
"Lisa lepaskan kaki Cindy! Kamu membahayakan dia," Irma begitu panik saat Lisa memegang kaki sahabatnya itu.
"Berdirilah!" Perintah Cindy pada Lisa.
"Aku tidak akan berdiri sebelum kau memaafkan diriku," ucapnya kekeuh.
"Baiklah, aku memaafkanmu, tapi kau juga harus minta maaf kepada suami-suami kami. Oh ya kau juga harus meminta maaf pada Irene," kata Cindy.
Lisa mengangguk setuju. "Lalu di mana Irene? Sejak tadi aku tak melihatnya," kata Lisa.
"Hari ini dia tidak masuk karena ibunya Tommy masuk rumah sakit," jawab Irma. Lisa terkejut mendengarnya.
"Baiklah, aku akan kembali besok untuk menemui Irene," kata Lisa.
"Tidak perlu. Irene mungkin tidak akan masuk dalam waktu yang lama jadi kau tidak perlu kemari." Jujur Irma merasa tidak nyaman dengan kehadiran Lisa.
"Baiklah, lebih baik aku menemuinya langsung." Setelah itu Lisa pergi.
"Aku benar-benar tidak habis pikir dengannya. Aku belum bisa percaya dengan omongan Lisa. Meskipun aku melihatnya mengemis maaf pada kita tapi entah kenapa sulit untuk mempercayai wanita itu," kata Irma pada Cindy.
"Lupakan dia! Sebaiknya kita fokus bekerja," perintah Cindy pada Irma.
...***...
Beberapa hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Maya diperbolehkan pulang. Selain itu, Tommy yang merasa kasihan pada istrinya, meminta izin pada dokter yang merawat Maya agar Maya diperbolehkan rawat jalan.
"Kita sudah sampai, Ma," kata Tommy saat ia mematikan mesin mobilnya.
Irene dan Tommy membantu Maya turun dari mobil. Setelah itu, Maya duduk di kursi roda. Tanpa disuruh Irene mendorong kursi roda ibu mertuanya masuk ke dalam rumahnya.
"Mama tunggu sini ya. Aku akan siapkan kamar mama," ucap Irene seraya tersenyum.
Maya baru menyadari kalau menantunya begitu peduli dengannya. Bahkan ketika di rumah sakit, Irene tak pernah meninggalkan dirinya barang semenit pun. Dengan sabar Irene merawat Maya yang tak bisa bergerak tanpa bantuan orang lain.
Maya sungguh malu pada Irene karena ia sempat membencinya. Ia bahkan sering membanding-bandingkan Irene dengan Cindy. Kini Maya tahu kalau Irene adalah menantu yang baik.
Tommy juga semakin mencintai Irene karena ia melihat istrinya itu sangat telaten merawat ibunya.
__ADS_1
"Kamarnya sudah siap, ayo Ma aku bantu ke kamar." Irene mendorong kursi roda yang ditumpangi Maya.
Sesampainya di kamar, Tommy menggendong ibunya lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Sepulang dari rumah sakit, Maya mengalami sedikit perubahan. Ia sudah bisa menelan makanan padahal sebelumnya ia sama sekali tidak bisa makan dari mulut. Minum air saja sering tersedak. Selain itu mulutnya tak lagi miring dan sudah bisa berbicara meski kurang jelas.
"Aku buatkan bubur dulu ya untuk mama," Maya mengangguk. Ia menunggu di kamar sementara Irene memasak di dapur. Tommy mengikuti istrinya.
"Mas, kamu ngapain mengekori aku?" Tanya Irene yang heran. Suaminya itu mengikuti langkahnya layaknya anak ayam yang selalu mengikuti induknya.
"Buatkan aku makanan juga. Aku lapar," ucapnya sambil cengengesan.
"Baiklah, suamiku. Tunggu di ruang tamu dulu aku akan memasak sesuatu yang spesial untukmu," kata Irene.
Hampir satu jam menunggu istrinya selesai memasak, Tommy ketiduran di depan televisi. Irene menggelengkan kepalanya ketika melihat posisi tidur sang suami yang masih memakai pakaian kerjanya.
Irene mengantarkan bubur ke kamar Maya terlebih dulu. "Maafkan aku Ma. Aku terlalu lama memasak karena Mas Tommy juga memintaku menyiapkan makanan untuknya." Maya hanya mengangguk.
Sesuap demi sesuap bubur dimasukkan Irene ke dalam mulut sang ibu. Maya mengamati wajah menantunya itu. Ia merasa bersalah pernah menyia-nyiakan wanita sebaik Irene.
"Maaf," ucap Maya dalam hati.
Setelah itu, Irene turun melalui tangga. Ia tak mendapati suaminya saat ia melihat ke sofa yang digunakannya untuk tidur tadi.
"Mas Tommy kemana?" Gumam Irene.
Ia pun mencari keberadaan suaminya. Irene melihat sang suami sedang berdiri di ambang pintu. "Mas, bicara dengan siapa?" Tanya Irene seraya mendekat ke arah Tommy.
Deg
"Lisa?" Irene mengerutkan keningnya ketika melihat Lisa berada di hadapan suaminya.
"Mau apa kamu ke sini?"
Ya, Lisa memang tak pernah disambut dengan baik. Ia sadar karena kelakuannya dulu yang meresahkan membuat semua orang membencinya termasuk Irene. Wanita itu memang sudah menyiapkan mental untuk sesuatu yang menyakitkan saat ia berusaha mendapatkan maaf dari orang-orang yang pernah dia sakiti.
"Kenapa diam saja? Apa maksud kamu datang kemari hah?" Bentak Irene. Ia sangat tidak menyukai Lisa. Terlebih dia tahu kalau Lisa penyebab keretakan rumah tangga sahabatnya. Bukan tidak mungkin dia juga bisa menghancurkan rumah tangganya dengan Tommy.
__ADS_1
"Aku ke sini hanya untuk menjenguk Tante Maya. Kudengar dari Cindy kalau dia sedang sakit. Apa boleh aku melihatnya sebentar?" Tanya Lisa dengan sopan.
"Tidak perlu!" Tolak Irene mentah-mentah. Sedangkan Tommy dari tadi hanya diam saja.
"Lebih baik kau tinggalkan rumah ini. Aku tidak mau melihatmu." Irene hendak menutup pintu tapi Lisa menghalanginya.
"Aku mohon maafkan aku!" Pinta Lisa sembari menahan pintu dengan tangannya.
"Aku sudah bertobat. Aku tidak akan berbuat jahat lagi pada kalian. Aku bersungguh-sungguh," kata Lisa setengah memohon.
"Mudah sekali kamu meminta maaf," cibir Irene diiringi tawa sinis.
"Aku tahu tidak mudah memaafkan diriku. Tapi aku bersungguh-sungguh kuharap suatu hari nanti kau bisa memaafkan aku," ucap Lisa dengan wajah sendu. Lalu berbalik badan dan meninggalkan kediaman Tommy.
"Apa kita tidak keterlaluan?" Tommy meminta pendapat sang istri. Lalu Irene memicingkan matanya. "Apa kau tidak tega padanya?" Selidik Irene.
"Apa kau cemburu?" Goda Tommy.
"Tidak, aku hanya tidak rela kalau aku bernasib sama seperti Cindy," ungkap Irene dengan kesal. Tommy tersenyum tipis melihat tingkat istrinya itu.
Ia berjalan lebih cepat lalu mengangkat tubuh Irene tanpa aba-aba terlebih dulu. Irene tersentak kaget. "Mas, turunkan aku! Bagaimana kalau ada yang melihat?" Ucapnya sedikit berbisik.
"Aku merindukanmu, sayang. Bisakah kita melepas rindu sore ini. Aku sangat bergairah sekarang," ucapan Tommy sukses membuat wajah Irene tampak merona.
Ia memberikan pukulan kecil di dada bidang suaminya. "Dasar mesum," umpat Irene tapi diiringi tawa.
"Mesum sama istri sendiri itu wajib sayang. Daripada aku mesum dengan wanita lain di luar sana?"
"Kamu berani mesum dengan wanita lain kupastikan kamu akan melihat mayatku besok pagi," ancam Irene.
Sebuah ancaman yang terdengar mengerikan di telinga Tommy. "Ku mohon jangan bicara seperti itu lagi. Aku berjanji aku hanya akan setia padamu," mohon Tommy dengan wajah memelas.
"Baiklah. Sekarang lakukan apa yang kau mau." Seolah memberikan lampu hijau pada suaminya, Tommy pun bisa menangkap dengan jelas perkataan istrinya itu.
...♥️♥️♥️...
Hallo my reader sambil nunggu up kalian bisa baca novel tamat aku ya
__ADS_1