Click Your Heart

Click Your Heart
Part 111


__ADS_3

Hallo pembaca setiaku, othor ingetin ya buat bagi vote, like, favorit sama komennya di novelku ini.


Dukungan kalian sangat berarti buat othor.


...♥️♥️♥️...


Entah kenapa hati Cindy menjadi sakit mendengar ucapan Tommy.


"Tuhan, cobaan apalagi ini? Tapi aku tak boleh berprasangka buruk dulu pada suamiku sebelum mengetahui kebenarannya." Cindy mencoba menguatkan dirinya.


Diambilnya kembali handphone yang tergeletak di meja makan.


"Mas," kata Cindy saat telepon tersambung.


"Maaf sayang aku lupa mengabari kamu. Sekarang aku lagi di rumah sakit bersama Ruby."


Setelah mendengar ucapan suaminya Cindy merasa lega. Ia tak akan cemburu jika Devon memang sedang bersama Ruby.


"Apa terjadi sesuatu pada Siska?" Tanya Cindy mencoba peduli.


"Dia sedang kritis sayang. Ruby sangat sedih. Alma bilang...."


Entah kenapa setelah menyebut nama Alma pendengaran sini tiba-tiba menuli. Masih teringat jelas saat wanita itu mengungkapkan perasaannya secara gamblang pada suaminya. Dan kini mereka bertemu seorang tidak terjadi sesuatu diantara mereka.


Perasaan Cindy sekarang ini campur aduk antara curiga, cemburu, kecewa dan sedih. Bisakah dia mempercayai suaminya atau alasan ke rumah sakit hanya untuk menemui Alma, pikir Cindy.


"Aku percayakan suamiku padamu ya Allah. Semoga dia tidak berbuat sesuatu yang dapat menyakiti perasaanku," Cindy berdoa penuh harap.


...***...


Dua jam setelah operasi keadaan Siska makin menurun. Perawat memeriksa kembali keadaan Siska. Alma juga buru-buru masuk ketika kondisi Siska menurun drastis.


Devon dan Ruby terlihat cemas. Bahkan Ruby sudah berderai air mata. Ia sangat takut kehilangan ibunya.


Tak lama kemudian Alma keluar. Ia menatap kasian pada Ruby. Alma tak banyak bicara. Saat matanya bertemu dengan Devon, ia hanya menggelengkan kepalanya. Devon tahu maksud Alma.

__ADS_1


Ia membawa Ruby dalam pelukannya. "Om kenapa dengan ibuku?" Tanya Ruby polos.


Devon tak menjawab. Alma meninggalkan keduanya. Ia paham saat ini Ruby butuh tempat bersandar.


Selang beberapa saat jenazah Siska dikeluarkan dari ruangan itu. Ruby baru menyadari kalau ibunya sudah tiada. Seketika Ruby limbung dan tak sadarkan diri.


Dalam keadaan pingsan Devon menggendongnya dan memanggil perawat untuk memeriksanya.


Ketika perawat sedang memeriksa Ruby, Devon menelepon Bayu agar menyiapkan pemakaman untuk Siska.


Devon juga tak lupa mengabari Cindy jika Siska sudah tiada. Reaksi Cindy tak kalah terkejut. Ia merasa kasihan pada Ruby karena ia menjadi yatim piatu di usianya yang masih muda.


Keesokan harinya Cindy menemani Ruby. Anak itu tak sanggup melihat ibunya dimakamkan. Sementara Devon dan Bayu yang mengurusi semua prosesi pemakaman Siska.


Alma ikut hadir di pemakaman Siska karena dialah yang menanganinya. Di pemakaman Alma berpapasan dengan Devon. Devon hendak menghindar tapi Alma menarik tangannya. Devon menoleh. Devon menyuruh Bayu pergi lebih dulu setelah memakamkan Siska.


"Ada apa lagi Alma? Seharusnya kamu malu terhadap perbuatannya beberapa waktu lalu."


"Aku mau minta maaf Dev. Aku menyesal sudah membuat hubunganmu dengan Cindy berantakan."


"Tapi, bagaimana dengan istrimu?" Tanya Alma.


"Dia pasti akan memaafkan kamu tapi tidak sekarang, ku mohon menjauhlah dari kehidupanku. Kamu bisa menemukan laki-laki yang lebih baik daripada aku."


Dada Alma terasa penuh karena mendapat penolakan dari Devon. Tapi dia akan tambah menyesal suatu hari nanti jika Devon malah menerima cintanya. Itu berarti Alma akan menjadi orang ketiga dalam hubungan pernikahan Cindy dan Devon.


Devon pergi meninggalkan Alma sendirian. "Aku berterima kasih padamu Dev. Aku berterima kasih kamu menolak cintaku. Aku tahu kamu laki-laki baik yang pernah kutemui," gumam Alma seraya menatap punggung Devon.


Devon menjemput Cindy dan Ruby di rumah almarhumah Siska. "Ruby sebaiknya kamu tinggal di rumah kami,"


Cindy mengerutkan keningnya. Tapi ia tak heran Devon mengajak Ruby tinggal di rumahnya. Karena mereka sudah sangat dekat seperti ayah dan anak.


...***...


Kabar meninggalnya Siska terdengar sampai ke telinga Arya. "Harusnya aku menikahimu dulu sebelum kau mati, Siska," ucap Arya sambil menggenggam erat gelas berisi minuman keras.

__ADS_1


Saat itu Arya yang akan menghadiri pemakaman Siska dibuat terkejut saat melihat Devon sedang berbincang dengan seorang wanita yang tak dikenalnya.


Arya menarik ujung bibirnya. "Rupanya banyak juga wanita yang menggilaimu, Dev," gumam Arya.


Usai melihat kepergian mereka Arya baru berani mendekat ke makam Siska. Ia meninggalkan sekuntum bunga mawar di pusaranya.


"Bagaimana pun kamu pernah mengisi hidupku, walaupun tak pernah aku mencintaimu secara tulus, tapi kamu pernah memberikan cinta padaku," kata Arya seraya mengusap batu nisannya.


...***...


Ruby sebenarnya tak enak harus tinggal di rumah Devon. Tapi laki-laki itu bersikeras agar Ruby tinggal bersamanya. Alasannya karena Ruby tidak punya siapa-siapa lagi. Selain itu dia gadis remaja yang perlu pengawasan orang tua, Devon merasa bertanggung jawab karena dia sudah menganggap Ruby sebagai anaknya sendiri. Terlebih, dulu mereka sangat dekat kala Devon masih menjadi kekasih ibunya.


"Maaf Tante Ruby lagi-lagi merepotkan Tante," kata Ruby tidak enak.


"Tidak sayang, Tante jadi punya anak perempuan sekarang. Kamu juga bisa menjadi teman Cello. Tante yakin dia pasti senang kami tinggal di sini." Cindy mencoba menerima Ruby, anak yatim piatu yang patut dikasihani.


"Terima kasih banyak Tante. Ruby janji akan menjadi anak yang penurut," Ruby memeluk Cindy dengan posesif.


Cindy membalasnya. "Sama-sama sayang. Bagaimana kalau mulai sekarang kamu panggil Tante dengan sebutan mama."


Air mata Ruby menetes seketika. "Ruby masih tidak bisa melupakan mama Siska Tante," ucapnya sambil menunduk.


"Sayang, mama Siska tetap mama kandung kamu. Tante adalah orang tua kedua kamu. Jangan lupakan mama Siska meskipun kamu memanggil Tante dengan sebutan mama."


Ruby berbinar mendengar penuturan Cindy. Ia kembali memeluk hari Cindy. "Mama," ucapnya sedikit ragu.


Devon melihat keduanya tampak akur. "Aku berharap tidak ada lagi yang berusaha menghancurkan keluarga kecilku ini Ya Allah."


Mulai saat itu Cindy dan Devon sudah menganggap Ruby sebagai keluarga. Sementara urusan bisnis Ruby mengatakan kalau Devon yang mengurusnya sementara sampai usianya cukup untuk bekerja. Barulah Devon bisa mengendalikan aset-aset kekayaan yang ditinggalkan oleh Siska semasa hidup.


Tentu keputusan itu tidak diambil dengan kesepakatan mulut saja. Devon bukan orang yang serakah. Ia menyewa pengacara untuk membuat surat yang menyatakan perihal perusahaan Siska yang dikelola oleh Devon saat ini.


Semakin hari Devon semakin sibuk, bahkan dia jarang sekali pulang tepat waktu karena dia selalu lembur.


Laki-laki itu akan pergi pagi-pagi dan selalu pulang di saat semua orang sudah tertidur. Cindy sangat merindukan suaminya. Bahkan melakukan hubungan intim saja sudah lama tidak ia lakukan bersama suaminya.

__ADS_1


"Padahal aku ingin memberikan adik untuk Cello," gumam Cindy.


__ADS_2