Click Your Heart

Click Your Heart
Part 149


__ADS_3

Devon merasa sangat beruntung mendapatkan kolega sebaik Tommy. Dengan uang itu dia bisa memulai pembangunan hotelnya yang rusak akibat kebakaran beberapa waktu lalu.


"Baru sampai, Mas?" Tanya Cindy. Wanita itu meraih tangan suaminya untuk dicium lalu mengambil tas kerjanya.


"Mau aku buatin kopi atau teh?" Cindy menawarkan minuman.


"Teh hangat saja," jawab Devon. Cindy pun beranjak ke dapur.


Devon mulai mengendurkan dasinya lalu ia duduk di sofa panjang depan televisi. Tak lama kemudian Cindy terlihat membawakan secangkir teh hangat untuk suaminya


"Bagaimana pekerjaan hari ini?" Tanya Cindy.


"Aku bertemu dengan Tommy. Dia berencana meminjamkan uang untuk biaya perbaikan hotelku. Menurutmu bagaimana sayang?" Devon meminta pendapat istrinya.


"Terima saja, kalau mas memang membutuhkannya. Tapi bagaimana cara pembayarannya?" Tanya Cindy.


"Tentu saja akan aku bayar secara berkala, dia tidak menetapkan bunga. Tapi nanti aku akan membuat surat perjanjian agar urusannya jelas," ucap Devon.


"Tentu perkara uang memang harus jelas." Cindy memberikan pendapatnya.


Devon tiba-tiba mendekat ke arah istrinya. Dia mencium bibir istrinya sekilas. "Apa ini Mas?"


"Masih tidak jelas?" Cindy makin tidak mengerti dengan sikap suaminya.


"Apa sih?"


"Aku menginginkanmu sayang," bisiknya di telinga Cindy. Cindy sontak menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.


"Dasar mesum, mandi sana aku akan siapkan air hangat untukmu," tolak Cindy.


"Aku ingin mandi jika hanya kau menemaniku mandi," goda Devon.


"Jangan macam-macam Mas. Bagaimana kalau tiba-tiba baby Daisy bangun?" Ancam Cindy.


"Ayolah sayang kapan kau ada waktu untukku jika aku selalu kalah dengan anak-anak. Apa kau ingin aku mencari kesenangan di luar?" Tanya Devon.


"Mas," Cindy tidak percaya pada ucapan suaminya.


Devon terkekeh. "Maaf sayang aku hanya becanda," ucapnya untuk menenangkan sang istri.

__ADS_1


"Tidak lucu." Cindy berjalan meninggalkan Devon.


"Sayang, sayang," panggil Devon tapi Cindy tak merespon. "Ngambek beneran, haish."


*


*


*


Keesokan harinya Devon berangkat bersama asisten pribadinya. Mereka visit ke kantor cabang.


"Mulai hari ini operasional perusahaan pusat akan pindah tempat di kantor cabang untuk sementara waktu. Saya harap para pegawai bisa saling bekerja sama," ucap Devon di depan para karyawan yang berkumpul di kantor cabang.


Semua orang memberi tepuk tangan pada pidato yang diberikan oleh pemilik perusahaan tersebut.


"Bayu, saya mau kamu awasi kinerja para pegawai jangan sampai mereka tidak kompak." Perintah Devon pada asisten pribadinya.


"Baiklah, saya hanya akan visit sebentar lalu pulang karena saya harus keliling juga ke anak perusahaan lain. Apakah saya bisa mengandalkan kamu?" Tanya Devon pada Bayu.


"Baik, pak." Bayu mengangguk patuh.


"Mas, kamu selalu berangkat pagi tapi pulang hingga larut, apa pak Devon banyak merepotkanmu?" Protes Irma.


"Jangan bicara seperti itu. Aku sebagai bawahan memang sudah seharusnya menurut pada atasan. Tenang saja tidak akan lama, hanya sampai pembangunan gedung pusat selesai." Bayu meyakinkan istrinya agar tidak terlalu memikirkan dirinya.


"Berapa bulan lagi, Mas kira-kira?" Tanya Irma penasaran.


"Paling cepat enam bulan," jawab Bayu.


"Apa? Enam bulan? Mungkin aku sudah melahirkan waktu itu. Apa kau harus terus berangkat pagi pulang larut, apa mas tidak capek?" Cecar Irma.


"Lalu aku harus bagaimana sayang?" Bayu bingung dengan sikap istrinya.


Irma menggedikkan bahunya. "Entahlah apa mas perlu mendirikan perusahaan sendiri?" Bayu tertawa mendengar lelucon istrinya.


"Maksudmu agar aku tidak perlu bekerja seharian?" Irma mengangguk menjawab pertanyaan suaminya.


Bayu memegang kedua bahu istrinya. "Sayang, mendirikan perusahaan sebesar perusahaan pak Devon itu bukanlah hal yang mudah, butuh bertahun-tahun. Apalagi modalnya harus banyak. Kamu tidak ingat bagaimana pak Devon jatuh bangun karena perusahaanya hampir bangkrut?" Irma mencerna omongan suaminya. Ia masih tidak mengerti.

__ADS_1


"Intinya syukuri saja apa yang kita miliki sekarang. Bukankah sudah kewajiban manusia bekerja dengan keras untuk mencapai hasil yang diinginkan?" Bayu menerangkan pada istrinya panjang lebar.


"Aku harap kamu bisa mengerti sekarang." Irma mengangguk paham.


Bayu melihat jam yang melingkar di lengannya. "Aku harus berangkat."


"Apa tidak sarapan dulu?"


"Masukkan ke dalam tempat bekal nanti akan kumakan di kantor," perintah Bayu pada istrinya. Ia tak mau membuat istrinya sedih. Meski tak dimakan saat itu setidaknya dia menghargai susah payah istrinya membuatkan makanan.


Bayu berangkat sendiri ke kantor barunya. Perlu waktu kurang lebih satu jam untuk sampai ke sana. Lalu ketika dia akan naik ke dalam lift dua orang bawahannya sedang berdebat masalah tempat kerja mereka.


"Kamu ini hanya menumpang tempat di sini, aku yang lebih dulu bekerja di sini kenapa harus mengalah padamu?"


"Pak Devon dan Pak Bayu kan sudah bilang kemaren kalau kita ini harus bekerja sama masa minta tolong buat fotokopi arsip ini saja tidak bisa?" Yang lain tak mau kalah.


Bayu berjalan cepat mendekati keduanya. "Ada apa ini?" Bentak Bayu. Kedua bawahannya langsung menunduk takut.


"Kenapa kalian bertengkar?" Bayu meminta penjelasan.


Keduanya hanya diam karena merasa sama-sama salah. "Jawab," teriak Bayu.


Masih tidak ada yang memberikan penjelasan. "Baik, kalian mau saya adili di sini atau diadili langsung oleh owner lalu dipecat tanpa uang pesangon?" Bayu menakut-nakuti keduanya agar saling meminta maaf."


Lalu kedua karyawan perempuan itu saling bertukar pandang. "Maafkan kami pak, kami sama-sama bersalah." Keduanya sepakat mengakui kesalahannya mereka tanpa menyalahkan satu sama lain.


"Kalian tetap mendapatkan hukuman agar yang lain tidak ada yang melanggar peraturan lagi. Bukan saya yang menentukan hukuman tapi Pak Devon langsung." Ucapan Bayu membuat keduanya takut.


"Pak jangan laporkan kami pada pak Devon. Tolong beri kami hukuman apa saja asal jangan suruh kami mengajak owner," ucap kedua karyawan itu setengah memohon.


Bayu mengembuskan nafasnya berat. "Aku rasa OB butuh tambahan tenaga. Kalian berdua hari ini bekerjalah sebagai OB sampai kalian pulang."


"Apa? Tapi kami dibayar tidak untuk mengerjakan pekerjaan itu, Pak," protesnya.


Bayu menyeringai. "Sudah lupa apa yang kalian minta padaku lima menit yang lalu?" Bayu mengingatkan bawahannya. Mereka menunduk.


"Kerjakan kalau masih mau bekerja di sini," perintah Bayu dengan tegas.


Setelah itu dia masuk ke ruangan kepala kantor cabang. "Pak Devon dan saya hanya akan visit saja sewaktu-waktu jadi jangan sampai lalai mengawasi anak buahmu!" Bayu memberikan peringatan pada kepala kantor cabang itu. Ia mengangguk paham.

__ADS_1


Setelah itu, Bayu keluar dari kantor dan menghadap Devon. Namun, di tengah perjalanan ban mobilnya kempes. Bayu harus berhenti untuk mengganti ban mobilnya.


__ADS_2