutnya? Simak terus ya ceritanya.