
Alan memberitahu Irene kalau besok dia akan balik ke kota. "Rasanya sangat sebentar, padahal aku masih merindukan ibu tapi besok aku sudah kembali ke kota." Irene mendongak seraya memandang ibunya.
"Makanya kerja di sini saja, ngapain jauh-jauh. Kamu itu perempuan nanti juga pasti akan ikut suami."
"Bu, kita ini hidup di zaman modern. Setiap pasangan boleh menentukan dimana mereka akan tinggal asal sesuai kesepakatan."
"Alah sok tahu, ibu ini menikah dengan bapakmu sudah lebih dari tiga puluh tahun jadi ibu sudah makan asam garam kehidupan."
"Asam ditambah garam? Bagiamana rasanya?" Irene pura-pura tidak tahu ungkapan yang sedang diomongkan ibunya.
Sang ibu memukul lengan Irene. "Maksudnya ibu ini sudah berpengalaman dalam berumah tangga, tinggal di kota malah tambah bego," ledek sang ibu. Bukannya marah Irene malah tertawa geli.
Sementara itu di rumah Alan ia hanya tinggal bersama bibinya. "Nak, besok kamu yakin mau balik ke kota?" Tanya sang bibi.
"Yagh mau gimana lagi Bi. Alan lebih suka kerja di kota. Alan bisa kerja apa kalau tinggal di sini. Uangnya kan lumayan bisa Alan kirimkan ke bibi buat kebutuhan per bulan."
Sang bibi yang tak lain merupakan adik ibunya itu terharu mendengar omongan Alan. Bibinya seorang janda yang ditinggal mati suaminya. Sedangkan anak-anaknya sudah ikut para suami mereka.
"Bibi bangga memiliki anak sebaik kamu," Alan memeluk bibinya.
"Lalu kapan kamu akan mengajak pasangan kemari?" Pertanyaan bibinya itu membuat Alan tidak bisa berkata-kata.
"Mana ada yang mau dengan Alan, Bi," batin Alan perih karena ia sering dianggap banci oleh banyak orang karena sikapnya yang gemulai.
Selama ini hanya Irene yang baik padanya. Menerima dirinya apa adanya. Maka dari itu, Alan menyukai Irene melebihi perasaannya sebagai seorang sahabat.
Keesokan harinya Alan menjemput Irene di rumahnya sekitar jam enam pagi. "Hati-hati di jalan nak," pesan sang ibu ketika anaknya akan pergi. Irene mengangguk sedih.
Setelah itu Alan melajukan motornya. "Kamu tidak begadang kan semalam?" Tanya Alan memulai percakapan.
"Sedikit, aku menghabiskan waktuku untuk mengobrol bersama ibuku."
"Irene, aku sebenernya ingin mengakui sesuatu padamu. Aku menyukaimu." Entah terdengar apa tidak saat itu sebuah motor menggeber mesinnya di samping motor Alan.
"Lan gue nggak denger lo ngomong apa," teriak Irene.
"Lupakan!" Alan sedikit kesal tapi ia merasa lega mengungkapkan perasaannya pada Irene meski gadis itu tak mendengarkan.
Hampir setengah hari perjalanan menggunakan motor akhirnya mereka sampai pada siang hari.
__ADS_1
"Makasih ya Lan. Besok elo udah balik kerja kan?" Alan mengangguk. "Iya, sama-sama. Gue balik ya ke kosan gue," pamit Alan.
"Hati-hati ya," pesan Irene sambil tersenyum. Hati Alan serasa berdesir melihat senyuman Irene. Ia pun segara menutup kaca helmnya agar Irene tak dapat melihat wajahnya yang memerah.
Irene masih tinggal di tempat kosnya yang lama. Sebenarnya ia ingin pindah tapi waktunya belum sempat. Ia masih sibuk bekerja di toko roti Cindy.
Sementara itu di toko roti itu, Irma bekerja sendirian tanpa Cindy dan Irene. Karena ia merasa kelelahan, akhirnya Irma menutup toko lebih awal dari biasanya.
Sesaat kemudian telepon Irma berbunyi. "Sepulang kerja mampir tempat kos gue ya, gue laper belum makan," kata Irene. Ia suka sekali menggoda Irma.
"Dasar teman nggak tahu diri lo. Mana oleh-olehnya yang habis pulang kampung?"
"Gue nggak bawa apa-apa. Oh ya mami Cindy nomornya kok nggak aktif ya?" Tanya Irene penasaran.
"Oh ya gue lupa ngabarin kalau Cindy di rumah sakit."
"Apa? Kok bisa?" Tanya Irene panik.
"Bentar lagi gue tutup toko, langsung gue jemput ya buat nengok Cindy," kata Irma.
"Oke, deh. Meskipun gue baru sampai gak apa-apalah."
Lalu Irma yang hampir tutup toko mendapatkan seorang pembeli yang ia kenal. "Elo?" Tunjuk Irma.
"Terima kasih."
Deg
Lisa tersentak kaget saat Irma mengucapkan terima kasih padanya. Apa ini? Padahal dia sengaja datang untuk mengganggu Irma tapi dia malah menggunakan kesempatannya untuk berterima kasih.
"Meski waktu itu anakku tidak selamat, tapi setidaknya hanya kau yang peduli padaku saat itu. Aku berhutang nyawa denganmu," kata Irma.
Lisa tersenyum sinis pada Irma. "Apa waktu itu kau bilang pada suamimu kalau aku yang menolongmu?" Tanya Lisa. Lisa tampaknya tidak bisa melupakan kejadian saat Bayu menuduhnya mencelakai Irma.
"Iya aku sudah bilang."
"Asal kau tahu dia malah menuduhku sengaja melukaimu."
Irma tak terkejut dengan apa yang dikatakan Lisa karena dia mengenal suaminya.
__ADS_1
"Aku hanya tak bisa berpikir logis kenapa Bayu memilih wanita penghibur sepertimu?"
Deg
Lisa tahu kalau dia bekas PSK. Seketika keringat dingin mengucur di kening Irma. Jangan sampai pengawal lain mendengarnya.
"Jadi apa maumu datang kesini jika tidak ingin membeli kue? Apa sengaja menggangguku?" Tanya Irma dengan nada yang ditinggikan satu oktaf.
"Kurang kerjaan sekali aku ini. Aku hanya lewat di sini dan ingin membeli kue. Mana aku tahu kalau yang jaga toko ini adalah dirimu," kilah Lisa.
"Kalau tidak ada urusan lagi aku mau tutup toko," kata Irma dengan ketus. Ia dongkol menghadapi wanita selevel Lisa yang berpelik-pelik kalau bicara.
"Hish..."
Lisa pergi tanpa mengambil sepotong kue pun. Irma hanya geleng-geleng kepala.
"Dasar cewek nggak laku," umpat Irma menatap kepergian musuhnya itu.
Tak lama setelah itu Irma menutup toko tapi lagi-lagi ada yang berkunjung. "Maaf kita sudah tutup," kata Irma tanpa menoleh ke arahnya.
"Uhuk uhuk." Dia sengaja batuk agar Irma menoleh ke belakang.
Irma segera menoleh saat mengenali suara itu. "Mas, kenapa kamu ke sini?" Tanya Irma yang bahagia suaminya datang.
"Aku sengaja ingin mengajakmu makan siang hari ini."
"Baiklah hanya sebentar ya Mas. Aku mau nganter Irene jenguk Cindy ke rumah sakit." Bayu mengangguk.
Di tempat kosnya Irene tak sabar menunggu kedatangan Irma. Usai mandi ia menunggu Irma di luar kosannya. Hampir satu jam Irene menunggu tapi yang datang bukanlah Irma melainkan Tommy.
Irene nampak malas dengan Tommy sehingga ia cuek saja. "Apa kabar Ren?" Tanya Tommy basa-basi.
"Seperti yang kamu lihat," Irene meminta Tommy menyimpulkan keadaannya.
Tommy berusaha sabar menghadapi sikap Irene yang sangat cuek terhadapnya. "Sepetinya kamu sedang menunggu seseorang?" Pertanyaan Tommy tak dijawab oleh Irene.
"Ren, kumohon tetaplah mata orang yang mengajakmu bicara."
Deg
__ADS_1
Irene terkejut dan mengerjapkan matanya beberapa kali karena Tommy memegang kedua bahunya.
"Kamu takut sama aku?"