Click Your Heart

Click Your Heart
Part 106


__ADS_3

"Menikahlah denganku!" Ucap Tommy dengan mantap pada mantan kekasihnya.


Irene sangat terkejut. Ia menatap mata Tommy dalam-dalam. "Mas, kamu ngomong apa sih? Kita kan sudah putus."


Tommy tidak menjawab dia memilih mendekati Irene dan mencium bibir Irene yang sangat menggoda itu. Mata Irene membulat sempurna mendapatkan serangan tiba-tiba dari mantan kekasihnya itu.


Irene mendorong tubuh Tommy tapi tenaganya yang tak seberapa itu membuat Tommy tak bergerak sedikit pun.


"Idih, nggak lihat tempat. Ciuman kok di tempat umum," cibir orang yang lewat di depan mereka.


Irene sangat malu mendengar orang lain mencibirnya. Perlahan ia meneteskan air mata. Tommy melepas pagutannya saat melihat Irene menangis.


"Kamu kenapa?" Tanya Irene dengan lembut seraya mengusap air mata Irene yang jatuh di pipi.


Gadis itu menunduk. "Kamu menciumku di depan umum seperti ini apa ingin mempermalukanku? Kamu tidak dengar mereka menghinaku barusan?" Cicit Irene tanpa melihat ke wajah orang yang sedang diajak berbicara.


Tommy mengulas senyum. "Hanya karena itu? Aku kira kamu menangis karena menganggapku telah melecehkamu?" Irene menggelengkan kepalanya.


"Aku menyukainya," ucap Irene dengan malu-malu. Tommy memalingkan wajahnya karena tak kuasa menahan tawa.


Sesat kemudian ia kembali menatap Irene dengan intens. "Kamu jangan buat aku jadi gemas ya sama kamu, aku jadi ingin menerkammu?" Goda Tommy.


Wajah Irene sudah pasti merah seperti tomat.


"Ehem," suara deheman itu membuat keduanya menoleh.


"Kalian ini pacaran dilihatin sama orang-orang di jalan nggak malu apa?" Omel Irma yang sudah mengamati interaksi keduanya sedari tadi.


Irene tersenyum kikuk. "Kapan elo datang?" Tanya Irene basa-basi.


"Setahun yang lalu," jawab Irma ketus. "Gue tuh kaya obat nyamuk tahu nggak di sini ngeliatin orang pacaran sumpah nyesel gue jemput lo ke sini. Gue malah pengen balik ke rumah mau ***-*** sama suami gue," omelnya.


"Eh, Ma. Elo jangan marahlah," bujuk Irene sambil bergelayut di lengan Irma.


"Kalian mau pergi ya?" Tanya Tommy.


"Iya, jenguk Cindy dia lagi sakit," jawab Irma.


"Hah, masuk rumah sakit lagi? Kali ini kenapa?" Tanya Tommy.


"Operasi usus buntu. Elo mau bareng sekalian?" Ajak Irma.


"Nggak, gue mau balik aja. Gue nggak bisa ikut jenguk Cindy soalnya gue ada acara di rumah saudara gue. Salam aja ya buat Cindy."


"Oke," jawab Irene sambil tersenyum pada Tommy.


"Nanti telepon ya kalau udah nyampe kosan lagi," pesan Tommy sebelum ia masuk ke dalam mobil. Irene mengangguk malu-malu.

__ADS_1


Irma memutar bola matanya jengah melihat tingkah keduanya. "Pergi Lo, syuh syuh," usir Irma.


"Lah kok elo yang galak sih Ma?" Protes Irene.


"Apa? Gue kesel sama elo. Kemaren elo dibuat nangis-nangis sama dia sekarang elo nggak rela kehilangan dia, gitu?" Irma mengintimidasi Irene.


"Habis gimana dia udah cium gue," jawab Irene pasrah.


"Alah dicium gitu doang Lo langsung klepek-klepek gimana kalau udah..."


"Irma," sela Irene sebelum Irma menuntaskan omongannya.


"Dah ah keburu malam, ayo ke tempat Cindy."


Mereka pun masuk ke dalam mobil. "Gue pengen deh bisa nyetir kayak elo," cicit Irene.


"Minta ajarin sono sama bang Tom and Jerry lo," ledek Irma.


"Kenapa sih elo daritadi ngeselin banget?"


"Nggak apa-apa," jawab Irma singkat lalu melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.


...***...


"Mama mana sih aunty? Kok nggak pulang-pulang," rengek Cello. Sudah dua hari ia tak bertemu dengan ibunya. Devon memang melarang semua orang memberitahu Cello agar anak itu tidak cemas pada ibunya.


"Aku harus jawab apa ya? Apa harus bilang yang sebenarnya pada Cello," batin Celine gelisah.


"Sabar ya sayang, nanti juga pulang." Celine mencoba menenangkan keponakannya.


Cello hanya cemberut. "Kita maem dulu ya Cello," Celine menyendokkan makanan ke mulut Cello. Cello menggeleng. Nafsu makannya berkurang karena dia kangen dengan ibunya.


Celine merasa kasihan melihat Cello."Cello nggak mau sama lauknya? Mau ganti makan apa? Biar aunty masakin," Celine masih berusaha membujuk Cello agar anak itu mau makan.


"Pizza," jawab Cello dengan antusias.


"Oke kita beli pizza di luar," kata Celine.


"Ma ikut," rengek Jaden.


"Kakak nggak usah ikut nanti nyusahin," kata Cello. Celine tertawa mendengarnya sedangkan Jaden melotot tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut anak sekecil Cello.


"Ni anak, yang ada juga elo yang nyusahin." Celine memberikan kode agar Jaden menjaga ucapannya.


"Nanti kalau kakak ikut, kakak jajanin es krim mau nggak?" Bujuk Jaden sambil menyamakan tingginya dengan Cello.


"Dua ya, yang gede."

__ADS_1


Jaden menahan tawa. "Gue kasih tiga, puas lo." Cello cekikikan.


"Kamu mau jadi sopir mama?" Cibir Celine.


"Nggak apalah Jaden males di rumah. Bang Jul juga lagi di sekolahan. Tahu tuh betah banget di sekolah."


"Ya sudah ambil kunci kita beli pizza sekalian jalan-jalan," kata Celine.


Jaden mengeluarkan mobil sport yang dibelikan sang ayah untuk dirinya. "Wow kelen," puji Cello yang takjub melihat mobil berwarna merah itu.


"Keren bukan kelen." Entah kenapa Jaden suka sekali menggoda adik kecilnya itu.


"Iya tahu, kelen."


"R bukan L."


"Kalian ini jadi ikut mama nggak?" Celine lama-lama sebal melihat keduanya terus bertengkar.


"Cello ayo masuk duduk sama aunty di depan." Cello menggeleng. "Ello mau duduk di belakang."


Setelah semua orang masuk Jaden mulai menyalakan mesinnya. "Sopil jalan!" Perintah Cello pada Jaden. Celine geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya.


"Lama-lama gue timpuk tuh anak," batin Jaden kesal.


"Siap paduka raja," jawab Jaden dengan tersenyum manis pada Cello.


Saat berhenti di lampu merah, mereka berpapasan dengan mobil Tommy. Cello membuka kaca mobilnya.


"Om Tom Tom," panggil Cello dengan berteriak.


"Cello?" Tommy melihat Cello bersama keluarga kakak ipar Devon.


"Cello mau jenguk mama ya di rumah sakit?" Tanya Tommy. Ia tidak tahu kalau semua orang merahasiakan keadaan Cindy pada Cello.


Deg


Mata Cello berkaca-kaca setelah mendengar omongan Tommy. Celine dan Jaden menyadari akan hal itu.


Tak lama kemudian lampu hijau menyala. "Om duluan ya Cel," pamit Tommy sambil melambaikan tangan.


"Hua... Hua... Hua.." Cello menangis dengan kencang di dalam mobil.


"Aunty bohong. Aunty nggak bilang kalau mama sedang sakit." Cello benar-benar marah dengan Celine karena dia tidak berkata jujur ketika ditanya olehnya.


Jaden terpaksa menepikan mobilnya sejenak. Celine menoleh ke belakang untuk membujuk Cello. "Sayang maafkan aunty, aunty nggak mau lihat Cello sedih."


"Ayo kita susul mama," rengeknya.

__ADS_1


Mau tak mau tujuan mereka yang awalnya ingin membeli pizza akhirnya berakhir di rumah sakit tempat Cindy di rawat.


__ADS_2