
Alan dan Irene hari ini mendapatkan gaji pertama mereka setelah bekerja selama sebulan. "Alhamdulillah ya Ren, akhirnya kita gajian." Alan menunjukkan transferan uang yang masuk ke dalam mobile bankingnya.
"Iya, gajinya gede pula. Kita harus bagi-bagi rejeki nih sama mami Cindy," kata Irene.
"Wah ide bagus Ren, yuk ah kita ke apartemennya mami Cindy." Ajak Alan.
"Ntar soreanlah, gue mau nyuci dulu, cucian gue numpuk noh di belakang."
"Ya ampun di laundry aja cin."
"Eh sayang tahu uangnya, kalau gue bisa nyuci sendiri ngapain di laundry. Oh iya Lan elo sudah nemu salon baru buat kerja sampingan elo?" Tanya Irene penasaran.
"Belum, Ren. Nggak ada yang mau nerima pegawai paruh waktu. Rata-rata kerjanya mulai pagi sampai sore," ungkap Alan dengan wajah kecewa.
"Ya udah sabar aja lo, nanti juga ada kalau kita sabar."
"Iya tapi gue capek dibully terus di temaot kita kerja yang sekarang," rengek Alan.
"Yagh mau gimana lagi. Biarin ajalah kalau kita melawan nanti resikonya kita kehilangan kerjaan Lan. Sayang kan kehilangan gaji gede, mau nyari kerjaan dimana lagi kita?"
...***...
Seorang anak perempuan berseragam putih biru mendatangi kantor Devon. "Pak Ada yang ingin bertemu dengan anda," kata Bayu.
Devon memutar kursi kebesarannya. "Ruby? Ada urusan apa datang kemari?" Tanya Devon seraya berdiri.
"Paman, aku ingin paman kembali pada ibuku," permintaan Ruby sungguh mengejutkan Devon.
"Maksud kamu apa?"
__ADS_1
"Paman, apa paman tahu kenapa ibu menolak paman?"
"Entahlah, ibumu tak pernah mengatakan alasannya, aku pikir dia hanya tak menyukai laki-laki sepertiku."
"Bukan begitu paman, aku tahu ibuku juga mencintai paman tapi terhalang restu kakek. Paman tahu kan sejak kami diakui kakek ia melarang ibuku untuk menikah dengan laki-laki manapun. Sekarang kakek sudah meninggal paman bisa kembali pada ibuku dan kalian bisa memperbesar kerajaan bisnis kalian," kata Ruby meyakinkan Devon.
"Ini anak cara berpikirnya dewasa sekali tapi tidak pada tempatnya," batin Devon.
Devon mengerutkan keningnya. "Hah, aku bukan orang yang ambisius, pulanglah!" Pinta Devon.
"Baiklah, paman. Aku hanya tidak mau ibuku menikah dengan laki-laki yang tidak aku sukai, aku hanya menyukai paman. Maaf kalau kedatanganku mengganggu paman," kata Ruby sedikit kecewa.
"Antarkan dia!" Perintah Devon pada Bayu.
"Baik, Pak."
Ruby pun pulang dengan perasaan kesal. Ia pasti akan menyatukan ibunya dan Devon. Baginya hanya Devon yang pantas menjadi ayahnya.
...***...
Tok tok tok
Bi Mona membukakan pintu ketika ia mendengar suara ketukan. "Eh Tuan. Silakan masuk, Tuan. Nona Cindy sedang ada di kamarnya. Mau saya panggilkan?" Tanya BI Mona. Devon menggeleng. Ia berlalu meninggalkan Bi Mona dan berjalan menuju ke kamar CIndy.
Devon mencoba membuka kamar itu. Seperti dugaannya kamar Cindy tidak pernah di kunci. Devon pun masuk ke dalam kamar itu perlahan. Ia memindai ke seluruh ruangan kamar tapi tidak menemukan Cindy di dalam kamarnya. Lalu ia menguping ke kamar mandi, ternyata ada suara berisik di dalam kamar mandi itu. Devon menyeringai.
Ia menunggu di kamar Cindy hampir satu jam lamanya. Akhirnya Cindy keluar dengan memakai handuk kimono. "Mas," kaget Cindy ketika melihat kekasihnya itu sudah ada di dalam kamar.
"Kamu sengaja ya tidak mengunci kamarmu agar aku bisa dengan mudah masuk dengan leluasa." Ia memberikan bunga yang ia pegang sejak tadi.
__ADS_1
"Aku sudah lelah memegangnya, ini untukmu."
Cindy menerima bunga itu."Ah, bu bukan begitu aku hanya takut jika terkunci di dalam kamar jadi aku tidak pernah mengunci kamarku," jawab Cindy dengan gugup
Devon tersenyum, kini ia menepis jarak di antara mereka. Cindy yang ketakutan memundurkan langkahnya.
"Aku tidak akan memakanmu sayang." Ia hanya mencium aroma sabun yang Cindy gunakan. "Aku suka aroma sabunmu." Ucapan Devon membuat CIndy tak percaya. Ia baru saja berpikiran negatif pada kekasihnya itu.
"Ganti baju! Aku tunggu di depan." Devon pun telah puas menggoda Cindy.
Jantung Cindy ingin copot rasanya mendapat godaan dari Devon. "Ah kenapa aku merasa kecewa saat ia tak menyentuhku sama sekali," gumam Cindy. Wajahnya memerah karena malu.
Devon sedang menikmati teh yang disajikan oleh Bi Mona. "Apa kamu sudah selesai mengerjaan bahan skripsimu?" Tanya Devon. Ia melihat meja Cindy penuh dengan kertas dan laptop yang tergeletak begitu saja.
"Belum masih bnayak yang harus aku revisi," jawab Cindy.
"Apa perlu bantuanku?" Devon menawarkan diri.
"Memangnya mas mengerti soal bidang psikologi, bukannya setiap hari mas hanya menghitung untung rugi dalam berbisnis?" Cibir Cindy.
Devon menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal. "Lalu apa yang bisa aku bantu?"
"Mas hanya perlu bantu doa supaya skripsiku cepat selesai," jawab CIndy diiringi dnegan senyuman.
"Tentu saja aku sudah tidak sabar menghadiri acara wisudamu," kata Devon.
Sejenak Cindy berpikir. "Oh tidak, apa nanti ia harus memperkenalkan Devon pada neneknya?" Batin Cindy. Ia merasa belum siap.
Tak lama kemudian terdengar suara bel di depan pintu unit apartemennya.
__ADS_1
...***...
Kira-kira siapa yang bertamu malam-malam? Tulis di kolom komentar ya!