
Cindy menunggu suaminya pulang seperti biasa. Devon janji kalau akan pulang sebelum jam makan malam hari ini. Cindy semangat seperti biasa meski Devon hanya sering membuat janji palsu tapi kali ini dia berharap suaminya menepati janji.
"Wah, Tante masak banyak apa kita ada hajatan di rumah?" Tanya Ruby.
"Bukan, om Devon mau makan malam sama kita," jawabnya antusias.
Wajah Ruby berubah sendu. "Maaf ya Tan, gara-gara harta peninggalan orang tuaku yang tak terurus jadi om Devon yang mengurus semuanya," ucapnya yang merasa bersalah.
Cindy mengulas senyum. "Nggak papa sayang, kita semua peduli sama kamu," kata Cindy sambil mengelus rambut panjang Ruby.
"Mama, kak Luby sekarang jadi anaknya mama ya? Mama lebih sayang sama kak Luby," rengek Cello.
"Bukan begitu sayang, kita semua kan keluarga jadi satu sama lain harus saling menyayangi," kata Cindy dengan lembut. Cello mengangguk paham.
"Aku sayang sama kak Luby," Cello merentangkan tangannya meminta peluk. Ruby lalu berjongkok dan memeluk Cello yang telah dianggap sebagai adik.
"Ya sudah kita tunggu om Devon pulang ya," kata Cindy.
Satu jam, dua jam sampai pukul sembilan Devon tak juga datang. Karena kelamaan menunggu dari jam 6 sore Cindy meminta Ruby dan Cello untuk makan terlebih dulu.
Saat jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam, Devon baru tiba di rumah. Ia berjalan sambil mengendurkan dasinya.
Devon melirik ke arah Cindy yang sudah berkacak pinggang. "Mas lembur lagi?" Tanya Cindy mengintimidasi.
"Maafkan aku sayang, ada banyak laporan yang harus ku tandatangani," Devon beralasan.
Mau bagaimana lagi, Cindy juga tahu situasinya. Akhirnya dia pun mengalah. "Baiklah, sekarang buka bajumu lalu mandilah. Akan kusiapkan air hangat untukmu," kata Cindy sambil berlalu.
Usai mandi, Cindy menunggu Devon di atas ranjang. Ia sedang membaca sebuah novel berjudul 'Mencintai Mas Ganteng'.
"Sejak kapan kamu membaca novel?" Tanya Devon seraya mengusap-usap rambutnya dengan handuk kering.
Cindy menutup buku yang ia pegang. "Sejak tidak ada lagi yang kuajak ngobrol. Aku membaca novel sebelum tidur sambil menunggumu pulang."
Devon merasa bersalah. Dia duduk di depan istrinya. "Sayang, aku harap kamu tidak marah kepadaku." Devon menggenggam tangan Cindy lalu mengecupnya. Entah berapa kali Devon melakukannya, tapi Cindy selalu luluh dengan bujukan Devon.
Devon tak melihat reaksi istrinya. Lalu ia mulai mendekat dan mencium bibir Cindy dengan lembut. Cindy mengalungkan tangannya ke leher lalu membalas ciuman Devon.
"Aku ingin hamil lagi agar kau lebih memperhatikanku, Mas," batin Cindy.
Mereka pun melakukan kegiatan panas itu di saat orang lain tengah berada dalam mimpinya.
__ADS_1
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, pagi ini Cindy mengetes uriine nya dengan alat tes kehamilan.
"Semoga kali ini positif," harapnya setelah beberapa kali telat tapi setiap kali dites hasilnya negatif.
Setelah itu ia melihat garis dua tapi samar. "Apa aku periksakan ke dokter saja ya," gumam Cindy.
Tok tok tok
"Sayang, kamu ngapain di dalam kok lama betul?" Tanya Devon yang mengetuk pintu toilet.
"Iya, sebentar lagi aku keluar Mas," jawab Cindy. Dia pun menyembunyikan alat tes kehamilan yang telah ia pakai.
Devon masih menunggu di depan pintu kamar mandi ketika Cindy baru keluar. "Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Devon pada istrinya.
"Ah, tidak aku hanya sakit perut biasa," kata Cindy beralasan.
"Apa kamu sudah minum obat?" Tanya Devon khawatir.
"Ah, tidak perlu. Aku hanya telat..." Cindy menjeda omongannya.
Devon mengerutkan kening tak mengerti. "Telat makan makanya masuk angin ya?" Tebak Devon. Cindy hanya mengangguk.
"Hari ini Mas tidak sibuk?" Tanya Cindy heran.
"Sepertinya aku kurang enak badan sayang," jawabnya.
"Mungkin karena Mas kurang istirahat sehingga fisik Mas Devon mulai capek. Aku buatkan teh hangat ya," kata Cindy dia beranjak ke dapur.
"Sayang, aku tidak melihat anak-anak pagi ini. Kemana mereka?" Tanya Devon.
"Tadi pagi-pagi sekali Ruby mengajak Cello naik sepeda keliling komplek," jawab Cindy seraya menyuguhkan secangkir teh hangat untuk suaminya.
"Terima kasih sayang," kata Devon sambil tersenyum pada sang istri.
"Kembali kasih," jawab
Di tempat lain Cello dibonceng oleh Ruby menggunakan sepeda. "Eh, Cel kita beli bubur ayam yuk, kakak laper belum sarapan," kata Ruby.
"Ayok siapa takut?" Bahasa yang digunakan oleh Cello mulai jelas.
"Bang bubur ayam dia mangkok ya?" Perintah Ruby pada penjual bubur itu. Sesaat kemudian ia menoleh ke arah Cello. "Tapi apa kamu bisa menghabiskannya?" Tanya Ruby.
__ADS_1
"Kuatlah, Cello kan makannya banyak," kata-kata itu sontak membuat orang-orang yang mendengar omongan Cello jadi tertawa karenanya. Ruby mengacak rambut anak kecil itu karena gemas.
Usai menyantap bubur itu hingga ludes, Ruby merogoh dompet yang ada di sakunya. Namun, ia tak menemukan uang sepeserpun. Wajah Ruby mulai panik.
"Kak Luby kenapa?" Tanya Cello polos.
"Kakak nggak bawa dompet," bisiknya ke telinga Cello.
"Kok bisa?" Teriak Cello. Ruby menutup mulutnya dengan satu jari memberikan kode agar Cello tidak mengeraskan suaranya. Cello refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Kenapa neng?" Tanya penjual bubur ayam itu.
"Saya nggak bawa dompet," ungkap Ruby dengan jujur.
"Kak, telepon papa aja!" Perintah Cello agar kakaknya itu tidak dihukum oleh penjual bubur ayam, pikirnya.
Ruby baru ingat kalau ia meninggalkan ponselnya di dalam kamar. Ia menepuk jidatnya. "Mati, handphone gue ketinggalan," jawab Ruby dengan jujur.
"Nggak bisa bayar pakai beli bubur segala, rugi nih saya," sentak penjual itu pada Ruby.
Cello yang terkejut karena suara laki-laki itu jadi menangis. Ruby makin panik. "Yagh Cello anak baik, nangisnya jangan sekarang ya." Ruby berusaha membujuk Cello agar berhenti menangis.
"Eh sudah, sudah kalian ini pintar sekali berakting, kalian ini apa mau memanfaatkan kebaikan saya ya?"
"Kebaikan yang mana?" Pikir Ruby.
"Pak, kalau masalah uang nanti saya akan ganti tapi biarkan saya mengantarkan anak ini pada ibunya," ucap Ruby sedikit memelas.
"Tunggu, apa kamu tidak punya pengenal?" Tanya tukang bubur itu. Ya ampun nggak bayar bubur dua mangkuk aja kaya udah ngutang sebulan aja mesti diminta KTPnya.
"Saya belum genap tujuh belas tahun mana ada KTP pak," protes Ruby.
"Lalu bagaimana aku akan percaya kalau kalian akan membayar dia mangkuk bubur yang telah kalian makan?" ucapnya dengan nafas tunggi.
"Ayo ikut saya pulang nanti saya akan memberikan uang yang anda minta" kata Ruby.
...♥️♥️♥️...
Mampir ke novel aku yang udah end ya
__ADS_1